어머니의 조언 (Eomeoniui Jo-Eon | Mother’s Advice)
Suasana paviliun Gungnamji terlihat begitu tenang dan damai dengan sesekali terdengar suara kicau burung yang terbang mengitari danau buatan yang terdapat di salah satu sudut istana. cuaca yang cerah serta angin yang berembus lembut, membuat siapa pun akan merasa betah untuk menikmati atau sekadar menghabiskan waktu di paviliun yang sengaja di bangun di tengah danau buatan istana.
Seperti pagi ini, terlihat para anggota keluarga kerajaan sedang berkumpul bersama di paviliun tersebut. Tampak kedua ibu suri sudah menikmati lebih dulu suasana paviliun Gungnamji yang kemudian di susul dengan kehadiran Raja Yeongak yang datang bersama istrinya—Ratu Kang.
Pagi ini, Ibu Suri Istana Jo sengaja mengundang para anggota keluarga kerajaan untuk menikmati teh bunga teratai putih. Meminum teh bunga teratai putih secara bersama sudah merupakan tradisi keluarga yang selalu dilakukan dan dilaksanakan oleh keluarga kerajaan.
Tradisi tersebut dilakukan dengan menikmati teh bunga teratai putih yang diracik secara langsung oleh tetua istana. Setelah selesai di racik, teh akan dibagikan kepada seluruh anggota keluarga kerajaan yang hadir. Tak hanya itu, biasanya para anggota keluarga kerajaan pun akan saling melempar puisi bersambung. Tradisi ini biasanya dilaksanakan di awal musim semi atau musim gugur. Seperti hari ini, tradisi dilaksanakan di penghujung musim gugur.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Ibu Suri Istana Jo—yang merupakan anggota kerajaan paling senior, mulai mempersiapkan teh bunga teratai putih yang akan disajikan. Di bantu Dayang Nam, Ibu Suri Istana Jo mulai menuangkan air panas pada wadah besar di mana sudah di letakkan bunga teratai putih yang telah di keringkan.
Dengan gerakan perlahan dan membentuk lingkaran mengikuti bentuk si wadah, Ibu Suri Istana Jo menuangkan air panas yang membuat teratai putih yang telah di keringkan kembali mekar. Senyum mulai terbit di wajah Ibu Suri Istana Jo yang mendapati teh bunga teratai putih yang diseduhnya mekar sesuai perkiraan.
Selesai menyeduh pada wadah utama, wanita istana itu segera mengambil alat yang digunakan untuk menakar teh dan membagikannya secara rata pada anggota keluarga yang hadir. Sementara Ibu Suri Istana Jo sibuk meracik teh bunga teratai putih, tidak ada seorang pun yang berbicara selama proses tersebut berlangsung. Hal ini memanglah bagian dari tradisi, sebagai bentuk hormat akan kegiatan yang sedang dilakukan oleh para tetua keluarga.
Setelah memastikan cawan yang hendak dibagikan terisi oleh teh racikannya, para dayang pun bergegas menyajikannya. Ibu Suri Istana Jo kembali duduk di tempatnya setelah menyelesaikan tugasnya untuk membuat teh bunga teratai putih.
“Silakan dinikmati,” ujar Ibu Suri Istana Jo setelah masing-masing anggota keluarga mendapatkan cawan berisi teh teratai putih.
Secara bersamaan, Ibu Suri Park, Raja Yeongak, dan Ratu Kang pun mulai menyesap teh tersebut. Sebelumnya, mereka memastikan menghidu aroma teh lebih dulu sebelum akhirnya menyesapnya dengan perlahan. Mereka semua tak langsung menghabiskan teh yang disajikan, namun menyisakan sedikit sebelum nanti dinikmati kembali.
“Cuaca hari ini sangat indah. Beruntung sekali kita berkumpul di waktu indah seperti ini,” ujar Ibu Suri Istana Jo membuka topik pembicaraan dengan seluruh anggota keluarga kerajaan yang hadir.
