위험한 주제 (Wiheomhan Juje |The Dangerous Topic)
“Aigoo, bukankah baju ini sangat lucu, aga?”
Nyonya Lee mengangkat baju kecil yang baru saja selesai ia jahit. Wajah serta kedua manik wanita itu tampak berbinar-binar karena rasa senang yang tak terbendung. Nyonya Lee memperlihatkan baju tersebut pada Yeonhwa—yang tengah asyik menghias sebuah baju dengan sulaman, membuat wanita tengah berbadan dua itu mengalihkan perhatiannya sejenak.
“Eomeoni, bajunya cantik sekali,” ujar Yeonhwa dengan penuh rasa kagum atas hasil tangan ibunya. Tangan lentiknya terulur agar bisa menyentuh dan mengusap baju kecil tersebut. Rasanya ada sesuatu dalam dirinya yang tak sabar untuk melihat baju mungil itu dipakai pemiliknya.
“Rupanya aku msaih mampu menjahit dengan baik,” gumam Nyonya Lee pada dirinya sendiri, yang lalu perhatiannya jatuh pada sulaman yang tengah di buat Yeonhwa. “Astaga, sulamanmu sangat cantik, Aga.”
“Eomeoni terlalu berlebihan. Sulamanku tak serapi dan seindah buatan Eomeoni,” tolak Yeonhwa yang merasa malu dan menyembunyikan hasil sulaman dari pandangan ibunya. Rona merah menjalari kedua pipi pucat Yeonhwa, yang menerbitkan tawa dari Nyonya Lee.
Saat ini, Nyonya Lee dan Yeonhwa sedang berada di gazebo taman kecil di paviliun musim gugur. Ibu-anak itu tengah menghabiskan waktu dengan menjahit dan menyulam pakaian bayi. Keduanya sangat bersemangat untuk mempersiapkan segala kebutuhan bayi yang kini masih berada dalam kandungan Yeonhwa.
Ditemani sepoci teh beserta beberapa camilan kecil yang dibuat dan disajikan oleh pelayan dapur kediaman Yeonhwa, mereka asyik berbincang satu sama lain. Tak hanya membayangkan ketidaksabaran mereka menyambut si bayi, Nyonya Lee juga memberikan beberapa nasihat pada Yeonhwa mengenai proses kelahiran nanti.
“Yeonhwa~ya, bagaimana Daegun Daegam memperlakukanmu selama ini? Apa beliau memperlakukanmu dengan baik?” tanya Nyonya Lee yang sedikit penasaran dengan kehidupan pernikahan putri semata wayangnya.
Yeonhwa mengaduh pelan karena jarinya tertusuk jarum, karena kaget dengan pertanyaan tak terduga yang diberikan ibunya. Sembari menekan jarinya dengan kain, Yeonhwa mengangkat wajah dan menatap lurus ke arah kolam yang berada di dekat gazebo.
“Kenapa Eomeoni tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa Eomeoni khawatir aku akan menghabiskan waktuku sendiri selama pernikahan berlangsung?”
“Aniya, tidak seperti itu, Aga,” bantah Nyonya Lee cepat.
Wanita paruh baya itu menatap penuh kelembutan pada putrinya yang tengah mengandung. Sebagai seorang ibu, Nyonya Lee tak menampik rasa khawatir yang kerap menghantuinya setiap kali memikirkan pernikahan putrinya. Terlebih, putrinya menikah atas dekrit kerajaan, yang jelas bukan sesuatu yang bisa di tolak secara sembarangan.
“Sejujurnya ini bukanlah sesuatu yang patut ditanyakan olehku. Hanya saja, rasa khawatir terkadang muncul dihatiku setiap kali memikirkan tentang pernikahanmu, Aga. Tapi, melihat sendiri bagaimana Daegun Daegam memperlakukanmu, cukup membuatku lega. Apa ia selalu bersikap selembut itu padamu, Aga?”
Yeonhwa tersenyum dan mengangguk singkat. Kepalanya memutar beberapa memori bagaimana Yeol memperlakukannya selama ini. Pria itu meski terkadang terlihat dingin dan tertutup padanya, tapi juga selalu memperlakukannya dengan lembut dan perhatian. Apalagi di saat kondisi Yeonhwa saat ini, ia tak menampik jika Yeol seakan mencurahkan seluruh perhatiannya pada Yeonhwa. Mengingat semua itu membuat hati Yeonhwa menghangat dan menimbulkan sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan.
