Minggu kedua belas berjalan dengan agenda yang lebih padat daripada perkiraan Anjani. Uji coba jadwal rumah sakit belum diputuskan, dan tugas kuliahnya menuntut presentasi akhir. Ia memilih menyelesaikan satu kewajiban sebelum beralih ke yang lain, bukan mengisi setiap sela dengan pesan. Kai memahami kebiasaan itu; mereka bertukar kabar singkat dan belum menjadwalkan pertemuan.
Pada Rabu sore, setelah kelas, Kai mengirim pesan menanyakan apakah Anjani punya waktu berbicara. Ia tidak menulis panjang atau memberi kesan ada keadaan darurat. Anjani menjawab bahwa ia bisa menelepon setelah sampai rumah. Setengah jam kemudian, ponselnya berdering.
'Apakah kamu sedang sibuk?' tanya Kai.
'Sudah sampai. Aku bisa bicara.'
Kai terdengar sedikit gugup. Ia bertanya lebih dulu tentang presentasi Anjani, lalu tentang kunjungan Rama dan Irene. Anjani bercerita bahwa ia telah membahas hal yang lama disimpannya, termasuk perasaannya ketika keluarga mengecilkan luka yang ia alami. Kai mendengarkan dan tidak mengubah cerita itu menjadi penilaian tentang orang tuanya.
Setelah hening sebentar, Kai menarik napas. 'Saya ingin mengatakan sesuatu tentang kita.'
Anjani merapikan posisi duduknya. 'Baik.'
'Saya ingin mengajakmu berpacaran.'
Ia tidak menyisipkan lelucon atau alasan yang membuat jawaban harus ringan. Anjani memandangi buku tugas yang terbuka di depannya. Ia tahu mereka telah saling mengenal beberapa minggu, berbicara tentang ketakutan dan pilihan, dan bertemu beberapa kali. Namun kata berpacaran tetap memiliki bobot.
Kai melanjutkan, 'Saya tidak ingin kamu merasa harus menerima karena pernah menolong saya. Saya berutang banyak pada orang-orang yang merawat saya, tapi hubungan denganmu tidak boleh menjadi cara membayar itu.'
Anjani merasakan dadanya menghangat sekaligus menegang. 'Kamu yakin ini bukan karena kamu merasa berutang?'
'Ya. Saya tidak meminta kamu membayar apa pun. Saya ingin mengenalmu sebagai Anjani, bukan sebagai orang yang menemukan saya. Kalau jawabannya tidak, saya tetap akan menghormati keputusanmu.'
Ia mengucapkan itu dengan tenang, tetapi Anjani menangkap kehati-hatian di balik suaranya. Kai memberi ruang untuk menolak, bukan menyembunyikan keinginannya sendiri.
'Aku perlu memikirkannya,' kata Anjani. 'Bukan karena aku tidak suka menghabiskan waktu denganmu. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya kuinginkan, bukan menjawab karena suasana terasa baik.'
'Tentu. Ambil waktu.'
'Aku juga ingin memastikan hubungan ini tidak mengubah pekerjaanku atau membuatku merasa bertanggung jawab atas pemulihanmu.'
'Saya tidak ingin hubungan kita bersandar pada perawatan. Saya tahu kamu sudah menyerahkan tugas klinis dan kita bicara di luar layanan itu.'
Anjani merasa lega bahwa Kai memahami perbedaan tersebut. Ia tidak sedang menjadi pasien yang meminta perhatian dokternya. Ia tidak membawa utang biaya atau keputusan medis sebagai alasan untuk dekat.
'Kalau aku menjawab ya, aku ingin tetap bisa mengenalmu pelan-pelan,' katanya. 'Tanpa jadwal menikah, tanpa target bahwa beberapa bulan lagi kita harus memutuskan sesuatu.'
'Saya tidak ingin mengatur tenggat seperti itu.'
'Aku pernah terburu-buru mencari calon karena merasa harus menikah sebelum usia tiga puluh. Aku tidak mau membiarkan angka itu memilihkan orang untukku.'
Kai diam sesaat. 'Saya tidak tahu kamu pernah merasa begitu.'
'Aku jarang cerita. Waktu itu aku mengira kalau menemukan seseorang tepat waktu, semua bagian hidup lain akan ikut beres.'
'Dan sekarang?'
'Sekarang aku ingin punya hidup yang tetap utuh, dengan atau tanpa hubungan.'
Kai berkata ia menghormati itu. 'Saya juga ingin punya hubungan yang tidak membuat salah satu dari kita kehilangan diri.'
Percakapan mereka berhenti sebentar. Anjani masih belum memberi jawaban. Ia merasa lebih baik menutup telepon dengan jujur daripada mengubah permintaannya menjadi adegan dramatis. Kai tidak menuntut jawaban malam itu.
Pada Jumat sore, Anjani menghubungi Kai dan bertanya apakah ia bisa bertemu sebentar keesokan hari. Ia ingin membicarakan ajakannya langsung, bukan melalui pesan. Kai bertanya apakah Anjani sudah yakin ingin bertemu. Ia menjawab bahwa ia siap berbicara, meski belum tahu apa hasilnya.