“Anda benar sekali, Eomma Mama. Cuaca seindah hari ini sangat cocok dinikmati bersama-sama di luar ruangan seperti ini. Terlebih dengan berkumpul bersama seperti sekarang. Sungguh, sangat menyenangkan,” sahut Ibu Suri Park dengan senyum dan mengangguk ke arah Ibu Suri Istana Jo—yang tak lain adalah ibu mertua baginya.
“Geurae,” Ibu Suri Istana Jo menganggukkan kepala, menyetujui pendapat Ibu Suri Park yang menyatakan bahwa hari seindah ini harus dinikmati di luar ruangan, “kau benar sekali, Daebi. Bagaimana kabar kalian, Jusang, Jungjeon? Beberapa hari ini kalian tak berkunjung untuk menyapaku, apa kalian begitu sibuk?”
Ratu Kang yang mendengar teguran halus yang di ucapkan Ibu Suri Istana Jo dengan segera membungkukkan tubuh ke arah Ibu Suri Istana Jo.Sedikit rasa tak nyaman merayap ke permukaan hati Ratu Kang karena beberapa hari ini tak bisa melaksanakan salam pagi pada tetua istana.
“Mohon maafkan saya yang terlalu sibuk dengan urusan istana dalam, Wang Daebi Mama. Saya tak bermaksud melupakan Anda, hanya saja pekerjaan istana dalam cukup menyita. Mohon pengertian Anda, Wang Daebi Mama.”
“Ye, Halma Mama. Aku juga minta maaf karena tak datang berkunjung untuk salam pagi. Ada banyak urusan negara yang perlu diselesaikan.”
Kekehan terlantun dari Ibu Suri Istana Jo seiring mendengar permohonan maaf yang disampaikan oleh cucu dan cucu menantunya. Sang Ibu Suri Istana memang sengaja menggulirkan pertanyaan tersebut untuk memancing respon dari pasangan kerajaan terkait keduanya yang di sinyalir memiliki hubungan yang dingin berdasarkan pantauan informan Ibu Suri Istana Jo selama ini. Dan mendengar jawaban keduanya yang sibuk dengan urusan masing-masing, semakin memantapkan Ibu Suri Istana Jo untuk menobatkan Pangeran Agung Hyoyeom sebagai pewaris selanjutnya.
“Aku bisa memaklumi,” tandas Ibu Suri Istana Jo yang lalu mengarahkan atensinya pada danau istana yang mengelilingi tempat keberadaannya saat ini. Sorotnya kini terlihat sedikit sendu, seakan ada sesuatu yang dirindukannya.
“Sayang sekali, Daegun dan Bubuin tak bisa bergabung dengan kita untuk menikmati teh bunga teratai karena masih perlu waktu untuk memulihkan diri,” gumamnya dengan nada sedih yang tak bisa di tutupi. Maniknya kemudian bergulir pada Ibu Suri Park yang sedari tadi hanya diam. “Aku yakin kau pasti sangat terkejut dan sedih mendengar kabar yang menimpa Bubuin beberapa hari lalu yang kehilangan bayinya, Daebi. Aku harap kau bisa menghibur Bubuin dan memperhatikannya lebih baik setelah mereka kembali tinggal di sini, Daebi.”
Ibu Suri Park tak bisa menahan rasa senangnya mendengar Ibu Suri Istana Jo yang mulai menyinggung perihal Yi Yeol yang akan kembali ke istana setelah menerima dekrit pengangkatannya sebagai Wangseje—saudara penerus takhta. Iris wanita itu bergulir ke arah Raja Yeongak yang wajahnya terlihat masam.
“Saya akan mengingat pesan Anda, Eomma Mama. Saya pastikan akan mengurus Bubuin sebaik mungkin setelah mereka kembali tinggal di istana,” tukas Ibu Suri Park semanis madu.
Seakan tak ingin melewatkan kesempatan berada di atas angin, Ibu Suri Park kemudian memfokuskan perhatian pada Raja Yeongak dan Ratu Kang. Sedaya upaya, wanita itu berusaha mengulum senyum mengejeknya agar tak begitu kentara.
