붉은 기미 (Bulg-eun Gimi |A Reddish Tinge)
Raja Yeongak tiba di balai istana dengan raut masam. Obsidiannya bergerak, mengedar memandangi satu persatu para menteri yang hadir dalam pertemuan hari ini, seraya ia melangkah menuju singgasana yang berada tepat di pusat ruangan. Ekspresinya tidak berubah, sekalipun ia telah duduk di singgasananya. Hal ini jelas menunjukkan suasana hati sang Raja dalam keadaan buruk.
Balai istana terdengar hening, padahal seluruh lapisan Dewan Istana telah hadir dalam pertemuan pagi ini. Tapi, tak seorang pun berinisiatif untuk membuka topik pertemuan. Semua menteri memilih diam setelah menyadari atmosfer tak menyenangkan yang ditebar Raja Yeongak sejak memasuki balai istana. Di tempat masing-masing, para menteri saling melirik satu sama lain, seakan saling melempar kode lewat tatapan penuh arti.
Sadar dengan suasana yang tak akan berubah jika tak ada yang berniat memecahkan keheningan menyesakkan tersebut, Perdana Menteri—sebagai menteri paling senior dalam pemerintahan, berdeham sebelum akhirnya melangkah maju, keluar dari barisannya.
Tanpa peduli dengan sorot tajam yang kini dipusatkan sang Raja pada Perdana Menteri sepenuhnya. Sang Perdana Menteri memilih memecah keheningan dengan menggulirkan sebuah bola panas sebagai pembahasan utama pada pertemuan pagi ini. Pejabat senior itu memang terkenal dengan sikap bajanya sejak masa pemerintahan mendiang Raja Munhyeong.
“Jeonha, semalam hamba mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan. Dan hamba yakin semua menteri di sini pun pasti sudah mendengar kabar ini,” buka Perdana Menteri seraya mengedarkan atensinya pada seluruh menteri yang hadir.
Beberapa menteri memilih menunduk semakin dalam guna menghindari bersitatap dengan Perdana Menteri dan beberapa lainnya mengangguk singkat seakan membenarkan ucapan pembuka yang di sampaikan oleh Perdana Menteri.
Perdana Menteri mengulum senyumnya, berusaha mengontrol emosi agar tetap terlihat tenang meski sebenarnya ia menyadari bahwa kemenangan sudah berada di pihaknya. Di tambah dengan beberapa sumbernya yang melaporkan bahwa ada perdebatan sengit yang terjadi subuh tadi di kediaman Ibu Suri Istana Jo. Tidak dapat di sangkal lagi, sang perdana menteri yakin bahwa tetua istana itu sudah mengambil keputusan penting.
“Daegun Mama mengalami penyerangan yang sangat berbahaya. Sebagai seorang abdi negara yang memiliki tugas tak hanya menjaga negara namun juga memastikan keselamatan dan keamanan seluruh anggota keluarga kerajaan. Hamba rasa kita perlu mengambil sikap atas kejadian ini.”
Raja Yeongak mengangkat dagu, sikap arogannya mengudara seiring dengan topik pembuka yang disampaikan Perdana Menteri. Emosi pria dengan jubah merah dengan sulaman benang emas itu mendidih. Raja Yeongak sudah tahu arah pembicaraan Perdana Menteri hari ini. Tangan sang raja mengepal hingga buku-buku jarinya memutih karena kencangnya kepalan tangannya.
“Lalu, apa tepatnya yang ingin kau sampaikan pada pertemuan kali ini, Perdana Menteri? Aku yakin kau tidak datang kemari hanya untuk mengabarkan kejadian tragis yang terjadi di kediaman Daegun semalam, bukan?” tanya Raja Yeongak dengan nada yang sangat dingin, hingga mampu membuat siapapun yang mendengarnya merinding.
Perdana Menteri tersenyum simpul mendengar respon yang diberikan Raja Yeongak atas topik yang ia gulirkan. Kepercayaan diri pejabat senior itu meninggi, seiring dengan respon dingin yang diberikan Raja Yeongak padanya. kepalanya terangkat dan menatap lurus ke arah sang Raja yang duduk di singgasananya.
