나는 당신 옆에 (Naneun Dangsin Yeop-e | I’m Beside You)
Yeonhwa melangkah menyusuri taman yang menghubungkan paviliun kediamannya dengan paviliun Yeol. Malam ini, rembulan bersinar dengan anggun menguasai langit malam. Sinar keperakannya seakan menjadi lentera malam yang menerangi Yeonhwa sepanjang jalan, menyusuri taman penghubung tersebut.
Angin bertiup lembut. Desiran halus angin berpadu dengan sayup-sayup suara binatang malam yang sesekali terdengar, seakan menjadi melodi yang indah di penghujung hari. Dengan cuaca malam yang cukup terang karena rembulan bertakhta sepenuhnya di langit, menegaskan bahwa malam ini begitu indah dan damai.
Yeonhwa menikmati perjalanan kecilnya menuju kediaman sang suami di tempat tinggal mereka. Sekalipun mereka sudah menikah, adalah hal yang tabu bagi masyarakat Joseon untuk pasangan saling berbagi kamar. Di Joseon, pasangan suami-istri yang berbagi kamar biasanya adalah masyarakat kelas bawah yang tak punya cukup ruang di rumah mereka. Sementara keluarga kerajaan juga bangsawan, biasanya kamar pasangan suami-istri terpisah.
Langkah Yeonhwa terhenti ketika ia memasuki pekarangan paviliun Yi Yeol. Irisnya langsung menangkap kehadiran Yeol yang kebetulan berada di luar ruangan. Dalam balutan jubah tidur sutranya, Yi Yeol tengah duduk di beranda paviliun dan menatap langit. Entah kenapa, melihat Yeol saat ini membuat Yeonhwa merasa dejavu. Ia seperti pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya dengan Yeol. Namun, posisinya saat itu Yeonhwa-lah yang duduk di beranda dan dihampiri oleh Yeol.
Langkah demi langkah, Yeonhwa pangkas seiring jaraknya yang semakin dekat pada Yeol. Sementara itu, Yeol bergeming sedikitpun. Pria itu tampaknya belum menyadari kehadiran sang istri di dekatnya. Atensinya terus tertuju pada bulan yang begitu anggun menerangi malam. Sama seperti hatinya yang sedikitnya masih menyimpan sekelumit perasaan untuk sosok lain. Sekalipun kini perasaan baru telah tumbuh untuk wanita yang telah menyandang status sebagai istrinya.
“Seobangnim, apa yang sedang Anda lakukan di sini? Apa Anda sedang menikmati pemandangan malam hari ini?”
Sebuah pertanyaan yang terlontar dengan suara lembut, membuat Yeol mengalihkan atensinya dari langit malam dan sang bulan. Iris gelap tersebut kemudian menemukan Yeonhwa—yang entah sejak kapan, sudah berdiri tepat di hadapannya. Wanita itu tersenyum lembut meski warna pucat masih sedikit menghias parasnya.
“Buin, sejak kapan kau di sini? Kemarilah,” sahut Yeol yang terkejut dengan kehadiran Yeonhwa namun juga mempersilakan agar wanita itu duduk di sampingnya. Tangan Yeol menepuk pelan sisi kosong di sebelahnya, berharap Yeonhwa mau mengisi kekosongan tersebut.
Yeonhwa mengangguk singkat dan dengan senang hati menempati sisi kosong tersebut. Untuk beberapa saat, tidak ada topik pembicaraan yang digulirkan. Keduanya seakan hanyut dalam ketenangan malam yang menyelimuti diantara mereka. Hingga Yeonhwa akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka dengan mengutarakan maksud kedatangannya ke paviliun Yeol.
“Seobangnim, bolehkan aku membicarakan sesuatu dengan Anda? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan,” ujar Yeonhwa dengan manik hazel yang menatap lekat Yeol di sebelahnya.
Yeol menoleh dan balas memandang Yeonhwa. Seulas senyum tersungging di roman maskulinnya. Tak ketinggalan, anggukan singkat dilayangkan Yeol sebagai tanda mempersilakan Yeonhwa untuk membuka obrolan diantara mereka.
“Silakan,Buin. Apa yang ini kau bicarakan? Aku akan mendengarkannya.”
“Seobangnim, di hari aku mengalami keguguran, aku mendengar kabar dari Kasim Choi, Gaeun—pelayanku bahkan ibuku, bahwa Anda menerima sebuah dekrit dari istana. Apa semua itu benar?” tanya Yeonhwa berhati-hati, seolah tak ingin membuat Yeol merasa tersinggung karena dirinya terkesan seperti hendak ikut campur.
Yeol tak langsung menjawab. Mendengar Yeonhwa menanyakan dekrit yang ia terima, membuat Yeol kembali teringat dengan gulungan yang diterimanya pada hari menyedihkan tersebut. Ia memang sudah membaca isi dekrit tersebut, tapi belum menyatakan kesediannya menerima. Terlebih, ia pun belum membicarakan hal ini dengan Yeonhwa mengingat situasi yang mereka alami beberapa hari lalu, jelas bukan saat yang tepat.
