달빛 아래 눈물 (Dalbich Alae Nunmul |Tears Under The Moonlight)
Melihat Yi Yeol telah ambruk ke lantai, dua sosok bayangan yang berada di ruang pribadinya dengan segera pergi begitu saja. Sementara itu, Yeonhwa merasa jantungnya di renggut paksa dari tempat melihat Yeol yang jatuh terduduk dan bersimbah darah.
Yeonhwa merangkak secepat yang ia bisa mendekati Yeol. Penglihatan wanita itu sedikit kabur karena airmata yang membanjiri wajahnya. Jantungnya berdegup kencang dan menjeritkan permohonan dalam hati bahwa Yeol bisa bertahan.
“S-seobangnim... Seobangnim....”
Yeonhwa memanggil Yeol dengan suara tertahan oleh isakan, berusaha agar prianya tetap bertahan hidup. Tangan feminim itu gemetar menyadari cairan pekat yang mengotori bagian depan jubah tidur suaminya adalah darah. Kepanikan mulai menguasai Yeonhwa di susul dengan rasa pusing yang menyerang kepalanya.
“D-darah... Seobangnim, kau terluka cukup parah. Aku mohon bertahanlah,” ucap Yeonhwa dengan suara gemetar, entah antara takut atau kaget.
“Buin... a-apa kau terluka?”
Yeonhwa tersedak mendengar pertanyaan yang diajukan Yeol. Bahkan di saat seperti ini, Yeol masih sempatnya menanyakan keadaannya. Airmata semakin deras membanjiri wajah Yeonhwa menyadari Yeol terluka dengan kemungkinan untuk melindungi dirinya.
“Tolong! Siapapun tolong! Toloooong!” jerit Yeonhwa dengan nada sedikit putus asa berusaha mencari bantuan dengan Yeol yang semakin melemah karena luka sabetan di perut.
“B-berhenti berteriak seperti itu, Buin. Tenggorokmu akan sakit.”
“Aniya. Aku tak akan merasa sakit. Anda harus segera mendapatkan pertolongan. Bertahanlah, aku akan memanggil pertolongan.”
Yeol mencegah Yeonhwa yang hendak beranjak dari sisinya dengan mencekal tangan istrinya. Tanpa banyak berkata, obsidian itu seakan mengatakan agar Yeonhwa tetap di sisinya. Hal itu malah membuat Yeonhwa menangis semakin kencang, tak sanggup melihat noda darah yang semakin menggelap pada jubah tidur Yeol.
Tak ingin hal buruk terjadi pada Yeol, Yeonhwa kembali berteriak sekencang yang ia bisa. Sesekali teriakannya diselingi dengan isak tangis, berharap pertolongan akan segera datang. Karena rasa takut yang semakin membesar dalam dirinya, Yeonhwa mulai merasakan nyeri pada bagian perutnya. Sambil menangis, Yeonhwa sesekali meringis dan memegangi perutnya.
Setelah Yeonhwa berulang kali menjeritkan pertolongan, terdengar suara langkah terburu-buru mendekati kamar tidurnya. Di susul kemudian, pintu kamar yang bergeser terbuka dan peki kaget dari seorang pelayan yang terkejut dengan pemandangan yang ia lihat di ruang tidur sang Nyonya rumah.
“MANIIM! DAEGAAM!”
Yeonhwa mendongak dan mendapati salah satu pelayan pribadinya berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar. Mata pelayan itu terbeliak, tak menyangka dengan pemandangan yang menyambutnya begitu membuka pintu kamar Yeonhwa.
“Kkeut~ah, panggilkan tabib segera! Daegun terluka parah. Cepat!” perintah Yeonhwa di tengah kondisi berusaha keras menahan rasa sakit yang semakin menjadi pada perutnya. Genggaman tangan wanita itu semakin mengerat pada tangan Yeol. “Seobangnim, bertahanlah. Tabib akan segera datang mengobati Anda. Aku mohon bertahanlah sebentar lagi.”
Pelayan bernama Kkeut itu segera pergi melaksanakan perintah Yeonhwa. Hanya berselang beberapa detik setelah kepergian Kkeut, para pelayan mulai mendatangi bangunan tengah di paviliun musim gugur. Semuanya terkejut namun para pelayan pria dengan sigap memindahkan Yeol ke tempat yang lebih baik dan memberikan pertolongan pertama.
Sementara itu, pelayan perempuan pun turut membantu Yeonhwa untuk berpindah tempat. Tidak hanya itu, mereka pun turut memastikan kondisi dari sang Nyonya rumah, terlebih setelah kejadian tragis yang disaksikan wanita itu.
