Hangyul menemui Ayana di jalur belakang istana ketika penjaga sedang berganti giliran. Ia membawa wajah serius yang belum pernah dilihat Ayana sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Ayana. "Kau terlihat seperti membawa kabar buruk."
Hangyul menatap sekeliling sebelum berbicara. "Ramuan Jungwoo hampir habis."
Ayana terpaku. "Apa maksudmu hampir habis?"
"Bahan utamanya sulit ditemukan. Persediaan yang tersisa hanya cukup untuk beberapa hari lagi."
"Kau bilang Jungwoo sedang membuat tambahan."
"Dia berusaha, tapi belum berhasil."
Ayana mundur setapak. "Kau tahu selama ini dan tidak memberitahuku?"
"Aku tidak ingin membuatmu panik sebelum menemukan jalan keluar."
"Ini menyangkut keselamatan bayiku, Gyul. Aku berhak tahu." Suara Ayana bergetar, menahan marah dan takut sekaligus. "Kau memintaku percaya padamu, tapi kau menyembunyikan hal sepenting ini."
Hangyul menundukkan kepala. "Kau benar. Maafkan aku."
Ia lalu menjelaskan bahwa aroma Baby Wulf bisa menarik serigala liar, terutama ketika ramuan penyamaran mulai hilang. Ayana semakin pucat. Ia tidak hanya harus menjaga rahasia dari penghuni istana, tetapi juga melindungi bayinya dari ancaman di luar.
"Kita tidak bisa terus berharap ramuan itu tersedia," kata Ayana. "Seungwoo harus tahu sebelum aromaku tercium oleh seluruh istana."
Hangyul mengangguk perlahan. "Aku setuju. Tapi kita harus memikirkan cara yang aman. Ia mungkin tidak mengingatmu dan bisa saja bereaksi keras."
"Aku tahu. Namun kalau aku menunggu terlalu lama, risikonya lebih besar."
Mereka sepakat mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu Seungwoo. Untuk sementara, Ayana akan tetap memakai sisa ramuan sesuai petunjuk dan tidak meninggalkan area istana sendirian.
***
Ayana kembali ke biliknya dengan pikiran kacau. Ia marah kepada Hangyul karena menyembunyikan kabar itu, tetapi ia tahu Hangyul berusaha melindunginya. Yang membuatnya takut adalah kenyataan bahwa waktu mereka semakin sedikit.
Ia menghitung sisa botol ramuan. Beberapa hari lagi, mungkin aromanya tidak akan tertutupi. Ia menyentuh perutnya dan membayangkan serigala liar yang tertarik pada aroma bayi itu. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti anaknya.
Di luar bilik, Miran datang membawa kabar bahwa Tabib Baek ingin berbicara dengannya lagi. Ayana membuka pintu, tetapi tabib itu hanya mengatakan bahwa ia belum melapor kepada Raja dan sedang mencari cara untuk memastikan keselamatan ibu serta bayi.
"Terima kasih sudah memberi saya waktu," kata Ayana.
"Jangan membuatku menyesali keputusan ini. Jika keadaan memburuk, kau harus memberitahuku."
Ayana berjanji akan melakukannya. Setelah Tabib Baek pergi, ia memandang ke arah kamar Seungwoo. Ia perlu mengatakan yang sebenarnya, tetapi belum tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan pria yang bahkan tidak mengenalnya.
Hangyul mengirim pesan bahwa ia akan mencari kesempatan bertemu lagi. Mereka sepakat bahwa Ayana tidak boleh menunggu sampai ramuan benar-benar habis. Sebelum aroma Baby Wulf menarik perhatian seluruh istana, Seungwoo harus mengetahui bahwa bayi itu adalah anaknya.
Ayana menggenggam kunci bilik di tangannya. Selama ini kunci itu menjadi tanda bahwa ia punya tempat aman. Kini ia sadar, perlindungan terbaik mungkin bukan pintu yang dapat dikunci, melainkan keberanian untuk mengatakan kebenaran.
Di luar, bulan purnama mulai mendekat. Ayana tahu waktu untuk mengambil keputusan semakin singkat.
***
Malam itu, bulan purnama menggantung terang di atas istana. Seungwoo terbangun dengan napas berat. Ia tidak tahu apa yang mengusiknya, tetapi ada aroma manusia yang semakin kuat dari lorong dekat kamarnya.
