이상한 사실 (Isaghan Sasil |The Odd Fact)
Dari tempatnya berdiri ia bisa merasakan segala sesuatunya bergerak secara lambat. Gendang telinganya dapat mendengar suara desing besi yang beradu dengan sarung pelindung. Irisnya merekam bagaimana tangan itu terangkat ke udara, bersamaan dengan pedang yang siap menghunus. Detik di mana pedang itu menghunus, ia bisa merasakan rasa sakit di salah satu bagian tubuhnya, di ikuti suara jeritan melengking yang seakan mampu membelah langit malam.
Maniknya bergulir dan mendapati ekspresi ketakutan membayangi paras tersebut. Seakan sosok feminim itu mampu melihat sesuatu yang tak bisa dilihat olehnya. Namun, selanjutnya ia tak tahu apa yang terjadi karena kegelapan mulai menelan dirinya.
Yeol tersentak setelah bermimpi sesuatu yang sangat mengerikan. Ketika ia memaksa bangun dari tempat pembaringannya, ada rasa sakit yang menyerang perut dan lengannya. Yeol pun menunduk dan mendapati bagian perut serta lengan kirinya terbalut oleh kain putih tebal yang biasa digunakan untuk membalut luka. Yeol tertegun beberapa detik sampai ia menyadari bahwa mimpi buruk yang ia alami beberapa saat lalu merupakan potongan kejadian semalam.
“Daegun Mama, Anda sudah sadar!”
Kasim Choi—asisten pribadi Yeol, baru saja masuk ke dalam ruang tidur Yeol sembari membawa nampan berisi kain pembalut luka yang baru. Pria itu terkejut bukan main mendapati Yeol sudah duduk di atas pembaringan. Padahal saat ditinggal oleh Kasim Choi, Yi Yeol belum menunjukkan kesadaran. Kini, setelah ia kembali dan mendapati pria itu sudah sadar, membuat Kasim Choi sangat lega.
Kasim Choi dengan segera meletakkan nampan yang ia bawa dan duduk di dekat pembaringan Yi Yeol. Manik tua lelaki itu dengan segera menatap penuh selidik, berusaha memastikan kondisi sang Pangeran Agung.
“Apa ada bagian tubuh lain yang terasa sakit, Mama? Apa Anda masih merasa sakit kepala atau yang lainnya?”
Yi Yeol menggeleng dan terdiam beberapa saat setelah memberikan respon atas rentetan pertanyaan dari Kasim Choi. Yeol menoleh dan menatap lurus pada Kasim Choi. Ia harus segera tahu keadaan dan kondisi Yeonhwa saat ini. Terlebih jika ia mengingat kejadian yang tepat sebelum ia kehilangan kesadarannya.
“Kasim Choi, bagaimana keadaan Bubuin? Apa ia baik-baik saja? Bagaimana dengan kandungannya?”
“Bubuin Mama dalam keadaan baik, Mama. Hanya saja, beliau mengalami shock sehingga jatuh pingsan dan sampai hari ini masih terus beristirahat di ruangannya,” jelas Kasim Choi dengan ekspresi khawatir yang masih membayangi romannya.
Yeol menghela napas setelah mengetahui Yeonhwa dalam kondisi baik-baik saja. Meski begitu, ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Yeol mengenai kejadian yang menimpanya. Para pembunuh bayaran yang sempat mendatangi rumahnya seakan memang mengincar nyawa Yeonhwa. Hal ini jelas membuat Yi Yeol bertanya-tanya. Apakah istrinya memiliki seorang musuh?
“Kasim Choi, apa yang sebenarnya terjadi? Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri? Bisakah kau menceritakan semua yang terjadi setelah kejadian penyerangan itu?” pinta Yeol dengan ekspresi serius. Yeol jelas harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya.
Kasim Choi mengangguk paham dan bersiap mulai menjelaskan. Bagaimanapun, Yi Yeol harus tahu semua kejadian dan juga berita yang disampaikan istana pagi ini.
“Anda tak sadarkan diri selama dua hari dua malam, Mama. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh istana, semua ini adalah percobaan pembunuhan terhadap Anda. Pihak istana sudah mengetahui hal ini dan Daebi Mama sudah mengambil tindakan dengan mengirim pasukan untuk berjaga di sekeliling kediaman Anda. beliau tak ingin ada kejadian mengerikan ini terulang.”
“Percobaan pembunuhan terhadapku?” ulang Yeol dengan sebelah alis terangkat. Ia semakin merasa ada sesuatu yang ganjil. Terlebih, jika mengingat bagaimana kejadian itu berlangsung, Yeol yakin yang sebenarnya hendak di serang itu adalah Yeonhwa bukan dirinya.
“Kenapa bisa disimpulkan percobaan pembunuhan padaku, Kasim Choi? Berdasarkan ingatanku, aku terluka di kamar istriku,bukan?”
