Elly datang ke Panti Asuhan Mentari bersama Barry pada hari berikutnya. Mereka tidak membawa foto perempuan berkacamata ataupun daftar pertanyaan tentang masa depan. Elly ingin melihat boneka yang dikenalnya sejak kecil dan mendengar ingatan adiknya tanpa mendahuluinya dengan jawaban. Merlin menerima mereka di ruang tamu panti, kemudian mengambil beruang dari kamarnya sendiri.
Jahitan telinga kirinya masih terlihat. Ibu mereka pernah memperbaikinya dengan benang gelap ketika Merlin terlalu sering membawa boneka itu ke mana-mana. Tulisan pada kalung kecilnya mulai pudar. Elly menyentuh bekas jahitan sebentar dan melepaskan tangannya. Hadiah dari Seruni Point itu selamat lebih lama daripada bangunan tempat mereka mendapatkannya, juga lebih lama daripada kedua orang tua mereka.
Barry meletakkan salinan gambar dari Keen365 di atas meja. Bentuk bonekanya sama, tetapi telinga dalam foto tidak cukup jelas untuk mengenali jahitannya. Merlin tidak mengatakan bahwa hanya dirinya yang pernah memiliki beruang seperti itu. Tempat permainan dahulu memberikan hadiah serupa kepada banyak pengunjung. Kesamaan barang itu membawa mereka ke kenangan yang sama, belum kepada seorang pengirim yang pasti.
'Kapan terakhir kau membawa boneka ini keluar?' tanya Elly.
Merlin berpikir, lalu menggeleng. Ia tidak ingat tanggalnya. Ia lebih mudah mengingat pemakaman Robi dan perempuan yang menyebut nama Manoa di sana. Elly membiarkannya menerangkan pertemuan itu sampai selesai. Sesudahnya ia menanyakan apakah perempuan tersebut memperkenalkan diri. Merlin mengatakan tidak. Ucapan belasungkawa itu singkat, tetapi cukup aneh untuk tertinggal dalam ingatannya.
Di buku catatannya, Elly menuliskan urutan yang tidak boleh tertukar: Robi meninggal, pemakaman berlangsung, kemudian gambar beruang muncul di Keen365. Boneka itu tidak pernah menjadi peringatan sebelum kematian Robi. Bila seseorang menghubungkannya dengan peristiwa sebelumnya, hubungan itu berasal dari penafsiran belakangan. Merlin melihat catatan kakaknya dan membenarkannya.
Elly hendak bertanya tentang akun tersebut, tetapi Merlin menggeser boneka kembali ke pangkuannya. 'Aku belum mau membicarakan semuanya.'
'Baik. Kalau nanti kau ingin bicara, hubungi aku.'
Merlin meminta agar gambar boneka yang disimpan tim tidak disebarkan sebagai tanda bahwa mereka telah menemukannya. Elly menyampaikan permintaan itu kepada Hanung. Mereka masih boleh menelusuri gambar publik, tetapi tidak memerlukan foto baru dari kamar panti untuk menguji sesuatu yang belum pasti.
Mereka pulang tanpa membawa boneka itu. Di mobil, Barry menanyakan apakah Elly ingin berhenti makan. Ia menyadari istrinya sejak tadi memegang botol obat dalam tas, tetapi belum meminumnya sesuai jadwal. Elly meminta mereka berhenti sebentar. Ia tidak ingin kembali pingsan ketika orang lain membutuhkan jawabannya. Mereka makan sebelum meneruskan perjalanan ke kantor.
Sementara itu, Hanung menemukan Kamandanu melalui keluarga dan tempat kerja barunya. Danu bersedia bertemu setelah mengetahui Maya tidak hadir. Ia masih sakit hati karena dituduh menutup-nutupi perselingkuhan orang yang membesarkannya. Dean tidak memintanya membuktikan kesetiaan. Ia meletakkan foto pemain Bintang Kejora dan foto masa kecil yang pernah ditunjukkan Maya di meja warung.
'Pak Robi pernah ingin bertemu pemain ini?' tanyanya.
'Saya sudah mengatakan itu waktu kalian datang pertama kali. Beliau mencari kesempatan menemuinya. Saya kira mau mengangkatnya jadi anak asuh.'
