Sabtu malam, Anjani kembali ke Surabaya setelah memeriksa pesanan di Yogyakarta. Pada Minggu sore ia menelepon Ningsih. Pesanan yang diperiksanya sudah siap diserahkan, dan pembagian kerja untuk esok tercatat. Anjani menanyakan apakah masih ada hal mendesak yang perlu ia tangani.
'Tidak ada,' kata Ningsih. 'Kalau ada perubahan, aku akan menghubungimu. Kamu tidak perlu terus memeriksa ponsel.'
Anjani berterima kasih, lalu memastikan catatan kerja ditutup. Ia tidak ingin pergi sambil meninggalkan orang lain dengan tugas yang tidak diketahui. Setelah menutup panggilan, ia berangkat ke kedai dekat rumah Robert dan Martha. Kai telah tiba dan menunggu di meja yang mereka pilih.
'Bagaimana pemeriksaan di Yogyakarta kemarin?' tanya Kai.
'Lebih teratur hari ini. Belum semua pesanan selesai, tetapi pembagian kerjanya jelas. Ningsih bilang mereka akan menghubungiku kalau ada hal mendesak.'
'Kamu sempat ragu datang?'
'Sedikit. Aku takut ada urusan baru yang membuatku harus pergi lagi.'
Kai mengangguk. 'Saya juga sempat takut rencana ini berubah lagi.'
Anjani merasakan nada jujur dalam kalimatnya, tanpa tuduhan. 'Aku tahu pembatalan kemarin membuatmu kecewa. Aku khawatir kalau aku membahasnya, kamu akan merasa aku mencari pembenaran.'
'Awalnya saya memang kecewa. Tapi saya tidak ingin kamu terus meminta maaf untuk keputusan yang masuk akal.'
'Aku tidak ingin meminta maaf karena menjaga batas. Tapi aku tetap menyesal kita tidak jadi bertemu.'
'Saya bisa menerima dua hal itu sekaligus.'
Jawaban Kai membuat Anjani tersenyum kecil. Mereka memesan makanan dan mulai membicarakan minggu yang lewat. Anjani menjelaskan bagaimana mereka menolak satu pesanan dan menegosiasikan tenggat untuk yang lain. Kai bertanya apakah kehilangan pesanan mendesak akan menyulitkan toko.
'Mungkin pemasukan bulan ini sedikit berbeda. Kami sedang menghitungnya. Tapi kalau kami menerimanya, biaya lembur dan risiko terlambat juga nyata.'
'Kamu tidak merasa harus memperbaiki semuanya sendirian?'
'Aku berusaha tidak begitu. Martha dan Ningsih ikut menentukan. Risma juga menyampaikan kapasitasnya sendiri.'
Kai memuji cara mereka berbicara terbuka. Ia bercerita bahwa ia sedang berusaha melakukan hal serupa dengan Robert: menyatakan apa yang ia rasakan tanpa berharap orang lain menebaknya. Ia mengakui kadang masih ingin diam saat kecewa, karena diam terasa lebih aman daripada mengatakan bahwa ia berharap sesuatu yang berbeda.
'Kalau kamu butuh waktu sendiri, kamu bisa bilang,' kata Anjani. 'Aku tidak akan memaksa percakapan saat itu juga. Tapi aku juga tidak mau ditebak-tebak lewat sikap yang berubah tanpa penjelasan.'
'Saya paham. Kalau saya diam, saya akan berusaha menjelaskan apakah saya butuh jeda atau memang belum siap membahasnya.'
'Dan aku akan bilang kalau jadwalku belum pasti, bukan membiarkanmu menunggu.'
Mereka tidak mengubah kesepakatan menjadi aturan yang kaku. Mereka hanya menemukan cara yang mungkin membantu. Kai berkata ia masih ingin membuat rencana lain, tetapi tidak berharap Anjani selalu tersedia. Anjani mengatakan ia juga ingin bertemu lagi, selama mereka bisa membicarakan perubahan tanpa membuatnya merasa bersalah.
Mereka selesai makan lebih awal dari perkiraan. Kai bertanya apakah ia ingin berjalan sebentar. Anjani memeriksa waktu dan berkata ia harus pulang untuk menyelesaikan bahan kuliah. Kai menerima jawabannya tanpa mencoba memperpanjang pertemuan dengan alasan baru.
'Terima kasih sudah datang,' katanya.
'Terima kasih sudah jujur waktu kamu kecewa.'
'Saya ingin tetap begitu.'
Mereka berpisah di depan kedai. Anjani pulang dengan kendaraan yang sudah dipesan, sementara Kai menunggu di tempat yang terang sampai kendaraan itu tiba. Tidak ada janji pertemuan berikutnya saat itu. Mereka sepakat masing-masing melihat jadwal pekan selanjutnya, lalu mengirim dua pilihan waktu.