“Eomeoni tak perlu khawatir. Daegun Daegam memperlakukanku dengan sangat lembut. Aku sangat bersyukur memilikinya sebagai suami. Aku merasa sangat tenang dan juga aman setiap kali ia berada disisiku.”
“Aku senang mendengarnya. Apa kalian sering berkunjung ke istana untuk menyapa Daebi Mama juga Jungjeon Mama?”
“Tidak begitu sering, tapi beberapa hari yang lalu aku berkunjung untuk menyapa keduanya.”
“Bagaimana kabar keduanya? Mengingat pernikahan kalian yang tak begitu jauh, kehamilan Jungjeon Mama lebih tua beberapa bulan darimu, benar bukan? Aku sangat yakin Daebi Mama sangat bahagia karena akan memiliki dua cucu dalam waktu yang bersamaan.”
Yeonhwa tersenyum canggung mendengar celotehan riang sang ibu. Terlebih saat ibunya menyinggung mengenai usia kehamilannya yang pasti tidak terpaut jauh dari kehamilan Ratu Kang. Yeonhwa yang juga kerabat kerajaan sangat tahu bahwa hingga saat ini Ratu Kang belum memberikan tanda-tanda kehamilan.
“Eomeoni, Jungjeon Mama hingga saat ini belum dikabarkan hamil, apa Anda lupa?” balas Yeonhwa dengan nyengir karena rasa canggung yang dirasakannya. “Saat bertemu kemarin, keduanya dalam keadaan sehat,” lanjut Yeonhwa berusaha mengalihkan topik yang cukup sensitif.
Kedua mata Nyonya Lee terbelalak menyadari bahwa ia telah mengucapkan suatu kabar yang tak benar. Wanita itu kemudian melirik ke kanan dan kiri, berharap tidak ada orang yang menyadari ucapannya. Nyonya Lee kemudian menggeser duduknya lebih dekat dengan Yeonhwa.
“Jadi, Jungjeon Mama hingga saat ini belum dikarunai seorang anak satu pun?” tanyanya dengan nada setengah berbisik.
“Eomeoni, lebih baik kita tidak membicarakan hal ini lebih jauh,” tegur Yeonhwa yang kemudian meraih cawan teh dan menyesapnya perlahan.
Keheningan tak menyenangkan dengan segera menyelimuti gazebo tempat Yeonhwa dan Nyonya Lee menghabiskan waktu. Entah kenapa, timbul rasa gelisah di hati Nyonya Lee setelah mengetahui kabar mengenai Ratu Kang. Intuisinya sebagai ibu, mengatakan akan terjadi sesuatu, terlebih jika mengingat sesuatu yang ia saksikan sebelum ia dan suaminya berkunjung ke rumah Yeonhwa. Segera, wanita itu menatap lekat Yeonhwa yang masih menyesap tehnya dengan tenang.
“Yeonhwa~ya, kau ingat dengan tanaman teratai yang ada di kolam depan rumah?”
Yeonhwa menoleh, gerakannya sempat terhenti beberapa detik, seakan mengingat tanaman yang dimaksud ibunya, sebelum akhirnya mengangguk. Dengan perlahan, tangannya meletakkan cawan kosong di atas meja.
“Sebelum pergi mengunjungimu, aku melihat ada semburat merah pada kelopak putihnya. Yeonhwa~ya, kau tahu sendiri bunga teratai itu selalu tumbuh berwarna putih, bukan? Tidakkah kau merasa bahwa ini sebuah pertanda?”
“Apa Eomeoni masih mempercayai ucapan cenayang yang datang di saat aku lahir ke dunia ini?”
“Yeonhwa~ya, bukan begitu. Tidak salahnya jika ki—“
“Eomeoni, tolong jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja,” potong Yeonhwa cepat, yang selalu merasa jengah setiap kali ibunya sudah mulai membahas atau bahkan mengaitkan segala sesuatu dengan ucapan cenayang yang datang di hari Yeonhwa lahir. Bagi Yeonhwa, ia tak mempercayai takhayul seperti itu. “Apapun yang terjadi di dunia ini, itu semua karena adanya kendali Langit atas takdir setiap manusia.”
~THE RED MOON~
Hyesun menatap satu persatu benda yang diletakkan ibunya di atas meja dengan pandangan nanar. Sementara itu, tepat di depannya, kedua orangtua Hyesun datang mengunjungi, dengan Nyonya Choi yang sibuk mengeluarkan barang yang dibawanya saat kunjungan ini.
