Dua hari kemudian, seusai kelas, Anjani membahas awal uji coba bersama koordinator giliran dan Robert. Unit telah menyetujui perubahan terbatas. Ada tanggapan yang baik, tetapi satu tugas masih menumpuk di akhir hari dan perlu dicatat. Setelah urusan itu selesai, ia menghubungi Kai. Ia masih punya waktu sekitar satu jam jika mereka ingin makan di tempat yang dekat.
Kai menjawab bahwa mereka bisa memilih tempat yang dekat dan tidak ramai. Anjani menyarankan kedai kecil yang pernah ia datangi bersama Tita, bukan restoran yang jauh dari jalur pulangnya. Kai setuju. Mereka sepakat bertemu di sana setengah jam kemudian.
Saat tiba, Kai sudah menunggu di luar, tidak masuk lebih dulu. Ia berdiri ketika Anjani mendekat, lalu bertanya, 'Kamu masih nyaman makan di sini?'
'Ya. Terima kasih sudah menunggu kabarku.'
'Saya tidak mau membuatmu merasa harus mengejar jadwal saya.'
Mereka memilih meja sederhana dekat jendela. Kai tidak tampak tergesa, meski Anjani tahu ia masih menjalani kontrol dan proses perkara. Ia bertanya tentang presentasi, dan Anjani bercerita soal perbaikan rancangan serta masukan Robert. Ia menjelaskan bahwa penyesuaian jadwal baru dicoba sebentar, belum bisa disebut berhasil.
'Kamu senang bisa mengusulkannya?' tanya Kai.
'Senang karena aku tidak cuma mengeluh. Tapi aku juga takut orang mengira jadwal berubah karena aku punya hubungan dengan keluarga Robert.'
'Kamu sudah memastikan keputusan itu berdasar rancanganmu.'
'Ya. Aku ingin tetap mengingatkan diri sendiri bahwa akses bukan pengganti kemampuan.'
Kai mengangguk. 'Kalau suatu hari orang menganggap bantuan saya bisa menentukan pekerjaanmu, bilang. Saya tidak ingin membuatmu merasa berutang.'
'Aku akan bilang. Tapi aku juga tidak mau menganggap setiap dukungan sebagai kendali.'
Mereka berhenti sejenak ketika pelayan meletakkan minuman. Percakapan bergerak ke hal ringan: pekerjaan Kai yang sempat tertunda, makanan yang ia rindukan, dan kebiasaan Anjani menyimpan daftar kecil di tas. Kai mengaku kadang ia menjauh saat terluka, tetapi sedang mencoba memberi tahu orang jika perlu waktu sendiri. Anjani mengatakan ia masih belajar untuk tidak mengisi diam orang lain dengan keputusan yang ia buat sendiri.
'Kalau nanti saya perlu membatalkan rencana, saya akan bilang alasannya sejauh yang bisa saya ceritakan,' kata Kai. 'Saya tidak mau membuatmu menebak.'
'Aku juga akan bilang kalau jadwalku berubah. Bukan menghilang lalu berharap kamu mengerti.'
Mereka tidak menyebut hubungan mereka sebagai sesuatu yang lebih dari saling mengenal. Anjani merasa nyaman membiarkan pertemuan itu tetap kecil. Ia bisa menikmati makan malam tanpa memikirkan apakah ia harus membalasnya dengan janji atau membuka semua rahasia.
Selesai makan, Kai menawarkan untuk mengantarnya pulang. Anjani menolak dengan lembut karena ia sudah memesan kendaraan dan rumah tidak jauh. Kai tidak membantah. Ia menunggu sampai kendaraan datang dari tempat yang terlihat jelas, lalu mengucapkan selamat malam.
Di perjalanan, Anjani membuka pesan Tita tentang jadwal besok. Ia membalas bahwa makan malam berjalan baik, tetapi mereka hanya berbincang dan pulang sesuai rencana masing-masing. Ia tidak merasa perlu menyembunyikan atau membesar-besarkan pertemuan itu.