“Ah, benar,” Yeol mengangguk seakan mengingat dekrit yang Yeonhwa maksud, “aku memang menerimanya di hari menyedihkan tersebut, Buin. Mianhaeyo, karena aku tak memberitahumu. Aku merasa saat ini belum waktu yang tepat untuk membahas hal itu karena kau belum sepenuhnya pulih. Itu sebabnya aku belum memberitahumu, Buin.”
“Tidak masalah, Seobangnim. Aku bertanya seperti ini bukan untuk memojokkanmu karena kau tak memberitahuku. Hanya saja, mendengar bahwa kau menerima sebuah dekrit membuatku menjadi memikirkan banyak hal.”
Yeonhwa menjeda sejenak sebelum memulai berbicara, karena ucapannya selanjutnya bisa saja terdengar mendesak bagi Yeol. Yeonhwa ingin memastikan isi dekrit tersebut. Apa benar seperti yang dikatakan ibunya tempo hari atau tidak.
“Jika Anda tak keberatan, apa boleh aku mengetahui isi dekrit yang Anda terima tersebut, Seobangnim?” tanya Yeonhwa sangat berhati-hati. Ekspresinya saat ini terlihat sedikit cemas, takut bahwa pertanyaannya itu akan membuat Yeol tersinggung dan berakhir menganggapnya sebagai istri yang suka ikut campur.
“Tentu saja kau boleh mengetahuinya, Buin. Karena kau memutuskan membicarakan hal ini, sepertinya sudah seharusnya aku menjelaskan semuanya padamu. Ayo, masuklah kita bicarakan semua ini di ruanganku. Udara sudah sedikit lebih dingin, Buin.”
Yeol kemudian meraih tangan Yeonhwa dan menggenggamnya dengan lembut. Pria itu membantu serta mengarahkan Yeonhwa agar ikut bersamanya. Mereka berdua pun bangkit dari tempat duduk mereka di beranda. Bersama-sama, mereka masuk ke dalam paviliun Yeol dan menuju ruang pribadi Yeol.
Yeol membukakan pintu ruang pribadinya dan mempersilakan Yeonhwa masuk lebih dulu. Dengan gerakan tangan, Yeol menyuruh Yeonhwa untuk duduk di alas duduk yang biasa Yeol pakai jika sedang berada di kamarnya. Dan wanita itu mematuhinya dengan duduk di alas duduk tersebut dan menunggu Yeol yang kini seperti sedang mengambil gulungan dekrit dari lemari penyimpanannya.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya pada lemari penyimpanan, Yeol bergegas menuju Yeonhwa. Yeol yang telah terbiasa dengan kehadiran Yeonhwa di sisinya juga berkat sentuhan-sentuhan perhatian kecil yang biasa mereka lakukan, membuat Yeol tak lagi merasa risih atau sungkan berada di dekat Yeonhwa. Bahkan, pria itu tampak sangat nyaman berada di dekat Yeonhwa.
Yeol meletakkan gulungan tersebut di atas meja dan membukanya. Yeol memang sengaja melakukan semua itu agar Yeonhwa pun bisa membaca dan mengetahui isi dekrit secara jelas.
“Bacalah,Buin. Agar kau pun mendapatkan kejelasan atas dekrit yang kuterima ini. karena apapun yang terjadi padaku, kau pun akan mendapatkan dampaknya,” jelas Yeol seraya menyodorkan dekrit itu lebih dekat pada Yeonhwa.
Yeonhwa menerima dekrit yang diserahkan Yeol dan mulai membacanya. Irisnya mulai mengikuti searah dengan guratan tinta hitam yang mengotori perkamen yang ada di hadapannya. Semakin Yeonhwa membaca, maniknya semakin lama semakin membola. Wanita itu jelas tak menyangka apa yang tertulis pada dekrit itu persis seperti yang dikatakan ibunya tempo hari. Suaminya—Yi Yeol akan dinobatkan sebagai Saudara Pewaris Takhta untuk Raja Yeongak yang saat ini berkuasa.
“Seobangnim, apa semua ini benar? Apa benar kau akan di nobatkan sebagai Wangseje?” tanya Yeonhwa yang tak bisa menutupi keterkejutannya atas isi dekrit. Meski ia sudah sempat mendengarnya dari sang ibu, rasa terkejutnya bertambah setelah ia membaca sendiri isi dekrit yang diterima suaminya.
“Ye,Buin. Seperti yang kau baca, dekrit tersebut memberikan perintah pengangkatan serta penobatan sebagai Wangseje. Hanya saja, sampai hari ini aku belum memberi jawaban pada sekretariat istana.”
Yeonhwa tertegun mendengar balasan Yeol. Jika ia merasa terkejut dengan dekrit tersebut, sudah pasti Yeol bukan hanya terkejut tapi juga merasa terbebani. Terlebih, berdasarkan hubungan keluarga Yi Yeol dan sang Raja saat ini berstatus sebagai saudara tiri. Meski Yeonhwa belum pernah melihat langsung interaksi suaminya dengan sang Raja, entah kenapa intuisinya mengatakan bahwa hubungan mereka tidak berlangsung cukup baik.