“Jusang, Jungjeon, aku yakin kalian sedang mempersiapkan hari penobatan untuk Daegun dan Bubuin, bukan? Sebagai ibu kalian, aku berterima kasih karena kalian akan menerima keduanya dengan tangan terbuka sebagai pasangan pewaris.”
Ratu Kang melirik sediki takut ke arah suaminya—Raja Yeongak. Wanita istana itu sanagt yakin jika ucapan Ibu Suri Park pasti akan membuat emosi sang Raja meledak. Dalam hati, Ratu Kang berharap agar sang Raja bisa mengendalikan emosinya. Terlebih saat ini mereka sedang menghadapi dua tetua istana sekaligus.
“Daebi Mama, bahkan sekretariat istana pun belum memastikan kapan hari penobatan yang tepat. Ada banyak urusan negara yang jauh lebih penting dari sekedar penobatan,” tandas Raja Yeongak dengan senyum palsu yang terpasang di rautnya. Manik gelapnya menatap penuh ancaman pada sang Ibu Suri.
Ibu Suri Park terkekeh mendengar jawaban sang Raja yang berusaha keras untuk menahan emosinya. Iris sang Ibu Suri memberikan tatapan geli serta mencemooh pada pria dengan jubah kerajaan berwarna merah tersebut.
“Aku tidak masalah sekalipun sekretariat istana belum memutuskan tanggal yang tepat karena menunggu hasil pembacaan langit dari departemen astronomi dan ritual, bukan? Hanya saja, aku berpesan agar kalian berdua mempersiapkannya sebaik mungkin. Kalian harus bersyukur karena negara ini tidak tertimpa kemalangan karena kalian kehabisan waktu untuk memiliki pewaris sendiri. Jadi, perlakukan Daegun dan Bubuin sebaik mungkin kelak,” titah Ibu Suri Park dengan nada yang sedikit menohok.
~THE RED MOON~
“Ibu langsung kemari setelah mendengar kabar malang yang menimpamu, Aga. Apa kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu saat ini?”
Nyonya Lee menatap khawatir Yeonhwa yang duduk di hadapannya. Wajah putrinya terlihat lebih pucat dari biasanya ditambah adanya lingkaran hitam yang membayang di bawah mata Yeonhwa. Sekalipun Yeonhwa menyunggingkan senyum dan terlihat baik-baik saja, Nyonya Lee sangat yakin hati putrinya sedang hancur lebur.
Tangan Nyonya Lee terulur untuk menggenggam erat tangan Yeonhwa. Kehangatan suhu tubuh Nyonya Lee, seakan mampu membuat hati Yeonhwa yang selaam beberapa hari ini terasa kosong dan sepi, kini mulai terasa hangat. Senyum tipis kembali tersungging di paras Yeonhwa.
“Sekalipun aku mengatakan baik-baik saja, nyatanya Eomeoni pasti bisa mengetahui jika aku berbohong. Aku memang tidak baik-baik saja tapi tolong jangan cemaskan aku. Aku sedang berusaha menata hati dan pikiranku.”
“Geurae,” Nyonya Lee menepuk-nepuk lembut punggung tangan Yeonhwa, “tidak apa jika kau tak baik-baik saja. Ibu hanya berpesan supaya kau jangan berlarut-larut dalam kesedihan, Aga. Kau tetap harus bangkit dan pulih untuk dirimu sendiri juga Daegun Mama. Meski tidak memperlihatkannya, Ibu yakin Daegun Mama juga terpukul dengan kondisi yang menimpamu.”
