Pagi itu, Kalina berusaha mengawali hari dengan daftar pekerjaan yang lebih panjang dari biasanya. Sejak tiba di kantor, ia menyiapkan jadwal rapat, memeriksa surel, lalu memastikan bahan presentasi proyek hotel di Bali sudah tersimpan di beberapa tempat. Ia sengaja menyibukkan diri. Setelah percakapan dengan Akhtar kemarin, ia ingin kembali menempatkan segala sesuatu di batas yang semestinya.
'Lin, Pak Akhtar minta berkas evaluasi kuartal kemarin,' kata Toni dari ambang pintu ruang sekretaris.
'Sudah saya siapkan. Ini.' Kalina menyerahkan map biru.
Toni mengambilnya, lalu tersenyum tipis. 'Kamu kelihatan serius sekali pagi ini.'
'Memangnya biasanya saya tidak serius?'
'Biasanya serius juga. Hari ini seriusnya seperti mau ujian akhir.'
Kalina tertawa kecil. 'Banyak yang harus dibereskan.'
Ia mengikuti Toni ke ruang CEO untuk menyerahkan beberapa dokumen. Akhtar sedang menandatangani surat di meja kerjanya. Begitu menyadari kedatangan mereka, ia mengangkat pandangan.
'Berkas evaluasi kuartal, Pak,' ujar Kalina formal.
'Terima kasih. Letakkan di sini.'
Tatapan mereka bertemu sekejap. Kalina langsung mengalihkan mata ke dokumen lain di tangannya. Akhtar juga kembali menunduk, seolah tidak ada hal lain yang ingin dikatakan. Toni, yang berdiri di dekat meja, memperhatikan jeda kecil itu tetapi memilih tidak berkomentar.
Menjelang pukul dua belas, suasana kantor berubah lebih ramai. Resepsionis menghubungi bagian sekretariat dan memberi tahu ada tamu yang mencari Pak Akhtar. Kalina menerima telepon itu.
'Namanya Ibu Giana,' kata resepsionis. 'Beliau membawa makanan.'
Kalina terdiam sesaat sebelum menjawab. 'Baik, silakan arahkan ke lantai ini.'
Ia memberitahu Toni, lalu menyiapkan ruang tunggu. Tidak lama kemudian, Giana muncul dengan gaun berwarna krem dan kacamata hitam yang masih bertengger di atas kepalanya. Di tangannya ada tas kertas besar dari restoran. Penampilannya rapi, wangi parfumnya terasa bahkan sebelum ia mendekat.
'Selamat siang, Bu,' sapa Kalina. 'Pak Akhtar sedang menyelesaikan panggilan. Ibu bisa menunggu sebentar.'
Giana melepas kacamata dan memandang Kalina dari ujung kepala sampai kaki. 'Kamu sekretarisnya?'
'Iya, Bu.'
'Saya tahu. Saya cuma ingin memastikan.' Senyum Giana tipis. 'Akhtar bercerita kamu banyak membantu selama di Bali.'
Kalina menjaga ekspresinya. 'Saya hanya menjalankan pekerjaan, Bu.'
'Bagus kalau begitu.' Giana meletakkan tas makanan di meja. 'Tolong beri tahu suami saya, saya datang membawakan makan siang.'
Kalina mengangguk dan mengetuk pintu ruang CEO. Akhtar masih berbicara melalui telepon, tetapi ia memberi isyarat agar Kalina masuk. Setelah Kalina menyampaikan siapa yang menunggu, ekspresi Akhtar berubah terkejut.
'Giana datang?' tanyanya setelah menutup panggilan.
'Iya, Pak. Beliau membawa makan siang.'
Akhtar diam sebentar, lalu berdiri. 'Baik. Tolong batalkan makan siang yang Toni pesan.'
Kalina mengiyakan. Ia berjalan lebih dulu untuk memberi tahu Giana bahwa Akhtar sudah bisa ditemui. Saat mereka melewati ruang sekretariat, Giana menoleh kepadanya.
'Kamu tidak ikut makan bersama, kan?'
'Tidak, Bu. Saya makan di luar bersama rekan kerja.'
'Bagus.' Giana tersenyum, kali ini lebih lebar tetapi terasa dibuat-buat. 'Waktu suami saya bekerja, saya suka memastikan dia makan tepat waktu.'
'Perhatian sekali,' kata Kalina singkat.
Giana tidak menjawab. Ia masuk ke ruang Akhtar dan menutup pintu. Kalina kembali ke mejanya. Ia berusaha memusatkan perhatian pada jadwal, tetapi percakapan tadi terus terngiang. Kalimat Giana seolah biasa saja, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa sedang diukur.
'Kamu baik-baik saja?' tanya Toni ketika melewati mejanya.
'Baik.'
'Kalau perlu makan siang, saya bisa pesankan.'
'Terima kasih, Mas. Saya makan bersama Jihan.'
Kalina mengirim pesan kepada Jihan, lalu keluar menuju kantin saat jam istirahat. Ia tidak ingin terlihat menunggu atau menguping. Di dalam ruang CEO, Akhtar dan Giana sedang berbicara sebagai suami istri. Itu ruang mereka, dan Kalina tidak punya alasan untuk membayangkan apa yang terjadi di balik pintu.