“Ye, Daegun Mama. Anda memang ditemukan terluka di kamar Bubuin Mama. Semua ini diyakini bahwa sejak lama para pembunuh bayaran itu mengintai kediaman Anda. itu sebabnya, mereka bisa mengetahui jika malam kejadian Anda sedang bermalam di kamar Bubuin Mama.”
“Tapi, aku tak sedang bermalam di kamar istriku, Kasim Choi. Malam itu, aku masuk ke kamarnya untuk meletakkan beberapa hadiah yang kupersiapkan dan aku memergoki ada pembunuh di kamarnya. Bukankah seharusnya itu menjadi percobaan pembunuhan pada istriku?”
Kasim Choi menggeleng pelan. Lelaki itu menjadi bingung setelah mendengar kronologi kejadian yang diungkapkan Pangeran Agung Hyoyeom. Jika memang pembunuh itu berencana untuk membunuh Putri Agung Hyekyung dan digagalkan karena kehadiran Pangeran Agung Hyoyeom, maka bisa disimpulkan bahwa semua itu merupakan percobaan pembunuhan pada istri sang pangeran. Tapi, istana memiliki kesimpulan yang bertolak belakang.
“Hamba tak tahu akan hal itu, Mama. Satu hal yang pasti, istana menyimpulkan bahwa nyawa Anda dalam bahaya, Daegun Mama. Itu sebabnya mereka menilai bahwa kejadian mengerikan itu memang ditujukan sebagai percobaan pembunuhan terhadap Anda.”
“Kenapa mereka memiliki kesimpulan seperti itu? Tidakkah para pelayan memberikan kesaksian bahwa aku ditemukan terluka di kamar istriku?”
Yeol masih belum mau menyudahi pembicaraan atas kejanggalan dari kesimpulan yang di ambil pihak istana atas kejadian nahas tersebut. Otaknya berpikir keras, berusaha mencari tahu alasan apa dibalik kesimpulan janggal tersebut.
“Daegun Mama, lebih baik Anda beristirahat. Tubuh Anda belum sepenuhnya pulih. Hamba akan menyiapkan beberapa keperluan Anda,” sahut Kasim Choi yang berusaha menyudahi percakapan mengenai kejanggalan kejadian yang menimpa majikannya. Sebagai seorang pelayan istana yang sudah bekerja selama beberapa tahun, Kasim Choi sangat yakin bahwa ada alasan kenapa istana menyimpulkan demikian.
“Apa Eomma Mama sudah mengetahui kejadian ini? Apa beliau juga sudah mendengar kesaksian dari para pelayan di kediamanku?” tanya Yeol dengan obsidian yang tertuju sepenuhnya pada Kasim Choi.
“Ye, Daegun Mama. Daebi Mama sudah mendengar kejadian tersebut bahkan tak lama setelah kejadian tersebut terjadi. Beliau juga sudah mendengar seluruh kesaksian dari para pelayan. Tidak hanya Daebi Mama tapi juga Wang Daebi Mama pun sudah mengetahuinya, Mama.”
“Wang Daebi Mama?”
Yeol terkejut mendengar sang nenek turut disebutkan oleh Kasim Choi. Jika sampai neneknya sudah mengetahui kejadian buruk yang di alaminya, Yeol yakin pasti akan ada sesuatu yang sedang direncanakan. Meski begitu, Yeol belum bisa membaca siapa tepatnya dalang di balik semua rencana ini.
“Ye, Daegun Mama. Hari ini Anda pun mendapat perintah resmi dari istana atas hasil sidang Dewan Istana pagi ini.”
Kasim Choi lalu merogoh saku tangan pakaian kasimnya dan mengeluarkan sebuah gulungan resmi yang di terimanya. Kasim Choi lalu menyerahkan gulungan pada Yeol, agar bisa segera di baca.
Segera, setelah menerima gulungan resmi tersebut, Yeol langsung membuka dan membacanya. Obsidiannya bergulir seiring dengan goresan tinta yang tertulis pada perkamen tersebut. Semakin Yeol membaca isi dari gulungan resmi tersebut, maniknya semakin lama semakin membulat. Pria itu sangat terkejut dengan dekrit yang baru saja di terimanya.
“Apa... ini?” tanya Yeol yang seakan tak bisa mempercayai apa yang baru saja di bacanya. Atensinya bergulir dan menatap ke arah Kasim Choi, meminta agar asistennya itu memberikan penjelasan.
“Selamat atas pencalonan Anda, Daegun Mama. Berdasarkan wasiat mendiang raja, Anda adalah pewaris takhta yang dicalonkan oleh mendiang. Segera, setelah diresmikan melalui prosesi Anda dan Bubuin Mama akan pindah ke istana menempati istana timur,” jelas Kasim Choi dengan senyum sopan dan badan yang membungkuk hormat pada sang pangeran.
