마음 조작 (Ma-eum Jojag | Mind Manipulation)
Yi Yeol menutup pintu dari luar dan meninggalkan istrinya—Yeonhwa dan ibunya berdua saja di ruangan. Pria itu segera pergi setelah mendengar permintaan sang ibu untuk menunggunya di luar. Yeol yang memahami keinginan sang ibu pergi dan membiarkan mereka untuk berbicara lebih dalam. Tampaknya ada sesuatu yang serius yang ingin dibahas Ibu Suri Park khusus berdua saja dengan menantunya.
Manik hazel Ibu Suri Park menatap lekat sosok feminim yang duduk dihadapannya. Matanya seakan menilik penuh perhatian dan tajam, apapun yang tergambar pada paras manis tersebut. Entah apa yang saat ini sedang dipikirkan Ibu Suri Park hingga ia tak henti menatap lekat menantunya tersebut.
Sementara itu, Yeonhwa berusaha bersikap tenang meski sejak ditinggalkan berdua saja, ia dihujani tatapan tajam oleh sang Ibu Suri. Yeonhwa tak tahu apa yang hendak dibicarakan oleh Ibu Suri Park hingga meminta suaminya pergi dari ruangan. Terlebih ia terus mendapatkan tatapan tajam tak bersahabat yang diberikan Ibu Suri Park padanya. Sejak awal Yeonhwa tahu jika Ibu Suri Park tak menyukainya bahkan wanita itu terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya pada Yeonhwa. Meski begitu, Yeonhwa sedaya upaya tetap bersikap hormat dan menghargai wanita istana di depannya sebagai ibu mertuanya.
Helaan napas panjang diembuskan Ibu Suri Park seakan menjadi tanda bahwa ia menyudahi kegiatannya menatap lekat Yeonhwa. Atensinya kemudian tertuju cawan teh yang ada di dekatnya. Tangannya mengangkat cawan yang berisikan cairan bening itu dan memutarnya di depan wajah---mempertimbangkan apakah ia perlu meminumnya atau tidak.
“Apa kau tahu topik yang ingin kubicarakan denganmu, Bubuin?” tanya Ibu Suri Park memecah keheningan diantara mereka sembari masih memutar cawan miliknya di depan wajahnya. Sesekali, pandangannya tertuju pada Yeonhwa, memastikan bahwa menantunya itu memperhatikan dirinya.
Yeonhwa menggeleng pelan dan menyunggingkan senyum sopan. Wanita itu bahkan menurunkan tatapannya yang berakhir dengan memperhatikan meja di hadapannya yang membatasi jarak dirinya dan sang Ibu Suri.
“Mohon maafkan saya, Daebi Mama. Saya sama sekali tak tahu topik apa yang tepatnnya hendak ada bicarakan.”
Ibu Suri Park tersenyum miring mendengar balasan Yeonhwa atas pertanyaannya. Wanita itu kemudian menyesap tehnya sebelum kembali meletakkan cawan kosong di atas meja. Maniknya kembali tertuju sepenuhnya pada Yeonhwa.
Suara kekehan pelan terdengar dari sang Ibu Suri menyadari sikap formal yang ditunjukkan menantunya. Untuk urusan etika dan kesopanan, Ibu Suri Park mengakui bahwa Yeonhwa memang seorang menantu yang sangat sopan dan beretika. Bahkan, Ibu Suri Park tak menampik dengan sikap dan perilaku yang ditunjukkan Yeonhwa selama ini sangat cocok jika ia bisa menduduki posisi sebagai Ratu Joseon.
“Apa kau ingat dengan pertanyaanku tempo hari, Bubuin?” tandas Ibu Suri Park seakan menguji ingatan Yeonhwa akan pertemuan mereka saat itu di istana. Sebuah pertemuan yang berakhir dengan meninggalkan kesan kurang baik terutama bagi sang Ibu Suri.
Yeonhwa terdiam selama beberapa detik, berusaha membuka kembali ingatannya pada hari pertemuan tersebut. Sampai akhirnya, sebuah anggukan singkat dilakukan Yeonhwa, tanda bahwa dia mengingat pertemuan yang dimaksud dengan sang Ibu Suri.
“Kau masih ingat dengan pertanyaan yang kuajukan padamu, bukan?”
“Ye, Daebi Mama. Saya masih mengingatnya dengan baik,” balas Yeonhwa dengan kepala tertunduk. Wanita itu menyadari kekurangan dirinya yang tak bisa mengambil hati ibu mertuanya.
“Apa kau tak ingin tahu jawaban apa sebenarnya yang kuinginkan terucap darimu saat itu?”
Ibu Suri Park memajukan tubuhnya, sehingga jaraknya dengan Yeonhwa hanya beberapa jengkal tangan saja. Wanita istana itu tersenyum lebar dengan manik yang menghunus tepat di kedua mata Yeonhwa.