“Manim, Anda baik-baik saja? Apa Anda merasa sakit?” tanya pelayan yang paling senior, berusaha memastikan Yeonhwa dan kandungannya baik-baik saja.
Yeonhwa tak menjawab. Matanya terlihat tak fokus. Satu-satunya hal yang saat ini memenuhi kepalanya adalah kondisi Yeol serta kandungannya. Napasnya sedikit memburu, disusul dengan ketakutan yang menyerangnya semakin kuat. Yeonhwa mengedarkan pandangannya, sekelilingnya seperti dunia tanpa suara. Satu-satunya hal yang bisa Yeonhwa dengar adalah napasnya yang semakin cepat. Dan perlahan, kepala Yeonhwa terasa semakin berat yang kemudian membuat pandangannya menggelap.
“Manim... Manim... Maniiim!”
~THE RED MOON~
“Mama! Jungjeon Mama!”
Seorang dayang muda berteriak sambil berlari-lari memasuki selasar istana tengah. Keributan tersebut jelas membuat beberapa dayang yang terkantuk-kantuk dalam melaksanakan tugasnya terbangun. Para dayang yang terbangun secara tiba-tiba mendengus kesal namun tak dipedulikan oleh si dayang muda yang saat ini terus berlari hingga akhirnya tiba di depan pintu masuk menuju ruangan pribadi Ratu Kang.
Di depan pintu, Dayang Jang sudah berdiri menghalangi dengan sorot mata tak bersahabat. Dayang senior itu jelas tak akan memaafkan tindakan tak sopan yang dilakukan si dayang muda. Bagaimana pun, dayang itu membuat keributan di tengah malam—di mana hampir semua orang termasuk Ratu Kang, pasti sedang beristirahat.
“J-jung... M-mamanim!” pekik dayang muda itu dengan mata terbelalak karena mendapati kehadiran Dayang Jang yang sepertinya sedang bertugas malam ini.
“Apa yang kau pikirkan hingga bertindak selancang itu di Istana Tengah?! Tidakkah kau tahu ini sudah lewat tengah malam!? Kau bisa mengganggu istirahat Jungjeon Mama!” sentak Dayang Jang yang berusaha juga menjaga nada suaranya agar tak membuat Ratu Kang di ruangannya sampai terbangun.
“Mohon maafkan saya, Mamanim. Hanya saja ada berita penting yang harus segera saya sampaikan pada Jungjeon Mama. Saya baru saja mendapat berita mengenai kejadian tragis yang terjadi di paviliun musim gugur.”
Belum sempat Dayang Jang memberikan keputusan setelah mendengar penjelasan si dayang muda, pintu di belakang bergeser dan di ambang pintu muncul Ratu Kang yang masih mengenakan jubah tidurnya. Tampaknya, sang Ratu terbangun dengan percakapan yang terjadi di depan kamarnya.
“Ada apa ini? Kenapa kalian begitu berisik?” tanya Ratu Kang yang menatap satu persatu para dayang kediamannya, menuntut penjelasan atas keributan yang terjadi hingga membangunkannya.
Dayang Jang menghadap ke arah Ratu sembari membungkuk serendah mungkin. Dayang senior itu jelas tak enak karena sudah membuat istirahat Ratu Kang terganggu. Tapi, mengingat penjelasan si dayang muda, membuat Dayang Jang sedikit gamang untuk melaporkan atau tidak. Terlebih, informasi yang di bawa si dayang muda berkaitan dengan paviliun musim gugur.
“Mohon maaf sudah membangunkan Anda, Jungjeon Mama. Hamba menerima sebuah laporan mengejutkan yang di bawa dayang muda ini,” jelas Dayang Jang sekaligus mempertimbangkan untuk melaporkannya segera pada Ratu Kang atau menundanya hingga esok pagi.
Ratu Kang sedikit berdecak kesal. Beberapa saat lalu ia baru saja memutuskan untuk tidur setelah beberapa malam terakhir ia tak bisa beristirahat dengan baik. Tapi, rencana beristirahatnya gagal karena ia mendengar suara langkah berlari di selasar lorong ditambah dengan percakapan yang cukup ribut di depan pintu kamarnya.
“Apa kalian tidak bisa menunggu sampai besok pagi?” tandas sang Ratu yang tak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya. Wanita itu melempar tatapan dingin pada Dayang Jang—sang asisten yang sudah ia beri pesan untuk tidak mengganggunya malam ini.
“Mohon maafkan hamba, Jungjeon Mama. Hamba pastikan kejadian malam ini tidak akan terulang lagi. Silakan Anda kembali beristirahat,” pungkas Dayang Jang yang mengartikan respon Ratu Kang sebagai sinyal untuk menunda laporannya.
