펀치 (Peonchi |The Punch)
Fajar pagi ini bahkan belum menyingsing, mengambil alih langit dari sang malam, namun Ibu Suri Istana Jo sudah berpakaian rapi dan duduk diam selama hampir setengah jam. Wanita itu bahkan sudah mengenakan hiasan rambut secara lengkap.
Setelah mendapatkan kunjungan tak terduga dari ibu Suri Park tengah malam tadi, Ibu Suri Istana Jo benar-benar tak lagi dapat beristirahat. Ia sibuk berpikir keras, mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi atas keadaan darurat yang di alami Pangeran Agung Hyoyeom di kediamannya. Ibu Suri Istana Jo pun tak memungkiri fakta jika hal yang di alami Pangeran Agung Hyoyeom beserta istrinya merupakan tindakan percobaan pembunuhan.
Menyadari tanda bahaya yang membayangi garis kedua keturunan langsung kerajaan, membuat Ibu Suri Istana Jo tak bisa tinggal diam. Terlebih, situasi kurang beruntung yang di alami Raja Yeongak beserta Ratu Kang, seakan mengukuhkan bahwa pewarisan takhta memang akan jatuh pada Pangeran Agung Hyoyeom sekalipun jika tanpa wasiat mendiang raja.
“Wang Daebi Mama, Jusang Jeonha meminta izin untuk menghadap Anda.”
Suara pengumuman di depan pintu ruangannya, menyentak Ibu Suri Istana Jo dari pikirannya. Wanita itu dengan segera menegakkan punggungnya bersamaan dengan pintu yang terbuka dan sang Raja memasuki ruangan.
Tidak butuh waktu lama bagi Raja Yeongak untuk mencapai singgasana milik Ibu Suri Istana Jo di ruangan pribadinya. Begitu berada tepat di hadapan Ibu Suri Istana Jo, pria berjubah itu menekuk badannya ke arah sang nenek sebelum akhirnya duduk.
“Halma Mama, aku harap Anda mendapatkan istirahat yang nyenyak semalam. Aku kemari tidak hanya untuk menyampaikan salam pagi. Aku mendapat pesan bahwa Anda ingin segera menemuiku. Apa benar begitu?”
“Geurae. Aku memang mengirim pesan agar kau segera menemuiku, Jusang,” sahut Ibu Suri Istana Jo yang terdengar dingin menanggapi sapaan dari cucu pertamanya tersebut. iris tua wanita itu memberikan tatapan tajam menusuk penuh kecurigaan pada Yi Hyul.
“Apa kau tak mendengar kabar mengejutkan semalam?” tembak Ibu Suri Istana Jo yang merasa ekspresi datar yang terpasang pada paras cucunya itu seakan menyimpan sebuah alasan.
“Kabar mengejutkan apa yang Anda maksud, Halma Mama?” Yi Hyul balik bertanya dengan senyum yang terukir di sudut bibir. “Kebetulan aku terjaga hampir semalam penuh, tapi aku tak mendengar kabar apapun.”
Ibu Suri Istana Jo mengulum seringainya mendapati respon Yi Hyul yang jelas sangat mencurigakan. Hal ini menimbulkan spekulasi yang sedari tadi bersemayam di kepala Ibu Suri Istana Jo semakin jelas. Sang Ibu Suri Istana yakin kejadian yang menimpa Pangeran Agung Hyoyeom memiliki keterkaitan dengan pria berjubah merah di depannya.
“Benarkah kau tak mendapat kabar apapun? Padahal seluruh istana di buat gempar dengan adanya kejadian tragis di kediaman Daegun semalam?”
Yi Hyul mematung setelah mendengar kejadian yang di maksud neneknya dalam pembicaraan pagi ini. Obsidian yang sebelumnya terlihat cerah kini perlahan mulai memancarkan kilau dingin.
“Ah berita itu, aku memang mendengarnya, Halma Mama. Lalu, apa perlu kejadian seperti itu di besar-besarkan?”