“Aku ingin kau menjawab bahwa kau memiliki mimpi yang besar. Mimpi besar yang bisa membantu Yeol mempertahankan kursi takhta,” tandas Ibu Suri Park seraya menegakkan kembali tubuhnya. Irisnya kini berkilat dengan bara yang tak sebelumnya tak terlihat pada wanita tua tersebut.
Ibu Suri Park memutuskan tak lagi menutup-nutupi sikap serta tindakannya untuk memperjuangkan dan mendukung takhta Yi Yeol kelak. Namun, semua itu tidak akan ada artinya jika Yeonhwa tak ikut turun tangan atau memiliki pemikiran yang sama dengannya. Kekurangan rencana sang Ibu Suri adalah keikutsertaan Yeonhwa. Itu sebabnya, hari ini Ibu Suri Park memutuskan menanyakan kembali keputusan yang akan di ambil Yeonhwa dalam perang tak kasat mata yang akan berlangsung di depan mata.
“Aku bertanya seperti itu padamu tempo hari karena sudah mengetahui bahwa Yeol memiliki hak atas takhta melalui wasiat mendiang suamiku. Itu sebabnya, hari ini aku akan kembali bertanya padamu, Bubuin,” Ibu Suri Park menjeda dengan atensi yang tak kunjung lepas menatap kedua manik Yeonhwa. “Mimpi besar apa yang saat ini ingin kau raih?”
Yeonhwa tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya memutuskan menjawab. Seperti yang diingat dari pertemuannya yang lalu dengan sang Ibu Suri, Yeonhwa tak akan lagi menjawab secara aman.
“Aku ingin tetap berada di sisi Daegun Mama, Daebi Mama. Apapun keadaannya aku ingin memastikan juga meyakinkan Daegun Mama kalau ia memiliki di sisinya sebagai tempat bersandar dan berlindung,” jawab Yeonhwa dengan tegas dan penuh keyakinan.
Ibu Suri Park tertawa mendengar jawaban Yeonhwa. Wanita istana itu menatap geli keinginan Yeonhwa yang begitu naif. Jika memang Yeonhwa menginginkan semua itu, Ibu Suri Park sangat tahu, ada hal penting yang harus dimiliki menantunya tersebut. Sayang, Yeonhwa tak memiliki hal penting tersebut dalam dirinya.
“Kau memiliki mimpi yang sangat naif, Bubuin,” sahut Ibu Suri Park dengan nada geli. “Jika memang kau ingin berada di samping putraku, maka kau harus mampu mendukungnya secara politik, memastikan bahwa kehidupan kalian akan tetap baik-baik saja.”
Yeonhwa menggigit bibirnya lalu menunduk lesu. Mendengar respon Ibu Suri Park yang terkesan menertawakannya, membuat Yeonhwa sedikit putus asa. Selama ini, ia berusaha keras untuk membuat ibu mertuanya merasa senang dengan menjaga sikap serta perilakunya.
Bahkan, untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang Ibu Suri, Yeonhwa berusaha memberanikan diri untuk mengatakan keinginan terbesarnya. Tapi, semua itu masih tidaklah cukup di mata ibu mertuanya. Terlebih, ibu mertuanya menyinggung masalah dukungan politik yang jelas-jelas tak dimiliki Yeonhwa dan keluarganya.
Sekalipun dua buyutnya tercatat sebagai Ratu Joseon, tak menjamin Yeonhwa memiliki dukungan politik yang kuat di Dewan Istana. Apalagi dengan keputusan ayahnya yang memilih berdagang sebagai kegiatan utamanya dibandingkan mengejar karir sebagai negarawan yang selama ini menjadi pekerjaan utama dari beberapa generasi keluarga Yeonhwa.
“Apa kau yakin bisa menggapai semua itu dengan kemampuanmu saat ini? Mengingat kejadian yang baru terjadi belakangan ini, bukankah semua seakan menegaskan bahwa kau tak bisa melakukan apapun untuk melindung orang atau sesuatu yang berharga bagimu?”
Yeonhwa mengangkat wajahnya dan menatap lurus Ibu Suri Park. Ucapan sang Ibu Suri Park begitu menohok bagi Yeonhwa. Dengan tatapan nanar disertai emosi yang perlahan merambat naik ke permukaan hati, Yeonhwa berusaha mengendalikan diri menghadapi serangan ucapan pedas ibu mertuanya.
“Aku sudah mendengar kesaksian putraku yang menyatakan bahwa percobaan pembunuhan itu sebenarnya bukan tertuju pada Yeol melainkan padamu. Lalu, tak lama setelah kejadian itu kau kehilangan kandunganmu. Tidakkah kau sadar selama ini kau sedang menjadi target incaran hingga membuat orang-orang tersayangmu terluka? Tidak menutup kemungkinan percobaan itu kembali terjadi dan mungkin kali ini bisa saja benar-benar membunuh putraku yang mencoba melindungimu?”
