딜레마 (Dillema | The Dilemma)
Yeonhwa tak bisa melepaskan pkirannya dari pembicaraan yang ia lakukan tempo hari bersama ibu mertuanya. Selama beberapa hari ini, kepala terus menerus memikirkan serta mempertimbangkan segala kemungkinan baik maupun buruk dari keputusannya ke depan. Ucapan Ibu Suri Park mengenai segala hal yang belakangan menimpa Yeonhwa bisa ia singkap kebenarannya hanya dengan menerima takhta, sangat mengusik hati kecil Yeonhwa.
Sekalipun Yeonhwa berusaha mengikhlaskan bayi dalam kandungannya, namun hati kecilnya berkata bahwa kejadian terburuk bisa saja terjadi lebih dari ini, jika Yeonhwa tak membujuk Yeol menerima takhta.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Yeonhwa pun bergegas bangkit dari duduknya. Tak peduli bahwa hari sudah mulai larut, wanita bangsawan itu keluar dari ruangannya dan pergi menuju bangunan tempat suaminya beristirahat di sisi timur rumah.
Seiring langkah yang di ambil Yeonhwa menuju bangunan timur tempat Yeol beristirahat, Yeonhwa berusaha merangkai kata terbaik. Ia berharap suaminya mau menerima saran yang diberikan olehnya.
Yeonhwa menghentikan langkahnya sejenak, setiba di pekarangan bangunan timur. Irisnya mendapati cahaya lilin masih berpendar dari ruangan yang diyakini sebagai ruang tidur Yeol. Yeonhwa merasa sedikit lega karena ia tak harus menganggu waktu tidur suaminya untuk berbicara hal penting ini. Dengan satu tarikan napas panjang, Yeonhwa kembali melangkahkan tungkainya menuju bangunan tempat tinggal Yeol. Memberanikan diri untuk mengajak berdiskusi suaminya malam ini juga. Karena Yeonhwa yakin, dirinya akan sangat terlambat jika memilih terus menunda topik penting seperti ini hingga pagi.
~THE RED MOON~
Sekalipun telah mendengar bunyi gong istana yang menunjukkan bahwa hari sudah beranjak larut, Yeol masih bertahan di posisinya. Pria itu duduk diam di atas bantalan duduk yang terdapat di ruangannya. Sudah seharian ini, Yeol terus memikirkan hal yang sama. Setelah kunjungan ibunya tempo hari, di susul dengan datangnya Menteri Ritual istana ke kediamannya sore tadi, membuat Yeol semakin terusik dengan fakta bahwa ia berhak atas takhta Joseon.
Fakta yang Yeol dapatkan bahwa ia pun berhak atas takhta Joseon melalui wasiat sang Ayah, sebenarnya sedikit membebaninya. Sebagai pangeran kedua, Yeol sejak kecil sudah diberitahu juga diingatkan ratusan kali bahwa ia tak memiliki hak atas takhta. Dayang pengasuhnya dulu—mendiang Dayang Jung, mengatakan bahwa satu-satunya cara agar Yeol bisa hidup tenang dan aman adalah menahan diri dan menghindar dari segala hal yang berbau politik.
Dan selama ini, Yeol melakukan semua itu. Ia menahan diri agar tak menjadi murid yang cemerlang selama mendapat pendidikan dasar. Yeol kecil bahkan harus sembunyi-sembunyi agar bisa berlatih pedang atau banyak membaca buku. Yeol pun terus memegang teguh dan menanamkan dirinya bahwa ia tak ditakdirkan untuk menduduki takhta Joseon, sekalipun ia terlahir sebagai pangeran. Tugasnya sebagai pangeran kedua adalah melindungi kakaknya—Raja Yeongak, yang paling berhak atas takhta.
Tapi, seiring waktu bahkan hingga kejadian mengerikan yang dialami Yeol dan istrinya, membuat pria itu harus memikirkan kembali segalanya. Setelah selama ini hanya diam dan menuruti segala perintah kerajaan yang ditujukan untuknya kini Yeol mulai mempertanyakan segalanya. Ada sesuatu dalam diri Yeol yang menyuarakan agar dirinya menerima takhta berdasarkan wasiat.
