Ayana menyelesaikan pekerjaannya di kamar raja seperti biasa. Ia memastikan ruangan bersih, lalu menunggu di luar sampai Seungwoo memberi izin untuk masuk. Ia menundukkan kepala ketika melihat Raja berdiri dekat jendela.
"Yang Mulia memanggil saya?"
"Ya. Masuklah."
Ayana melangkah ke dalam, menjaga jarak yang sopan. Ia merasa lebih tenang ketika berada dekat ruangan itu, tetapi rasa takut karena tuduhan racun belum sepenuhnya hilang.
Seungwoo menunjuk sebuah kotak kecil di atas meja. "Itu untukmu. Anggap sebagai ucapan terima kasih karena kau mencegahku meminum anggur beracun."
Ayana tidak langsung mengambilnya. "Saya tidak melakukan itu demi hadiah, Yang Mulia."
"Aku tahu. Karena itu aku tidak memaksamu menerimanya."
Seungwoo berjalan ke sisi lain ruangan dan menunjuk pintu kecil yang sebelumnya tertutup tirai. "Ada bilik kosong di dekat kamarku. Kau bisa menempatinya jika mau. Pintu bilik itu dapat dikunci dari dalam. Kau tetap boleh tinggal di kamar pelayan jika merasa lebih nyaman."
Ayana terdiam. Bilik yang berdekatan dengan kamar Seungwoo bisa membantu Baby Wulf, tetapi ia juga akan semakin dekat dengan pria yang tidak lagi mengingatnya. Ia perlu menimbang pilihannya tanpa menunjukkan alasan sebenarnya.
"Apakah saya harus menjawab sekarang?"
"Tidak. Pikirkan dulu. Keputusan itu milikmu."
Ayana membungkuk. "Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan memikirkannya."
Seungwoo mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh. Ayana meninggalkan ruangan dengan kepala penuh pertimbangan. Untuk pertama kalinya, ia mendapat pilihan yang benar-benar dapat ia tentukan sendiri.
***
Ayana kembali menemui Seungwoo keesokan harinya. Kotak hadiah masih tertutup dan ia membawanya kembali dengan kedua tangan.
"Yang Mulia, saya sudah memutuskan," katanya sambil menunduk. "Saya menerima tawaran untuk tinggal di bilik itu."
"Dan hadiah itu?"
"Saya menerimanya sebagai ucapan terima kasih, bukan sebagai kewajiban."
Seungwoo mengangguk. Ia tidak meminta Ayana menjelaskan alasan pilihannya. Ia lalu memberikan sebuah kunci kecil.
"Bilik itu milikmu selama kau bekerja di sini. Kau boleh mengunci pintunya dari dalam. Jika berubah pikiran, kamar pelayan tetap tersedia."
Ayana menerima kunci itu. "Terima kasih, Yang Mulia."
Ia pindah dengan barang-barang secukupnya. Bilik tersebut sederhana, tetapi bersih dan letaknya tidak jauh dari kamar Seungwoo. Begitu menutup pintu, Ayana menguncinya dari dalam seperti yang diperbolehkan Raja.
Ia duduk di tepi ranjang. Tidak lama kemudian, kram yang beberapa kali mengganggunya mereda. Ayana mengusap perutnya dengan lega. Ia tidak tahu apakah rasa tenang itu karena jarak yang lebih dekat dengan Seungwoo atau karena tubuhnya akhirnya beristirahat.
"Aku akan tetap menjagamu," bisiknya kepada Baby Wulf.
Di luar bilik, Seungwoo berhenti sejenak ketika melihat pintu itu tertutup. Ia tahu Ayana memilih tinggal di sana, tetapi tidak memahami alasan yang sebenarnya. Ia merasa lega keputusan itu tidak dipaksakan.
Ayana menggenggam kunci di telapak tangan. Untuk saat ini, ia punya tempat yang aman dan bisa ia kunci sendiri. Ia belum tahu bahwa tinggal lebih dekat dengan Seungwoo akan membuat rahasianya semakin sulit dijaga.
***
Hari-hari setelah Ayana pindah ke bilik dekat kamar raja berjalan lebih tenang. Ia dapat mengunci pintu dari dalam dan tidak perlu melewati lorong kamar pelayan setiap malam. Rasa kramnya juga jarang muncul, meski ia tetap menjaga diri dan memakai ramuan sesuai petunjuk.
Namun istirahat yang lebih baik tidak menghapus lelahnya. Pagi itu Ayana merasa kepalanya ringan ketika membawa kain bersih ke ruang cuci. Ia menepi dan duduk sejenak di bangku dekat jendela.
Miran kebetulan lewat. "Wajahmu pucat. Kau sudah makan?"
"Belum sempat. Aku akan makan setelah menyelesaikan tugas."
"Jangan memaksakan diri. Aku akan bilang Madam Ra Mi kau perlu istirahat sebentar."
Ayana hendak menolak, tetapi pandangannya kembali berkunang. Miran segera memanggil Tabib Baek yang sedang memeriksa persediaan obat di sayap utama.
