은밀한 공격 (Eunmilhan Gong-gyeog |Silence Attack)
“Jeonha, hamba mendapat kabar beberapa waktu lalu ada saksi mata yang melihat Perdana Menteri dan beberapa menteri mengunjungi Daebi Mama. Tidak hanya sekali, Perdana Menteri juga terlihat di kediaman Daebi Mama sore ini.”
Raja Yeongak yang tengah menekuri laporan mendengus keras diikuti tawa sinis setelah mendengar laporan yang disampaikan Kasim Jang. Sang Raja tidak terkejut dengan peristiwa tersebut.
Sejujurnya Raja Yeongak sudah memprediksi cepat atau lambat Perdana Menteri pasti mendekati Ibu Suri Park. Mengingat desakan para menteri mengenai kehadiran calon pewaris semakin gencar dilakukan. Jika pun ada seseorang yang memobilisasi pergerakan menteri untuk mendesak kehadiran pewaris, Raja Yeongak tidak akan terkejut jika Ibu Suri Park berada dibalik semua desakan tersebut. Wanita licik itu jelas tidak akan berhenti untuk mencoba menggoyahkan takhtanya.
“Benarkah? Apa kau tahu apa yang sebenarnya dilakukan Perdana Menteri di kediaman Daebi Mama? Akan lebih baik jika kau mengetahuinya, Kasim Jang,” sahut Raja Yeongak yang tak mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari lembaran laporan yang sedang diperiksanya.
“Untuk saat ini, hamba belum bisa memastikan tepatnya apa yang dilakukan Perdana Menteri di kediaman Daebi Mama, Jeonha. Tapi, jika Anda memberi izin, hamba akan berusaha mendapatkan informasi lebih detailnya.”
“Geurae,” Raja Yeongak mengangguk malas, menurunkan sedikit lembaran perkamen yang menutupi sebagian wajahnya, “lakukan apapun yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan informasi, Kasim Jang. Akan sangat bagus jika ada bukti yang kelak bisa menyudutkan pertemuan rahasia mereka.”
Kasim Jang mengangguk patuh. “Ye, Jeonha. Hamba pastikan akan mendapat informasi detailnya.”
Raja Yeongak melambaikan tangannya, memberi tanda agar Kasim Jang membiarkannya sendiri di ruangan. Melihat perintah tersebut, Kasim Jang pun melangkah mundur untuk meninggalkan ruangan pribadi sang Raja. Tapi, belum sempat lelaki paruh baya itu mencapai pintu keluar, terdengar suara pengumuman dari luar ruangan yang menyatakan kehadiran seseorang yang tak terduga di kediaman Raja Yeongak malam ini.
“Jeonha, Jungjeon Mama datang untuk menemui Anda.”
Tak lama pintu terbuka dan Ratu Kang memasuki ruangan dengan tenang. Sang Ratu terus melangkah langsung menuju singgasana tempat sang Raja masih di sibukkan dengan laporan serta petisi yang disampaikan para menteri. Kedua manik hazel Ratu Kang menghunus tajam tepat pada wajah Raja Yeongak, seakan ada bara api yang tengah berkobar pada kedua manik wanita itu.
Menyadari atmosfer ruangan yang terasa semakin dingin, seiring dengan kehadiran Ratu Kang di ruangan, Kasim Jang pun memilih segera keluar. Pelayan lelaki itu sepertinya bisa merasakan tanda bahaya yang dibawa sang Ratu. Terlebih, hal yang sangat jarang terjadi Ratu Kang berkunjung ke kediaman sang Raja.
“Apa yang membawamu kemari, Jungjeon? Kembali ke kediamanmu. Malam ini aku akan bermalam di Istana Tengah,” sambut Raja Yeongak dingin.
Pria berjubah merah itu terlihat sedikit terganggu dengan kehadiran istrinya. Bahkan sang Raja tak sedikitpun melirik ke arah Ratu Kang yang masih berdiri dan tak berniat duduk. Tatapan Ratu Kang menghujam, bak sebilah pedang yang siap menghunus.
“Anda tidak perlu lagi meluangkan waktu untuk bermalam di Istana Tengah, Jeonha,” balas Ratu Kang dengan nada suara tak kalah dingin.
Balasan Ratu Kang yang tidak terduga membuat Raja Yeongak akhirnya mengalihkan perhatian dan menatap sang Ratu. Seulas senyum meremehkan terpasang di salah satu sudut bibir Raja Yeongak. Irisnya menyipit, menyelidiki sikap dan tindakan ratunya yang tak seperti biasanya.
