적을 스토킹 (Jeog-eul Seutoking |Stalking The Enemy)
Uap panas yang mengepul dari cawan teh di atas meja, tak membuat Yi Yeol kunjung membuka topik percakapan. Obsidian pria itu bergulir, mengawasi dan memperhatikan satu persatu menteri yang mengunjunginya sore ini. Tanpa perlu mendapatkan penjelasan lebih dulu, Yeol yakin kedatangan Perdana Menteri dan beberapa menteri lainnya ke paviliun musim gugur bukan kunjungan semata. Sebagai seorang Pangeran Agung, Yeol harus bersikap waspada.
“Aku yakin kedatangan kalian kemari bukan hanya untuk memperhatikan wajahku bukan, Daegam?” tanya Yeol yang lalu meraih cawan teh miliknya dan menggoyangkannya perlahan, agar wangi teh tersebut menguar. Yeol melirik seraya mengangkat cawannya dan memperlihatkan pada Perdana Menteri. Senyum jahil mengembang di romannya.
“Apa kalian mungkin datang kemari untuk merasakan bagaimana teh racikan di kediamanku?”
Perdana Menteri terkekeh mendengar pembukaan topik yang digulirkan Yeol. Pria itu menatap Yeol dengan seksama dan ikut memainkan cawan teh yang disajikan di ruangan pribadi Yeol.
“Anda memiliki intuisi yang tajam, Daegun Daegam,” balas Perdana Menteri yang lalu menyesap perlahan teh miliknya sebelum kembali berbincang, “apa perlu kita mulai masuk pada inti pembicaraan, Daegam?”
Yeol mengangguk, mempersilakan Perdana Menteri menggulirkan pembicaraan lebih jauh. Yeol ingin segera mengakhiri pembicaraan ini karena ia merasa sangat tidak nyaman. Terlahir sebagai seorang pangeran agung, Yeol sangat paham bahwa ia tidak boleh ikut campur dalam permasalahan politik—jika memang itu yang menjadi tujuan kedatangan Perdana Menteri.
“Kami bermaksud membicarakan keadaan genting yang sedang terjadi pada negeri ini, Daegam.”
“Keadaan genting apa tepatnya yang terjadi? Lalu, kenapa Anda mendatangiku yang tak mengerti apapun mengenai situasi saat ini. Apa Anda berniat membuat lelucon dengan ini?” tandas Yeol dengan nada dingin, namun bibirnya mengukir senyum jenaka yang membingkai wajahnya.
“Kami datang dan mengatakan hal ini karena Anda adalah satu-satunya harapan agar negeri ini terbebas dari krisis yang sedang terjadi,” sahut Menteri Pertahanan yang ikut datang bersama Perdana Menteri.
Yeol mengerling, gerakan tangannya yang hendak mengisi kembali cawan yang sudah kosong, terhenti di udara. Dalam beberapa detik, Yeol seakan membeku di tempat, sebelum akhirnya ia berdeham dan meletakkan poci berisi teh dan memilih memusatkan seluruh perhatiannya pada para menteri.
Menyadari seluruh perhatian telah terpusat pada pembicaraan yang sedang berlangsung, Perdana Menteri melirik ke arah Menteri Pertahanan yang berada di sisi kanannya. Lirikan mata penuh arti itu ditanggapi dengan anggukan singkat. Perdana Menteri berdeham sejenak dan bersiap menggulirkan topik pembicaraan yang sebenarnya.
“Daegam, Jeonha sudah melalaikan tugasnya sebagai pemimpin negara untuk segera memiliki pewaris.”
Yeol mengangkat bahunya, menanggapi dengan santai pembicaraan yang sedang berlangsung meski sebenarnya ia bersikap sangat waspada. Bagaimana pun, kedatangan menteri ke rumahnya saja sudah mengundang bahaya untuknya.
“Mungkin semua itu hanya masalah waktu saja, Daegam. Lalu, kenapa aku perlu dikaitkan dengan semua ini? Jeonha dan Jungjeon Mama masih sangat muda, kupikir tidak masalah jika Dewan Istana menunggu sedikit lebih lama sampai pewaris hadir.”
