Tentu saja aku tidak benar-benar menuju ke makam ibu, aku tidak mau lagi menambah kesedihan di muka bumi ini dengan datang menemuinya, terkadang memang dibutuhkan suatu keadaan yang begitu mencekam untuk hanya dapat sekadar membungkam perkataan lain orang, dan kurasanya ‘ke makam ibu.’ Adalah jawaban yang paling ideal, aku tahu bahwa kata-kataku itu menyakiti perasaan Ayah tapi hatiku sudah cukup lelah untuk dapat membiarkan percakapan di antara aku dan Ayah menjadi lebih panjang lagi, maka keluarlah aku meninggalkan rumah, bukan ke makam ibu karena hal itu tidak akan dapat membuatku bahagia, dan seperti ku bilang hal itu hanya akan menambah daftar panjang kesedihan di dunia. Keluarlah aku menuju stasiun kereta. Sebuah stasiun yang ku tahu persis Ayah juga merupakan salah satu investor terbesar dalam proyek pemoderninasian stasiun ini, bukan karena memang ayah tertarik dengan investasi di bidang ini, hanya karena usahanya yang begitu berbahaya menuntutnya untuk menebar kebaikkan kesana-sini tak hanya sekadar kepada manusia-manusia tapi juga lembaga-lembaga dan kementerian-kementerian yangdirasa dapat dimintainya pertolongan apabila suatu saat bisnis yang dijalani terkena masalah, bukan dalam hal pemasaran akan tetapi lebih dalam halam keributan dalam masyarakat, jadi demikianlah Ayah menyebar sekoci-sekoci untuk nantinya dapat ditariknya kembali untuk menyelamatkan apa yang di miliki dan dicintainya. Berjalanlah aku menuju ke jalan di depan rumah, menunggu taxi yang sudah ku pesan, aku menyukai ketenangan yang karena itu aku lebih suka pergi menggunakan tranportasi bayaran, yang kutahu dengan itu pasti pak sapardi akan datang dengan berlari tergopoh-gopong menawarkan diri untuk mau mengantarkanku kemanapun tujuanku, bahkan ke ujung duniapun bila perlu, tapi aku terlalu menyukai ketenangan maka dengan itu aku lebih memilih sesuatu hal yang kiranya lebih memungkinkanku untuk mendapatkan ketenangan itu, yang mana dalam hal ini adalah sebuah taxi, aku hanya perlu mengatakan tujuannku dan setelahnya aku dapat menikmati ketenanganku, tak peduli aku pertanyaan ataupun perkataan basi-basi pengendari taxi dan apabila sikapku ini menjadikannya marah dan membuat argoku menjadi tak masuk akal, aku pun juga tak peduli, sudah ku katakan uang bukan masalah bagiku, selama dia dapat mengantarkan ketempat tujuanku dan juga memberikanku keadaan tenang. Memang itulah sifatku. Suka atau tidak suka.
Pak sapardi adalah supir di keluarga kami, 53 tahun. Tak tega aku sebenarnya melihatnya berlarian menyusulku tapi seperti ku bilang aku sedang mebutuhkan ketenangan, dan pak sapardi bukanlah jawaban yang tepat. Karena sebuah peristiwa pasti akan tercipta apabila aku bersama dengan dia, Belum lagi pinkan yang akan bergabung dengan kami berdua apabila dilihatnya aku sedang berbicara dengan bapaknya, mereka adalah keluarga yang sangat aku sayangi dan karena itu aku tidak akan mampu membiarkan perkataan yang mereka ucapkan hilang begitu saja di telan mawar.
Taxi datang selang sepuluh menit sejak pertama kali kupandangi mawar dan melati serta berbagai bunga dan pohon dalam halaman rumah kami, rumah kami penuh tanaman dan pohon tak memiliki pagar, Ayah selalu membiarkan ‘sekoci-sekoci’ yang dimilikinya berlayar tak terhingga sehingga dapat mengaburkan penilaian orang terhadap usaha yang di jalankankan. Magnolia, azalea, pinus, dan berbagai tumbuhan-tumbuhan berbuah memenuhi halaman rumah kami dengan rapi, yang mana ini juga merupakan tanggung jawab pak sapardi untuk menjaga mereka tetap rapi dan berbuah. Sekoci-sekoci itulah yang menyebabkan usaha Ayah dapat terus berjalan dan maxima dapat tinggal di rumah kami tanpa adanya pernikahan terlebih dahulu.