Dean membaca kembali catatan pertemuan pertama. Danu benar. Keterangan itu sudah ada, tetapi tertutup oleh pertanyaan mereka tentang bom dan amplop Ajeng. Mereka tidak sedang menemukan kesaksian baru; mereka baru menyadari arti sebuah kalimat yang dahulu terlalu cepat dilewati. Hanung meminta maaf karena membuat Danu mengulang penjelasan yang sama.
Danu melihat beberapa foto di kursi belakang mobil sebelum ledakan. Ia tidak pernah membuka koper Pak Robi dan tidak mengetahui isi ponsel lama sebelum Maya menunjukkannya setelah suaminya meninggal. Karena itu ia tidak dapat menjelaskan panggilan terakhir kepada Ajeng. Ia hanya tahu bahwa minat Pak Robi kepada pesepakbola itu sudah ada sebelum kedua kematian terjadi pada hari yang sama.
Permintaan pemeriksaan hubungan darah akhirnya dapat dijalankan setelah Kaluma membantu menjelaskan tujuannya kepada pihak yang berwenang. Maya menyetujui penggunaan bahan pembanding Pak Robi yang asalnya tercatat. Bunda Ida menyetujui pemeriksaan terhadap bahan milik Robi Suryadi yang masih tersimpan dari penanganan setelah pertandingan. Petugas memastikan keterkaitannya dengan masing-masing korban sebelum menerimanya.
Tidak ada makam yang dibuka diam-diam. Penolakan autopsi dahulu tetap tercatat, dan pemeriksaan baru tidak diubah menjadi cerita bahwa panti pernah menyetujui sesuatu yang tidak dilakukannya. Dean harus menunggu sebagaimana orang lain. Kesamaan wajah yang dihasilkan ponselnya hanya memberi alasan mengajukan pertanyaan, bukan menggantikan pemeriksaan tersebut.
Selama menunggu, Barry membawa salinan laporan penemuan Robi kepada Hanung. Berita awal yang menyebut orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tidak memiliki dasar yang dapat ditemukan. Dean mengaku pernah membawa keterangan itu ke kantor tanpa memeriksanya cukup jauh. Laporan penemuan justru mencatat seorang anak yang melarikan diri dari perdagangan manusia, terluka, dan belum dapat menjelaskan keluarganya.
Bunda Ida membenarkan bahwa nama Suryadi diberikan di panti. Identitas keluarga Robi tidak pernah berhasil dipastikan, meskipun penemuannya sudah dilaporkan. Ia menolak membiarkan riwayat anak itu dirapikan dengan cerita yatim piatu yang lebih mudah dipahami orang. Hanung mencoret informasi keliru dari ringkasan kerja mereka. Pencarian keluarga bukan perkara yang sudah selesai lima belas tahun sebelumnya.
Hasil pemeriksaan tiba beberapa hari kemudian. Hubungan ayah dan anak antara Robi Cahyadi dan Robi Suryadi sangat kuat didukung hasil tersebut. Dean membacanya dua kali sebelum menyerahkannya kepada Kaluma. Angka itu menjawab pertanyaan tentang darah mereka, tetapi tidak menerangkan siapa ibu Robi, mengapa ia hilang, ataupun apakah dua kematian itu diperintahkan orang yang sama.
Maya menerima penjelasan di rumahnya. Ia tidak menangis ketika mendengar hasilnya; ia justru bertanya apakah suaminya sudah mengetahui kebenaran itu. Dean menyampaikan keterangan Danu persis seperti yang diterimanya: Pak Robi ingin bertemu pemain tersebut. Tidak ada kesaksian bahwa pertemuan itu sudah terjadi atau bahwa hasil pemeriksaan serupa pernah diterimanya.
'Mungkin dia sedang mencari,' kata Maya, lebih kepada dirinya sendiri.
Dean tidak menjadikan dugaan itu kepastian. Ia meminta izin menelusuri benda-benda keluarga yang berkaitan dengan Ajeng. Kali ini Maya mengeluarkan ponsel lama tanpa menuduh Danu. Nama pada layarnya tetap satu. Mereka telah menemukan hubungan dua orang yang sama-sama terlambat diselamatkan; pertanyaan berikutnya berada pada orang yang namanya masih tertinggal di antara keduanya.