Saat Iris memasuki area ruang makan keluarga, ia tak menemukan keberadaan Irina di sana. Ia cukup heran mengingat ayahnya dan saudarinya itu seperti tak terpisahkan satu sama lain, bahkan saat ia tak mengikuti makan malam bersama pun keduanya akan tetap melakukannya yang membuatnya seolah bukanlah bagian dari keluarga itu.
Bagas yang melihat kedatangan putri bungsunya itu tersenyum, ia tak berpikir bahwa Iris akan menuruti panggilannya yang selalu ditolaknya sebelumnya. Ia tersenyum, meskipun raut kesedihan masih tampak di wajahnya. Ia tentu tak bisa melupakan bagaimana kondisi putri sulungnya yang saat ini sedang sakit di kamarnya dan seolah mengurung diri dan seperti menghindarinya.
“Kau sudah datang? Duduklah, kakakmu masih belum bisa bergabung bersama kita jadi dia akan makan di dala