Mereka memilih tempat yang tenang di dekat jalur pulang Anjani. Kai datang sesuai waktu dan menunggu di luar, seperti biasanya, sampai Anjani menyapanya. Mereka memesan minuman. Beberapa menit pertama dipakai membicarakan kegiatan masing-masing agar tidak langsung terasa seperti wawancara.
Anjani akhirnya meletakkan gelasnya. 'Aku sudah memikirkan ajakanmu.'
Kai menunggu, tanpa menyela.
'Aku ingin tahu dulu—kamu yakin ini bukan karena kamu merasa harus membalas pertolonganku?'
'Saya yakin. Kalau alasan saya hanya itu, saya tidak akan meminta hubungan. Saya akan berusaha membayar biaya yang memang menjadi kewajiban saya dan berterima kasih kepada semua orang yang merawat saya. Keinginan untuk berpacaran berbeda.'
'Bagaimana kamu membedakannya?'
Kai menjawab bahwa ia menyukai percakapan mereka, cara Anjani menimbang pekerjaan, dan ketegasannya saat mengatakan belum bisa. Ia tidak menganggap itu kesempurnaan. Ia hanya ingin mengenal Anjani dengan lebih dekat, termasuk bagian yang belum mereka ceritakan.
'Aku juga menikmati waktu bersamamu,' kata Anjani. 'Tapi aku ingin menjelaskan beberapa hal sebelum menjawab.'
'Silakan.'
'Aku pernah sibuk mencari calon sebelum usia tiga puluh. Aku dulu merasa perlu memastikan seseorang cocok sebelum waktu habis. Aku tidak ingin pacaran berubah menjadi hitungan menuju lamaran.'
'Saya tidak menginginkan tenggat seperti itu. Saya juga belum ingin membuat janji yang jauh dari keadaan kita sekarang.'
'Aku ingin hubungan yang bisa berkembang, tapi tetap membiarkan kami masing-masing punya pekerjaan, teman, dan keputusan sendiri.'
Kai mengangguk. 'Saya setuju. Saya ingin kita memilih satu sama lain, bukan mengambil alih hidup satu sama lain.'
Anjani merasakan bahunya turun. Ia belum merasa semua keraguannya hilang, tetapi Kai tidak meminta ia menghilangkannya. 'Kalau begitu, aku mau mencoba berpacaran denganmu.'
Kai tersenyum, lalu berhenti sejenak seolah memastikan ia mendengar benar. 'Kamu yakin?'
'Ya. Aku memilih ini karena aku ingin mengenalmu, bukan karena pernah menolongmu atau takut terlambat menikah.'
'Saya senang. Dan kalau suatu saat kamu perlu mengubah batas, kita bicarakan lagi.'
'Aku juga ingin begitu.'
Mereka tidak membuat pengumuman atau menelepon keluarga saat itu juga. Anjani tidak ingin mengubah jawaban personal menjadi acara yang melibatkan semua orang sebelum ia sempat memahami perasaannya. Kai tidak keberatan. Mereka sepakat memberitahu orang terdekat masing-masing bila sudah nyaman.
'Kita mulai dari apa?' tanya Anjani.
'Mungkin dari terus jujur kalau jadwal berubah,' ujar Kai. 'Dan tidak menganggap satu hari yang sulit sebagai bukti bahwa hubungan ini gagal.'
Anjani tersenyum. 'Kedengarannya masuk akal.'
Mereka membahas apa arti berpacaran bagi mereka. Kai berkata ia akan menganggap hubungan itu eksklusif, tetapi tidak berarti Anjani harus berhenti berteman dengan Jonathan atau Tita. Anjani juga tidak meminta Kai mengurangi hubungannya dengan Robert atau teman lain. Mereka tidak akan menjadikan teman sebagai pesaing atau menggunakan kecemburuan untuk mengatur pergaulan.
'Kalau ada hal yang membuat salah satu dari kita tidak nyaman, kita tanyakan,' kata Anjani. 'Kita jangan membuat larangan diam-diam.'
'Setuju.'
Anjani merasa ada keberanian dalam kalimat itu. Ia menerima hubungan, tetapi tetap ingin bertanya, menolak, dan mengubah pikiran tanpa ancaman. Kai mengaku ia belum pernah membicarakan batas dengan seterang itu. Ia ingin mencoba melakukan hal yang sama.
Ketika mereka selesai, Kai tidak langsung menawarkan untuk mengantar Anjani atau membuat rencana besar. Ia bertanya apakah ia ingin berjalan sebentar di sekitar kedai. Anjani setuju, selama tidak terlalu jauh. Mereka melangkah beriringan dengan jarak wajar dan membicarakan makanan yang belum sempat mereka coba.
Tidak ada ciuman atau janji masa depan. Anjani merasa keduanya tidak perlu mempercepat kedekatan untuk mengesahkan keputusan. Saat mereka berpisah, ia berkata akan mengabarinya setelah sampai. Kai mengatakan ia akan menunggu kabar itu, lalu pulang dengan caranya sendiri.
Dalam perjalanan, Anjani membaca ulang pesan yang ia tulis pada dirinya sendiri tentang memilih tanpa tenggat.