“Apa kau sadar dengan jawaban yang kau ucapkan? Ini bukan saatnya kau menolak atau bermain-main. Posisimu saat ini semakin tersudutkan, kau harus segera melahirkan seorang pewaris!” desis Raja Yeongak penuh ancaman pada Ratu Kang. Pria berjubah merah itu bahkan bangkit dari singgasananya.
Ratu Kang mengangkat tinggi kepalanya, berusaha tak gentar dengan ancaman nyata yang diucapkan suaminya. Wanita itu benar-benar muak dengan segala sesuatu di istana ini. Dadanya terasa tercekik hingga ia nyaris mati karena tekanan yang ia dapatkan.
Tawa terlantun dari bibir merah sang Ratu. Tawa itu semakin lama berubah menjadi tawa menyedihkan dan penuh dengan kesengsaraan. “Sekeras apapun Anda melakukannya, Anda tidak akan pernah mendapatkan pewaris dariku, Jeonha.”
Ratu Kang masih terus tertawa hingga akhirnya tubuh wanita itu meluruh ke lantai. Kedua manik hazelnya kini diselimuti cairan bening. Hal itu membuat Raja Yeongak terpaku di tempat dan bingung dengan sikap Ratu Kang yang tak biasanya. Namun, kedua obsidian sang Raja kini memperlihatkan sorot yang tak biasa.
“Apa maksud ucapanmu? Apa kau sedang berusaha membujukku untuk mengangkat selir?”
“Aku tak sedang membujuk Anda. Pada kenyataannya, itu memang jalan terbaik untuk saat ini jika Anda menginginkan hadirnya pewaris, Jeonha,” tandas sang Ratu.
Raja Yeongak bergerak mendekati Ratu Kang. Kedua tangannya kemudian mencengkram bahu feminim tersebut. Sang Raja tak peduli bahwa tindakannya bisa saja membuat Kang Hyesun kesakitan. Hal itu terlihat nyata dari Hyesun yang berjengit kesakitan seiring goncangan kasar Hyul pada kedua bahunya.
“Apa maksud ucapanmu itu, Jungjeon! Bukankah sudah kuperingatkan berkali-kali padamu bahwa putraku akan terlahir dari rahim seorang Ratu! Dan kau adalah Ratuku!”
“Geurae! Aku adalah Ratu Anda, Jeonha! Tapi, kenyataannya aku tak bisa memberikanmu keturunan!”
“Mworago?!”
Raja Yeongak menyentak dengan kasar tubuh Ratu Kang agar bisa duduk secara tegak. Obsidiannya menghujam tepat pada kedua hazel yang diselimuti cairan bening tersebut. Irisnya bergulir berusaha mencari kejujuran pada kedua mata Hyesun. Dan seolah ada tangan tak kasat mata yang baru saja meremat kuat jantung Yi Hyul saat mendapati kebenaran pada mata Hyesun.
“Aku tak akan pernah bisa memberikan Anda penerus, Jeonha. Aku mengalami kemandulan.”
Keheningan menyelimuti ruangan sesaat setelah Hyesun mengatakan fakta yang mengejutkan. Udara di ruang pribadi Raja seakan lenyap dari ruangan, menggantikan rasa sesak yang menggerogoti hati secara perlahan hingga menyebabkan rasa sakit bercampur pilu. Namun, detik selanjutnya Raja Yeongak menatap nyalang Ratu Kang. Amarah seakan menyelimuti hati Raja Yeongak, yang seakan usahanya mempertahankan takhta akan terasa sia-sia karena kemalangan yang menimpa sang Ratu.
“Kenapa kau malah membawa kemalangan padaku?” desis Raja Yeongak yang kembali mencengkram kedua bahu Hyesun dengan kuat. Obsidiannya berkilat dipenuhi kemarahan yang tak bisa terbendung.
“J-jeonha... apa yang Anda lakukan?!”
Hyesun berteriak panik karena cengkraman di bahu Raja Yeongak kini merayap dan mulai mencekik lehernya. Kedua tangan feminim itu memukul-mukul d**a sang Raja, berharap agar pria itu melonggarkan cengkraman kuat pada lehernya.
“J-jeon... nha!”
“Aku mempersuntingmu agar kau mampu mendukung dan melindungi takhtaku. Tapi, kenapa kau malah membawa kemalangan untukku?!”
“J-jeon... nha!”
Hyesun melotot menyadari dirinya yang semakin kesulitan bernapas. Tangannya semakin keras berusaha menggapai dan balas mencengkram jubah kerajaan yang dikenakan suaminya. Tapi, tampaknya Raja Yeongak tak berniat mengendurkan kedua tangannya yang mencengkik leher Ratu Kang.
