악몽 (Agmong |The Nightmare )
Di tengah buaian malam di paviliun musim gugur atau di kenal juga dengan nama Pyeonghwa-gak, terlihat keheningan yang menyelimuti seluruh penghuni. Setelah kejadian nahas yang menimpa pemilik paviliun indah ini, para penjaga istana di tempatkan di setiap sudut. Sesekali para penjaga yang bertugas malam, terkantuk-kantuk melaksanakan tugasnya. Paviliun tersebut dalam keadaan sunyi senyap tanpa ada aktivitas dari sang pemilik maupun para pelayannya.
Begitupun di daerah belakang paviliun yang merupakan tempat tinggal para pelayan. Suasana sunyi terasa begitu pekat setiap tempat, menandakan bahwa seluruh penghuni sedang beristirahat. Sayup-sayup terdengar suara binatang malam dari arah hutan yang lokasinya berada beberapa meter dari belakang paviliun.
Namun, dari arah salah satu kamar pelayan, tiba-tiba terlihat pintu terbuka secara perlahan, memunculkan seorang pelayan muda dari dalam kamar tidurnya. Pelayan muda itu melangkah keluar dengan langkah berjinjit—berusaha tak menimbulkan suara sekecil apapun. Secara pasti, pelayan itu kemudian mengenakan sepatunya dan melangkah menuju suatu tempat.
Manik pelayan itu mengedar setiap kali hendak mengambil langkah. Ia perlu memastikan bahwa gerak-geriknya saat ini tidak diketahui oleh siapapun. Dengan jantung berdegup kencang, pelayan muda itu berjingkat-jingkat secara sembunyi untuk berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya seraya mengawasi situasi dan lingkungan sekitarnya.
Merasa aman, pelayan muda itu pun berlari menuju sebuah bangunan kecil yang berada di dekat dapur. Bangunan kecil itu biasa digunakan oleh para pelayan Pyeonghwagak sebagai tempat untuk menyimpan serta meracik bahan herbal.
Di dalam, pelayan itu berjalan dengan pasti menuju sebuah rak yang berisikan bahan-bahan herbal. Dengan cekatan, tangannya segera meraih sebuah kotak yang ia ketahui sebagai obat yang telah di racik dan siap minum. Tanpa ragu-ragu, pelayan itu pun mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya dan menaburkan bubuk yang sedari tadi dibawanya ke dalam obat tersebut.
Setelah memastikan tugasnya selesai dilaksanakan, pelayan itu kembali meletakkan kotak obat racik tersebut pada tempatnya. Pelayan itu segera keluar dari ruang penyimpanan dan peracikan obat setelah memastikan keadaan di luar aman. Tanpa membuang waktu, pelayan itu berlari secepat yang ia bisa agar bisa kembali ke kamar tidurnya tanpa takut dicurigai.
Dan dalam keheningan malam, pelayan tersebut berhasil melaksanakan tugasnya tanpa meninggalkan saksi ataupun bukti. Satu-satunya saksi dari perbuatannya adalah bulan yang menerangi langit malam ini.
~THE RED MOON~
Yeonhwa tiba di sebuah tempat seperti taman bunga. Iris hazelnya mengedar, merasa takjub dengan segala hal yang terdapat pada tempat yang tak ia kenali. Ia melangkah tanpa alas kaki dan hamparan rumput hijau dengan segera menyambutnya. Rasanya sangat nyaman bisa bertelanjang kaki dan menikmati sensasi lembut dari rumput hijau pada telapak kakinya.
Yeonhwa kemudian tiba di sebuah tempat di mana sungai jernih mengalir dari sebuah air terjun. Di sekelilingnya terdapat tanaman hias beraneka ragam yang sangat cantik. Maniknya terpana menikmati keindahan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, hingga ia mendengar suara tangis bayi dari suatu tempat.
Yeonhwa memutar badan serta mengedarkan pandangan, mencari tahu sumber dari tangis tersebut. Sampai ia akhirnya mencapai taman di dekat air terjun tersebut. Maniknya membola disertai bibirnya terbuka kala menemukan bayi sendirian di tengah taman tersebut.
Secara naluri, Yeonhwa pun mendekat dan tertegun melihat bayi mungil yang tadi menangis berhenti kala manik hitam sempurnanya menatap Yeonhwa. Hanya dengan tatapan itu, Yeonhwa seakan merasa ada ikatan bathin kuat yang tercipta diantara mereka. Hal tersebut akhrinya mendorong Yeonhwa untuk meraih bayi tersebut dan membawanya ke dalam dekapannya.