Bukankah ada alasan khusus yang membuat Abba Mama membuat wasiat seperti itu untuknya?
Lagi dan lagi, pertanyaan itu terus bergaung di kepala juga hati Yeol. Membuat Yeol semakin gelisah sekaligus bingung. Selama ini keinginan Yeol hanyalah hidup tenang dan aman, jauh dari segala hal yang berbau politik dan takhta, sesuai dengan yang selama ini Yeol lakukan. Tapi jika Yeol tidak menerima dekrit tersebut, bisakah Yeol menjamin bahwa ia dan Yeonhwa bisa hidup aman setelah serangkaian kejadian buruk yang jelas-jelas di alamatkan kepada mereka berdua?
“Seobangnim, apa Anda sudah tidur?”
Suara lembut di depan pintu masuk ruangan, membuat Yeol tersentak dari pemikirannya. Pria itu dengan segera mengenali suara tersebut milik Yeonhwa. Menyadari Yeonhwa yang datang ke ruangannya di waktu selarut ini, membuat rasa khawatir naik ke permukaan hati Yeol. Dengan segera, pria itu bangkit dari duduknya dan melangkahkan tungkainya menuju pintu masuk. Ekspresi khawatir terpatri jelas di roman Yeol kala mendapati Yeonhwa benar-benar berdiri di depan pintunya.
“Buin?”
Yeonhwa tersenyum tipis menyadari keterkejutan Yeol atas kedatangannya. “Maaf karena menganggumu di waktu selarut ini, Seobangnim. Tapi, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”
Seakan menyadari bahwa Yeonhwa ingin membicarakan hal penting, membuat Yeol mengangguk dan mempersilakan Yeonhwa masuk ke dalam ruangannya. Tanpa banyak suara, keduanya pun segera duduk di tempat masing-masing—Yeol di bantalan duduk miliknya dan Yeonhwa duduk di seberang suaminya.
“Ada apa, Buin? Sepertinya kau ingin membicarakan hal yang sangat penting,” ucap Yeol membuka obrolan. Iris pekat itu menyorotkan kekhawatiran sekaligus rasa penasaran akan pembicaraan yang akan digulirkan istrinya.
“Seobangnim, aku tahu ini akan terkesan lancang menurutmu, tapi sebagai istri sudah seharusnya aku memberikan saran juga mendukung apapun keputusan yang hendak kau ambil.”
Yeonhwa memulai pembicaraan dengan sedikit gelisah. Wanita itu masih sedikit takut bahwa pembicaraan malam ini bisa saja membuat Yeol merasa tersinggung. Kedua jemarinya tampak melipat-lipat kecil ujung kain rok tradisional yang ia kenakan. Rasa gelisah itu terasa semakin nyata kala mendapati Yeol hanya diam mendengarkan apapun yang hendak Yeonhwa katakan. Meski merasa cemas, Yeonhwa tetap memantapkan hati untuk membicarakan hal penting ini pada Yeol.
“Aku sudah mendengar sore tadi Menteri Ritual mendatangimu, apa mungkin....” Yeonhwa menjeda sejenak. Wanita itu mengangkat wajah dan memusatkan perhatian pada roman Yeol, berusaha membaca riak apapun yang terpeta di sana. “Apa mungkin beliau datang kemari untuk menanyakan keputusan mengenai pengangkatanmu sebagai Wangseja?”
Yeol terdiam beberapa detik mendengar pertanyaan Yeonhwa. Meski begitu, Yeol mengangguk, membenarkan dugaan Yeonhwa atas maksud dan tujuan Menteri Ritual Istana menemuinya sore tadi.
“Geurae. Sesuai dugaanmu, Buin. Menteri Ritual Istana memang mendatangiku untuk menanyakan keputusanku terkait pengangkatan tersebut.”
“Apa kau sudah memberikan keputusannya, Seobangnim? Eomma Mama memberitahuku dalam kunjungannya tempo hari, bahwa ada batas waktu mengenai pengangkatan tersebut, sebelum kemudian di serahkan pada tetua istana untuk mengambil keputusan.”
“Eomma Mama?”
Yeol terkejut mendengar istrinya memanggil ibunya dengan panggilan tersebut setelah selama ini Yeonhwa memilih tetap memanggil berdasarkan gelar kerajaan ibu Yeol.
