비난 (Binan | The Accusations)
Ratu Kang beserta rombongan dayangnya baru saja keluar dari area istana Ibu Suri Istana Jo, ketika ia tak sengaja berpapasan dengan Raja Yeongak—yang juga ditemani rombongan pelayan dan pengawal. Pria berjubah merah itu hendak mengunjungi Ibu Suri Istana Jo. Untuk beberapa detik, keduanya seakan membeku di tempat, terkejut dengan eksistensi satu sama lain. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah kejadian kurang menyenangkan yang terjadi di kamar pribadi Raja Yeongak di Istana Utama.
Ratu Kang yang masih mengalami sedikit trauma akibat tindakan Raja Yeongak tempo hari, tanpa sadar melangkah mundur. Wanita yang hari ini mengenakan dangui—jaket hanbok istana berwarna cerah itu, dengan cepat berusaha mengontrol kendali diri saat menyadari tindakannya bisa saja membuat Raja Yeongak tersinggung. Sedikit tergesa, Ratu Kang membungkuk hormat dan tanpa sepatah kata, ia berlalu begitu saja seperti tak ingin berada di satu tempat yang sama.
Iris Raja Yeongak bergulir seiring Ratu Kang yang berlalu begitu saja dari hadapannya. Melihat ekspresi sendu yang terpeta di roman Ratu Kang saat melaluinya, entah kenapa membuat hati Raja Yeongak terasa berat. Seakan ada sebongkah batu besar yang jatuh tepat di d**a, dan membuat pria itu merasa sesak sekaligus sakit. Hati kecilnya mulai menyadari kesalahan yang ia perbuat terhadap wanita tersebut.
“Jungjeon!”
Panggilan itu terucap begitu saja dari bibir Raja Yeongak seraya berbalik mengikuti punggung Ratu Kang yang hampir menghilang dari pandangannya. Di tempatnya, sang Raja berharap Ratu Kang mau berhenti dan berbalik menatapnya.
Harapan sang Raja terkabul. Ratu Kang menghentikan langkahnya dan menoleh sejenak ke arah Raja Yeongak. Sebelah alis wanita itu terangkat, seakan berusaha menebak apa yang diinginkan Raja Yeongak dengan memanggilnya seperti itu.
Raja Yeongak memutar arah dan melangkah menuju Ratu Kang yang masih terdiam di tempat. Seulas senyum tipis mencoba terbit di sudut bibir Raja Yeongak. Ekspresi yang di perlihatkan Raja Yeongak membuat Ratu Kang terdiam karena waspada.
“Apa kau memiliki waktu beberapa menit untukku, Jungjeon?”
Dahi Ratu Kang mengernyit mendapat pertanyaan seperti itu dari Raja Yeongak. “Ye?”
Raja Yeongak tersenyum dan memiringkan sedikit kepalanya, seakan berusaha menggoda Ratu Kang dengan caranya. “Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan sebentar. Maukah kau berjalan-jalan di taman istana bersamaku?”
~THE RED MOON~
Siapapun yang berada di sekitar taman istana pagi ini akan kaget dengan pemandangan yang tak biasa di sana. Raja Yeongak dan Ratu Kang terlihat sedang menghabiskan waktu bersama dan berjalan bersisian seraya menikmati suasana pagi istana. Hal ini jelas menjadi sesuatu yang langka karena siapapun di istana mengetahui hubungan dingin yang terjalin pada pasangan pemimpin tersebut.
Selama beberapa menit berjalan bersama, belum ada satu pun topik pembicaraan diantara keduanya. Keduanya terlihat seakan sibuk dengan pikiran masing-masing—Raja Yeongak yang terlalu asyik memperhatikan suasana pagi sementara Ratu Kang yang sepertinya merasa takut berada di dekat sang Raja. Beberapa langkah di belakang, tampak barisan dayang dan pengawal yang turut menyertai Raja dan Ratu. Mereka sengaja menjaga jarak untuk memberikan sedikit privasi bagi Raja Yeongak dan Ratu Kang.
“Bukankah ini pertama kalinya aku mengajakmu berjalan-jalan bersama di istana, Jungjeon?” tanya Raja Yeongak dengan menolehkan sedikit wajahnya pada Ratu Kang, berusaha mengamati ekspresi yang terpeta pada paras istrinya.
“Y-ye, Jeonha,” balas Hyesun sedikit terbata karena ia terlalu fokus mengendalikan rasa takut yang menyebar di sekujur tubuhnya.