Selama beberapa menit ke depan, Yeonhwa bermain dan menghabiskan waktu bersama bayi itu. Rasa senang membuncah seiring waktu yang Yeonhwa pergunakan bersama si bayi. Sampai, secara tiba-tiba sungai kecil yang mengalir dari sumber air terjun itu mengeluarkan suara gemuruh.
Detik di mana Yeonhwa berbalik, maniknya terbelalak kala mendapati air tinggi sepuluh meter secara tak terduga sudah membayangi di belakangnya. Yeonhwa tak langsung berlari menghindar, tubuhnya terasa mematung di tempat. Ketika menyadari bahaya semakin mendekat, barulah sesuatu yang seakan memaku kakinya, terlepas. Sayang, semua sudah terlambat. Begitu Yeonhwa berlari seraya menggendong erat bayi dalam dekapannya, air menyapu keduanya.
Hempasan air yang begitu kuat membuat dekapan Yeonhwa secara perlahan mengendur. Yeonhwa menjerit dan berteriak, berusaha mencari si bayi yang terlepas dari dekapannya. Kesedihan dengan cepat menyerang Yeonhwa seiring dengan kejadian yang terjadi padanya. Rasa putus asa membuat Yeonhwa menangis meraung-raung menyadari bayinya telah hilang dari dekapannya.
Ketika air surut, Yeonhwa tak mampu menemukan keberadaan si bayi. Dalam keadaan putus asa juga kesedihan yang membalut hatinya, Yeonhwa duduk sambil menangis.Wanita itu tersedu-sedu menangisi bayi yang hilang tersebut.
“HAAH!”
Yeonhwa terbangun secara mendadak dari tidurnya. Nafas wanita itu terdengar cepat juga tersengal-sengal. Keringat sebesar bulir jagung terlihat menghiasi dahinya. Tangannya dengan segera meraba perutnya, saat kepalanya mengingat mimpi buruk yang baru saja di alaminya.
Helaan napas lega diembuskan Yeonhwa kala masih merasakan kehadiran buah hatinya. Sungguh, mimpi yang baru saja ia alami seperti sesuatu yang benar-benar terjadi. Dan Yeonhwa tak ingin kejadian tersebut menjadi sebuah kenyataan.
Di saat Yeonhwa sibuk memeriksa perutnya, pintu kamarnya terbuka dan seorang pelayan dengan membawa nampan, masuk ke dalam kamarnya. Pelayan wanita itu terkejut setengah mati mendapat Yeonhwa akhirnya sadar dan bahkan dapat duduk di pembaringannya.
“Manim!”
Pelayan itu berlari tergesa-gesa mendekati Yeonhwa dan menatap lekat sang Nyonya rumah yang kelihatan panik serta pucat. Dahi pelayan itu mengernyit melihat sikap Nyonya rumahnya yang tak biasa tersebut.
“Manim, Anda sudah sadar? Apa ada bagian tubuh Anda yang terasa sakit?”
Si pelayan terus memperhatikan gerak-gerik Yeonhwa yang masih sibuk memegangi dan mengusap-ngusap perutnya. Si pelayan merasa takut terjadi sesuatu karena Nyonya terlihat sangat gelisah dan panik.
“Manim, apa perut Anda terasa sakit?” tanya nya sedikit ragu-ragu, tak ingin membuat sang Nyonya semakin panik.
“Gaeun~a, apa kau bisa merasakan keberadaan bayiku dalam rahimku ini? Bisakah kau memastikan dan memeriksanya untukku?” tanya Yeonhwa seraya menoleh pada si pelayan yang bernama Gaeun. Iris hazel yang biasanya memancarkan kehangatan itu, terlihat tak fokus dan seakan kehilangan cahayanya. Kepanikan lebih mendominasi paras Yeonhwa saat ini.
“Apa yang Anda rasakan, Manim? Apa perut Anda terasa sakit lagi?” tanya Gaeun yang kini mulai ikut panik melihat reaksi Yeonhwa.
“Kemarikan tanganmu, Gaeun~a!”