~THE RED MOON~
Sementara itu, Ibu Suri Park berusaha bersikap tenang menghadapi rencana berapi-api yang diungkap Perdana Menteri—yang kembali mendatanginya. Tidak hanya datang tanpa sekadar omong kosong, Perdana Menteri bahkan sudah membawa selembar perkamen berisi daftar menteri yang akan mendukung Pangeran Agung Hyoyeom untuk dipromosikan menjadi Saudara Pewaris Takhta.
Tak ingin percaya begitu saja atas penawaran yang diperlihatkan Perdana Menteri, Ibu Suri Park berusaha agar sikapnya tak terlalu memperlihatkan rasa antusiasnya. Meski sebenarnya, Ibu Suri Park sangat senang mengetahui separuh pendukung Raja Yeongak kini mulai menaruh dukungan pada putranya.
“Apa yang membuat kalian semua menaruh perhatian yang begitu besar pada Daegun? Bukankah sudah kubilang, wanita istana tidak diperkenankan terlibat dalam politik, Daegam.”
“Daebi Mama, hamba dan para menteri lainnya sangat mengkhawatirkan kondisi Joseon di masa depan terlebih Jeonha yang semakin memperlihatkan sikap acuhnya atas keberlangsungan takhta di masa depan. Seorang Raja tanpa pewaris ibarat sebuah bangunan yang hampir runtuh karena tidak ada pilar kokoh yang menyangganya. Itu sebabnya hamba mendatangi kembali Daebi Mama untuk memperlihatkan kesungguhan kami untuk mendukung Daegun Daegam untuk dinobatkan sebagai pewaris selanjutnya.”
Ibu Suri Park terkekeh mendengar penjelasan Perdana Menteri yang begitu bersemangat dalam upaya membujuk dirinya untuk memberikan restu. Ibu Suri Park sangat berhati-hati dalam memainkan perannya. Sekalipun ia tahu, kemenangan bisa segera ia dapatkan dengan adanya dukungan menteri, tapi semua akan terasa sia-sia jika tidak ada keinginan yang sama dari pihak yang mereka dukung.
“Aku sangat memahami kalian menaruh perhatian yang besar terhadap masa depan negeri ini. Aku bersyukur negeri ini memiliki para menteri yang begitu peduli. Hanya saja, bisakah kalian menjamin jika Jusang tidak akan menolak atau bahkan di kemudian hari menuduh pengkhianatan pada Daegun atas dukungan kalian ini?”
“Daebi Mama, hamba akan pastikan Jeonha tidak akan berpikir bahwa ini tindakan pengkhianatan. Selain itu, Anda sendiri tahu jika ada kartu lain yang bisa dijadikan dasar menobatkan Daegun Daegam sebagai pewaris selanjutnya,” Perdana Menteri menjeda ucapannya. Iris tuanya berusaha mengawasi setiap gurat emosi yang terpeta pada roman Ibu Suri Park. Pria itu sangat yakin, bahwa Ibu Suri Park pun sudah mengetahui isi wasiat Mendiang Raja.
“Hamba yakin Anda sudah mengetahui isi wasiat Mendiang Raja, bukan begitu?” tandasnya dengan senyum penuh arti pada sang Ibu Suri.
Ibu Suri Park terkekeh mendengar Perdana Menteri menyudutkannya yang seolah tak mengetahui isi wasiat Mendiang Raja. Ibu Suri Park mendongak dan menatap lurus padar manik tua sang Perdana Menteri.
“Aku perlu akui, Anda benar-benar seorang pejabat istana senior, Daegam. Sekalipun aku memiliki keuntungan berdasarkan wasiat, tapi aku tak bisa langsung menggunakannya. Tidakkah Anda ingat dengan putusan Wang Daebi Mama yang memilih menangguhkan perintah pelaksanaan wasiat tersebut,bukan?”
“Ye,Mama. Hamba mengetahui adanya penangguhan tersebut. Tapi, ini adalah saat yang tepat untuk mengangkat hal tersebut pada pertemuan Dewan Istana selanjutnya, Daebi Mama,” ujar Perdana Menteri yang berusaha terus membujuk Ibu Suri Park.
“Jika pun Anda berniat membahasnya pada pertemuan Dewan Istana selanjutnya, ada sesuatu yang harus Anda pastikan lebih dulu, Daegam,” ucap Ibu Suri Park yang kini tersenyum penuh arti.
“Apa tepatnya yang harus hamba lakukan, Daebi Mama?”
“Anda harus memastikan tokoh utama dalam rencana ini menginginkan hal yang sama. Anda harus membujuk dan memastikan kesanggupan Daegun terlebih dulu.”
~THE RED MOON~