Pipi pucat Yeonhwa bersemu kemerahan menyadari bahwa ia sudah mengubah panggilan yang ia gunakan pada sang ibu mertua. Dengan kepala yang sedikit tertunduk untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu, Yeonhwa mengangguk kecil dan berusaha menjelaskan kenapa ia bisa mengubah panggilan terhadap ibu mertuanya.
“Eomma Mama memintaku untuk memanggilnya demikian. Beliau mengatakan sudah sepantasnya aku menganggap dirinya sebagai ibu juga. Maaf jika aku bersikap lancang, Seobangnim.”
“Aniya. Kau sama sekali tak bersikap lancang, Buin. Aku hanya terkejut karena akhirnya Eomma Mama sudah mau membuka hati untukmu. Aku senang setidaknya ini bisa menjadi pertanda bahwa hubungan kalian akan semakin membaik ke depannya.”
“Aku berharap demikian, Seobangnim,” sahut Yeonhwa. Wanita itu kemudian kembali menampilkan ekspresi serius setelah selingan ringan tersebut. Yeonhwa kembali mengarahkan topik pembicaraan sesuai tujuannya saat datang menemui Yeol. “Seobangnim, apa kau sudah membuat keputusan terkait dekrit tersebut?”
“Animnida. Aku belum memberikan keputusan apapun mengenai dekrit tersebut,” ujar Yeol yang kemudian menghela napas panjang, seakan memperlihatkan rasa dilema yang tengah membelenggu dirinya. Ada sisi dirinya yang ingin sekali menyanggupi dekrit tersebut, tapi sisi dirinya yang lain seakan meragukan kemampuan dirinya.
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Seobangnim? Jika tidak keberatan, kau bisa membicarakannya denganku. Mungkin aku bisa memberikan saran atau mengurangi kegelisahan yang menderamu.”
Yeol terkekeh dan memusatkan perhatiannya pada Yeonhwa. Seulas senyum tersungging di kedua sudut bibir, memperlihatkan lesung pipi yang selalu muncul setiap kali pria itu memamerkan senyumannya. Manik pekat itu memancarkan sorot lembut pada sosok feminim yang berada di hadapannya. Entah bagaimana, Yeol merasa ucapan Yeonhwa bagaikan angin segar yang menenangkan.
“Sejujurnya, aku merasa dilema dengan semuanya. Selama ini aku bertahan hidup dengan cara menjauhi takhta. Aku diberitahu bahwa itulah satu-satunya cara agar aku bisa tetap hidup dan tenang dengan status sebagai pangeran kedua dalam garis kerajaan. Tapi, entah kenapa keadaan saat ini seakan mendesakku bahkan memaksaku untuk mulai memikirkan takhta,” Yeol mulai menceritakan kegundahan hatinya pada Yeonhwa. Pria itu berusaha mencari tahu bagaimana sudut pandang Yeonhwa menghadapi situasi rumit Yeol.
“Selama ini, tidak pernah sekalipun terlintas keinginanku untuk mendapatkan takhta. Impianku hanya ingin hidup tenang denganmu juga anak-anak kita kelak. Tapi, dengan segala keadaan yang akhir-akhir terjadi, seolah menargetkan aku dan kau dalam bahaya. Apa menurutmu, dengan menyanggupi dekrit tersebut, kita bisa hidup dengan tenang kelak, Buin?”
Yeonhwa tak langsung menjawab pertanyaan yang diutarakan Yeol. Butuh waktu bagi Yeonhwa untuk benar-benar memahami pikiran Yeol saat ini. Yeonhwa sadar, situasi yang tengah dihadapi Yeol saat ini sangat berat. Selama ini Yeol menjalani kehidupan yang bertolak belakang dengan situasi yang kini memaksanya untuk mulai melirik takhta dan kekuasaan secara tak langsung.
“Selama ini aku selalu mengalah dengan segala hal yang menyangkut dengan kekuasaan dan takhta, hingga aku selalu kehilangan dan tak bisa melindungi hal-hal yang berharga milikku. Tapi, apakah takhta dan kekuasaan adalah jawaban agar aku bisa melindungi sesuatu yang berharga milikku, Buin?” sergah Yeol dengan nada yang sarat rasa lelah karena dilema yang membelenggu. Helaan napas panjang kembali di embuskan pria itu seiring jeda yang digulirkan Yeonhwa pada obrolan mereka malam ini.
