“Nak Vladimir tolong ambilkan baby oil di ruangan kerja meja keluarga“ Kata seorang terapis pijat yang bulan depan akan menikah dengan ayahku.
Dengan butuh sekitar beberapa menit kuulurkan baby oil yang dimintanya itu. tanpa sepatah kata pun, kulihat ayahku sudah tidak menggenakan baju sama sekali hanya tinggal mengenakan sebuah celana lari yang sangat minim itu.
“Habis ini gantian kamu ya” katanya, sambil memegang tangan yang kuulurkan, sembari menebarkan senyumnya. Tak akan sudi pikirku.
“Vladimir jangan berlaku seperti itu kepada seorang yang sebentar lagi akan menjadi ibumu itu” katanya sembari bangun dari bed pijat, dengan masih hanya menggunakan running shorts.
“Menjadi istrimu mungkin ya bulan depan, tapi untuk menjadi ibuku mungkin tak akan pernah”
“Vladimir.” Teriaknya masih dengan hanya celana pendek yang sama.
“Ya apa?” kataku sambil meninggalkan mereka berdua dengan kesenangan mereka masing-masing
Inilah memang kehidupan ku saat ini, anak seorang Chief Executive Officer sebuah perusahaan mainan s*x yang sebentar lagi akan menjadi seorang anak terapis pijat professional, di dalam rumah ku sendiri aku harus dipaksa memainkan peran yang sesungguhnya tidak ingin aku mainkan. Seorang yang tiba-tiba saja menjadi penguasa di rumah ini. Maxima terapis pijat yang sebentar lagi akan menikah dengan ayahku ini dengan seenaknya membawa pasiennya dengan senang hati kerumah kami. Ayahku tidak pernah bertanya mengenai siapa-siapa saja yang menjadi pasiennya, ia berikan segalanya kepada seorang yang sebentar lagi ini akan menjadi istrinya. Segala-galanya. Mungkin itulah mengapa dulu ibuku sangat mencintai ayahku. Tapi membandingkan dia dengan ibuk kandungku adalah suatu hal yang tak akan pernah bisa kuterima. Setidaknya sampai saat ini. Karena bukankah manusia adalah subyek yang sangat mudah sekali berubah bukan. Apalagi ini adalah menyangkut dengan seorang wanita berumur 31 tahun yang akan hidup denganku dalam waktu yang sangat lama. Sungguh segala dapat berjalan dengan sangat tak terkirakan menurutku.
Berjalanlah aku menuju dapur ke rumahku, gelas-gelas berjajar rapi, buah-buahan tersedia untuk seluruh pengguni rumah, yaitu aku, ayah, seorang pembantu rumah tangga, supir, dan Maxima. Segalanya telah tersedia disini hanya seorang ibu yang masih kurang, namun bukan berarti ayah dapat dengan mudah mengisikannya di rumah ini, dan seorang ibu memang tak akan pernah dapat tergantikan, tapi bagaimana kalau bertambah. Ku tak tahu. Lampu lampu masih saja tetap diam memandang ke arah tembok yang semakin tak jemu dengan warna putih yang di genggamnya, sedangkan als kayu berukir layaknya air telah semakin bosan menatap langit langit yang seakan tak akan pernah mampu diciumnya.
Kupandangi foto ibu yang ada di pojok sudut dapur ini, sengaja kupasang dengan maksud bahwa aku akan pasti lebih banyak menghabiskan waktu di dapur ini, sebuah bagian paling jauhb dari keberadaan calon istri ayahku, ruangan yang di gunakan untuknya melakukan pekerjaannya ialah ruangan yang tepat berada di samping kamarku, aku tak tahu mengapa ayah memberikan ruangan itu, yang semula adalah tempat bagi teman-teman yang mungkin menginap untuk keesokan harinya memiliki rencana denganku. Namun saat ini ruangan itu telah menjadi kepunyaan maxima secara seluruhnya. Dia memang sudah tinggal disini bahkan sebelum dia menjadi istri dari ayahku. Walau dapat kuakui bahwa aku mengerti mengapa ayahku dapat begitu mencintainya, bahwa dia masih muda, sangat muda malahan jika disbanding ayahku, tubuhnya putih dan sintal, rambutnya panjang dan terawat, dan tingginya 168 cm. Dapat kupahami mengapa ayahku dapat jatuh cinta kepadanya, tapi bukankah ayah telah terbiasa berhadapan dengan wanita-wanita yang memang benar benar menarik dalam artian mata, aku memang adalah seorang yang sangat kikuk terhadap segala sesuatu yang terlampau abstrak, seperti perasaan dan juga angan-angan, ku habiskan air yang sedari tadi menungguku pada sebuah gelas untuk segera dapat menunaikan realitas keberadaannya.
Aku hanya diam, tidak ada satupun yang dapat kuajak bicara atau menghiburku, mengalah aku pada kesendirianku, bukankah itu yang memang akan selalun dilakukan manusia yaitu mengalah pada kesendiriannya, baik lewat manusia lain ataupun dengan kesendirian itu sendiri. Dan liburan sekolah memang sungguh sangat membuat segalanya menjadi sungguh benar-benar tak berkira. Seorang anak delapan belas tahun harus menerima realitas kedatangan seorang wanita yang akan menjadi subjek penting di hidupnya. Maka menujulah aku ke kamarku melewati sebuah biola yang hampir sudah tak pernah kumainkan sejak kedatangan dirinya, lalu kulihat foto keluarga yang mungkin sebentar lagi akan hilang juga, aku, ayah, dan ibu. Kuambil sweater Yankees yang hampir tak pernah kupakai semenjak beberapa tahun lalu. Kutahu bahwa meraka masih sibuk dengan kesenangannya.
“Enak.” Dengarku. Yang hanya dibalas dengan lengguh merendah. Maka semakin kuat niatku untuk pergi. Keluar aku dari kamar dan melewati ruangan dimana keduanya berada.
“Mau kemana Kamu.” Tanya ayahku. Sebuah pertanyaan yang sudah kutahui pasti bakal terucap.
“ Kemakam Ibuk.” Jawabku singkat. Dan kubiarkan sepi untuk selanjutnya mengambil alih segalanya.