Beberapa hari setelah mereka sepakat berpacaran, Kai mengajak Anjani makan siang bersama kakaknya. Ia tidak mengumumkannya sebagai perkenalan keluarga besar. Ia hanya ingin mempertemukan dua orang yang selama berbulan-bulan mengetahui bagian berbeda dari hidupnya.
Nadya datang dengan dua kantong makanan karena ia sempat mengira mereka akan bertemu di rumah. Kesalahpahaman kecil itu membuat Kai tertawa. Anjani baru menyadari betapa jarang ia mendengar tawa lepas pria itu.
'Saya orang yang menerima kabar lewat polisi waktu itu,' kata Nadya setelah mereka duduk. 'Saya ingin langsung datang. Kai meminta saya menunggu dulu.'
'Aku takut semua orang ikut datang tanpa tahu keadaannya,' kata Kai. 'Bukan karena aku tidak mau bertemu kalian.'
Nadya mengangguk. Mereka telah membicarakan kekhawatiran itu. Setelah Kai siap berbicara langsung, Nadya yang mengatur tempat tinggal sementara dan menjemputnya dari rumah sakit. Orang tua mereka kemudian menerima kabar lewat dirinya. Kai tidak lagi hilang dari keluarganya, meskipun ia tetap membatasi siapa yang mengetahui alamat tempat tinggalnya selama penyelidikan.
Anjani mengucapkan terima kasih karena Nadya bersedia bertemu. Nadya membalas bahwa ia juga ingin mengenal Anjani di luar cerita pertolongan. Ia bertanya tentang kain sulaman yang tampak pada tas Anjani. Dalam beberapa menit mereka sudah membicarakan benang yang gampang tersangkut, sementara Kai memesan teh dan mendengarkan.
Sesudah Nadya pulang, Kai bercerita lebih banyak tentang pekerjaannya. Ia dan kakaknya mengelola usaha distribusi barang rumah tangga. Nadya memegang penjualan dan pengiriman; Kai mengurus pembelian serta pencocokan tagihan. Selama ia dirawat dan menjalani pemulihan, kakaknya menahan beberapa pembelian baru dan meminta staf membantu pekerjaan yang biasanya ia kerjakan sendiri.
'Orang yang kutemui di Banyuwangi itu pemasok kami,' katanya. 'Namanya Rendra. Kami sudah berurusan beberapa tahun. Aku datang untuk mencocokkan tagihan yang berbeda dengan catatan kami.'
Kai tidak membentangkan berkas di meja. Ia hanya menjelaskan mengapa pertemuan dengan kenalan lama itu terasa cukup aman saat ia memutuskannya. Ada pesanan yang benar-benar telah diterima dan memang harus dibayar. Namun ada uang muka yang menurut Kai sudah dikirim, sementara pihak Rendra kembali memasukkannya ke jumlah tagihan.
'Jadi bukan semua tagihannya kamu tolak?' tanya Anjani.
'Bukan. Aku ingin jumlahnya cocok dulu. Setelah kejadian itu, semuanya jadi lebih sulit, termasuk membedakan yang kuingat dari yang bisa kubuktikan.'
Anjani menatap sisa teh di gelas Kai. Kini ia memahami bahwa pria di depannya mempunyai pekerjaan, keluarga, dan keputusan sehari-hari yang tidak dimulai ketika ia menemukannya di pantai. Ia ingin mengenal bagian itu juga.
'Lain kali ceritakan soal pekerjaan yang tidak berakhir dengan map polisi,' katanya.
Kai tersenyum. 'Ada banyak. Salah kirim ember satu truk, misalnya.'
Anjani tertawa. Mereka pulang setelah Kai selesai menceritakan bagaimana gudang pernah penuh barang dengan warna yang keliru. Untuk pertama kalinya, ia membawa pulang cerita Kai yang sama sekali tidak perlu diselesaikannya.
Pada Sabtu berikutnya, Anjani dan Kai berjalan setelah makan. Mereka melewati etalase yang memajang sebuah koper merah muda. Anjani berhenti dan tertawa.
'Apa?' tanya Kai.
'Koper itu mengingatkanku pada pertama kali kita bertemu. Waktu itu kita sibuk saling menyalahkan, padahal dua-duanya tidak memeriksa tanda koper.'
Kai ikut tersenyum. 'Saya ingat. Saya juga mengira koper saya tidak mungkin tertukar sampai kamu menunjukkannya.'
'Kamu menatapku seperti aku yang membawa masalah.'
'Saya baru sadar setelah itu.'
Mereka tertawa, lalu melanjutkan langkah. Anjani berkata pertemuan mereka memang tidak biasa, tetapi ia tidak ingin menjadikannya bukti bahwa mereka ditakdirkan bersama. Seandainya mereka tidak bertemu di pantai, mereka mungkin tidak akan pernah saling mengenal. Itu tidak membuat pilihan mereka sekarang menjadi kurang nyata.
'Jadi kita tidak harus percaya bahwa koper itu tanda semesta?' kata Kai.
'Tidak. Kita bisa menganggapnya awal yang canggung. Sisanya tergantung apa yang kita lakukan.'
Kai mengangguk. Ia berkata ia lebih menyukai gagasan bahwa mereka memilih untuk berbicara lagi daripada menganggap satu kejadian mengikat mereka. Anjani merasa lega mendengarnya.
Mereka berhenti di tepi jalan untuk menunggu lampu penyeberangan. Kai melihat tangan Anjani, lalu bertanya, 'Boleh saya menggenggam tanganmu?'
Anjani memeriksa perasaannya. Ia tidak merasa takut atau terdesak. 'Boleh.'
