Kai mengirim pesan kepada Jonathan untuk menanyakan waktu yang memungkinkan. Mereka belum menetapkan tanggal, hanya mempertimbangkan akhir pekan ketika Anjani bisa menyisihkan beberapa hari tanpa meninggalkan kelas atau giliran kerja. Anjani berkata ia akan memeriksa pekerjaannya di toko dan jadwal praktik. Kai tidak menganggap itu sebagai penundaan yang tidak peduli.
Malamnya, Anjani mengirim pesan kepada Kai menanyakan apakah ia ingin berbicara setelah urusan dokumen. Kai menjawab ia ingin merapikan salinan dokumen yang telah selesai diurus sebelum menyiapkan perjalanan. Ia berterima kasih karena Anjani tidak menawarkan mengambil alih.
'Aku ingin ada untukmu, tapi kamu tetap yang menentukan urusanmu,' tulisnya.
Kai membalas bahwa itulah yang membuatnya merasa aman. Ia ingin bisa menceritakan perkara tanpa menjadikan Anjani pengurusnya.
Hari berikutnya, Kai mengabari bahwa semua dokumen penutupan telah disimpan. Ia tidak perlu lagi menunggu jawaban untuk membayar tagihan pesanan itu. Ia ingin perjalanan mereka dipisahkan dari urusan yang sudah selesai.
Anjani menceritakan bahwa jadwal praktiknya akan padat pada awal pekan, tetapi akhir pekan mungkin tersedia untuk perjalanan singkat. Mereka membicarakan kebutuhan dasar: pergi dengan Jonathan, mengikuti arahan dokter, dan kembali kapan saja jika Kai merasa lelah. Anjani akan memilih aktivitasnya sendiri di sana dan tidak mengharapkan Kai ikut berselancar.
'Terima kasih karena tidak menganggap saya harus ikut semua hal yang kamu suka,' kata Kai.
'Aku ingin kamu datang kalau memang ingin. Laut tidak perlu jadi ujian untukmu.'
Mereka belum memesan atau menetapkan detail.
Mereka merencanakan perjalanan ke Banyuwangi setelah urusan pembayaran benar-benar ditutup. Jonathan menyisihkan beberapa hari; Anjani menukar giliran melalui koordinator dan memastikan jadwal kuliahnya kosong. Kai sudah membahas aktivitas yang direncanakan dengan tim yang memeriksanya. Ia akan menikmati pantai tanpa berselancar.
Mereka membagi perjalanan dalam beberapa hari. Hari pertama dipakai untuk menuju Banyuwangi dan beristirahat. Keesokan paginya mereka melanjutkan ke Plengkung bersama orang yang mengenal jalur setempat. Mereka punya tempat menginap dan waktu untuk berhenti tanpa mengejar perjalanan pulang pada malam yang sama.
Jonathan mengingatkan bahwa cuaca dapat mengubah rencana. Anjani mengangguk. Jika keadaan tidak cocok, ia tidak akan masuk ke air hanya karena telah membawa papan. Kai juga boleh memilih tinggal di penginapan atau pulang lebih awal. Mereka datang untuk menjalani hari yang berbeda, bukan mengulang tempat dan gerakan yang dulu membuat mereka terluka.
Saat sampai di Plengkung, Anjani melihat ombak dari tempat aman sebelum memutuskan apakah ia ingin masuk. Ia mengecek kondisi, memilih perlengkapan yang sesuai, dan tidak mendekati bagian karang yang berisiko. Ia tidak mengejar ombak paling besar. Setelah menimbang beberapa saat, ia memilih berselancar hanya pada bagian yang nyaman dan dalam batas kemampuannya.
Kai duduk bersama Jonathan di area yang aman. Ia tidak merasa perlu ikut. Anjani sempat menoleh dan melihat Kai mengangkat tangan kecil sebagai tanda dukungan. Ia tersenyum, lalu kembali memperhatikan air. Ia tidak menjadikan kehadiran Kai sebagai alasan untuk mengambil risiko.
Setelah beberapa waktu, Anjani keluar dan duduk di samping mereka. Kai bertanya apakah ia puas.
'Cukup. Aku tidak perlu memaksa lebih.'
'Bagus. Saya senang kamu memilih batasmu sendiri.'
Jonathan menawarkan air. Mereka duduk menghadap laut sambil membiarkan percakapan berjalan ringan. Anjani menceritakan bahwa pantai itu pernah menjadi tempat ia menemukan Kai. Ia tidak menjelaskan ulang semua detail kejadian; mereka sudah sama-sama mengetahui bahwa hari itu menakutkan.