Tampaknya Hyesun mengalami trauma yang cukup berat akibat perlakuan kasar Yi Hyul tempo hari. Kedua tangan yang tersembunyi di balik dangui yang dikenakannya, terasa basah karena kegugupan serta rasa takut yang menguasainya. Hyesun bahkan berusaha menjaga jarak dari Hyul, tak ingin sesuatu yang mengerikan terjadi lagi padanya.
Menyadari kegugupan yang diperlihatkan Hyesun, membuat rasa bersalah perlahan muncul di permukaan hati Hyul. Pria itu berhenti melangkah dan memilih memusatkan perhatian pada Hyesun yang juga berhenti dan menghindari kontak mata dengan Hyul.
“Aku minta maaf, Jungjeon,” ucap Hyul lirih.
Mata Hyul menatap lurus pada Hyesun yang masih menolak berkontak mata dengannya. Awan mendung seakan menyelimuti roman Hyul melihat Hyesun yang terluka dengan perlakuannya tempo hari. Hal itu jelas membuat Hyul merasa sangat bersalah.
Hyesun menoleh cepat mendengar ucapan maaf yang terucap dari Hyul. Hal itu jelas membuatnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena permohonan maaf dari Yi Hyul yang sungguh di luar dugaan.
“Mworago?”
Hyesun menyipit tajam, berusaha membaca pikiran dan ekspresi yang diperlihatkan Hyul. Hyesun menangkap adanya awan kelabu yang membayangi kedua obsidian Hyul, namun hal itu tak mampu mengusir trauma yang sudah dialami Hyesun.
“Aku minta maaf karena sudah memperlakukanmu dengan kasar tempo hari,” ujar Hyul yang masih memusatkan perhatian pada Hyesun. “Aku sungguh tak bermaksud seperti itu. Hanya saja, rasa kecewa yang kurasakan membuatku hilang kendali dan bertindak kasar padamu.”
Hyesun tak menanggapi penjelasan Hyul padanya. Wanita itu hanya menghela napas panjang dan memilih memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Hingga, maniknya terkunci pada sepasang sosok yang baru saja melintas tepat di arah pandangnya.
Sepasang sosok itu melangkah bersisian dan terlihat memancarkan kehangatan satu sama lain meski dari tempatnya berdiri, Hyesun tak bisa memperhatikan dengan jelas bagaimana ekspresi yang terpeta di wajah mereka. Namun, intuisinya berkata bahwa sudah ada ikatan hati yang mulai tumbuh tanpa diketahui oleh masing-masing.
“Ada urusan apa Daegun dan Bubuin berkunjung ke istana di waktu sepagi ini?”
Hyesun menoleh dan mendapati Hyul—entah sejak kapan sudah berada di dekatnya, dan melontarkan pertanyaan yang tepat seperti yang ditanyakan batinnya. Hyesun tak memberikan respon, sebaliknya ia mulai menggigit bibir bagian dalam untuk mengurangi hatinya yang terasa sakit melihat kebersamaan Yeol dan Yeonhwa di depannya.
“Apa kau mengundang mereka kemari, Jungjeon?”
Hyesun menggeleng dan berbalik, memilih memblokir pandangannya sebelum ia kehilangan kendali atas perasaannya. “Matahari sudah semakin tinggi, Jeonha. Sebaiknya Anda bergegas menuju balai istana. Semoga hari Anda menyenangkan, aku permisi.”
Dengan langkah tergesa, Hyesun memilih pergi meninggalkan Hyul yang masih termangu mendapati sikap aneh Hyesun setelah melihat kedatangan Yeol dan Yeonhwa di istana pagi ini. Sejenak, Hyul mendengus menyadari Yeol sepertinya masih memiliki pengaruh yang kuat atas diri Hyesun. Hingga, perhatiannya kembali tertuju pada sosok feminim yang berjalan di sisi Yeol. Seringai perlahan terbit kala manik gelapnya menyadari tangan protektif Yeonhwa pada perutnya yang membuncit.
“Ah, Langit memang tak pernah adil padaku dan bocah sialan itu,” desis Hyul.
~THE RED MOON~
Ibu Suri Park tak kunjung membuka suara setelah mendapati kunjungan Yeol dan Yeonhwa pagi ini. Wanita istana itu bahkan tak repot ingin bertanya mengenai kabar putra dan menantunya. Sebaliknya, Ibu Suri Park melayangkan tatapan dingin dari singgasananya.
Sadar dengan atmosfer kurang bersahabat yang diperlihatkan ibunya, membuat Yeol kemudian berdeham untuk memecah keheningan dan menggulirkan topik pertemuan.
