Siang itu, setelah menyelesaikan urusan di ruang staf, Anjani melihat Robert berbicara dengan perawat di meja. Ia ingin menyapa sebelum pergi, tetapi dari pintu ruang VIP terdengar suara yang dikenalnya.
'Dokter Anjani?'
Ia berhenti. Kai masih berada di ranjang, tetapi menoleh ke koridor. Anjani menjaga jarak beberapa langkah.
'Ya?' sahutnya.
Kai tampak lebih sadar daripada malam sebelumnya. Wajahnya tetap pucat dan ada bekas luka yang belum hilang, tetapi ia mampu mempertahankan pandangan. Seorang perawat berada di dekatnya.
'Anda yang menemukan saya?' tanyanya.
'Iya. Saya sudah bilang kemarin.'
'Saya ingin tahu... apa saya mengatakan sesuatu waktu itu?'
Anjani menoleh sekilas kepada perawat. 'Saya ingat kamu belum sadar saat saya menemukanmu. Saya tidak bisa memastikan apa yang kamu katakan setelah itu. Kalau kamu ingin bicara tentang kejadian sebelum ditemukan, sebaiknya sampaikan kepada polisi atau Robert. Mereka bisa mencatat dengan benar.'
Kai mengangguk perlahan. Ia tidak tampak tersinggung. 'Saya tidak tahu apakah saya siap menceritakan semuanya.'
'Kamu tidak harus memutuskan sekarang.'
'Apa Anda takut saya tidak akan pernah cerita?'
Anjani terdiam sejenak. Ia tak ingin membuat janji yang seolah menuntutnya menunggu. 'Saya tidak punya hak untuk menuntut cerita kamu. Yang penting kamu mendapat bantuan yang dibutuhkan.'
Kai memandangnya cukup lama. 'Anda selalu bicara seperti itu?'
'Seperti apa?'
'Seolah-olah memberi orang jalan keluar.'
Anjani tersenyum kecil. 'Mungkin karena saya sendiri baru belajar bahwa jalan keluar itu penting.'
Ia menyadari kalimat tersebut membawa bagian hidupnya yang tak perlu diceritakan sekarang. Ia tidak menyebut Arya, Chelsea, atau kegagalan PPDS. Kai tidak perlu mendengar kisahnya sebagai balasan karena ia sedang berjuang dengan hal lain.
'Dokter, apakah Anda masih bekerja hari ini?' tanya Kai.
'Ya, tapi bukan sebagai dokter yang menangani kamu. Robert dan tim yang bertugas mengurus perawatanmu.'
Kai menunduk, lalu mengangguk. 'Saya mengerti.'
Robert datang beberapa saat kemudian. Ia menyapa Kai, lalu memastikan apakah ada hal yang ingin disampaikan kepada tim. Kai menjawab tidak untuk sekarang. Robert tidak memaksa. Ia memastikan perawat mengetahui pertanyaan pasien dan menyampaikan bahwa jika Kai ingin berbicara tentang kejadian, pihak berwenang dapat dihubungi sesuai prosedur.
Beberapa hari kemudian, pada pagi keenam setelah Kai sadar, Anjani tiba di Guna Persada Hospital dengan tugas kuliah yang belum selesai di dalam tas dan sisa nyeri di paha. Gerimis semalam sudah berhenti. Ia menyerahkan barang di ruang staf, membaca daftar pasien yang menjadi tanggung jawabnya, lalu mengecek jadwal kerja. Tidak ada alasan untuk menuju kamar VIP. Ia mengingat keputusan yang dibuatnya sebelumnya: Kai boleh bercerita kapan ia siap, dan ia tidak perlu menunggu di dekat pintunya.
Robert menghampirinya saat ia sedang merapikan berkas. 'Kamu masuk sampai sore?'
'Iya. Ada apa?'
'Pihak kepolisian akan menemui Kai. Mereka ingin memastikan apakah dia bersedia menghubungi seseorang dari keluarganya. Om cuma memberi tahu karena mungkin kamu akan melihat mereka di koridor.'
Anjani menghentikan tangannya. 'Dia sudah setuju?'
'Belum. Polisi akan menjelaskan pilihan dan batas informasinya. Kai yang memutuskan.'
'Bagus. Jangan sampai dia merasa kami mengatur siapa yang boleh ia hubungi.'
Robert mengangguk. 'Kamu sendiri tidak perlu ikut.'
'Aku tahu.'
Ia kembali ke pekerjaannya. Pagi berjalan biasa, tapi pikirannya beberapa kali tertuju pada pintu ruang rawat. Setiap kali muncul dorongan untuk bertanya, ia mengingatkan diri bahwa ingin tahu bukan hal yang sama dengan punya hak untuk tahu. Ia memeriksa pasien, mengisi catatan, dan berbicara dengan rekan kerja tentang jadwal yang perlu ditukar. Sebelum siang, urusan kecil itu selesai.
Saat ia melewati lorong menuju ruang staf, ia melihat Robert berdiri di dekat kamar Kai bersama dua petugas yang sudah pernah ditemuinya saat pemeriksaan sebelumnya. Mereka tidak mengenakan seragam yang mencolok. Salah satu memegang map dan berbicara dengan suara rendah. Pintu kamar tidak tertutup rapat, tetapi Anjani tidak berhenti untuk mendengarkan.