Yeonhwa meraih tangan Yeol dan menyusupkan jari-jari lentiknya pada tangan hangat nan kokoh tersebut. Dengan tindakan tersebut, Yeonhwa seakan memberitahu Yeol bahwa ia bisa mengerti alasannya yang tak kunjung memberikan tanggapan atas dekrit tersebut.
Yeol menoleh karena tindakan Yeonhwa. Pria itu tak keberatan dengan apa yang dilakukan sang istri, sebaliknya senyum terbit di kedua sudut bibirnya. Yeol bisa merasakan ketenangan berkat tindakan kecil yang dilakukan oleh Yeonhwa.
“Apa yang harus kulakukan, Buin? Apa menurutmu aku harus menerimanya? Aku merasa tak cukup pantas untuk bisa menerima gelar serta status tersebut. Terlebih jika memikirkan tentang Hyungnim, aku....”
Yeol tak bisa melanjutkan ucapannya pada Yeonhwa mengenai hubungannya yang dingin dan buruk dengang sang kakak. Bahkan Yeol tak sempat menceritakan alasan kepergiannya sehari setelah pernikahan dikarenakan keinginan sang kakak. Tidak ada seorang pun hanya Yeol yang mengetahui ancaman Yi Hyul padanya. Bila Yeol menceritakannya pada Yeonhwa, ia tak ingin istrinya berpikiran buruk atau bahkan membenci Yi Hyul.
“Gwenchana,Seobangnim. Aku bisa mengerti dan memahaminya. Gelar dan status tersebut membuat Anda merasa terbebani, bukan? Anda hanya perlu memikirkannya secara lebih matang. Mengenai apakah Anda pantas atau tidak, semua itu tidak bisa dinilai di awal. Akan ada proses kelak yang akan menentukan penilaian tersebut, bukan di awal,” jelas Yeonhwa yang berusaha menilai posisi Yeol saat ini berdasarkan intuisinya.
“Tapi Buin, ini adalah dekrit. Aku pasti tetap harus menerimanya. Tidak ada pilihan selain menerima semua ini. Meski aku tak tahu, apa yang sebenarnya menjadi alasan mereka menjadikanku sebagai Wangseje.”
Yeonhwa menepuk lembut punggung tangan Yeol. Wanita itu jelas berusaha menenangkan bergolakan batin yang dialami suaminya. Yeonhwa tahu betul dekrit tidak ada pilihan selain menerima. Sama seperti pernikahannya yang merupakan dekrit dantak bisa terhindarkan. Semua ini hanyalah masalah waktu sampai hari dimana terjadinya proses penobatan Yi Yeol dan dirinya sebagai pasangan penerus takhta selanjutnya.
“Aku mengerti, Seobangnim. Dekrit tidak memberikan kita pilihan selain menerimanya. Sama seperti yang terjadi pada kita,bukan? Anda menikahiku karena dekrit istana yang mengikat. Aku yakin, semua ini hanya masalah waktu sampai Anda merasa yakin dan terbiasa dengan tugas dan tanggung jawab baru yang akan dibebankan pada Anda.”
“Sekalipun pernikahan kita adalah sebuah dekrit yang mengikat, tapi aku tak merasa terbebani karena menikahimu, Buin. Sebaliknya, aku bersyukur karena memilikimu di sisiku,” bantah Yeol tak setuju setelah mendengar Yeonhwa sedikit menyinggung tentang awal pernikahan mereka terjadi.
Yeonhwa tak bisa menahan buncahan rasa bahagia serta kehangatan yang meledak di hatinya berkat ucapan Yeol. Sungguh, ia tak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu terucap dari bibir suaminya. Dalam hati, ia berjanji akan semakin mendukung dan menemani Yeol apapun yang terjadi kelak.
“Aku tersanjung mendengarnya, Seobangnim. Satu hal yang harus Anda ingat adalah kita akan selalu bersama, apapun yang terjadi. Aku akan menemani serta mendukung apapun yang akan Anda lakukan di masa depan. Anda tidak sendirian, Seobangnim, Anda memilikiku di sisi Anda,” ujar Yeonhwa lembut, memberi semangat serta kekuatan untuk Yeol.
Yeol tersenyum lebar dan menarik Yeonhwa ke dalam dekapannya. Sungguh, Yeol merasa sangat bersyukur karena memiliki Yeonhwa sebagai istrinya. Perlahan, perasaan yang selama ini bersemayam di hati Yeol, terkikis seiring dengan tumbuhnya sesuatu dalam hati Yeol pada Yeonhwa. Meski pria itu belum yakin apa tepatnya hal yang ia rasakan pada Yeonhwa karena ia merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari sebelumnya.
“Gomawo, Buin. Untuk kepercayaan yang kau berikan padaku. Aku pastikan agar kau hidup nyaman dan bahagia. Aku berjanji untuk melindungimu lebih baik lagi bahkan dengan takhta yang kumiliki kelak, aku berani mempertaruhkannya untukmu,” ucap Yeol tepat di telinga Yeonhwa dan memeluk tubuh feminim itu lebih erat dari sebelumnya.
~THE RED MOON~