'Kadang saya masih ingat suara ombak saat itu,' kata Kai. 'Tapi hari ini berbeda. Saya datang karena memilih, dan saya bisa pergi kapan pun.'
Anjani mengangguk. 'Aku juga ingin datang tanpa mengulang keputusan buruk yang dulu kuambil. Aku bisa suka laut dan tetap berhati-hati.'
Kai berkata ia bangga padanya, lalu berhenti sejenak dan bertanya apakah pujian itu terasa nyaman. Anjani tertawa kecil. 'Nyaman. Tapi jangan jadikan aku orang yang harus selalu berani.'
'Saya tidak akan.'
Mereka kembali ke perjalanan setelah makan ringan. Kai tidak tampak kelelahan berlebihan, tetapi Jonathan tetap menanyakan apakah ia ingin istirahat sebelum melanjutkan jalan. Kai setuju. Mereka mengambil waktu seperlunya dan tidak terburu-buru pulang.
Mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat. Pada hari ketiga barulah Jonathan mengemudikan mobil menuju Surabaya. Anjani pulang dengan papan pinjaman yang masih utuh, tanpa mencoba jalur kiri yang dulu melukainya.
Sepekan sesudah perjalanan, Anjani membawa buku catatan kecil ketika bertemu Kai di rumah Robert dan Martha. Ia menulis empat topik: tempat tinggal, pekerjaan, keuangan, dan anak. Ia tidak ingin menjadikan pembicaraan itu seperti formulir calon pasangan, tetapi topik-topik tersebut terlalu penting untuk dibiarkan sampai muncul sebagai kejutan setelah menikah.
Kai datang tepat waktu. Ia melihat buku kecil itu dan tersenyum. 'Kamu menyiapkan daftar.'
'Aku tidak mau kita melupakan hal penting lalu berpura-pura semuanya akan beres sendiri.'
'Saya juga tidak mau.'
Martha menyuguhkan minuman, lalu meninggalkan mereka di ruang tengah. Anjani memulai dengan mengatakan bahwa ia tidak sedang meminta keputusan akhir. Ia ingin tahu bagaimana Kai membayangkan kehidupan bersama, sambil tetap mengingat mereka baru berpacaran dan masih punya hal yang belum selesai.
Kai setuju. Ia tidak ingin menjadikan lamaran sebagai bukti bahwa ia serius atau sebagai hadiah setelah Anjani menerima dirinya. Ia berkata bahwa ia ingin mempertimbangkan masa depan hanya jika keduanya bisa menjaga pekerjaan dan pilihan pribadi.
'Bagiku, menikah bukan berarti aku berhenti belajar,' kata Anjani. 'Aku ingin lanjut di bidang manajemen kesehatan, menjalani praktik sesuai jadwal, dan tetap punya peran di toko. Aku tidak mau setelah menikah semua itu otomatis jadi lebih kecil.'
'Saya tidak meminta itu. Saya ingin tahu bagaimana kita bisa memberi ruang untuk dua karier, bukan memilih salah satu.'
Anjani mengangguk. Ia menyebut keputusan menerima pesanan akan terus memengaruhi keuangan tokonya. Kai juga telah kembali mengurus usaha bersama Nadya. Mereka ingin membahas pengeluaran berdasarkan keadaan yang sudah berjalan, bukan mengira pernikahan akan membuat semua biaya selesai sendiri.
Kai berkata pembagian kerja dengan Nadya akan dipertahankan. Ia sudah kembali mengurus pembelian, tetapi tidak ingin menjanjikan bahwa jadwalnya akan selalu longgar. Ia tidak mengharapkan Anjani menanggung kewajiban usaha atau mengatur pekerjaannya untuknya.
'Aku tidak mau menjadi penyelamatmu,' kata Anjani. 'Aku ingin jadi pasanganmu, kalau memang kita memutuskan sampai ke sana.'
'Dan saya tidak ingin kamu merasa harus merawat saya untuk mempertahankan hubungan.'
Mereka berhenti di situ, membiarkan kalimat itu menetap. Percakapan baru saja dibuka. Anjani belum mengajak mereka menentukan hari atau cincin; ia ingin membahas setiap topik dengan cukup waktu agar pilihan mereka bukan sekadar keinginan yang terdengar indah.
Kai bertanya topik mana yang ingin dibahas lebih dulu. Anjani membuka catatan pada bagian tempat tinggal.