~THE RED MOON~
“Kasim Choi memberikan pesan bahwa Daegun Mama sudah sadar pada siang hari ini, Daebi Mama. Tidak hanya itu, beliau juga sudah menerima dan membaca gulungan resmi yang di kirim ke kediamannya,” lapor Dayang Kim pada sang Ibu Suri.
Ibu Suri Park yang tengah asyik membuat kaligrafi di atas perkamen. Wanita itu selalu melakukan kegiatan tersebut jika sedang memiliki banyak waktu. Seperti yang diketahui banyak orang bahwa Ibu Suri Park memang memiliki bakat sastra yang luar biasa. dan sepertinya, bakat sastra Pangeran Agung Hyoyeom memang di turunkan dari sang ibu.
Gerakan kuas yang sedari tadi di genggam Ibu Suri Park terhenti. Tangannya yang sedang memegang kuas terangkat, membuat setetes tinta jatuh dan meninggalkan noda besar yang mengacaukan tulisan kaligrafi yang sedang di buat oleh Ibu Suri Park. Sang Ibu Suri lalu mengangkat wajah dan mengalihkan atensinya pada Dayang Kim yang masih duduk tepat di hadapannya.
“Putraku sudah sadar? Benarkah?” ulangnya seakan memastikan jika ia tak salah mendengar.
“Ye, Daebi Mama. Daegun Mama sudah sadar berdasarkan laporan yang diberikan Kasim Choi siang tadi. Beliau juga sudah mendapat pemeriksaan dari tabib dan kondisinya sudah cukup baik.”
Helaan napas lega diembuskan Ibu Suri Park bersamaan dengan tangannya yang meletakkan kuas pada tempatnya. Senyum perlahan muncul di sudut bibirnya. Tidak ada hal yang jauh lebih melegakan dibandingkan mendengar putranya sudah dalam keadaan baik-baik saja.
“Syukurlah kalau begitu,” ujarnya sembari mengangguk, “lalu, apa ia sudah menerima juga membaca dekrit istana hasil diskusi Dewan Istana siang ini?”
“Daegun Mama sudah membacanya dan sayangnya, ia seperti keberatan dengan keputusan tersebut, Daebi Mama.”
Ibu Suri Park menumpukan dagunya pada kedua tangan di atas meja. Mendengar putranya menunjukkan penolakan atas hasil keputusan Dewan Istana, membuatnya kembali dihinggapi rasa kesal.
Sungguh, ia tak menyangka putranya bisa begitu keras kepala, padahal beberapa malam lalu, nyawanya berada di ujung tanduk. Sang Ibu Suri meyakini bahwa harus ada sesuatu yang bisa mendorong Yeol agar menyadari bahwa ia harus bisa memegang kekuasaan jika ingin bertahan hidup.
“Bagaimana dengan keadaan Bubuin sendiri? Aku dengar ia juga mengalami shock hingga tak sadarkan diri selama sehari, apa benar?”
“Bubuin Mama masih dalam masa pemulihan atas rasa shocknya. Kandungannya sempat mengalami kontraksi pada malam kejadian. Berdasarkan informasi yang diberikan Kasim Choi, Daegun Mama memberikan kronologis kejadian pada malam nahas tersebut, Mama. Daegun Mama berpendapat bahwa kesimpulan istana keliru, karena saat kejadian yang hendak di bunuh bukanlah beliau melainkan Bubuin Mama.”
“Apa kau bilang? Bubuin?” sahut Ibu Suri Park dengan sorot mata tak percaya. Ia memang sudah membaca kesaksian yang diberikan para pelayan kediaman putranya. Ia tahu bahwa putranya ditemukan terluka di kamar istrinya. Kronologis ini jelas berbanding terbalik dengan hasil penyelidikan istana. Namun, hal ini justru memberikan sebuah ide pada sang Ibu Suri.
“Jadi, percobaan pembunuhan itu sebenarnya ditujukan pada Bubuin?”
“Ye, Mama. Daegun Mama mengatakan bahwa sepertinya kejadian nahas itu menargetkan Bubuin sebagai korban. Hanya saja, Daegun Mama memergoki para pembunuh. Daegun Mama terluka dalam usahanya melindungi Bubuin Mama.”
Seringai muncul di sudut bibir sang Ibu Suri, menyadari satu fakta yang bisa saja menjadi senjata terbaru dalam usaha membujuk Yeol menerima takhta sebagai pewaris. Wanita istana itu kini tersenyum penuh arti pada Dayang Kim.
“Dayang Kim, sepertinya kau harus melakukan sesuatu untukku. Kita harus dapat memastikan bahwa Daegun mau menerima dekrit istana sebagai pewaris selanjutnya. Sekalipun kita belum bisa mengetahui siapa dalang di balik percobaan pembunuhan tersebut, sepertinya kita harus mengarah objek yang sama,” titahnya secara mutlak pada Dayang Kim.
~THE RED MOON~