Tabib Baek memeriksa keadaan Ayana secara singkat. Ia bertanya tentang pusing, mual, dan kapan terakhir Ayana makan. Ayana menjawab seadanya, berusaha menghindari pertanyaan yang terlalu pribadi.
"Kau perlu beristirahat di tempat yang tenang," kata Tabib Baek. "Aku akan memeriksa denyutmu lagi setelah kau minum air dan duduk beberapa menit."
Ayana menatap Miran cemas. Ia tidak ingin pemeriksaan berlanjut, tetapi menolak terlalu keras bisa membuat mereka curiga.
"Baik, Tabib."
Miran mengantarnya ke bilik. Sebelum pergi, ia berjanji akan kembali membawa makanan. Ayana duduk di tepi ranjang dan memegang botol ramuan di sakunya. Ia berharap pemeriksaan berikutnya tidak mengungkap rahasia yang selama ini ia jaga.
***
Tabib Baek datang kembali setelah Ayana beristirahat. Miran menunggu di dekat pintu, sementara tabib meminta izin untuk memeriksa denyutnya lebih teliti.
"Ini hanya pemeriksaan sederhana," katanya. "Kalau kau merasa tidak nyaman, katakan."
Ayana mengangguk. Tabib Baek menempelkan alat pemeriksa pada pergelangan tangannya, lalu mengernyit. Ia mengulang pemeriksaan dengan lebih saksama dan meminta Ayana menarik napas perlahan.
"Ada dua denyut," ucapnya akhirnya. "Aya, kau sedang mengandung."
Miran terkejut. Ia menatap Ayana, lalu Tabib Baek. "Aya hamil?"
Ayana menutup mata. Rahasia itu akhirnya terbuka kepada orang lain di istana. Ia tidak menyangkal. "Tolong jangan beritahu siapa pun. Terutama Raja."
Tabib Baek menarik tangannya kembali. "Hukum istana mengharuskanku melaporkan kehamilan kepada Raja, apalagi jika kandungannya berhubungan dengan keselamatan penghuni istana."
"Bayi ini tidak membahayakan siapa pun," kata Ayana cepat. "Saya hanya ingin melindunginya."
Tabib Baek tampak bimbang. Ia seorang tabib istana dan terikat sumpah serta aturan, tetapi ia juga melihat ketakutan tulus di wajah Ayana.
"Berapa lama kau sudah tahu?" tanyanya.
"Sudah beberapa bulan."
"Dan kau bekerja di dekat Raja selama ini?"
Ayana terdiam. Ia tidak bisa menceritakan alasan sebenarnya tanpa membuka rahasia lebih besar.
Tabib Baek merapikan alatnya. "Aku belum bisa berjanji akan menyimpan ini selamanya. Aku perlu memikirkan kewajibanku dan keselamatanmu."
"Tolong beri saya waktu."
Tabib Baek tidak menjawab. Ia meminta Miran memastikan Ayana beristirahat, lalu meninggalkan bilik dengan wajah berat. Ayana menatap pintu yang tertutup. Kini rahasianya tidak lagi hanya diketahui Hangyul dan Jungwoo.
***
Tabib Baek berhenti di ruang pemeriksaan setelah meninggalkan bilik Ayana. Ia membuka buku aturan istana dan membaca kembali kewajiban melaporkan keadaan kesehatan yang dapat memengaruhi garis keturunan kerajaan.
Denyut kedua yang ia rasakan tidak mungkin keliru. Aya hamil, dan denyut bayi itu sekuat denyut keturunan serigala berdarah murni, sesuatu yang belum pernah ia temui di luar keluarga Raja. Namun Ayana memohon agar informasi tersebut dirahasiakan. Tabib Baek teringat wajah pucatnya dan cara ia melindungi perutnya seolah dunia luar akan merenggut sesuatu darinya.
Ia memanggil Miran untuk berbicara di lorong. "Apakah kau sudah lama mengetahui kehamilannya?"
Miran menggeleng. "Baru hari ini. Tapi Aya memang sering terlihat kelelahan."
"Jangan biarkan ia bekerja terlalu berat. Jika ia pingsan lagi, segera panggil aku."
"Apakah Anda akan melapor kepada Raja?"
Tabib Baek memandang buku aturan di tangannya. "Aku belum memutuskan. Hukum mewajibkanku, tetapi aku harus memastikan keselamatannya sebelum mengambil langkah."
Miran tidak mendesak. Ia kembali ke bilik membawa makanan, sementara tabib menyimpan catatan pemeriksaan di tempat yang terkunci.
Ayana makan sedikit demi sedikit. Ia mencoba tidak memikirkan kemungkinan Seungwoo mengetahui kehamilannya sebelum ia siap bicara. Ia juga tidak ingin membuat Tabib Baek melanggar sumpahnya.
Sore harinya, ia mengirim pesan kepada Hangyul. Ia menulis bahwa Tabib Baek mengetahui kehamilannya dan sedang bimbang apakah harus melapor kepada Raja. Pesan itu membuat Hangyul segera mengatur pertemuan.