“Hai, Von,” sapaku pelan begitu aku tiba di hadapan Devon.
Devon menatapku tanpa kata sebelum akhirnya cowok itu mendadak memelukku erat selama beberapa saat. Dan sialnya, begitu dia melakukan itu, mendadak detak jantungku menderu. Mendadak aku merasa pipiku memerah saking malunya.
“Gue cemas banget waktu nggak bisa nemuin lo di manapun hari ini,” kata Devon pelan sebelum melepaskan pelukannya dariku.
Aku mencoba menghilangkan salah tingkahku. Tanpa berani menatap Devon, aku mulai menjelaskan kenapa aku menghilang.
“Kaki Natasha sakit luar biasa tadi, jadi gue dan Natasha—”
“Iya, gue tahu. Pada akhirnya gue tahu dan sedikit demi sedikit mulai berhenti cemas,” potong Devon lembut.
“Tapi lo baik-baik aja kan? Nggak ada yang nggak enak?”
Aku menggeleng pelan. “Gue nggak papa, Von. S