“Animnida, Daegun Daegam. Permasalahannya tidak hanya terletak pada tidak adanya pewaris dari Jeonha. Tapi juga mengenai pelaksanaan wasiat Mendiang Raja yang tak kunjung direalisasikan oleh Jeonha.”
Detik dimana Yeol mendengar kata wasiat Mendiang Raja, pikiran serta tubuh pria itu benar-benar dalam mode waspada. Sikapnya yang tadi terlihat santai, kini membuat sikap tubuh kaku dan penuh rasa curiga.
“Wasiat Mendiang Raja?” tanya Yeol memastikan bahwa ia tak salah mendengar.
Perdana Menteri mengangguk. “Ye, Daegam. Saya adalah menteri yang diminta Mendiang Raja untuk mendengarkan wasiat terakhirnya,” Perdana Menteri menjeda penjelasannya, ia berusaha mengamati perubahan air muka Yeol saat mendengarkan penjelasannya, “entah bagaimana sepertinya Mendiang Raja seakan sudah mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan Jeonha ataupun Jungjeon Mama, karena wasiat terakhir beliau adalah menginginkan Anda menjadi Wangseje—saudara pewaris takhta dari Jeonha.”
“Apa?!”
Yeol terbelalak mendengar fakta tak terduga yang baru saja ia dengar. Pria itu tak hanya sekedar kaget namun lebih tepatnya terguncang. Obsidiannya berkilat, memancarkan rasa shock sekaligus tak percaya dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh Perdana Menteri.
“Tuan Perdana Menteri, apakah Anda sedang bercanda? Tidakkah Anda tahu akibat dari ucapan berbahaya Anda tersebut?” ujar Yeol dengan nada bicara sedikit gemetar menahan gejolak emosi yang mewarnai hatinya.
Yeol tak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan hal seperti itu pada Perdana Menteri. Selama tinggal dan besar di istana, Yeol paham betul bahwa pria paruh baya yang ada di hadapannya itu adalah pendukung terbesar dari pemerintahan mendiang ayahnya. Tidak hanya itu, Perdana Menteri juga pendukung utama selama kakaknya—Yi Hyul, menjabat sebagai Putra Mahkota. Lalu, bagaimana bisa Yeol mempercayai ucapan pria itu jika ia sangat mengenal manuver politi dari sang Perdana Menteri?
Pikiran Yeol kemudian memutar kilas pertemuan yang terjadi antara dirinya dan Yi Hyul beberapa hari menjelang pernikahan Yeol. Yeol masih mengingat jelas ancaman serta intimidasi Hyul pada hari tersebut. Hanya dengan mengingatnya saja, membuat Yeol bisa merasakan kembali panasnya teh yang dituangkan Hyul pada tangannya. Panas dan merasa terbakar, secara refleks Yeol menggenggam erat tangannya yang pernah mendapat siraman teh panas dari sang kakak.
“Apa Anda berniat menjerumuskanku pada perbuatan pengkhianatan?”
“Daegun Daegam! Bagaimana bisa Anda bertanya hal keji seperti itu pada saya? Saya tidak akan berani melakukan itu pada Anda,” bantah Perdana Menteri dengan suara yang sedikit meninggi, terkejut dengan reaksi yang diperlihatkan Yeol padanya.
“Lalu, jika bukan itu yang menjadi tujuan Anda, apa Anda berniat mengadu domba antara aku dan Hyungnim?”
“Daegun Daegam! Kami tak pernah memikirkan hal-hal keji seperti itu terhadap Anda! Mohon tenangkan diri Anda dan biarkan kami menjelaskan lebih lanjut,” bujuk Menteri Pertahanan yang ikut berdiri dan berusaha membantu Yeol agar duduk kembali di tempatnya.
Yeol mengelak. Pria itu mundur beberapa langkah, menghindari kontak fisik apapun yang hendak dilakukan Menteri Pertahanan padanya. Iris gelap itu menatap nyalang para menteri secara bergantian.
