우리는 함께 싸운다 (Ulineun Hamkke Ssaunda | We Fight Together)
Duduk di singgasananya, Ibu Suri Istana Jo terlihat gelisah. Berulang kali wanita itu mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan jemarinya. Sesekali, dahinya mengerut seakan tengah berpikir keras. Anggota senior istana itu merasa gelisah selama beberapa hari ini, terlebih sejak di sahkannya dekrit pelaksanaan wasiat mendiang raja.
Entah kenapa Ibu Suri Istana Jo merasa sangat gelisah dengan keputusannya. Ia merasa sangat dilema dan berada dalam posisi yang sangat sulit. Wanita tua itu ingin sekali memberi kesempatan pada Raja Yeongak dan Ratu Kang untuk bisa memiliki keturunan mereka sendiri. Hanya saja, waktu seakan tak ingin memihak mereka.
Batas waktu penundaan pelaksanaan wasiat mendiang raja memang sudah semakin dekat. Terlebih dengan adanya kejadian nahas serta mengancam nyawa Pangeran Agung Hyoyeom, membuat Ibu Suri Istana Jo semakin tak punya pilihan. Bagaimana pun, ia merasa harus melindungi Pangeran Agung Hyoyeom karena aturan mengikat statusnya dalam wasiat mendiang raja.
Merasa ragu dengan keputusannya, malam ini Ibu Suri Istana Jo meminta Dayang Nam untuk memanggil Dukun Yang. Dengan segala hal yang terjadi di istana, intuisinya mengatakan semua ini ada hubungannya dengan ramalan mengenai teratai putih yang pernah disampaikan Dukun Yang saat dukun itu menyampaikan ramalan mengenai dua matahari Joseon bertahun-tahun lalu.
“Wang Daebi Mama, Kepala Duku Puri Bintang sudah hadir untuk menemui Anda.”
Suara pengumuman di depan pintu masuk ruangannya, membuat Ibu Suri Istana Jo tersentak dari lamunannya. Wanita itu membenahi posisi duduknya sebelum akhirnya mempersilakan masuk.
Dukun Yang masuk ke dalam ruangan dengan langkah tenang. Dukun wanita itu mengenakan hanbok putih dengan hiasan bintang dan garis-garis simetris di setiap ujung kain hanboknya. Dukun itu kemudian memberi hormat sebelum akhirnya duduk di hadapan Ibu Suri Istana Jo, siap untuk menjawab segala pertanyaan yang diajukan wanita istana senior tersebut.
“Wang Daebi Mama, hamba harap Anda dalam keadaan baik. Hamba datang sesegera mungkin setelah mendapatkan pesan Anda,” sapanya dengan kepala tertunduk. Sorot pandang dukun wanita itu tetap terpaku pada lantai kayu di depannya.
“Syukurlah kau langsung datang kemari setelah mendapatkan pesan dariku. Dukun Yang,” balas Ibu Suri Istana Jo yang menjeda sejenak. Ia berusaha merangkai penjelasan agar bisa menjelaskan kecemasan yang sedang ia rasakan saat ini.
“Dukun Yang, beberapa tahun lalu kau pernah menyebutkan ramalan teratai putih saat memberitahu ramalan mengenai dua matahari Joseon,” buka Ibu Suri Istana Jo yang mulai mengarahkan topik pembicaraan mereka secara pasti. Kedua manik tua itu mengawasi segala perubahan ekspresi yang mungkin terjadi di wajah Dukun Yang.
Kepala Dukun Yang mengangguk singkat, membenarkan ucapan Ibu Suri Istana Jo tersebut. “Ye, Wang Daebi Mama. Hamba pernah memberitahu Anda mengenai ramalan teratai putih yang selama ini dikenal masyarakat sebagai lambang Ratu terkuat yang akan dimiliki Joseon kelak.”
“Lalu, jika begitu, ada hal yang ingin kutanyakan padamu mengenai ramalan tersebut serta kaitannya dengan ramalan dua matahari Joseon.”
“Silakan Anda tanyakan pada hamba, Wang Daebi Mama. Hamba akan menjawabnya sejujur mungkin.”