Ia bangkit dan membuka pintu. Aroma itu bercampur dengan wangi ramuan yang mulai menipis. Seungwoo mengikuti sumbernya sampai berhenti di depan bilik kecil milik Aya.
Dari balik pintu terdengar suara tangis tertahan.
"Aya?" panggilnya sambil mengetuk. "Buka pintunya."
Tidak ada jawaban. Tangis itu terdengar lagi, disusul suara lirih yang tak jelas.
Seungwoo mengetuk lebih keras. "Aya, kau sakit?"
Tetap sunyi. Ia mencoba gagang pintu, tetapi terkunci dari dalam. Seungwoo hendak memanggil penjaga ketika Miran muncul di ujung lorong, disusul Tabib Baek yang baru selesai bertugas.
"Apa yang terjadi?" tanya Miran cemas.
"Aku mendengar tangis dan mencium aroma manusia dari dalam," jawab Seungwoo. "Pintu terkunci."
Miran segera mendekati pintu. "Aya, ini aku. Tolong buka. Kami hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
Tak ada jawaban selain isak yang semakin jelas. Tabib Baek menyiapkan tas kecilnya, sementara Seungwoo menahan diri agar tidak mendobrak pintu.
"Aya, dengarkan aku," bujuk Miran. "Kalau kau tidak bisa bicara, putar saja kuncinya. Kami tidak akan memaksamu menjelaskan apa pun."
Di dalam bilik, Ayana meringkuk di ranjang sambil memegangi perut. Ramuan yang menutupi aromanya hampir habis. Rasa kram datang berulang, dan ia menangis tanpa sadar memanggil nama Seungwoo.
"Aku takut, Seungwoo..." bisiknya.
Miran mendengar namanya dari balik pintu. Ia bertukar pandang dengan Tabib Baek, tetapi tidak menyebutkannya keras-keras.
***
Miran tetap berdiri di depan pintu. Ia bicara perlahan, menjaga suaranya agar tidak terdengar seperti perintah.
"Aya, aku tahu kau takut. Tabib Baek ada di sini. Dia bisa memeriksa keadaanmu. Kau tidak perlu menghadapi ini sendirian."
Tangis di dalam bilik mereda sesaat, lalu terdengar lagi. Seungwoo berdiri beberapa langkah di belakang Miran. Aroma manusia yang ia cium semakin jelas, membuat pikirannya gelisah.
"Aya," katanya, kali ini lebih pelan. "Aku tidak akan masuk sebelum kau mengizinkan."
Miran menoleh kepadanya, terkejut mendengar nada lembut itu. Ia kembali menghadap pintu.
"Putar kuncinya sedikit saja. Aku yang akan masuk lebih dulu. Tabib Baek menunggu di luar kalau kau belum siap."
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi kunci bergerak. Miran mendorong pintu perlahan dan masuk. Ayana terbaring di ranjang, memegangi perut dengan kedua tangan. Wajahnya tertutup lengan, sementara air mata membasahi bantal.
"Aya, aku di sini," ujar Miran sambil mendekat. "Tabib Baek akan memeriksamu."
Ayana menggeleng kecil. "Jangan biarkan mereka mengambil bayiku."
Miran terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tabib Baek menunggu di ambang pintu, meminta izin untuk masuk. Setelah Ayana mengangguk lemah, ia mendekat dan mulai memeriksa keadaannya.
Seungwoo masih berada di luar. Ia mendengar Ayana menangis dan memanggil namanya. Rasa ganjil dalam dadanya semakin kuat.
"Boleh aku masuk?" tanyanya dari pintu.
Ayana menutupi wajahnya lagi. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi Miran menatapnya meminta persetujuan. Setelah Ayana memberi anggukan kecil, Miran bergeser agar Seungwoo dapat masuk.
Raja melangkah ke dalam. Ia berhenti cukup jauh dari ranjang, tidak menyentuh Ayana. Wajah perempuan itu masih tertutup, dan gelang zamrud di pergelangan tangannya tersembunyi di balik lengan baju.
Tabib Baek meminta semua orang memberi Ayana ruang. Seungwoo menunggu di dekat pintu, berusaha memahami mengapa suara tangis itu terasa begitu akrab.