Yeonhwa menarik salah satu lengan Gaeun dan meletakkannya di sekitar perutnya. Dengan perlahan, Yeonhwa seakan membimbing tangan Gaeun untuk bergerak pelan di atas perutnya. Jantung wanita itu berdegup kencang tak terkendali seiring kepanikan yang menyelimuti hatinya saat ini.
“Bagaimana? Apa kau bisa merasakan kehadiran anakku di dalam sana?” tanya Yeonhwa dengan pandangan lekat.
Gaeun mengangguk pelan dan menarik kembali tangannya dari atas perut sang Nyonya. Si pelayan itu merasa tak nyaman dengan tindakan Yeonhwa beberapa saat lalu. Bagaimana pun, Gaeun bisa saja di anggap lancang karena menyentuh tubuh nyonya rumahnya.
“Ye, Manim. Hamba masih dapat merasakan kehadiran bayi Anda. Tolong jangan khawatir, bayi Anda dalam keadaan baik-baik saja. Tabib istana selalu datang dan memeriksa Anda setiap harinya, Manim,” ujar Gaeun berusaha menenangkan Yeonhwa yang terlihat sangat gelisah.
“Aku bermimpi sangat buruk, Gaeun~a. Aku berada di suatu tempat yang sangat indah. Lalu, aku mendengar tangisan bayi.”
Yeonhwa mulai bercerita seraya menekuk kedua kakinya dan memeluknya. Ia tengah berusaha mengendalikan emosi yang sedikit tak stabil karena mimpi buruk yang di alaminya terasa sangat nyata baginya.
“Aku sangat bahagia saat menemukan bayi tersebut dan menghabiskan waktu dengan bermain bersamanya. Bayi itu sangat lucu, Gaeun~a.”
Gaeun mengangguk mendengarkan cerita Yeonhwa. Sementara itu, tangan Gaeun dengan cekatan mulai membuka kain penutup nampan yang tadi di bawanya. Dengan cekatan, tangannya mulai meracik satu persatu bahan yang tersedia dalam nampan itu untuk menjadi sebuah obat herbal yang harus di minum Yeonhwa.
“Saat aku sedang asyik bermain dengan bayi itu, tiba-tiba datang air bah. Aku berusaha mendekap erat bayi itu agar tetap berada di dekatku. Tapi, karena air itu terlalu kencang, aku tak bisa mempertahankannya. Bayi itu terlepas dan hanyut entah kemana.”
Suara Yeonhwa terdengar begitu sendu dan sarat kesedihan saat menceritakan kejadian dalam mimpi tersebut pada Gaeun. Kedua maniknya kini diselimuti likuid bening yang sudah siap tumpah kapan saja.
“Manim, Anda bermimpi buruk karena dipengaruhi oleh kejadian mengerikan yang Anda alami beberapa waktu lalu,” ujar Gaeun seraya mengangkat cawan besar berisi cairan pekat dan meletakkannya di atas meja di samping pembaringan Yeonhwa.
“Anda harus banyak beristirahat setelah guncangan yang Anda alami. Silakan diminum obat Anda, Manim.”
Yeonhwa menghela napas panjang dan meraih cawan besar itu dengan sedikit pasrah. Ketakutan serta kecemasan itu masih begitu kuat membayangi hatinya. Wanita itu kemudian mendekatkan cawan besar itu ke bibir, bersiap untuk minum obat herbal tersebut.
Tapi, sesaat sebelum Yeonhwa hendak meminum obat herbal tersebut, ia berhenti dan menatap Gaeun dengan sorot sendu. Tampaknya, Yeonhwa tak bisa menghapus begitu saja pemikiran mengenai mimpi buruk yang di alaminya.
“Gaeun~a, mimpi tersebut bukan pertanda buruk, bukan?” tanya Yeonhwa seakan ingin menegaskan bahwa ia telah salah dalam menafsirkan mimpi buruk tersebut.
“Ye,Manim. Bagi hamba itu bukanlah sebuah pertanda buruk. Itu hanya terjadi karena Anda baru saja mengalami guncangan hebat dan sempat pingsan beberapa kali. Anda tidak boleh terlalu cemas. Saat ini, semua dalam keadaan baik-baik saja, Manim.”
Yeonhwa mengangguk. Setelah mendapat stimulan hal yang positif dari pelayannya, Yeonhwa pun meneguk cepat ramuan herbal tersebut. Ia berharap bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk dan bukan suatu pertanda akan kejadian buruk lainnya.
~THE RED MOON~