Dengan bersemangat, wanita bangsawan itu meletakkan dan menyiapkan barang bawaan yang dibawanya di meja yang membatasinya dengan putrinya. Tak hanya itu, tangan Nyonya Choi dengan sigap membuka dan memperlihatkan isi dari benda yang ia bawa tersebut pada Hyesun.
“Jungjeon Mama, apa yang aku bawa hari ini akan sangat baik untuk tubuh Anda. karena itu, pastikan setiap harinya Anda mengkonsumsi semua ini secara rutin, dengan begitu Anda bisa segera mengandung seorang pangeran,” jelasnya dengan penuh semangat. Nyonya Choi bahkan tak memperhatikan awan mendung yang menyelimuti paras Hyesun, tepat setelah ia menyebutkan tentang pewaris di akhir kalimatnya.
Sementara itu, Tuan Kang—yang juga turut mengunjungi putrinya, memilih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tampak, pria itu sedang menilai seberapa mewah kediaman yang dimiliki putrinya di dalam istana. Konon, berdasarkan rumor yang selama ini selalu beredar, semakin mewah kediaman seorang wanita di istana menandakan semakin besar kasih sayang Raja padanya.
“Kau memiliki kediaman yang sangat mewah, sesuai dengan gelarmu sebagai seorang Ratu negara,” ujar Tuan Kang yang pada akhirnya membuka suara.
Nyonya Choi mendelik pada suaminya, segera setelah pria itu mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya di bahas pada kondisi saat ini. Wanita itu menyiku pelan perut suaminya dan menatapnya tajam, penuh peringatan.
“Seobangnim, tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti itu. kau seharusnya memberikan nasehat serta dukungan pada uri-Jungjeon Mama, agar ia tak perlu khawatir mengenai pewaris di masa depan,” desis Nyonya Choi.
Tuan Kang membuang muka setelah mendengar teguran istrinya. Pria itu kembali memusatkan perhatian pada Hyesun yang seolah membisu di singgasananya, berdeham sebelum kembali mengucapkan sesuatu.
“Anda harus segera memiliki pewaris. Jangan mengkhawatirkan banyak hal. Miliki seorang putra untuk Jeonha, dengan demikian Anda bisa duduk tenang selama apapun di singgasana Anda, Jungjeon Mama.”
Hyesun mengangkat wajah dan mendelik pada ayahnya. Ucapan sang ayah, entah bagaimana telah menyulut sesuatu dalam diri Hyesun. Demi apapun, Hyesun sudah muak dengan segala wejangan yang diberikan kedua orangtuanya setiap kali datang mengunjunginya. Kunjungan orangtuanya hanya membuat Hyesun merasa semakin tercekik dengan tanggung jawab yang dipikulnya.
“Bagaimana jika pada kenyataannya aku tak bisa melahirkan satu orangpun pewaris?” tandas Hyesun dengan sorot menantang bercampur kepedihan pada kedua orangtuanya. Hyesun tersenyum dan setetes airmata meluncur turun di sebelah pipinya.
“Tabib istana sudah memeriksaku dan mengatakan aku memiliki rahim sedingin musim dingin. Jika memang aku bisa duduk tenang selama memiliki seorang putra, tidak bisakah sekarang aku melepaskannya saja?”
Nyonya Choi tercengang sementara Tuan Kang berusaha mengontrol keterkejutannya mendengar fakta yang dijatuhkan Hyesun. Pria itu berpikir keras mencari cara untuk menyelamatkan putrinya, ia tak akan setuju begitu saja dengan keinginan Hyesun lengser dari takhta. Kang Soogeun terlalu menyukai keistimewaan yang dimilikinya sebagai mertua Raja Joseon.
“Jungjeon Mama, Anda tidak boleh mengatakan hal buruk seperti itu! Anda pasti belum mencoba ramuan dan segala hal yang kupersiapkan ini, bukan? Jika Anda meminum semua ini dengan rutin, bisa dipastikan Anda akan segera hamil. Jadi, cobalah dulu, eoh?” Nyonya Choi berusaha menyangkal fakta kelak tersebut, dan membujuk Hyesun agar mau menggunakan berbagai ramuan penyubur yang dibawanya.
“Aniyo! Semua ini tidak akan ada gunanya, Eomeoni! Tidakkah Anda sadar bahwa aku seorang ratu yang mengalami kemandulan?!” sentak Hyesun dengan nada suara meninggi, akibat rasa frustasi serta tekanan yang ia dapatkan dari berbagai pihak, membuatnya emosinya tak stabil.