Yeonhwa mengangguk singkat. Apa yang dikatakan ibunya adalah kebenaran. Suaminya—Yi Yeol, memang terlihat baik-baik saja. Namun, bukan berarti bahwa pria itu memang baik-baik saja. Yeonhwa beberapa kali sempat memergoki pria itu tengah menahan tangis selama menemani Yeonhwa. Tak hanya itu, pelayan Yeonhwa—Gaeun pun mengatakan bahwa saat Yeonhwa jatuh tak sadarkan diri saat proses pembersihan keguguran, Yi Yeol tampak duduk di depan pintu masuk ruang pribadi Yeonhwa dengan airmata tanpa sadar mengaliri pipinya.
“Aku akan mengingat pesan Eomeoni sebaik mungkin. Aku mungkin butuh waktu untuk memulihkan hati dan pikiranku. Tolong jangan khawatir, Eomeoni.”
Nyonya Lee menghela napas panjang. Segala macam hal tengah memenuhi kepala wanita bangsawan tersebut. Ada banyak hal yang ia khawatirkan terkait putrinya, terlebih setelah kabar mengenai dekrit yang telah diterima Pangeran Agung Hyoyeom beberapa hari lalu. Tak hanya itu, Nyonya Lee pun mengingat peristiwa aneh yang terjadi pada bunga teratai putih di kolam rumahnya yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah.
Meski ia tak ingin percaya dengan ramalan atau segala hal yang bersifat takhayul, entah kenapa semua situasi yang terjadi saat ini seakan mengarah menuju pembenaran ramalan tersebut. Hal ini menerbitkan rasa cemas yang tinggi pada diri Nyonya Lee.
“Aga, apa kau sudah mendengar dekrit istana yang diterima Daegun Mama beberapa hari lalu?” Nyonya Lee mengubah topik pembicaraan dengan putrinya.
Yeonhwa terdiam beberapa saat lalu mengangguk. Ia memang sudah mengetahui bahwa suaminya menerima dekrit baru dari istana. Namun, ia belum tahu apa pastinya isi dekrit tersebut.
“Ye, Eomeoni. Aku sudah mendengarnya. Tapi, Seobangnim belum membicarakan apapun padaku.”
“Dekrit itu berisi bahwa Daegun Mama dan kau untuk dinobatkan sebagai pasangan pewaris selanjutnya, Aga,” tandas Nyonya Lee yang sudah mengetahuinya dari suaminya—Tuan Min.
Hazel Yeonhwa terbelalak mendengar jawaban sang ibu. Wanita itu jelas tak menyangka penjelasan seperti itu akan meluncur dari ibunya.
“Eomeoni, Anda tak boleh mengatakan hal berbahaya seperti itu. Perkataan Anda sesuatu yang bisa membuat kami dalam bahaya,” tukas Yeonhwa yang masih menyangkal fakta yang disebutkan ibunya.
“Aniya,Aga. Ibu mengatakan sebuah kebenaran. Daegun Mama akan dinobatkan sebagai pewaris takhta. Ibu tak tahu apa yang mendasari dekrit ini bisa diterbitkan. Hanya saja, sebentar lagi kau akan tinggal di istana, Aga,” Nyonya Lee menatap lekat Yeonhwa, berusaha mencari tahu bagaimana perasaannya setelah mengetahui fakta tersebut, “apa kau tahu istana itu tempat seperti apa, Aga?”
Yeonhwa bergeming. Bibirnya terkatup rapat sementara kepalanya sibuk memikirkan jawaban yang dimaksudkan oleh ibunya. Tapi, ia sama sekali tak bisa memberikan gambaran pasti mengenai jawaban yang dimaksud ibunya karena ia belum pernah tinggal di istana sebelumnya. Kunjungan singkat ke istana beberapa waktu tak menjamin Yeonhwa bisa menggambarkan seperti apa tempat megah dan mewah tersebut dalam sebuah kalimat.
“Dari semua tempat berbahaya yang ada di Joseon, istana adalah tempat paling berbahaya di Joseon, Aga. Tanah bahkan dindingnya seakan memiliki telinga dan mata untuk mendengar dan memperhatikanmu. Karena itu, kau harus berhati-hati. Tolong camkan pesan ibu ini, Aga.”
~THE RED MOON~