“Aku tak ingin mendengar penjelasan apapun lagi dari kalian. Aku menganggap tak pernah mendengar atau membicarakan hal ini dengan kalian. Silakan, aku yakin kalian tahu jalan keluar dari ruangan ini,” perintah Yeol dingin yang benar-benar tak ingin berbicara lebih jauh dengan para menteri.
~THE RED MOON~
“Daegun Daegam bereaksi sangat keras begitu kami menyinggung mengenai wasiat Mendiang Raja yang ingin menjadikannya sebagai Wangseje. Beliau juga bahkan selalu menolak kedatangan kami, hingga kami benar-benar tak bisa bertemu beliau. Apa yang harus kami lakukan untuk meyakinkan beliau, Daebi Mama?”
Perdana Menteri menatap gelisah pada Ibu Suri Park yang tampak tenang di singgasananya. Pria paruh baya itu melaporkan kegiatannya untuk membujuk Pangeran Agung Hyoyeom pada sang Ibu Suri. Bagaimana pun, rencana mereka tak bisa berlanjut jika tidak ada persetujuan dari Pangeran Agung Hyoyeom.
Ibu Suri Park tak langsung memberikan jawaban atas kegelisahan yang disampaikan Perdana Menteri. Wanita itu masih sibuk berpikir seraya mengetuk-ngetuk meja takhta dengan jemarinya. Sebagai ibu kandung Yi Yeol, Ibu Suri Park sangat mengenal perilaku putra semata wayangnya. Putranya selalu menghindari dengan baik hal-hal yang bisa memancing pertikaian dengan kakak tirinya. Dan hal itulah yang membuat Yi Yeol tak sadar kemampuannya untuk menjadi seorang pewaris takhta.
“Anak bodoh itu....” kekeh Ibu Suri Park yang kemudian membenahi posisi duduknya agar menjadi lebih tegak. “Apa ia benar-benar bereaksi sekeras itu saat mendengar kau mengatakan tentang Wangseje?”
“Ye, Mama. Beliau bahkan langsung bangkit berdiri setelah hamba menjelaskan mengenai wasiat Mendiang Raja.”
Perdana Menteri terdiam beberapa detik setelah menjawab pertanyaan Ibu Suri Park. Kepalanya seakan mengingat sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya. Pria itu mengangkat wajah dan membuka suara dengan sedikit keraguan di hati.
“Daebi Mama, sejujurnya ada pertanyaan yang selama ini selalu muncul di kepala hamba setiap kali memikirkan tentang wasiat Mendiang Raja,” Perdana Menteri menjeda, mengawasi perubahan ekspresi yang muncul di raut Ibu Suri Park.
“Apa mungkin Mendiang Raja mengetahui sesuatu mengenai Jeonha dan Jungjeon Mama hingga membuat wasiat seperti itu? Tidakkah Anda berpikir bahwa ini sesuatu yang ganjil? Terlebih, Jungjeon Mama masih berusia muda dan sangat memungkinkan mengandung pewaris.”
Sebuah seringai perlahan mengembang di sudut bibir Ibu Suri Park. Wanita istana itu jelas yang paling mengetahui alasan dibalik mendiang suaminya membuat wasiat seperti itu. Tapi, ia tak akan pernah mau mengungkapkannya. Sang Ibu Suri menatap penuh arti pada Perdana Menteri.
“Bahkan Anda pun memiliki pertanyaan yang sama denganku, Daegam,” ujar sang Ibu Suri yang kini mulai memanipulasi ekspresi di wajahnya. Matanya menyipit, seakan berpura-pura berpikir keganjilan tersebut. “Aku pun merasa ada sesuatu yang diketahui Mendiang Raja hingga membuat wasiat seperti itu.”
“Apa perlu kami menyelidikinya, Mama?”
”Aniyo,” Ibu Suri Park menggeleng cepat, “biarkan aku yang mengurus hal itu. Daegam hanya perlu berfokus untuk membujuk Daegun.”
Perdana Menteri menghela napas mendengar respon Ibu Suri Park. Pria tua itu jelas sudah kehabisan akal untuk membujuk Pangeran Agung Hyoyeom. “Daebi Mama, dengan segala hormat. Hamba benar-benar kehabisan cara untuk menghadapi Daegun Daegam. Hamba tak tahu apalagi yang perlu dilakukan agar beliau mempercayai hamba.”