“Jika aku memutuskan untuk terus mempertahankan gelarku ini, yang kudapatkan hanyalah celaan dan caci maki. Karena itu, lebih baik aku lengser sebelum semua orang mengetahui kema—“
“Animnida, Jungjeon Mama!” potong Tuan Kang dengan tegas. Obsidian pria itu menatap penuh peringatan pada Hyesun. Tak peduli dengan status putrinya yang sudah bergelar sebagai Ratu, Tuan Kang menatap lurus Hyesun.
“Anda tidak bisa memutuskan hal itu secara sendiri, Jungjeon Mama. Tolong jangan khawatir, aku akan memberitahu paman Anda agar bisa mengenai hal ini. bagaimana pun, takhta ini tidak boleh Anda serahkan pada siapapun. Anda adalah bunga teratai putih seperti yang selalu dirumorkan dan takhta ini memang diperuntukkan untuk Anda.”
~THE RED MOON~
“Aku tak menyangka banyak sekali perubahan yang terjadi di Hanyang,” ujar Yeol seraya melangkah santai, melewati jalanan yang mengarah menuju rumahnya.
Saat ini, Yeol sedang bersama ayah mertuanya—Tuan Kang. Keduanya baru saja menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan ke pasar dan menikmati beberapa pertunjukan yang diadakan musisi jalanan. Yeol memang sengaja mengajak ayah mertuanya pergi keluar rumah, membiarkan Yeonhwa bersama Nyonya Lee untuk membuat beberapa pakaian bayi.
Tuan Min terkekeh mendengar ucapan menantunya. Pria paruh baya itu mengangguk dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tuan Min tak menampik jika lingkungan tempat tinggal putri semata wayangnya saat ini adalah salah satu lingkungan terbaik di Hanyang. Semua ini berdasarkan pada para tetangga yang berada dilingkungan tersebut merupakan para keluarga bangsawan ternama.
“Apa Anda lelah karena mengajak berjalan-jalan pria tua seperti saya?” tanya Tuan Min dengan sedikit rasa penasaran, karena tadi sempat menyadari napas terengah Yeol selama berjalan-jalan dengannya.
“Animnida, Abeonim. Aku tak merasa lelah sama sekali, sebaliknya aku merasa sangat bersemangat. Sudah lama sekali rasanya aku tak keluar rumah.”
“Apa yang membuat Anda jarang keluar dari rumah, Daegun Mama?”
Yeol tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan ayah mertuanya. Kepalanya dengan cepat langsung memunculkan paras seseorang di pikirannya. Sosok yang menjadi alasan bagi Yeol tak bisa keluar rumah tanpa perlu merasa khawatir.
“Aku tak bisa sering keluar rumah karena sering merasa khawatir pada putri Anda, Abeonim. Mengingat kondisinya yang sedang hamil seperti sekarang, ada tanggung jawab besar yang kumiliki, sehingga sering sekali mengkhawatirkannya.”
Tanpa terasa keduanya pun telah tiba di depan gerbang rumah. Yeol dengan sigap membukakan pintu dan mempersilakan ayah mertuanya masuk lebih dulu. Begitu keduanya memasuki pekarangan, langkah mereka sedikit melambat saat menyadari kehadiran beberapa sosok tak terduga yang mengunjungi Yeol sore ini.
“Daegun Mama, Daegam...” sapa Perdana Menteri seraya membungkuk diikuti dua orang menteri lainnya yang turut berkunjung sore ini.
“Perdana Menteri, sungguh suatu kebetulan tak terduga....” balas Yeol dengan senyum canggung sembari berusaha mencari tahu alasan kedatangan ketiga menteri ke kediamannya.
“Daegun Mama, saya akan meninggalkan Anda, agar kalian bisa berbincang dengan santai.”
Tuan Min yang menyadari ada situasi yang tak terduga, memutuskan meninggalkan Yeol bersama ketiga menteri. Pria itu paham, keberadaannya pasti akan membuat ketiga menteri akan sulit mengatakan alasan kunjungan mereka ke kediaman Pangeran Agung Hyoyeom sore ini. Tanpa repot mendapat balasan persetujuan Yeol, Tuan Min berbalik pergi menuju paviliun timur, untuk beristirahat.
“Apa yang membawa Anda sekalian datang menemuiku? Aku yakin ada alasan khusus hingga kalian menyempatkan diri datang berkunjung,” cecar Yeol yang berusaha mendapatkan jawaban.
Perdana Menteri mengangguk singkat. “Bisakah kita berbincang di ruangan yang tertutup, Daegun Mama? Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan Anda,” balas Perdana Menteri dengan senyum penuh arti pada sang Pangeran Agung.
~THE RED MOON~