Ratu Kang dengan segera berbalik untuk kembali ke dalam ruangan dan beristirahat. Namun tepat ketika pintu ruangan di tutup kembali oleh Dayang Jang, si dayang muda yang ditugaskan membawa pesan, meneriakkan sesuatu.
“Jungjeon Mama, keributan yang terjadi ini bukan tanpa sebab. Hamba membawa berita penting dari paviliun musim gugur,” pekik si dayang muda yang tak ingin usahanya berlari-lari di tengah malah ini terasa sia-sia.
Mendengar nama tempat tinggal Yeol di sebutkan membuat langkah Hyesun terhenti. Dengan cepat wanita itu berbalik dan mengarahkan tatapan tajam menusuk pada dayang muda yang sejak beberapa waktu lalu, hanya diam mendengarkan teguran Hyesun pada Dayang Jang.
“Apa kau bilang?” sergah Ratu Kang dengan iris menyipit penuh kewaspadaan.
Rasa senang mengembang di permukaan hati si dayang muda karena ia berhasil mendapatkan atensi dari sang Ratu. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dayang muda itu bersiap mengatakan berita yang ia bawa.
“Hamba membawa berita penting dari paviliun musim gugur. Ada kejadian tak terduga yang malam ini terjadi di sana, Jungjeon Mama,” ujarnya membuka berita yang ia bawa pada sang Ratu.
“Kejadian mengejutkan apa yang kau maksud? Jelaskan padaku,” desis Ratu Kang terdengar sedikit dingin.
“Terjadi percobaan pembunuhan pada Hyekyung Bubuin Mama malam ini oleh dua orang tak di kenal. Tapi, percobaan pembunuhan itu berhasil di gagalkan oleh Hyoyeom Daegun Daegam. Hanya saja, karena mencoba menggagalkan pembunuhan itu, Daegun Daegam mengalami luka parah di tangan dan perutnya.”
“MWORAGO?!”
Hyesun terbelalak dan tubuhnya merosot ke lantai tepat setelah mendengar seluruh berita yang di bawa oleh si dayang muda. Mendengar Yeol terluka bahkan mungkin saja dalam kondisi kritis membuat jantung Hyesun seakan berhenti berdetak beberapa detik. Hyesun sejatinya ingin berlari keluar, pergi menuju paviliun musim gugur untuk memastikan kondisi Yeol saat ini. Hanya saja, tubuhnya tak bisa di ajak bekerja sama. Kakinya seakan kehilangan kekuatannya.
“Yeol~a....” ucap Hyesun lirih, berharap ucapannya itu bisa di dengar oleh Yeol. Dan detik selanjutnya, Hyesun merasakan segalanya terasa gelap dan ringan.
“Jungjeon Mama!”
~THE RED MOON~
Di bawah sinar rembulan dan tanpa mempedulikan angin malam yang terasa lebih dingin di bandingkan malam-malam biasanya, Ibu Suri Park terlihat melintasi halaman dan bergerak menuju istana Ibu Suri Istana Jo, yang berada tepat di timur dari kediamannya.
Mata Ibu Suri Park tampak sembab dan sedikit pucat karena berita mengejutkan yang ia dapatkan beberapa saat lalu. Rasa takut serta cemas yang begitu tinggi, mendorong wanita yang menjadi anggota senior kerajaan kedua itu bergegas menemui Ibu Suri Istana Jo. Bagaimana pun juga, Ibu Suri Park tak bisa menjamin kejadian mengerikan yang terjadi di kediaman putra semata wayangnya tak terulang lagi. Wanita itu semakin menyadari bahaya yang tengah mengancam nyawa Yi Yeol.
Tak butuh waktu terlalu lama hingga Ibu Suri Park tiba di kediaman Ibu Suri Jo. Suasana istana anggota paling senior itu terlihat sepi, menandakan bahwa pemilik kediaman itu pasti sedang beristirahat. Meski tahu kedatangannya pasti akan mengganggu, wanita itu tak peduli dan bergegas masuk ke paviliun tersebut secepat yang ia bisa.
Beberapa dayang kediaman Ibu Suri Istana Jo yang terkantuk-kantuk dalam melaksanakan tugasnya, tersentak kaget mendapati kehadiran Ibu Suri Park di tengah malam seperti sekarang. Mereka buru-buru terbangun dan memberikan salam hormat pada wanita yang melintas cepat melewati selasar lorong menuju ruangan pribadi Ibu Suri Istana Jo.