Ibu Suri Park terkekeh mendengar keputusasaan Perdana Menteri menghadapi putranya. Wanita itu kemudian tersenyum penuh arti.
“Anda hanya tak memahami Daegun dengan baik. Agar anak itu paham cara bertahan hidup, Anda hanya perlu mengambil sesuatu yang berharga baginya, Daegam.”
~THE RED MOON~
Gong yang menandakan lewat tengah malam sudah berbunyi sebanyak tiga kali. Meski waktu sudah mulai menunjukkan pergantian hari, tapi cahaya di ruang pribadi istana utama tak kunjung padam. Hal ini menunjukkan bahwa sang pemilik istana utama masih tetap terjaga.
Duduk di singgasananya, Raja Yeongak masih sibuk membaca satu persatu laporan yang diserahkan para menteri pada pertemuan Dewan Istana beberapa hari yang lalu. Obsidiannya masih sibuk bergulir, membaca guratan tinta hitam yang mengotori gulungan perkamen. Sementara itu, kepala pria itu berpikir keras, memikirkan solusi atas setiap permasalahan yang dilaporkan para menteri tiap departemen.
Yi Hyul bahkan tak mengalihkan sedikit pun perhatian saat pintu masuk bergeser terbuka dan Kasim Jang memasuki ruangan. Pria berjubah merah itu tetap berfokus pada pekerjaannya. Sementara itu, Kasim Jang melangkah mendekati singgasana dengan langkah pelan, berusaha tak menimbulkan suara yang bisa mengganggu fokus dari Raja Yeongak.
“Jeonha, maaf karena hamba menganggu. Tapi ada sesuatu yang perlu hamba sampaikan secepatnya.”
Yi Hyul mengangkat wajahnya sejenak dari perkamen yang sedang ia baca. Pria itu seakan memberi tanda bahwa Kasim Jang mendapatkan perhatian darinya. Tanpa bersuara, Yi Hyul hanya mengawasi Kasim Jang selama beberapa detik sebelum kembali membaca laporan.
“Hamba mendengar kabar bahwa pagi tadi Perdana Menteri kembali mengunjungi Daebijeon untuk bertemu Daebi Mama. Pertemuan mereka berlangsung cukup lama dibandingkan biasanya.”
Yi Hyul menyeringai dan tertawa kecil mendengar laporan tersebut. Segera, ia menggulung perkamen yang selesai ia baca dan meletakkannya di sisi kanan meja. “Benarkah? Apa informanmu bisa mencuri dengar pembicaraan mereka kali ini?” sahut Hyul dengan tawa yang masih terlantun.
“Informan mengatakan bahwa pembicaraan mereka berkaitan dengan Daegun Mama. Tampaknya Perdana Menteri baru saja bertemu Daegun Mama secara pribadi di paviliun musim gugur.”
“Aa... jadi bocah itu sudah mulai berani menunjukkan taringnya ya,” kekeh Hyul yang sedikit terkejut menyadari pergerakan adik tirinya yang tak biasanya. “Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu.”
Kasim Jang menatap Raja Yeongak dengan sorot khawatir. “Tidakkah Anda perlu mengambil tindakan, Jeonha? Hamba pun meyakini saat ini mereka sedang merencanakan sesuatu.”
“Aniya,” Hyul mengangkat sebelah tangan, menolak saran yang diberikan Kasim Jang padanya. “Untuk saat ini hanya awasi saja Daebijeon. Tidak perlu ada tindakan berlebihan, tapi sudah sepatutnya kita bersiap dengan permainan yang mereka persiapkan. Kau hanya perlu menunggu perintahku untuk menjatuhkan kejutan yang akan kupersiapkan,” pungkas Hyul dengan senyum penuh arti.
~THE RED MOON~
Wangseje: Saudara pewaris takhta—gelar yang diberikan pada kakak atau adik dari raja yang sedang berkuasa di saat tidak adanya keturunan langsung dari Raja yang sedang berkuasa.