Kai menggenggam tangannya dengan ringan, memberi ruang agar ia bisa melepaskan kapan saja. Mereka menyeberang dan berjalan beberapa langkah sebelum Anjani berkata bahwa ia masih nyaman. Kai tidak menganggap izin itu berlaku selamanya. Ia hanya mempertahankan genggaman sampai Anjani sendiri mengendurkan tangannya ketika mereka berhenti melihat papan menu.
Tidak ada teguran atau pertanyaan, hanya jarak yang kembali terbuka. Bagi Anjani, hal kecil itu berarti: ia bisa berkata ya, lalu mengubah kenyamanan tanpa harus membenarkan diri.
Pada pekan berikutnya, Anjani mengonfirmasi kepada Rama dan Irene bahwa ia dan Kai telah sepakat berpacaran. Ia mengatakannya lewat telepon, sesederhana mungkin. Ia tidak meminta izin, tetapi ingin orang tuanya mendengar dari dirinya sendiri sebelum mereka bertemu Kai.
Irene terdengar senang, lalu bertanya apakah Anjani merasa nyaman. 'Aku nyaman. Kami sudah membicarakan batas dan tetap belajar mengenal satu sama lain.'
Rama berkata mereka akan menghormati pilihan Anjani. Ia tidak bertanya kapan hubungan itu akan dibawa ke pernikahan atau bagaimana keadaan finansial Kai. Ia hanya bertanya apakah Anjani ingin mereka bertemu dalam acara keluarga kecil.
Anjani menyarankan makan bersama di rumah Robert dan Martha di Surabaya pada akhir pekan ketika Rama dan Irene bisa datang lagi dari Yogyakarta. Robert menyanggupi berada di rumah malam itu. Martha setuju menyiapkan makan malam sederhana pada akhir pekan, tanpa mengubahnya menjadi acara resmi.
Kai bertanya apakah Anjani benar-benar ingin memperkenalkan mereka sekarang. Ia menjawab bahwa ia merasa siap, selama semua orang memahami bahwa mereka baru mulai berpacaran. Kai setuju. Ia tidak meminta Anjani menjamin bahwa keluarganya akan menyukainya.
Pada Sabtu sore, Anjani membantu Martha menata meja. Ia membawa makanan yang ia janjikan dan memastikan Martha tidak menanggung semua persiapan sendiri. Robert keluar dari ruang tengah dan bertanya apakah Anjani merasa gugup.
'Sedikit. Tapi aku ingin mereka bertemu sebagai orang biasa, bukan sedang menilai apakah Kai cukup baik untuk menikahiku.'
Robert berkata ia akan mengingat itu. Anjani menjawab bahwa ia tidak ingin dia menjadi pewawancara. Robert mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah.
Rama dan Irene datang lebih dulu daripada Kai. Mereka membantu membawa beberapa piring ke meja dan berbincang dengan Martha. Anjani melihat ayahnya tampak santai, tetapi ia juga tahu Rama bisa saja menyimpan pertanyaan. Ia tidak ingin menebak. Ia hanya berkata, 'Kita makan dulu, ya. Tidak ada agenda selain saling kenal.'
Tak lama kemudian, Kai tiba. Anjani menyambutnya dan memperkenalkan Rama serta Irene. Martha dan Robert, yang sudah dikenalnya, mempersilakan ia duduk. Tidak ada yang membuat pidato sebelum makan.
Irene bertanya tentang pekerjaan Kai secara umum. Kai menjawab secukupnya dan kemudian bertanya tentang kegiatan yang disukai Irene. Rama menanyakan perjalanan dan makanan yang ia kenal di Surabaya. Percakapan berjalan dengan jeda yang wajar. Anjani tidak perlu menerjemahkan setiap diam sebagai penilaian.
Robert sempat bertanya bagaimana Kai melihat hubungan mereka. Anjani mengangkat tangan sebelum pertanyaan itu berkembang. 'Robert, kita sepakat ini bukan wawancara.'
Robert berhenti. Ia melihat Anjani, lalu meminta maaf. 'Benar. Aku terlalu cepat masuk ke pertanyaan yang tidak perlu dijawab malam ini.'
Kai tidak tampak tersinggung. 'Saya juga belum punya jawaban jauh ke depan. Kami baru memutuskan untuk berpacaran dan mengenal satu sama lain.'
Rama mengangguk. 'Itu cukup untuk malam ini.'
Martha mengganti topik dengan bertanya tentang makanan. Ketegangan menurun. Anjani melihat Robert menahan pertanyaan berikutnya dan memilih ikut mendengarkan cerita Kai tentang kebiasaan sehari-harinya. Tidak ada seorang pun yang menanyakan kekayaan atau menjadikan status pekerjaan sebagai ukuran apakah Kai pantas mendekati Anjani.
Di tengah makan, Irene bertanya apa yang disukai Anjani dari Kai. Anjani sempat salah tingkah. Ia berkata Kai bisa menerima ketika ia perlu mengubah rencana dan mau menyampaikan kekecewaan tanpa menghilang. Kai membalas bahwa ia menyukai cara Anjani menjelaskan batasnya tanpa merendahkan orang lain. Mereka tidak membuat pengakuan besar; mereka hanya menyebut tindakan yang telah mereka lihat.
Setelah makan, Rama dan Kai membantu membawa piring ke dapur. Anjani menyusul, tetapi Irene menyuruhnya duduk sebentar. Ia merasa hangat melihat ayahnya berbicara dengan Kai tanpa menguji atau mendesak. Pada saat yang sama, ia tahu satu makan malam tidak menentukan masa depan mereka.
Ketika orang tuanya hendak pulang, Rama berjabat tangan dengan Kai dan berkata mereka bisa bertemu lagi bila semua merasa nyaman.