Begitu langkahnya menuju pintu masuk ruangan pribadi Ibu Suri Istana Jo, Dayang Nam—asisten pribadi sang Ibu Suri Istana, menyambut kehadiran Ibu Suri Park dengan tenang. Dayang senior itu segera membungkuk hormat pada Ibu Suri Park dan sama sekali tak terkejut dengan kedatangan yang tak terduga itu.
“Daebi Mama, maafkan kelancangan hamba ini. Ada apa Anda datang di waktu istirahat seperti ini?” tanya Dayang Nam yang dengan cepat menanyakan tujuan kedatangan Ibu Suri Park.
“Aku ingin menemui Wang Daebi Mama. Ada berita mengerikan yang harus segera kusampaikan. Silakan beritahu kedatanganku pada beliau,” titah Ibu Suri Park dengan nada suara sedikit gemetar karena menahan tangis di tenggoroknya.
“Mohon maafkan hamba, Daebi Mama. Hanya saja, Wang Daebi Mama baru saja beristirahat. Hamba tak berani jika harus masuk dan mengganggu beliau. Mohon Anda tunggu sampai fajar datang,” tolak Dayang Nam sesopan mungkin dengan kepala sedikit menunduk.
Ibu Suri Park mendelik tajam mendapatkan penolakan Dayang Nam. Emosinya menggelegak di permukaan hati merasa berita yang akan ia sampaikan pada Ibu Suri Istana Jo, bukanlah sesuatu yang penting. Wanita itu kemudian maju selangkah, membuat jarak dirinya dan Dayang Nam hanya berjarak beberapa jengkal. Maniknya menghunus tajam, tak menerima penolakan yang baru saja diucapkan Dayang Nam.
“Aku datang kemari untuk menyampaikan kejadian mengerikan yang baru saja menimpa putraku. Apa kau berani menanggung akibat jika sampai nyawa putraku melayang karena sikap keras kepalamu, Dayang Nam?” desis Ibu Suri Park penuh ancaman pada Dayang Nam.
“Tapi Daebi Mama, Wang Daebi Mama baru saja beris—“
“Sampaikan kedatanganku pada beliau, Dayang Nam! Aku yakin beliau akan mengerti setelah mendengar laporanku!” potong Ibu Suri Park yang mulai meninggikan suaranya karena tak sabar menghadapi Dayang Nam.
“Suara ribut apa di luar? Dayang Nam, apa kau di luar?”
Suara sahutan dari dalam ruangan, memecah atmosfir tegang antara Ibu Suri Park dan Dayang Nam. Dengan segera, Dayang Nam pun mengangguk dan memasuki ruangan untuk menyampaikan perintah Ibu Suri Park yang ingin menemui sang Ibu Suri Istana.
Tak sampai beberapa menit, Dayang Nam pun mempersilakan Ibu Suri Park untuk masuk menemui Ibu Suri Istana Jo. Beberapa lilin sudah dinyalakan karena tak mungkin mereka berbicara dalam ruangan gelap.
Ibu Suri Istana Jo yang duduk di ranjangnya menatap tajam ke arah Ibu Suri Park, seiring langkah yang dipangkas wanita itu sebelum akhirnya duduk tepat di hadapannya. Manik tua Ibu Suri Istana Jo mendelik, tak suka karena waktu istirahatnya telah di ganggu.
“Apa yang membawamu datang menemuiku di waktu selarut ini? Aku harap kau datang bukan untuk menyampaikan rengekan wanita istana yang tak puas dengan situasi yang ia dapatkan saat ini, Daebi,” sindir Ibu Suri Istana Jo dengan pedas, menyiratkan rasa kesalnya atas sikap Ibu Suri Park.
Mendengar sindiran Ibu Suri Istana Jo, membuat Ibu Suri Park dengan cepat mengubah posisi duduknya menjadi bersimpuh. Tangis yang sedari tadi berusaha ia tahan, tak bisa lagi di bendung. Seraya bersimpuh, wanita itu pun mulai terisak pilu di hadapan Ibu Suri Istana Jo.
“Eomma Mama, terjadi percobaan pembunuhan di paviliun musim gugur. Saat ini kondisi putraku—Hyoyeom Daegun, dalam keadaan kritis. Aku tak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa selain Anda,” ucap Ibu Suri Park dengan nada tersendat karena diselingi isak tangis.
“Mworago?”
Ibu Suri Istana Jo terkejut bukan main dengan berita yang disampaikan menantunya. Wanita tua itu bahkan sampai mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Manik tuanya membola seiring dengan untaian kata yang di ucapkan Ibu Suri Park.
“Eomma Mama, aku mohon pada Anda, tolong selamatkan putraku. Tolong selamatkan uri Yi Yeol. Tolong selamatkan dia, Eomma Mama....”
~THE RED MOON~