“Atas kejadian mengerikan yang menimpa Daegun Mama semalam, dengan tujuan untuk melindungi garis keturunan langsung Raja Joseon, kami—para menteri sepakat untuk mengajukan petisi untuk mempercepat pelaksanaan wasiat mendiang Raja Munhyeong.”
BRAK!
Raja Yeongak menggebrak meja takhta dan bangkit dari duduknya. Obsidiannya menatap nyalang seluruh menteri. Wajahnya memerah seiring emosi dalam dirinya yang menggelegak, merayap naik ke permukaan hati. Sang Raja berang bukan main.
Raja Yeongak memang sudah tahu bahwa para menteri cepat atau lambat akan meminta hal ini. Terlebih, pertemuannya pagi tadi dengan neneknya—Ibu Suri Istana Jo, membuat sang Raja semakin memikirkan posisinya yang semakin tersudut. Meski sudah yakin akan ada kejadian seperti ini pada pertemuan Dewan Istana, nyatanya sang Raja tetap tak bisa mengendalikan emosinya saat para menteri pun menyudutkannya.
“Beraninya kalian mengajukan petisi seperti itu!”
“Jeonha, kami mengajukan petisi seperti ini bukan tanpa alasan. Sekalipun Wang Daebi Mama memutuskan menunda pelaksanaan wasiat, tapi kami melihat situasi semakin tak terkendali. Bahkan hingga hari ini, Jungjeon Mama tak kunjung memberi kepastian akan pewaris takhta. itu sebabnya, kami semua mengajukan petisi untuk mempercepat pelaksanaan wasiat mendiang Raja Munhyeong,” sanggah Perdana Menteri semakin menegaskan bahwa keputusan seluruh menteri sudah bulat di tangannya.
Raja Yeongak terkekeh sinis. Matanya berkilat memperlihatkan kemarahan atas ketidakadilan yang terjadi padanya. “Jadi, kalian berpikir seperti itu? Apa kalian pikir aku sebodoh itu dengan kejadian yang menimpa Daegun? Kau pikir aku tak tahu rencana busuk yang tengah kalian persiapkan?!”
Para menteri berdeham dan memalingkan wajah dari Raja Yeongak. Mereka semakin tak berani menyuarakan pendapat mereka atas tudingan sang Raja. Sejujurnya, para menteri tak ada satupun yang mengetahui akan ada kejadian penyerangan pada kediaman Pangeran Agung Hyoyeom.
Hal yang sama pun demikian terjadi pada Perdana Menteri. Sang Perdana Menteri meski tak tahu akan ada kejadian mengerikan itu pada Pangeran Agung Hyoyeom, tapi ia beranggapan bahwa semua ini pasti sudah menjadi rencana dari Ibu Suri Park. Sang Ibu Suri jelas mempersiapkannya sebaik dan sematang mungkin. Hanya saja, Perdana Menteri tak menyangka jika wanita itu bisa berbuat segila itu bahkan dengan mempertaruhkan nyawa putranya sendiri.
“Jeonha, hamba tak mengerti maksud tuduhan Anda pada kami. Tapi, kami pun sama-sama terguncang mendengar kabar yang menimpa Daegun Mama. Terlebih, kami semua tahu bahwa Daegun Mama adalah pewaris takhta dalam wasiat mendiang raja, demi kelangsungan negara ini kami sepakat untuk melindungi beliau sebagai salah satu calon pewaris berikutnya,” jelas Perdana Menteri yang menyiratkan sedikit rasa tersinggung atas tuduhan Raja Yeongak pada para menteri.
“Ha ha ha, kalian memang pandai berkilah,” sergah Raja Yeongak sembari duduk kembali di singgasananya. “Aku kira selama ini kalian mendukung pemerintahanku. Nyatanya, kalian mudah sekali berbalik haluan setiap kali kalian menemukan kekurangan atau sesuatu yang tak sesuai dengan rencana kalian.”
“Pemerintahan seorang Raja tanpa adanya pewaris laksana bangunan tanpa pilar yang kokoh. Kau pasti tahu semua itu, Jusang!”