Di rumah, Anjani membuka laptop dan mengerjakan revisi kuliah. Ia merasa percakapan mereka tidak menyelesaikan semua perbedaan. Kai masih menginginkan rencana yang lebih pasti, dan Anjani masih harus menjaga waktu bagi pekerjaan, keluarga, serta dirinya sendiri. Namun, mereka dapat mengakui kecewa tanpa menggunakan diam atau hadiah untuk menutupinya.
Ponselnya bergetar ketika ia sedang menyimpan dokumen. Ningsih mengabarkan bahwa pelanggan yang meminta tenggat cepat akhirnya menolak tanggal baru. Pesanan itu lepas. Anjani membaca pesan tersebut, lalu menutup laptop sementara. Keputusan mereka menjaga batas kerja punya konsekuensi yang nyata bagi pemasukan toko.
Senin, saat istirahat kerja, ponselnya berdering. Nama Rama muncul di layar. Ia menjawab sambil berjalan ke ruang yang lebih tenang.
'Kamu sibuk?' tanya ayahnya.
'Sedang istirahat sebentar. Ada apa?'
Rama mengatakan ia dan Irene berencana datang ke Surabaya pada minggu itu. Mereka sudah lama ingin berkunjung dan ingin makan bersama Anjani. Ia menyebut beberapa pilihan hari, lalu meminta Anjani memilih waktu yang tidak mengganggu kuliah atau pekerjaannya.
Anjani membuka kalender. Ada jadwal kelas dan giliran rumah sakit, tetapi satu sore bisa disisihkan. Ia menyarankan hari Kamis menjelang malam. Rama bertanya apakah ia yakin tidak terlalu lelah. Anjani menjawab bahwa mereka bisa membuat rencana sederhana dan tidak perlu pergi jauh.
'Baik. Ayah akan bicara dengan Irene,' kata Rama. 'Kalau ada perubahan, kita kabari.'
Anjani hampir menutup telepon, tetapi pertanyaan dari beberapa bulan lalu terlintas. Candaan tentang anak kandung pernah membuat Rama bereaksi lebih serius daripada yang ia duga. Saat itu ia membiarkan pembicaraan berlalu. Kini ia ingin bertanya tanpa menebak-nebak.
'Ayah, boleh aku tanya sesuatu yang agak pribadi?'
'Tentu.'
'Waktu itu, saat ada yang bercanda soal anak kandung, Ayah terlihat kaget. Aku sempat bertanya-tanya apa maksudnya. Kalau Ayah tidak nyaman menjawab sekarang, tidak apa-apa.'
Di ujung telepon terdengar jeda. Rama tidak menolak, tetapi ia juga tidak langsung menjawab.
'Ayah masih ingat,' katanya kemudian. 'Ayah kaget karena kamu terdengar seperti benar-benar meragukan apakah kami menyayangimu.'
Anjani berhenti berjalan. Jawaban itu sederhana, tetapi ia merasakan sesuatu yang lama menegang di dalam dirinya.
'Bukan karena ada sesuatu yang Ayah sembunyikan?'
'Bukan. Kamu anak kandung Ayah dan Irene. Ayah mengira kamu tahu betapa kami menyayangimu. Candaan itu membuat Ayah takut kamu merasa harus membuktikan tempatmu di keluarga.'
'Aku tidak bermaksud menuduh. Aku cuma… kadang kalau aku mengingat cara Eyang memperlakukanku, aku jadi merasa mungkin aku memang bukan orang yang sungguh dipilih.'
Rama mengembuskan napas pelan. 'Ayah seharusnya menanyakan itu lebih dulu, bukan berasumsi kamu sudah memahami perasaan kami.'
Anjani belum tahu bagaimana menanggapi. Ia tidak meminta jawaban tentang asal-usul atau silsilah; ia sedang mencoba memahami reaksi ayahnya. 'Waktu itu aku tidak siap membahasnya. Aku mungkin juga sengaja mengubah topik.'
'Kalau kamu masih ingin bicara, kita bisa melakukannya saat kami datang. Kalau belum, Ayah tidak akan memaksamu.'
'Terima kasih.'
Mereka membicarakan kembali waktu kunjungan. Rama mengonfirmasi Kamis sore, lalu berkata Irene senang bisa melihat Anjani. Ia tidak mengubah percakapan menjadi interogasi tentang kehidupan pribadinya. Sebelum menutup telepon, ia bertanya apakah jadwal kerja masih padat.
'Sedang diuji ulang. Aku sudah mengusulkan pembagian yang lebih jelas.'
'Ayah senang kamu menyuarakan apa yang kamu perlukan.'
Anjani tersenyum. 'Aku sedang belajar.'
Setelah panggilan selesai, ia duduk sebentar di ruang staf.