Anjani yang sudah dua langkah menjauh berhenti. Nama itu jatuh di antara mereka, pelan tetapi terasa seperti pintu yang terbuka dari ruangan lama. Ia kembali menatap pasien di ranjang. Wajahnya masih menyimpan lebam, suaranya serak, dan selang infus membatasi gerak tangannya. Namun kini, bayangan koper merah muda di bandara memiliki nama yang jelas.
'Kai William Harald,' ulang Anjani. 'Kamu yakin bisa menyebutkan nama lengkapmu?'
Kai mengangguk kecil, lalu meringis. 'Saya yakin. Hanya... kepala saya berat.'
'Jangan memaksakan diri. Saya panggil perawat dan dokter jaga. Mereka yang akan memastikan kondisi kamu setelah sadar.'
'Anda benar-benar dokter?'
Anjani terkekeh pendek. 'Pertanyaan itu sudah dijawab. Tapi karena tadi saya tidak memakai jas dan kartu nama, ini.' Ia mengambil kartu identitas rumah sakit dari saku tas. 'Anjani Liharika Gunardi. Dokter jaga IGD. SIP dan STR saya juga ada kalau kamu butuh bukti tambahan.'
Kai memicingkan mata, berusaha membaca tulisan di kartu. 'Anjani...'
'Betul. Kita pernah bertemu, meski cuma sebentar. Di bandara. Koper kita tertukar.' Senyum Anjani mengembang samar. 'Koper saya warna pink. Kamu menatapnya seolah-olah benda itu baru saja menghina seluruh keluargamu.'
Ada gerak kecil di sudut mulut Kai. Bisa jadi senyum, bisa juga rasa sakit yang berusaha ia tahan. 'Saya ingat koper itu.'
'Syukurlah. Setidaknya ada satu hal yang masih kamu ingat.' Anjani berusaha menjaga nada ringan. 'Dan saya yang menemukanmu di pantai. Saya melihat sesuatu di tepi air, lalu mendekat. Kamu sudah tidak sadar. Saya minta bantuan, kemudian ikut memastikan kamu dibawa untuk mendapat pertolongan.'
'Anda yang menemukan saya?'
'Iya. Tapi jangan merasa berutang apa-apa. Itu bukan transaksi.' Anjani mengangkat telapak tangannya, lebih untuk mengingatkan diri sendiri daripada menegaskan sesuatu kepada Kai. 'Saya kebetulan ada di sana. Siapa pun yang melihatmu akan berusaha menolong.'
Kai menundukkan pandangan pada selimut. Bunyi monitor memenuhi ruang VIP, menyela hening yang tidak nyaman. Anjani ingin bertanya apa yang terjadi, tetapi ia ingat pasien itu sebelumnya memilih diam. Ia bukan orang yang berhak memaksa cerita keluar hanya karena rasa penasarannya terbuka.
'Keluarga kamu bisa dihubungi?' tanyanya hati-hati. 'Kamu tidak harus menjawab sekarang. Polisi sudah menangani perkara yang berkaitan dengan kejadian di Banyuwangi. Jika kamu belum merasa aman, katakan kepada petugas yang berwenang.'
Kai menatapnya lagi. 'Belum.'
'Baik. Saya tidak akan memaksa.' Anjani mengangguk. 'Nanti ada dokter jaga yang bertugas malam ini. Saya sudah selesai bekerja, jadi saya harus menyerahkan informasi yang relevan kepadanya. Kamu tetap akan dirawat dengan baik.'
'Kamu tidak akan di sini?'
Sapaan itu meluncur sebelum Anjani sempat mengoreksinya. 'Saya pulang setelah serah terima. Besok saya belum tahu jadwalnya. Tapi siapa pun dokter yang merawatmu akan punya catatan lengkap.'
Kai tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi napasnya tertahan. Anjani melihatnya dan memberi isyarat agar ia tidak memaksakan bicara. 'Istirahat dulu. Kalau ada keluhan, tekan tombol panggil. Perawat ada di luar.'
Pintu terbuka. Robert masuk bersama perawat jaga yang mengambil alih pemantauan. 'Wah, akhirnya bangun juga,' kata Robert, lalu berhenti ketika menangkap tatapan Kai. 'Saya Robert. Saya dokter senior yang ikut menangani sejak kamu dibawa kemari.'
Anjani memberi ringkasan singkat tentang perubahan kesadaran dan pengakuan identitas Kai, lalu mundur. Robert melanjutkan pemeriksaan sesuai tanggung jawabnya. Tidak ada percakapan panjang atau interogasi di depan pasien yang baru sadar. Kai hanya mengulang namanya saat Robert memintanya, setelah itu ia memilih diam.
Di ambang pintu, Anjani menoleh. Kai masih memegang kartu identitasnya. Ia kembali sebentar, mengambil kartu yang disodorkan Kai, lalu menyimpannya di saku depan tas.
'Dok,' panggilnya lirih.
Anjani berhenti. 'Ya?'
'Terima kasih sudah... tidak memaksa.'
Anjani tersenyum. 'Kamu berhak menentukan kapan mau bicara.'
Anjani keluar bersama Robert menuju ruang staf. Sebelum pulang, ia melengkapi catatan tentang perubahan kesadaran Kai dan nama yang baru disebutkannya. Identitas lisan itu masih akan diperiksa melalui prosedur rumah sakit.