Pak Sapardi yang masih menemaniku di depan halaman rumah sembari taxi ini masih menungguiku.
“Tuan yakin tidak mau bapak antar? Bapak bisa suruh taxi ini pergi.” Tanya Pak Sapardi melihat wajahku yang mungkin terlihat sangat kacau.
“Tidak usah Pak.” Jawabku singkat, terlihat Pinkan berjalan setengah berlari menghampiri kita berdua.
“Mau kemana Vladimir kamu.”
“Ikutlah kamu, Pinkan menemani…” Kata Pak Sapardi.
“Tidak usah Pak.” Potongku.
“Aku pergi dulu, Pak, Pinkan.” Sambungku, ingin segera berjumpa dengan ketenanganku.
Aku pun masuk ke dalam taxi, duduk di kursi belakang Supir, “Stasiun Komura.” Kataku. “Baik.” Jawabnya sambil mengangukkan kepala yang dapat kulihat gerakannya melalui kaca spion tengah mobil. Mobil berjalan dengan tenang dan melalui jalur yang sesungguhnya ada, tiada trik dan tiada pembicaraan, sungguh perjalanan yang sangat sempurna sampai akhirnya sampai pada Stasiun Komura. Aku pun memberikan biaya yang harus kuberikan padanya beserta tips yang jumlahnya dua kali dari biaya yang harus kubayarkan. Sekoci itu telah menular deras dalam diriku ternyata.
Ya benar aku tidak membawa apa-apa, hanya sebuah handphone dan juga dompet, dua hal yang sesungguhnya lebih dari cukuo dibandingkan dengan seluruh benda di dunia. Aku tidak peduli dengan yang lainnya, hanya diriku dan ketenangan untuk saat ini dan membiarkan mereka berdua asik dengan kesenangan dan rencananya masing-masing. Silakan kalian jalankan kesenangan kalian. Dunia ini bahkan telah kubiarkan untuk kalian berbahagia.
Stasiun Komura salah satu stasiun terbaik di Negara ini, kedai-kedai kopi dan toko-toko roti dan makanan ringan berjejer berderet rapi si setiap bagian stasiun, kulihat daftar perjalanan yang dapat aku pilih ‘ujung dunia’ sebuah jadwal perjalan terpanjang dari barisan pilihan yang tersedia. Ujung Dunia pukul 15.25, delapan jam dari waktu saat ini, berarti aku masih memiliki waktu delapan jam sampai kereta itu membawaku. Dan kupikir tidak ada salahnya untuk menambah jumlah kesedihan di dunia ini aku pun segera menuju ke loket tiket untuk memesan tiket perjalananku.
“Ujung Dunia.” Kataku. Sembari ku perhatikan mata perempuan ini bulat dan indah.
“Kelas apa Kak.” Tanyanya. Dengan nada yang sangat ramah.
“Matamu bagus, Premium.” Kataku akan keindahan mata yang dimilikinya.
“Premium?” katanya menegaskan, dan tersenyum mendengar pujianku kepadanya, bukan berarti aku adalah seorang yang menebar pujian kepada setiap orang, aku hanya memberikan pujian kepada orang-orang yang memang membutuhkan kesenangan dalam kegiatannya. Dan pujianku itu ku yakin dapat meringankan tugasnya. Selain memang dia memiliki mata yang indah.
“Ya premium, untuk tempat duduk dan juga keindahan matamu.” Kataku, dan kurasa aku sudah berlebihan dalam memberinya kebahagiaan.
“Berapa orang Kak.” Tanyanya.
“Satu, dan dapat berubah dua apabila kaka bersedia bergabung denganku.”
“Semuanya 30.000.”
“Dengan tiketmu juga.” Kataku, dengan masih menatapnya tepat pada kedua mata yang dimilikinya.
“Tidak kak, hanya satu tiket.” Jawabnya
“Baiklah, Terimakasih.” Kataku sembari memberikan kartu kredit dari dompet yang kubawa.
Sudah saatnya kutambahkan kesedihan pada dunia ini. Tak ada salahnya kukira masih ada delapan jam, dan makam ibuk ku rasa bukan pilihan yang buruk untuk menghabiskan waktu, untuk hal ini makam ibu tidak ku jadikan alat untuk memanggil sepi, karena aku memang ingin menemuinya. Walau hal itu akan menambahkan jumlah kesedihan di muka bumi ini, sampai menyentuh kata tak terhingga. Namun apalah arti kesedihan dibandingkan perasaan kangen seorang anak kepada ibu yang telah melahirkannya. Titik.