“D-daebi Mama!” tegur Yeonhwa dengan suara meninggi karena tak mampu lagi mengendalikan kemarahan bercampur rasa takut akibat dugaan yang dikemukakan ibu mertuanya. Meski Yeonhwa merasa marah dan cukup tersinggung dengan dugaan tersebut, Yeonhwa tak menampik ada benang merah dari dua kejadian nahas yang dialaminya.
“Karena itu!” balas Ibu Suri Park dengan suara tak kalah meninggi. Wanita istana itu sedikit tersinggung karena Yeonhwa meninggikan suara saat menegurnya. Ibu Suri Park jelas tak akan berhenti mengatakan fakta-fakta yang selama ini tak mampu dilihat oleh Yeonhwa.
“Aku tak bisa tinggal diam mendengar putraku terluka karena melindungimu. Aku tahu kenapa ada orang yang mengincarmu karena titik kelemahan Yi Yeol berada padamu, Bubuin,” tandas Ibu Suri Park dengan dingin dan tak berperasaan. Wanita itu tak akan peduli jika ucapannya melukai hati Yeonhwa.
“Bagaimana bisa kau tetap mempertahankan posisi di samping Yeol, jika selama ini kau menjadi titik terlemahnya? Aku sudah menghabiskan waktu di istana sejak masih muda. Aku mengatakan semua ini karena semua ini sudah pasti ada kaitannya. Dan kau tidak peka dengan semua itu, Bubuin.”
Yeonhwa merasa dadanya sesak seiring dengan fakta-fakta yang diungkapkan Ibu Suri Park pada pembicaraan mereka. Otak Yeonhwa secara cepat memproses semua fakta itu dan menghubungkannya satu sama lain. Intuisinya secara jelas mengirim sinyal bahwa dua kejadiaan nahas yang dialaminya pasti ada keterkaitan. Pasti ada seseorang yang mengatur semua kejadian ini.
Tangan Yeonhwa merayap, memegangi dadanya yang terasa sesak karena hantaman fakta yang diberikan Ibu Suri Park. Hatinya terasa nyeri jika mengingat bagaimana Yeol terluka di malam itu, juga bayi yang sedang ia nantikan kehadirannya direngut secara paksa dari selubung hangatnya.
Berbagai macam perasaan bercampur aduk, membuat Yeonhwa merasa sangat sesak. Yeonhwa mengarahkan kembali atensinya pada Ibu Suri Park. Hazel Yeonhwa menyorotkan permohonan agar ibu mertuanya berhenti menyemburkan fakta yang membuatnya merasa lebih baik mati.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan, Daebi Ma—”
“Eomma Mama,” ralat Ibu Suri Park membetulkan pemanggilan Yeonhwa terhadap dirinya. Sekalipun ia tak menyukai Yeonhwa yang terpilih menjadi istri putra kesayangannya, namun kini rasa tak suka itu sedikit berkurang karena tampaknya Yeonhwa bisa menjadi ujung tombak dari rencananya.
“Aku ini ibumu, Bubuin. Jangan perlakukan aku bak orang lain. Aku memang tak menyukaimu, tapi sekarang sepertinya aku yang harus mendidikmu secara langsung karena saat ini kau adalah sosok terdekat dari putraku. Kau adalah orang yang paling pertama untuk memastikan keamanan dan keselamatan Yeol ke depannya,” jelas Ibu Suri Park yang secara tak terduga mengemukakan pemikirannya tentang Yeonhwa yang berubah.
Setetes airmata meluruh di salah satu pipi Yeonhwa mendengar ibu mertuanya yang kini mulai mengirimkan sinyal positif akan dirinya. Dengan kedua tangan yang meremat kuat rok tradisional yang digunakannya, Yeonhwa mengucapkan janji dalam hati. Mulai detik ini, ia akan melakukan apapun yang diucapkan Ibu Suri Park. Setelah mendengar pemikiran Ibu Suri Park tentang dirinya, Yeonhwa yakin bahwa wanita istana di depannya tak menyukainya hanya karena wanita itu terlalu menyayangi putranya.
Yeonhwa menarik napas, berusaha mengatur detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya, seiring gejolak emosi yang dialaminya beberapa saat lalu.
“Jika begitu, Eomma Mama mohon bantu dan arahkan aku jika memang ada yang harus kulakukan untuk menggapai mimpiku. Apa yang harus kulakukan, Eomma Mama?”
“Jika kau ingin mengungkap semua hal yang telah terjadi padamu dan Yeol, satu-satunya cara yang bisa kau lakukan adalah memastikan Yeol menerima dekrit. Kekuasaan dan takhta adalah caramu untuk bisa menggapai impianmu agar tetap berada di samping Yeol. Tidak hanya itu, kau pun bisa memastikan keselamatan kalian di masa depan selama kalian berdua menduduki takhta sebagai pasangan pewaris kerajaan,” tutup Ibu Suri Park dengan nada tegas.
~THE RED MOON~