“Bisakah kau memberitahuku, apakah....” Ibu Suri Istana Jo kembali menjeda, berusaha mengatur rasa penasaran yang memenuhi hatinya saat ini, “Jungjeon yang saat ini duduk di takhta adalah titisan teratai putih yang dimaksud?”
Dukun Yang terdiam setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Suri Istana Jo. Sejujurnya, mudah saja bagi Dukun Yang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saat ia masih menjadi asisten kepala dukun di Puri Bintang sekaligus gurunya—Dukun Shin, pernah memberitahu ciri si teratai putih padanya.
Bahkan mendiang Dukun Shin mengatakan pada Dukun Yang bahwa Dukun Shin sendiri yang datang memberitahu keluarga si teratai putih, bahwa putri yang terlahir adalah teratai putih—si bulan merah dalam ramalan. Namun, Dukun Yang tak bisa mengatakan hal itu pada Ibu Suri Istana Jo. Dukun Yang menyadari, bisa saja nyawa si teratai putih dalam bahaya, jika Dukun Yang mengungkapkan identitasnya.
“Mohon maafkan kekurangan hamba, Wang Daebi Mama. Hamba tak bisa memberikan jawaban pasti akan pertanyaan yang Anda ajukan. Semua itu bisa bertentangan dengan kehendak Langit. Mohon pengertian Anda, Wang Daebi Mama.”
Ibu Suri Istana Jo berdecak kesal mendengar balasan Dukun Yang. Wanita tua itu yakin, Dukun Yang bisa saja mengetahui ciri ataupun siapa sebenarnya teratai putih dalam ramalan. Entah kenapa, intuisinya memiliki dugaan bahwa Ratu Kang bukanlah teratai putih seperti dugaannya selama ini.
“Apa kau benar-benar tak bisa menjawabnya, Dukun Yang?” sergah Ibu Suri Istana Jo dengan nada suara dingin dan tak seramah biasanya.
“Ye, Mama. Hamba tak bisa memberikan jawabannya untuk Anda karena hal seperti itu bisa saja bertentangan dengan segala sesuatu yang Langit kehendaki.”
Sang Ibu Suri Istana menghela napas pasrah. Ia jelas tak bisa memaksa Dukun Yang untuk memberikan jawabannya. Wanita tua itu jelas tak ingin memancing murka dari seorang dukun, yang bisa saja membuat Langit turut murka pada negerinya.
“Baiklah, aku tak akan memaksa lebih jauh. Tapi, bisakah kau memberitahu apakah si teratai putih ini sudah muncul atau lebih tepatnya kapan ia akan muncul? Jika kau sadar, segala sesuatu yang terjadi saat ini seakan mengarah pada skenario ramalan dua matahari yang kau ramalkan bertahun-tahun lalu. Apa kau menyadarinya, Dukun Yang?”
Dukun Yang tersenyum sopan dan mengangguk. “Hamba menyadarinya, Wang Daebi Mama. itu sebabnya, hamba berusaha untuk selalu mengawasi segala yang terjadi dan meminta Langit memberikan arahannya. Jika pun kondisi saat ini adalah perwujudan dari ramalan dua matahari Joseon, maka itu semua sudah menjadi suratan takdir.”
“Kalau begitu, apa itu berarti akan ada pertarungan berdarah antara dua keturunan raja dalam waktu dekat? Bukankah kau mengatakan bahwa dua matahari itu akan bertarung hingga salah satu dari keduanya akan benar-benar meraih takhta dan menjadi penguasa Joseon yang sesungguhnya. Apa semua itu akan terjadi demikian?” sergah Ibu Suri Istana Jo.
Hatinya mulai diliputi kegelisahan serta ketakutan yang semakin nyata. Wanita tua itu jelas tak menginginkan adanya pertarungan berdarah antara Raja Yeonggak dan Pangeran Agung Hyoyeom. Bagi Ibu Suri Istana Jo, keduanya adalah cucu berharga yang harus dilindungi demi kelangsungan monarki.