Pada minggu kesepuluh sejak Kai sadar, Ningsih mengirim tiga permintaan dari pelanggan lama di Yogyakarta. Ketiganya meminta tenggat singkat. Anjani membacanya dari meja makan rumah Robert dan Martha di Surabaya, lalu membuka panggilan video agar Ningsih dan Risma bisa ikut membahasnya dari tempat produksi.
Delapan pegawai yang membantunya sejak masa kuliah tetap bekerja di Yogyakarta. Ningsih menangani pesanan harian. Anjani memeriksa desain dan pembukuan dari jauh, sesekali pulang untuk pekerjaan yang perlu dilihat sendiri. Martha mulai membantunya membaca rekap sejak melihat Anjani membawa buku pesanan ke meja makan. Bibinya memberi masukan, tetapi keputusan usaha tetap tanggung jawab Anjani bersama para pekerja yang menjalankannya.
Di layar, Risma menunjukkan dua bagian sulaman yang belum selesai. Ia bersedia mengambil beberapa jam tambahan, tetapi tidak tiga pesanan sekaligus. Ningsih menjelaskan bahwa salah satu pelanggan belum menetapkan detail desain, padahal sudah meminta tanggal penyerahan.
'Kalau detailnya berubah nanti, kita yang mengejar,' kata Ningsih.
Anjani meminta mereka memisahkan tanggal yang diinginkan pelanggan dari perkiraan waktu pengerjaan. Setelah dihitung, dua permintaan hanya mungkin diterima dengan tenggat lebih panjang. Satu permintaan sama sekali tidak muat tanpa menunda pekerjaan yang telah mereka janjikan.
'Jangan masukkan jam Bu Risma sebelum beliau setuju,' kata Anjani. 'Lembur yang sudah dikerjakan tetap dibayar. Kalau ada pelanggan yang pergi, itu kita hitung sebagai akibat keputusan usaha, bukan kesalahan penjahit.'
Martha mengingatkan biaya bahan yang sudah dipesan. Mereka memeriksa rekap bersama. Kehilangan pesanan akan mengurangi pemasukan, tetapi menerima semua permintaan juga menambah biaya dan kemungkinan terlambat. Anjani meminta Ningsih menawarkan tanggal yang benar-benar bisa dipenuhi.
Ada satu pesanan berjalan yang perlu ia periksa langsung sebelum diserahkan. Anjani telah merencanakan pulang ke Yogyakarta pada akhir pekan itu. Ia masih berharap sempat kembali untuk bertemu Kai, sampai pelanggan meminta pemeriksaan terakhir pada Sabtu sore. Ia menatap jadwal kereta, lalu menghapus rencana pulang yang terlalu sempit.
'Aku perlu mengabari Kai,' katanya. 'Kalau dipaksakan, aku akan terburu-buru di sini dan membuat dia menunggu di Surabaya.'
Martha tidak menawarkan untuk mengambil seluruh urusan. Ia hanya menutup laptop setelah Anjani menyimpan perubahan jadwal. Malam itu Anjani tahu persis alasan ia perlu mengubah janji. Ia tetap ingin bertemu Kai; pekerjaannya kali ini memang memerlukan perjalanan yang tidak dapat diselesaikan lewat layar.
Keesokan harinya, Anjani memastikan jadwal perjalanannya ke Yogyakarta. Pemeriksaan pesanan jatuh pada Sabtu sore sehingga ia baru bisa kembali ke Surabaya malamnya. Rencana bertemu Kai perlu diubah. Ia mengirim pesan meminta waktu bicara setelah jam kerja.
Ketika mereka menelepon seusai kerja, Anjani menjelaskan bahwa pemeriksaan pesanan di Yogyakarta membuat rencana Sabtu mereka tidak mungkin ditepati. Ia masih ingin bertemu Kai, tetapi tidak akan pulang terburu-buru atau meminta Ningsih menggantikannya memeriksa bagian yang telah ia janjikan.