Ia baru sampai di meja staf ketika Robert menyusul. 'Kai minta waktu sebentar sebelum menjawab.'
'Dia boleh mengambil waktu.'
'Polisi juga bilang dia bisa memilih satu kontak yang dianggap aman. Mereka tidak akan langsung mengumumkan lokasi atau detail perkara kepada orang itu. Hanya menyampaikan bahwa Kai ditemukan dan sedang dirawat, sesuai persetujuannya.'
Anjani mengangguk. 'Itu lebih baik.'
'Om ingin memastikan, kamu tidak akan menawarkan diri menjadi perantara.'
'Aku bukan keluarganya dan bukan petugas penyidik.'
Robert terlihat puas. 'Bagus.'
Anjani memutar mata. 'Kalau Om terus memuji setiap kali aku melakukan hal normal, nanti aku merasa seperti anak TK.'
'Kalau begitu berhenti membuat keputusan yang bikin Om khawatir.'
Ia menahan tawa. Setelah makan siang, ia mengerjakan beberapa catatan dan menyelesaikan konsultasi yang menjadi tanggung jawabnya. Ketika waktu istirahat tiba, ia mengambil air minum dan duduk di ruang staf. Tita mengirim foto tumpukan buku dan keluhan soal jadwal kuliah. Anjani membalas dengan candaan singkat, lalu kembali memeriksa berkas.
Menjelang sore, Robert datang lagi. 'Kai memutuskan.'
Anjani menatapnya, tidak bertanya siapa.
'Dia memilih seseorang yang menurutnya bisa menjaga kabar itu tetap tertutup. Dia meminta polisi menghubungi orang tersebut, bukan rumah sakit.'
'Dia sudah memberi izin?'
'Sudah. Petugas mencatat batas yang boleh disampaikan. Tidak ada nama yang perlu kamu tahu.'
Anjani mengangguk. Ia merasa lega karena Kai mengambil keputusan, meski ia tidak tahu siapa yang dipilih. 'Bagaimana perasaannya?'
'Kelihatan tegang. Tapi keputusan itu datang darinya.'
'Aku harap dia merasa punya kendali.'
'Om juga.'
Mereka kembali ke tugas masing-masing. Sebelum pulang, Anjani mengirim pesan kepada Martha tentang daftar pesanan yang ingin diperiksanya esok pagi di rumah. Ningsih tetap mengatur pekerjaan harian di Yogyakarta.
Pagi berikutnya, hari ketujuh sejak Kai sadar, Anjani sarapan bersama Martha sebelum berangkat ke rumah sakit. Robert sudah siap lebih dulu dan mengingatkan agar ia membawa jadwal kuliahnya.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung masuk ke ruang staf. Hari itu ia mengurus beberapa pasien dan memeriksa berkas hasil serah terima. Ia bekerja seperti biasa. Sesekali ia melihat petugas kepolisian melintas dari kejauhan, tetapi ia tidak menghentikan mereka.
Menjelang tengah hari, Robert memanggilnya sebentar. 'Kontak yang dipilih Kai sudah menerima kabar.'
Anjani menutup map. 'Dia yang menghubungi?'
'Melalui petugas. Kai menyetujui panggilan itu. Pihak yang dihubungi mengonfirmasi menerima pesan, dan informasi yang disampaikan tetap terbatas.'
'Apakah dia meminta bicara dengan Kai?'
'Dia menawarkan diri, tapi Kai belum mau. Polisi menghormati itu.'
Anjani mengangguk, menahan pertanyaan lanjutan. Robert tampak menunggu apakah ia akan bertanya siapa orang itu. Ia tidak bertanya.
'Bagus,' katanya. 'Dia berhak menentukan langkah berikutnya.'
'Ya. Om hanya memberi tahu karena kamu sempat khawatir dia sendirian.'
'Aku tidak ingin tahu identitasnya.'
'Om tahu.'
'Keliatan banget?' Ia tersenyum tipis.
'Sedikit.'
Mereka kembali ke pekerjaan masing-masing. Di sela jam kerja, Anjani menyelesaikan tugas pendek untuk kuliah. Ia memilih meja di ruang staf yang agak jauh dari keramaian, lalu mengetik sampai beberapa paragraf selesai. Satu rekan kerja menanyakan apakah ia bersedia menukar jadwal minggu depan. Anjani memeriksa kalender sebelum menjawab. Ia tidak langsung menyanggupi. Ia ingin memastikan perubahan itu tidak membuat kuliah dan waktu istirahatnya berantakan.
Siang bergeser ke sore tanpa kabar lain. Ketika Anjani selesai bertugas, ia bertemu Robert di dekat lift. 'Aku boleh tanya sesuatu?' katanya.
'Boleh.'
'Kalau aku ingin menjenguk Kai sebagai orang yang menemukannya, bukan sebagai dokter, bagaimana cara meminta izin tanpa membuat dia merasa harus menerima?'