“Hamba tak bisa memastikannya apakah semua itu akan terjadi sesuai dengan ramalan yang pernah diperlihatkan Langit pada hamba, atau semua ini hanya sebuah kebetulan belaka. Hanya saja, jika hamba diperkenankan untuk memberi saran, maka Anda harus membiarkan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan suratan takdir, Wang Daebi Mama.”
~THE RED MOON~
Langkah Yeol terhenti ketika obsidiannya mendapati kehadiran Yeonhwa yang sedang duduk termenung di berada paviliunnya. Paras wanita itu masih diselimuti awan kelabu. Tak hanya itu, tatapan wanita itu pun terlihat kosong. Binar cerah yang selama ini selalu menghias kedua hazel tersebut, seakan padam dan entah kapan akan muncul lagi.
Helaan napas panjang diembuskan Yeol seiring hatinya yang terasa sakit, melihat Yeonhwa yang masih sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa mereka. Yi Yeol yang selama ini mengenal Yeonhwa sebagai sosok yang begitu hangat serta cerah, merasa hancur menyadari bahwa ia memiliki andil membuat wanita itu menjadi seperti sekarang.
Perlahan, Yeol pun memangkas langkahnya dan mendekati Yeonhwa. Yeonhwa sendiri bergeming, tak menyadari kehadiran Yeol yang kini tengah menatapnya dengan sorot tak kalah sendu. Bahkan, hingga Yeol duduk di sampingnya, Yeonhwa tak sekalipun mengalihkan perhatiannya yang sedang menatap langit malam.
“Yeonhwa~ya, apa yang sedang kau lakukan di sini? Udara malam cukup dingin, kau bisa jatuh sakit,” ujar Yeol yang berusaha menyadarkan Yeonhwa mengenai kehadirannya.
Yeonhwa menoleh pada Yeol. Wanita itu berusaha menyunggingkan seulas senyum menyadari kehadiran Yeol di sampingnya. Sekalipun dalam keadaan terguncang, Yeonhwa masih mampu berkomunikasi bahkan mengatur ekspresi di wajahnya dengan baik.
“Seobangnim, sejak kapan Anda berada di sampingku?”
Yeol tersenyum lemah mendengar sapaan Yeonhwa. Sungguh, Yeol merasa begitu perih melihat Yeonhwa yang berusaha tegar di depannya meski sebenarnya wanita itu hancur lebur di dalamnya.
“Udara malam sudah terlalu dingin, Yeonhwa~ya. Masuklah dan segera beristirahat. Aku akan bermalam lagi di kamarmu,” ujar Yeol yang kini mulai meraih tangan Yeonhwa dan menggenggamnya dengan lembut, berharap Yeonhwa mau mengikuti sarannya.
“Aku baik-baik saja. Aku merasa sesak setelah berada di kamar seharian. Sebentar lagi, biarkan aku duduk di sini sebentar lagi,” pinta Yeonhwa dengan suara lirih.
“Baiklah. Aku akan menemanimu,” balas Yeol yang kemudian kembali menatap lekat istrinya, sementara itu Yeonhwa masih asyik menatap langit malam dalam diam.
Keduanya duduk di beranda paviliun kediaman Yeonhwa dalam diam. Keheningan yang tercipta diantara mereka bukan menjadi pertanda rasa canggung yang melingkupi. Namun sebaliknya, keheningan tersebut seakan menjadi komunikasi antar hati yang tengah saling menyembuhkan dengan kehadiran satu sama lain.
Dengan Yeonhwa yang menatap langit malam dan Yeol yang terus memusatkan perhatian pada paras feminim tersebut, kedua tangan mereka saling bertautan. Keduanya seakan tengah berusaha saling menguatkan. Berkomunikasi dengan hati bahwa mereka akan menjadi tempat bersandar satu sama lain. Dan dalam hati masing-masing, keduanya belajar untuk bersama dalam suka ataupun duka, bahkan dalam keadaan bertarung sekalipun.
Sinar rembulan malam itu, menjadi saksi menguatkan perasaan Yeol dan Yeonhwa yang dimulai dengan saling memahami bahkan hanya lewat keheningan diantara mereka.
~THE RED MOON~