Hening beberapa detik terdengar dari ujung telepon. 'Saya mengerti,' kata Kai. 'Saya memang berharap kita bisa bertemu. Saya kecewa, tapi saya tahu kamu tidak membatalkan begitu saja.'
'Aku juga ingin bertemu. Aku belum punya tanggal pengganti yang pasti.'
'Kita tidak harus menentukan malam ini.'
'Aku akan mengabari setelah melihat jadwal minggu depan. Kalau ada waktu yang cocok untukmu, kita pilih bersama.'
'Baik. Terima kasih sudah mengatakannya sekarang.'
Dalam percakapan itu, Kai menjelaskan perasaannya lebih jauh. Kai mengatakan ia memahami alasan pembatalan, tetapi pada awalnya ia bertanya-tanya apakah Anjani sebenarnya tidak ingin bertemu. Ia tahu itu mungkin berasal dari kebiasaannya sendiri menarik diri ketika kecewa.
'Aku memang ingin bertemu,' kata Anjani. 'Aku harus menyelesaikan pemeriksaan yang kujanjikan di Yogyakarta. Aku tidak bisa menyerahkan bagian itu kepada Ningsih mendadak lalu berangkat agar kita tidak batal.'
'Saya tahu. Saya cuma belum tahu apakah kamu ingin tetap membuat rencana.'
'Aku ingin, tapi aku tidak ingin membuat janji yang tidak bisa kupegang.'
Kai diam sebentar. 'Mungkin saya berharap kita bisa punya waktu yang agak pasti.'
Anjani mengerti keinginannya. Ia sendiri juga menyukai kepastian. Tetapi pekan ini jadwal toko berubah hampir setiap hari. 'Aku bisa membuat rencana tentatif dan mengabarimu ketika sudah tahu. Kalau itu terlalu tidak pasti, kita bisa memilih waktu lain setelah pesanan selesai.'
'Kalau kamu terus menunggu semua urusan selesai, mungkin selalu ada urusan baru.'
Ucapan itu membuat Anjani terdiam. Ia tahu ada kebenaran di dalamnya, tetapi ia juga tidak mau mengubah hubungan baru mereka menjadi kewajiban yang harus didahulukan atas semua hal. 'Aku tidak sedang menunggu hidupku kosong. Aku sedang mencoba menyeimbangkannya. Ada beda antara menunda sampai semuanya sempurna dan memberi waktu pada tanggung jawab yang memang sudah kuambil.'
Kai menarik napas. 'Kamu benar. Saya tidak bermaksud membuatmu memilih.'
'Aku tahu. Aku ingin kamu boleh kecewa, tapi aku juga ingin pilihanku dihormati.'
'Saya menghormatinya. Saya hanya perlu bilang bahwa saya kecewa, bukan pura-pura tidak peduli.'
Anjani merasa ketegangan di bahunya berkurang. 'Terima kasih sudah mengatakannya langsung.'
Mereka berhenti sejenak. Tidak ada yang buru-buru mengubah percakapan menjadi candaan. Kai mengakui bahwa ia sempat ingin menulis pesan singkat lalu menghilang dari percakapan, seperti yang biasa ia lakukan saat merasa tidak mendapat apa yang ia harapkan. Ia memilih menelepon karena tidak ingin Anjani menafsirkan diamnya.
'Aku menghargai itu,' ujar Anjani. 'Aku juga berusaha tidak langsung merasa harus menenangkanmu atau membatalkan batas yang sudah kubuat.'
'Jadi kita belum menentukan waktu baru?'
'Belum. Setelah pemeriksaan Sabtu selesai, aku akan tahu apakah Minggu masih cocok. Setelah itu aku bisa lihat jadwal.'
'Baik. Saya bisa menunggu kabar. Kalau saya merasa waktunya terlalu lama, saya akan bilang tanpa menyalahkanmu.'
Mereka mengakhiri telepon setelah menanyakan keadaan masing-masing.