Perhatian seluruh menteri dan Raja Yeongak tertuju pada pintu masuk balai istana. Tepat di ambang pintu, Ibu Suri Istana Jo berdiri dan ia lah yang baru saja mengatakan sindiran pedas atas ucapan Raja Yeongak. Manik wanita tua itu berkilau penuh kemarahan pada sang Raja. Perlahan, Ibu Suri Istana Jo pun melangkah masuk ke dalam balai istana.
Wanita itu berjalan lurus tepat menuju singgasana yang tengah di duduki Raja Yeongak. Sementara itu, para menteri sibuk membungkuk memberi salam hormat pada sang Ibu Suri Istana. seluruhnya cukup terkejut dengan kehadirannya yang tak terduga.
“Halma Mama... apa yang Anda lakukan di sini?” desis Raja Yeongak tepat setelah Ibu Suri Istana Jo akhirnya menaiki undakan singgasana dan berdiri tepat di samping kiri kursi takhta yang di duduki Raja Yeongak saat ini.
Tidak ada keramahan yang terdengar pada sambutan sang Raja pada Ibu Suri Istana Jo. Padahal, selama ini Raja Yeongak selalu memperlakukan Ibu Suri Istana Jo dengan sangat baik. Namun, setelah pembicaraan pada salam pagi, kepercayaan Raja Yeongak pada tetua istana yang juga adalah neneknya—meluntur.
Ibu Suri Istana Jo tersenyum anggun, ia kemudian berbalik badan menghadap kembali ke arah para menteri. Wanita tua itu tak mempedulikan tatapan penuh bahaya yang diberikan cucunya.
“Aku kemari untuk meluruskan sesuatu yang sudah seharusnya kulakukan sejak awal,” ujarnya lalu berdeham dan menoleh sedikit pada Raja Yeongak. “Sejujurnya aku melakukan ini juga untuk melindungimu dan takhta yang kau miliki, Jusang. Jadi, singkirkan pikiran buruk tentangku yang sedang kau pikirkan saat ini,” tandasnya dan kembali memusatkan perhatian pada para menteri, mengabaikan Raja Yeongak yang berusaha berpikir keras dengan maksud ucapan Ibu Suri Istana Jo.
~THE RED MOON~
Sementara itu, di pekarangan rumah Tuan Min, terlihat hiruk pikuk yang tak biasa. Beberapa pelayan tampak hilir mudik, mempersiapkan dan menata beberapa barang pada gerobak yang sudah terparkir rapi di halaman. Terlihat beberapa bingkisan yang sudah tersusun pada gerobak.
Dari arah timur, tampak Tuan Min melangkah menuju pekarangan dengan kedua tangan tertaut di belakang tubuh. Pria itu menganggukkan kepala seraya mengawasi dari jauh dari proses menyusun barang yang dilakukan para pelayan. Tuan Min ingin memastikan bahwa gerobak yang berisi barang itu bisa segera di kirim lebih dulu sebelum ia dan istrinya kembali berkunjung ke kediaman putrinya.
Helaan napas panjang diembuskan Tuan Min mengingat berita yang semalam tiba. Berita mengejutkan yang tak pernah ia sangka bisa menimpa putri semata wayangnya. karena rasa khawatir, Tuan Min dan Nyonya Lee pun memutuskan untuk kembali mengunjungi dan bahkan berniat bermalam beberapa hari di paviliun musim gugur. Pria itu ingin memastikan sendiri keselamatan putri serta menantunya.
“Seobangnim, kapan kita akan berangkat? Apa bisa secepatnya kita berangkat?”
Pertanyaan dari arah belakang membuat Tuan Min menoleh. Tepat di belakangnya ia mendapati istrinya yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Garis kegelisahan terlukis dengan jelas di paras feminimnya. Istrinya jelas tak bisa menunggu lebih lama lagi karena rasa khawatir yang terus menggorogotinya.
“Sebentar lagi kita akan berangkat, Buin. Aku harus memastikan dulu semua barang yang akan kita bawa untuk Bubuin Mama sudah tersimpan rapi di gerobak ini. Kita akan berangkat tepat setelah gerobak ini pergi lebih dulu,” jelas Tuan Min, memberikan pengertian pada istrinya agar bisa bersabar.