Ibu Suri Istana Jo terkekeh mendengar respon Yi Hyul yang sudah berhasil di tebaknya. Tanpa perlu melakukan penyelidikan secara menyeluruh, Ibu Suri Istana Jo sudah menemukan dalang kejadian tragis di kediaman Pangeran Agung Hyoyeom. Jikapun ditambah dengan fakta hubungan buruk di antara keduanya, seakan memperkuat alibi bahwa Yi Hyul adalah orang di balik semuanya.
“Sebagai saudara Daegun, tidakkah kau seharusnya khawatir dengan kondisinya? Adikmu baru saja mengalami tindak percobaan pembunuhan. Tidakkah sikapmu saat ini terlalu mencurigakan, Jusang?”
Senyum miring membingkai roman Hyul. Tidak peduli apakah adiknya terbunuh atau bagaimana, ia jelas tak akan peduli. Lagipula, orang yang akan paling bersyukur atas kejadian ini adalah dirinya. Ia memang ingin menyingkirkan Yi Yeol yang selama ini selalu menjadi bayangan dari takhta yang ia miliki saat ini. Dan mengetahui kejadian tragis yang menimpa adiknya, Hyul justru bersorak dan ingin berterima kasih pada siapapun yang sudah melakukan tindakan berbahaya dengan menyerang langsung kediaman seorang Pangeran Agung.
“Jika begitu, bagaimanakah seharusnya aku bersikap, Halma Mama? Tindakan itu terjadi di luar istana yang artinya aku tak memiliki wewenang ataupun kepentingan dengan semua hal yang terjadi pada diri Daegun. Ia seharusnya bisa melindungi dirinya sendiri.”
“Aku tak menyangka jika cucuku bisa bersikap sekejam itu pada saudaranya sendiri,” decak Ibu Suri Istana Jo seraya menggelengkan kepala, merasa tak percaya bahwa Yi Hyul bisa bertindak sejauh ini, bahkan hingga berencana untuk mencelakai adiknya.
“Aku meminta kau datang menemuiku karena ingin memastikan apakah kau terlibat dalam kejadian tragis itu atau tidak. Tapi, tanpa perlu bertanya sekarang aku sudah tahu dan bisa memutuskan dengan baik.”
“Apa maksud Anda, Halma Mama?”
Yi Hyul bersikap waspada dengan respon neneknya yang sangat tak terduga. Jantungnya kini berdegup kencang dan rasa takut perlahan mulai menjalari permukaan hati. Otaknya berpikir cepat, membuat kesimpulan atas maksud ucapan neneknya tersebut.
“Anda tidak berpikir untuk mengesahkan wa—“
“Ye, Jusang,” potong Ibu Suri Istana Jo setelah akhirnya Yi Hyul menyadari keputusan apa yang tepatnya hendak ia ambil. “Aku tidak bisa menolerir jika dalam waktu dekat, kejadian yang menimpa Daegun terulang lagi. Terlebih, melihat situasi saat ini yang tidak berubah, aku tak punya pilihan lain.”
“Halma Mama, bukankah Anda sudah memutuskan untuk menundanya sampai Jungjeon bisa mengandung dan melahirkan pewaris sendiri. Bagaimana bisa Anda mengkhianati cucu Anda sendiri dengan keputusan yang akan Anda putuskan sekarang?”
Yi Hyul menatap nyalang, tak percaya dengan tindakan yang akan di ambil neneknya. Rasa takut itu menyebar, meluas dan membuat Yi Hyul seakan bisa melihat mimpi buruknya akan menjadi kenyataan. Kedua tangan pria itu mengepal kuat di atas paha, berusaha mengendalikan emosi yang siap meledak.
Ibu Suri Istana Jo balas menatap dingin pada Yi Hyul. Sekalipun Ibu Suri Istana Jo ingin Yi Hyul mampu mempertahankan takhtanya melalui garis kelahiran pertama, tapi Langit seakan menginginkan hal sebaliknya. Sebagai seorang tetua istana yang harus mengutamakan keberlangsungan negara, Ibu Suri Istana Jo tampaknya tak bisa menghindari ramalan yang pernah di katakan Dukun Yang bertahun-tahun lalu.
“Aku akan membawa Hyoyeom Daegun untuk dinobatkan sebagai Wangseje dalam pemerintahanmu, Jusang,” putus Ibu Suri Istana Jo, telak tak ingin mendengar bantahan.
