Kai bertanya, 'Kamu ingin tinggal di Surabaya setelah lulus?'
'Aku belum tahu semua detailnya, tapi untuk beberapa tahun ke depan aku ingin tetap bekerja dan belajar di sini. Toko juga bagian dari hidupku. Aku tidak mau pindah hanya karena pasangan menganggap itu lebih mudah.'
'Saya tidak meminta kamu pindah. Kegiatanku di Surabaya juga sudah kembali teratur. Kita bisa mempertimbangkan tempat yang tidak membuatmu terlalu jauh dari kampus dan rumah sakit, tanpa menjadikan gudang tempat tinggal kita.'
Mereka membicarakan pilihan yang mungkin: tinggal terpisah selama masa transisi, menyewa tempat dekat pekerjaan bila keduanya siap, atau meninjau kembali keputusan setelah jadwal praktik Anjani lebih stabil. Tidak satu pun menjadi janji. Mereka sepakat tidak menggabungkan rumah hanya untuk memenuhi ekspektasi keluarga.
Anjani mengatakan ia tidak ingin tinggal dalam rumah besar yang membuatnya kehilangan privasi atau merasa harus selalu tersedia bagi keluarga pasangan. Ia tidak menganggap itu penolakan terhadap keluarga Kai; ia hanya ingin rumah tangga mereka memiliki batas yang jelas.
Kai mendengarkan dan berkata ia juga perlu waktu pribadi. Ia tidak ingin keluarganya menganggap rumah Anjani sebagai tempat semua urusan dapat dibawa tanpa izin. Mereka akan membahas kunjungan keluarga dan jarak tempuh sebelum memilih tempat tinggal.
'Kalau pekerjaan kita berada di lokasi berbeda?' tanya Kai.
'Kita lihat pilihan yang realistis. Aku tidak mau mengorbankan seluruh karierku tanpa membicarakan dampaknya.'
'Saya setuju. Keputusan seperti itu tidak boleh dianggap tugasmu seorang.'
Anjani menuliskan bahwa lokasi kerja dan waktu perjalanan perlu dihitung. Kai bertanya apakah ia bersedia pindah di masa depan jika situasinya berubah. Anjani menjawab ia bisa mempertimbangkannya, tetapi bukan sebagai kewajiban otomatis. Ia ingin setiap perubahan menjadi kesepakatan bersama.
Mereka lalu membahas bagaimana pekerjaan masing-masing akan dibagi jika tinggal bersama. Anjani tidak ingin toko menjadi pekerjaan yang hanya ia tanggung setelah pulang dari rumah sakit. Ia juga tidak ingin tugas rumah secara otomatis dianggap tanggung jawab perempuan. Kai berkata ia setuju, tetapi jadwal pengiriman usahanya dapat berubah dari minggu ke minggu.
'Berarti kita perlu bicara lagi saat keadaanmu lebih jelas,' kata Anjani.
'Ya. Saya tidak ingin menjanjikan pembagian yang belum tahu kondisi sebenarnya.'
Anjani menghargai jawaban itu. Ia tidak ingin Kai pura-pura memiliki kepastian untuk menenangkan dirinya. Mereka mencatat pekerjaan rumah, jam kerja, waktu istirahat, dan kunjungan keluarga sebagai hal yang perlu dibahas sebelum memutuskan tempat tinggal.
'Aku ingin tahu cara kita membicarakan uang,' katanya. 'Bukan jumlah yang kamu punya, tapi bagaimana kita akan berbagi biaya dan keputusan.'
Kai mengangguk. Ia telah menyelesaikan pembayaran yang dipersoalkan dan memeriksa dokumennya. Ia ingin Anjani mengetahui kewajiban pribadinya yang lain sebelum mereka memilih pengeluaran bersama, tanpa menjadikan hubungan sebagai cara membebankannya kepada Anjani.
'Bagian itu sudah diselesaikan lewat prosedur yang berlaku. Saya tidak ingin kamu ikut membayar atau merasa harus membantu.'
'Aku juga tidak ingin bantuan masa lalu berubah menjadi utang yang harus kubayar dengan uang atau perhatian.'
Mereka sepakat biaya yang berasal dari urusan masing-masing tetap menjadi tanggung jawab masing-masing sampai mereka membuat kesepakatan lain. Jika nanti tinggal bersama, mereka akan membahas biaya rumah berdasarkan pendapatan dan kemampuan, bukan menganggap satu orang harus selalu membayar.
Anjani mengatakan ia ingin tetap memiliki akses ke uangnya sendiri. Ia juga ingin keputusan besar dibicarakan, bukan diberitahukan setelah dibuat. Kai berkata ia setuju. Ia tidak ingin menggabungkan seluruh keuangan hanya karena mereka menikah kelak.
'Kalau kita punya pengeluaran bersama, kita bisa menyepakatinya dulu,' kata Anjani. 'Tapi aku ingin tetap punya ruang untuk tabungan dan kebutuhan pribadi.'
'Saya juga. Transparan soal kewajiban bersama, tetapi tetap punya batas pribadi.'