'Sudah?' Robert bertanya ketika ia menutup map.
'Sudah. Aku juga tulis kalau dia belum mau memberi kontak keluarga.'
'Bagus. Keputusan itu dicatat, bukan diperdebatkan.'
Anjani mengangguk. Ia tahu Robert memastikan semuanya berjalan sewajarnya. Rumah sakit bukan tempat untuk menjadikan simpati sebagai alasan mengabaikan tata cara. Kalaupun ia ingin tahu lebih banyak, yang dibutuhkan Kai sekarang adalah perawatan dan ruang untuk menentukan pilihan.
Mereka berhenti di depan pintu keluar staf. Robert mengeluarkan kunci mobil. 'Aku antar.'
'Aku bisa pesan taksi.'
'Kamu baru saja pulih dari luka di paha dan masih pincang. Jangan berdebat soal hal yang bisa diselesaikan dengan sederhana.'
'Aku tidak pincang.'
Robert menatap cara ia berdiri.
'Sedikit,' koreksi Anjani.
'Om antar sampai rumah. Tidak ada diskusi.'
Dalam mobil, kota sudah lengang. Lampu jalan memantul di kaca, sementara Anjani menyandarkan kepala tanpa benar-benar mengantuk. Ia memikirkan wajah Kai saat mendengar namanya disebut ulang. Seperti orang yang baru kembali ke sebuah rumah, tetapi belum yakin pintu mana yang aman dibuka.
Mobil berhenti di rumah Robert dan Martha. Mereka masuk bersama. Martha sudah tidur, dan Anjani membaca pesan Tita sambil menaruh tas di meja. Luka pahanya terasa berdenyut setelah hari yang panjang.
Anjani mengetik bahwa ia baik-baik saja dan sudah pulang. Ia tidak menambahkan cerita soal Kai. Belum ada cerita yang pantas dibagi; pasien itu baru saja sadar dan masih memilih diam. Ia menaruh telepon, mematikan lampu, tetapi pikirannya tetap mengulang percakapan tadi.
Pagi berikutnya, Anjani sedang membaca bahan kuliah ketika Jonathan menelepon. Ia menjawab sambil merapikan catatan, lalu mendengar suara temannya yang terdengar seperti baru turun dari kendaraan.
'Lo masih di Surabaya?' tanya Jonathan.
'Masih. Memangnya aku pindah ke mana?'
'Ya siapa tahu kamu sudah kabur lagi ke Banyuwangi. Aku cuma mau memastikan kondisi kakimu.'
'Sudah lumayan. Delapan jahitan itu masih ada, tapi aku bisa jalan.'
'Kalimat itu tidak berarti kamu boleh surfing besok.'
'Aku juga tidak bilang mau surfing besok.'
'Bagus. Aku kenal kamu.'
Anjani tertawa kecil. Jonathan memahami kebiasaannya menutupi rasa sakit dengan lelucon. Ia tidak perlu menjelaskan terlalu banyak tentang luka itu. Jonathan mengetahui peristiwa di pantai karena ikut memeriksa Kai dan meminta bantuan. Ia hanya tidak berada bersama Anjani ketika koper mereka tertukar di bandara.
'Ada perkembangan soal pria yang kamu temukan?' tanyanya kemudian.
Anjani berhenti membalik halaman. 'Dia sudah sadar dan menyebutkan namanya.'
'Siapa?'
'Kai William Harald.'
Di seberang, Jonathan mengulangi nama itu. 'Kamu mengenali dia?'
'Dia pemilik koper yang tertukar denganku di bandara sebelum aku berangkat ke Banyuwangi,' kata Anjani.
'Yang kamu ceritakan waktu itu?' Jonathan bertanya. 'Jadi orang yang kita temukan di pantai itu orang yang sama?'
'Iya. Aku baru mengenalinya ketika dia sadar. Kami sama-sama tidak memeriksa tanda pengenal koper.'
'Setidaknya sekarang kamu tahu kenapa wajahnya terasa tidak asing.'
'Wajahnya masih penuh memar. Aku tidak langsung ingat.'
'Jangan buru-buru mengubah koper tertukar jadi cerita romansa,' goda Jonathan.
'Aku sedang memastikan dia mendapat pertolongan, Jo.' Anjani menutup buku sebentar. Ia ingat Jonathan ikut memeriksa Kai di pantai dan meminta bantuan sementara ia sendiri menahan nyeri di pahanya.
'Semoga dia baik-baik saja. Tapi kamu jangan terlibat terlalu jauh, ya. Kamu masih pasien juga, kalau dihitung dari luka pahamu.'
'Aku tahu. Robert sudah mengingatkan berkali-kali.'
'Berarti ada orang dewasa yang menjaga kalian berdua.'
'Jonathan, kamu seumuran denganku.'
'Tapi secara emosional, aku lebih tua.'
'Bohong.'
Mereka bercakap beberapa menit tentang kuliah dan rencana Jonathan. Anjani menyebut bahwa ia tidak menjenguk Kai lagi setelah selesai bertugas. Jonathan menyetujui keputusan itu. Ia tidak mengatakan bahwa Anjani salah karena peduli; ia hanya mengingatkan bahwa hubungan antara penolong dan orang yang ditolong mudah terasa tidak seimbang kalau salah satu pihak menganggap perhatian sebagai utang.