~THE RED MOON~
Sementara itu, di kantor Dewan Istana terlihat para menteri sudah hadir di ruang utama dan sibuk bertukar pikiran satu sama lain. Para menteri terlihat sudah menampakkan batang hidung di istana jauh lebih awal dari waktu yang di selenggarakan untuk diskusi Dewan Istana. Semua itu bukan kebetulan semata melainkan mereka sedang merencanakan topik yang akan di bahas pada pertemuan Dewan Istana pagi ini.
“Daegam, apa Anda yakin akan baik-baik saja jika kita menyinggung perkara yang terjadi di kediaman Daegun Mama semalam?” tanya Menteri Pertahanan yang memastikan topik yang akan di angkat pada pertemuan hari ini pada sang Perdana Menteri.
“Apa yang ditanyakan Menteri Pertahanan ada benarnya. Tidakkah topik itu sama saja memancing kemarahan Jeonha kelak? Kita semua jelas tahu Jeonha sangat sensitif mengenai Daegun Mama,” timpal Menteri Keuangan seraya melirik takut-takut pada kursi di ujung meja yang di duduki Perdana Menteri.
Keriuhan mulai terdengar seiring pertanyaan yang dilontarkan Menteri Pertahanan dan Menteri Keuangan. Mereka bukan tak ingin membahas topik tersebut hanya saja mereka tak ingin berakhir dengan kepala terpenggal akibat membuat Raja Yeongak murka.
“Tenanglah kalian semua,” Perdana Menteri mulai angkat bicara. Pejabat paling senior itu mengedarkan pandangan dan menatap satu persatu para menteri yang hadir pagi ini.
“Jika kita ingin tetap mempertahankan negara ini, maka topik ini memang harus digulirkan pada pertemuan pagi ini. Selain itu, ini memang saat yang tepat untuk menyinggung kembali pelaksanaan wasiat mendiang raja yang selama ini tertunda. Seperti yang kalian tahu, Wang Daebi Mama yang memutuskan menunda wasiat tersebut. Tapi, dengan kondisi Jungjeon Mama yang tak kunjung memberi kepastian, membuat kita harus sepakat untuk melaksanakan wasiat tersebut.”
Para menteri saling melirik satu sama lain. Perkataan Perdana Menteri memang benar, wasiat mendiang raja harus dilaksanakan dan ini memang waktu yang tepat untuk semuanya. Lagi pula, mereka melakukan semua ini demi kelangsungan negara. Hingga, akhirnya para menteri mengangguk dan menyetujuai bahasan pertemuan Dewan Istana nanti.
“Tapi Daegam, maafkan saya. Ada sesuatu yang sepertinya menggelitik pikiranku saat ini,” Menteri Ritual membuka suara dan mulai menggulirkan topik baru.
“Tidakkah kalian semua kebetulan ini terasa janggal? Saya berpikir, semua ini terkesan seperti sebuah rencana yang sudah tersusun dengan rapi hingga bisa terjadi di situasi yang sangat tepat. Apakah sem—“
“Menteri Jung,” panggil Perdana Menteri yang secara otomatis memotong ucapan Menteri Ritual Jung.
Iris Perdana Menteri memancarkan kilau penuh bahaya. Sorot pria tua itu seakan meminta Menteri Ritual Jung untuk bersikap hati-hati dalam setiap perkataan atau sikap. Tapi, bibirnya membentuk kurva lengkung yang sempurna.
“Kau pasti paham dengan semua yang terjadi di istana ini, bukan? Jika seorang wanita istana sudah berkehendak atau memiliki keinginan yang kuat, maka suatu hari Langit pun akan membukakan jalannya untuk meraih semua itu,” tutup Perdana Menteri, menyudahi pertemuan kecil pagi ini.
Ucapan penutup yang diberikan Perdana Menteri sudah jelas mengandung sebuah arti penting. Menyiratkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di istana ini pasti sudah direncanakan dengan baik. Langit hanya memberi sedikit jalan dalam proses pukulan telak yang dilayangkan Ibu Suri Park pada sang Raja.
~THE RED MOON~