Nyonya Lee mengangguk dan menghela napas dengan pasrah. Wanita itu kemudian berbalik menuju gazebo yang berada di taman rumah. Sang Nyonya berniat untuk menunggu di gazebo agar ia bisa segera tahu jika seluruh pengangkutan barang ke gerobak selesai. Tepat ketika Nyonya Lee memangkas langkah menuju area sudut rumah, tiba-tiba saja ia mendengar panggilan nyaring hanya berjarak beberapa langkah.
“Mamanim! Mamanim! Daegam Manim! Daegam Manim!”
Seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya. Nyonya Lee sontak berhenti melangkah dan menatap penuh tanda tanya pada pelayan tersebut. Dahi wanita itu sedikit terangkat membentuk sebuah garis halus.
“Apa yang membuatmu berteriak seperti itu?” sahut Nyonya Lee menghentikan keributan yang di buat pelayan tersebut.
“Ah Mamanim!”
Pelayan itu terkejut mendapati kehadiran Nyonya Lee yang ternyata berada di depannya. Dengan sedikit tergesa, pelayan itu kemudian jatuh tersungkur tepat di hadapan Nyonya Lee.
“Apa yang sebenarnya terjadi hingga kau membuat keributan di pagi hari seperti ini?” sergah Nyonya Lee yang tak bisa menutupi keterkejutannya karena si pelayan itu jatuh tersungkur di depannya.
“Mamanim... bunga—” pelayan itu berusaha mengatur napasnya yang terengah karena berlari. “...air di taman belakang,” ucapnya terbata-bata.
Jantung Nyonya Lee berdegup kian kencang mendengar taman belakang yang disebutkan secara terbata oleh pelayan itu. Di dalam hati, ia mulai merapalkan doa pada Langit. Intuisinya menyatakan ada sesuatu yang kelak akan terjadi pada putrinya terlebih setelah kejadian mengerikan yang menimpa Yeonhwa.
“Katakan dengan jelas!” sentak Nyonya Lee yang mulai kehilangan kesabarannya menghadapi pelayan di depannya.
“Mamanim, bunga air di taman belakang berubah menjadi merah! H-hamba menyaksikannya dengan mata kepala hamba sendiri!”
“Apa?!” pekik Nyonya Lee dengan mata membulat.
“Ada keributan apa ini?”
Tuan Min muncul dari belakang, yang kemudian berdiri tepat di samping istrinya setelah mendengar keributan. Pria itu melirik dan heran melihat roman istrinya yang begitu pucat. Atensinya kemudian bergulir dan menyorotkan tatapan penuh tanda tanya pada pelayan di depannya atas sikap yang ditunjukkan istrinya saat ini.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” ulang Tuan Min pada pelayan tersebut.
“D-daegam Manim, beberapa saat yang lalu... b-bunga air di taman belakang,” pelayan itu menjeda, berusaha membasahi tenggoroknya yang terasa kering karena terkejut dengan kejadian yang ia lihat secara tak terduga. “B-bunga air di taman belakang yang biasanya berwarna putih, berubah menjadi merah, Daegam Manim!”
Detik selanjutnya, Tuan Min pun memperlihatkan ekspresi yang sama seperti Nyonya Lee. Romannya terlihat pucat seakan baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tak dilihat. Tepat di kepala pasangan suami istri itu, terputar secara otomatis reka ulang ucapan seorang cenayang yang datang di hari kelahiran putri mereka—Min Yeonhwa.
Gadis yang dilahirkan Nyonya rumah ini adalah titisan teratai murni. Teratai murni adalah wanita tangguh yang kelak akan memegang kekuasaan tinggi di negeri ini. Hanya saja, dalam perjalanannya, ia bisa berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Entah itu menjadi bengis bahkan mengerikan. Teratai murni perlambang dari Bulan Merah dalam ramalan yang selama ini Tuan dan Nyonya dengar. Bulan merah, si penentu kekuasaan dari dua matahari yang bertarung di Langit Joseon.
~THE RED MOON~