“Seobangnim, aku tahu semua ini pasti membingungkan sekaligus melelahkan untukmu. Kau berusaha keras menjalani kehidupan yang sangat bertolak belakang dengan situasi yang saat ini kau alami. Aku yakin, kau menyimpan sedikit rasa kesal juga penasaran, akan mendiang Raja yang mewasiatkan sesuatu yang tak pernah kau duga selama ini.”
Yeonhwa menjeda ucapannya, berusaha menganalisis riak ekspresi di roman Yeol atas ucapannya. Iris hazel yeonhwa bisa mendapati guratan lelah dan kebingungan di wajah Yeol. Bagaimanapun situasi yang sedang mereka hadapi saat ini berat dan mengejutkan, terlebih sebelumnya mereka pun mengalami kejadian yang sangat tak kalah mengejutkan. Baik Yeol maupun Yeonhwa sadar, keduanya sangat lelah dipermainkan oleh semesta.
“Aku bisa memahami perasaanmu, Seobangnim. Ini jelas sangat melelahkan dan membingungkan. Tapi, aku selalu yakin ada tujuan yang mulia di balik setiap kejadian yang kita alami dalam hidup. Aku yakin, ada sesuatu yang membuat mendiang Raja membuat keputusan seperti ini. Jelas bukan hal yang mudah bagi mendiang Raja membuat keputusan yang seakan mempermainkan perasaan dan posisi kedua putranya. Karena itu....”
Yeonhwa menghela napas panjang dan beranjak dari posisi duduknya saat ini. Wanita itu berpindah duduk dengan berada lebih dekat dengan Yeol. Jemari lentik itu kemudian meraih tangan Yeol dan menggenggamnya dengan erat, seakan memberikan kekuatan dan keyakinan pada Yeol yang sedang diliputi rasa gelisah.
“Tolong percaya pada kata hatimu, Seobangnim. Jika selama ini kau menahan diri untuk tak menunjukkan kemampuan dirimu, mungkin ini adalah keputusan Langit yang sedang bermurah hati memberikan hadiah atas kesabaranmu selama ini dengan menahan diri agar tak menyulitkan posisi Jeonha selama menduduki posisi sebagai penerus takhta. Aku akan mendukung keputusanmu, jika kau ingin menerima dekrit tersebut. Aku yakin dan percaya, alasanmu menerima dekrit tersebut semata-mata bukan karena berambisi akan takhta, tapi keinginan kuatmu untuk melindungi apa yang menurutmu berharga.”
Yeol tak bisa berkata mendengar tanggapan Yeonhwa setelah mengutarakan kegelisahan dan kebingungannya. Sungguh, ia tak menyangka, Yeonhwa bisa memberikan jawaban yang begitu menenangkan. Sosok feminim itu tak menghakimi jika pun Yeol menerima dekrit itu.
Secara tak terduga, Yeol menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Sungguh, Yeol tak tahu lagi harus bagaimana mengekspresikan rasa leganya setelah mendengar pendapat Yeonhwa atas situasi yang di alaminya. Rasa berat yang sedari tadi seakan membebani kedua pundak Yeol, kini seakan terangkat setelah mendapati dukungan Yeonhwa.
“Gomawo, Buin. Terima kasih atas pendapatmu yang sangat menenangkanku. Aku tak tahu harus berkata apa. Ucapanmu tadi sudah lebih dari cukup untuk meyakinkanku dalam mengambil keputusan,” ucap Yeol tepat di sisi telinga Yeonhwa. Pria itu mengeratkan pelukannya pada Yeonhwa.
“Jika menerima dekrit itu adalah hal terbaik menurutmu, maka lakukanlah, Seobangnim. Aku akan mendukungmu, apapun yang terjadi. Karena aku tahu, kau pasti memiliki alasan melakukannya,” balas Yeonhwa yang membalas pelukan tersebut dengan bersandar dengan nyaman pada d**a suaminya.
~THE RED MOON~