Mereka membahas kemungkinan membuka catatan biaya bersama jika nanti ada rumah atau tanggungan yang benar-benar mereka pilih. Mereka tidak menentukan nominal, karena belum memilih tempat tinggal dan belum menghitung pengeluaran rumah dari pendapatan bersih masing-masing. Mereka sepakat tidak mengambil pinjaman atau membuat keputusan keuangan besar atas nama bersama tanpa persetujuan.
Anjani merasa lebih tenang karena Kai tidak menafsirkan pembicaraan uang sebagai kecurigaan. Ia juga tidak menganggap kekayaan atau penghasilan sebagai bukti keseriusan. Ia ingin tahu bagaimana mereka akan membuat keputusan saat kebutuhan berbeda.
'Aku belum tahu apakah aku ingin punya anak,' katanya. 'Kadang aku membayangkan keluarga, tapi aku juga takut semua tanggung jawab akan jatuh kepadaku.'
Kai tidak buru-buru menjawab bahwa ia akan membantu. Ia bertanya apa yang membuat Anjani takut. Anjani menjelaskan bahwa dalam hubungan sebelumnya, Arya sering membayangkan Anjani akan mengurus banyak kebutuhan rumah tangga dan anak-anak, seolah itu sudah menjadi peran yang melekat padanya. Ia tidak ingin pernikahan membuatnya menjadi pengasuh tanpa pilihan.
'Aku ingin kalau suatu saat kita punya anak, keputusan itu benar-benar dibicarakan dan tugasnya dibagi. Aku tidak ingin dianggap otomatis tahu cara mengurus semuanya karena aku perempuan atau dokter.'
Kai mendengarkan sampai selesai. Ia mengatakan ia belum tahu apakah ingin menjadi ayah, tetapi ia tidak ingin mengambil keputusan itu untuk Anjani atau menganggap tugas pengasuhan sebagai tanggung jawab tunggal pasangan.
'Kalau kita belum sama-sama yakin, kita tidak harus memutuskan sekarang,' kata Kai. 'Dan kalau suatu saat kita memilih punya anak, saya harus mengambil bagian nyata, bukan hanya bilang akan membantu.'
Anjani bertanya apa arti bagian nyata baginya. Kai menjawab bahwa pekerjaan rumah, waktu menjaga anak, janji kesehatan, dan pengorbanan karier perlu dibagi secara sadar. Ia mengakui tidak bisa menjanjikan pembagian sempurna tanpa mengetahui jadwal dan keadaan mereka, tetapi ia bersedia membicarakannya sebelum keputusan dibuat.
'Aku tidak ingin kamu bilang iya hanya karena takut aku pergi,' kata Anjani.
'Saya juga tidak ingin kamu punya anak hanya karena merasa itu kewajiban setelah menikah.'
Mereka membicarakan kemungkinan memilih untuk tidak punya anak atau menunda keputusan, tanpa menilai mana yang lebih benar. Anjani merasa lega karena percakapan itu tidak diubah menjadi perdebatan tentang berapa banyak anak atau kapan harus mulai. Mereka belum siap menentukan jumlah atau waktu.
Beberapa hari setelah percakapan tentang anak, Anjani kembali bertemu Kai untuk meninjau hal-hal yang telah mereka bahas. Ia membawa buku kecil, tetapi kali ini tidak ada daftar baru. Mereka sudah membicarakan tempat tinggal, pekerjaan, cara mengelola uang, dan kemungkinan memiliki anak. Tidak ada satu pun jawaban yang sempurna, tetapi keduanya tahu batas dan pertanyaan yang masih terbuka.
Kai berkata ia tidak ingin menganggap semua topik itu sebagai rintangan yang harus diselesaikan sebelum bisa menunjukkan niat. Namun ia juga tidak ingin melamar hanya untuk membuktikan bahwa hubungan mereka serius.
'Aku juga tidak mau pertunangan menjadi tenggat untuk mengubah hidupku,' kata Anjani. 'Aku ingin tetap sekolah, bekerja, dan punya keputusan sendiri.'
'Saya ingin itu tetap menjadi bagian dari hidupmu.'
Mereka menyepakati bahwa jika bertunangan, mereka tidak akan membuat jadwal pernikahan dalam keadaan tertekan. Mereka akan mengatur tempat tinggal setelah melihat kebutuhan pekerjaan dan praktik. Keuangan bersama hanya untuk hal yang benar-benar mereka sepakati, sementara masing-masing tetap punya uang pribadi. Soal anak tetap menjadi keputusan terbuka, bukan kewajiban setelah menikah.
Kai bertanya apakah masih ada hal yang ingin Anjani ketahui. Ia mengatakan ingin mereka tetap terbuka tentang kewajiban masing-masing. Perselisihan tagihan lama telah selesai, tetapi keuangan sehari-hari tetap perlu dibicarakan sebelum mereka mengambil keputusan bersama. Kai menyetujuinya.
Anjani mengangguk. 'Aku senang urusan itu sudah selesai. Kalau ada kewajiban lain yang akan memengaruhi rencana kita, aku ingin kita membicarakannya dengan jelas.'
'Saya setuju.'