“Eomma Mama, bagaimana kabar Anda? Aku harap Anda berada dalam kondisi kesehatan terbaik.”
Bibir Ibu Suri Pak terangkat, mengukir senyum miring. Hazelnya menatap lurus, menghujam tepat pada kedua manik milik Yeol.
“Bagaimana bisa kau mengharapkan aku dalam keadaan baik-baik saja, Daegun?” responnya yang kemudian jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan sedikit tak sabar. “Aku meminta kalian datang kemari untuk membicarakan hal penting. Daegun, beberapa hari lalu, bukankah Perdana Menteri datang mengunjungimu?”
Yeol tertegun sejenak setelah mendengar pertanyaan dari sang ibu. Intuisinya tak meleset bahwa ibunya memiliki andil dalam kunjungan yang dilakukan Perdana Menteri tempo hari. Sedikit kekecewaan muncul dipermukaan hati Yeol mengetahui ibunya masih memiliki niat untuk mendudukkannya di kursi pewaris.
“Apa Eomma Mama yang menyuruh Perdana Menteri datang menemuiku dan mengatakan hal tak masuk akal mengenai wasiat Mendiang Raja?” tanya Yeol dengan ekspresi yang berubah menjadi dingin dan sedikit tak bersahabat pada sang ibu.
“Apa yang kau maksud dengan ucapan tak masuk akal?” balas Ibu Suri Park dengan kekehan di akhir.
Yeol mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh, berusaha untuk meredam emosi yang perlahan mulai menunjukkan gejolak. “Anda pasti mengerti dengan apa yang kumaksud, Eomma Mama,” desis Yeol.
“Apa kau pikir hal tak masuk akal itu sengaja di buat olehku?”
Yeol tersenyum miring namun berusaha agar tetap bersikap sopan pada ibunya. “Itu bukanlah hal sulit bagi Anda, Eomma Mama. Tidakkah Anda seharusnya malu karena sudah membuat kebohongan seperti itu?”
BRAK!
Ibu Suri Park menggebrak meja di depannya. Kemarahan dengan cepat menyulut di permukaan hatinya seiring dengan tuduhan serta sikap keras kepala yang diperlihatkan Yeol saat ini. Sungguh, wanita istana itu tak mengerti kenapa Yeol tak bisa mempercayai apa yang disampaikan Perdana Menteri tempo hari.
“Apa yang kau pikirkan hingga memiliki kesimpulan bahwa aku membuat kebohongan! Semua yang disebutkan Perdana Menteri adalah fakta dan kau memang terpilih untuk menjadi pewaris selanjutnya! Kau harus menerimanya!”
“Animnida, Eomma Mama! Sampai kapan Anda akan terobsesi untuk mendudukkanku di takhta?!” sembur Yeol yang mulai kehilangan kendali terhadap tindakan sang ibu. “Eomma Mama, aku mohon berhenti memaksaku.”
“Dasar anak bodoh! Kau harus mengambil kesempatan itu, Yeol~a, itu kesempatanmu agar terlepas dari bahaya yang bisa saja mengancammu sewaktu-waktu!”
Yeol tertawa miris mendengar ucapan sang ibu yang masih menginginkannya untuk duduk di takhta. “Bukankah saat ini justru Andalah yang menyeretku ke dalam bahaya? Tindakan Anda ini bisa dianggap sebagai pengkhianatan, Eomma Mama.”
Ibu Suri Park meledak dalam tawa mendengar tuduhan Yeol padanya. Ia benar- benar kehabisan akal untuk membujuk dan menjelaskan perkara yang sebenarnya pada Yeol. Kepalanya berpikir keras mencari cara agar Yeol bisa memahami bahaya serta pentingnya kesempatan yang dimilikinya melalui wasiat mendiang raja.
Dan, sebuah tindakan terpikirkan oleh Ibu Suri Park kala irisnya tertuju pada sosok menantu yang sedari tadi hanya diam tak membuka suara. Jika pembicaraan tak bisa membuat putranya paham, mungkin tindakan akan memaksa Yeol untuk mengerti.
“Kau memang tak pernah peka dengan keadaan yang saat ini terjadi, Yeol~a. Aku sudah memperingatkanmu sejak awal, jika suatu hari kau dalam bahaya dan nyawa semua orang terdekatmu terancam, mungkin detik itulah kau bisa mengerti bahkan menginginkan sebuah kekuasaan ada di tanganmu.” Pungkas Ibu Suri Park sembari menegakkan punggungnya dan memalingkan wajah dengan rasa kecewa yang membanjiri hatinya.
~THE RED MOON~