Di kantin, Jihan sudah menempati meja dekat jendela. 'Tumben kamu telat. Biasanya kamu sudah di sini duluan.'
'Tadi ada tamu Pak Akhtar.'
'Tamu atau istri bosmu?' Jihan mengangkat alis.
Kalina mengambil tempat duduk. 'Kamu tahu dari siapa?'
'Resepsionis cerita. Katanya Bu Giana datang bawa makanan. Romantis juga, ya.'
'Mungkin mereka sedang berusaha meluangkan waktu bersama.'
Jihan memandangnya sejenak, seolah menangkap nada yang dibuat terlalu netral. Namun ia tidak bertanya lebih jauh. Mereka membicarakan pekerjaan dan rencana akhir pekan sampai waktu istirahat hampir habis.
Ketika Kalina kembali ke lantai eksekutif, Giana masih berada di ruang Akhtar. Pintu tertutup. Kalina duduk di mejanya dan memeriksa surel. Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Giana keluar lebih dulu, sementara Akhtar mengantarnya sampai ambang.
'Terima kasih sudah datang,' kata Akhtar.
'Aku akan mencoba lebih sering,' jawab Giana. 'Asal kamu juga tidak selalu pulang larut.'
'Aku akan berusaha.'
Giana lalu menoleh kepada Kalina. 'Saya pamit.'
'Hati-hati di jalan, Bu.'
Setelah Giana pergi, Akhtar kembali ke ruangannya. Kalina menyusul untuk membawa jadwal sore. Ia mengutarakan agenda dengan suara tenang, tanpa menyinggung makan siang tadi.
'Terima kasih sudah mengatur jadwal,' kata Akhtar.
'Sama-sama, Pak.'
Kalina kembali ke mejanya. Hari itu ia memilih untuk melihat kejadian tersebut sebagai sesuatu yang sederhana: seorang istri membawa makan siang untuk suaminya. Tidak perlu ada tafsir lain. Meski begitu, tatapan Giana masih tertinggal di pikirannya, membuatnya bertanya-tanya apakah batas profesional yang ia jaga sudah cukup jelas bagi semua orang.
Giana kembali ke kantor Akhtar pada hari berikutnya, kali ini tanpa tas makanan. Ia datang menjelang tengah hari dengan alasan ingin mengajak suaminya makan di restoran dekat gedung. Kalina mengetahui kedatangannya dari resepsionis, lalu memberi tahu Toni.
'Ibu Giana datang lagi?' Toni bertanya, tampak sedikit heran.
'Iya. Katanya mau mengajak Pak Akhtar makan siang.'
Toni melihat jam dinding. 'Beliau ada rapat daring pukul satu.'
'Saya tahu. Saya sudah siapkan pengingat.'
Giana menunggu di ruang tamu eksekutif. Kalina menawarinya minuman, tetapi ia hanya meminta air putih. Matanya bergerak mengamati ruangan, berhenti sebentar pada foto keluarga kecil yang ada di rak dekat pintu. Foto Akhtar bersama Amalia dan Hadi saat acara keluarga.
'Kamu sudah lama bekerja dengan Akhtar?' tanya Giana.
'Belum terlalu lama, Bu.'
'Tapi cukup lama untuk tahu kebiasaannya.'
Kalina memilih kata dengan hati-hati. 'Saya berusaha mempelajari hal-hal yang diperlukan untuk pekerjaan.'
'Tentu.' Giana menyilangkan kaki. 'Sekretaris memang harus tahu banyak tentang atasannya.'
Kalina merasakan nada itu, namun ia tetap menjaga senyum sopan. 'Kalau ada yang perlu saya bantu, silakan beri tahu.'
'Kamu selalu bicara seperti itu?'
'Seperti apa, Bu?'
'Rapi sekali. Seolah semua jawabanmu sudah disiapkan.'
Kalina menahan diri agar tidak menjawab spontan. 'Saya tidak ingin salah bicara.'
Sebelum Giana sempat berkata lagi, pintu ruang CEO terbuka. Akhtar keluar dengan map di tangan. 'Maaf menunggu. Aku baru selesai meninjau laporan.'
'Tidak apa-apa. Aku tahu pekerjaanmu banyak.' Giana tersenyum dan berdiri. 'Kita makan, ya?'
Akhtar mengangguk. Ia menoleh ke Kalina. 'Tolong pindahkan rapat daring ke pukul setengah dua, kalau memungkinkan.'
'Baik, Pak. Saya akan menghubungi timnya.'
Giana dan Akhtar berjalan menuju lift. Sebelum pintu tertutup, Giana sempat memandang Kalina lagi. Kalina membalas dengan senyum sopan, kemudian kembali ke mejanya.
Jihan menelepon tak lama setelah itu, membahas laporan keuangan yang perlu dikirim sebelum sore. Kalina fokus bekerja, tetapi pikirannya beberapa kali kembali pada percakapan tadi. Ia merasa Giana tidak mempercayainya, padahal ia sendiri selalu menjaga jarak.
'Lin, kamu kelihatan banyak pikiran,' kata Toni saat kembali dari ruang arsip.
'Saya cuma memikirkan revisi jadwal.'
'Rapatnya sudah dipindah?'
'Sudah. Timnya setuju.'
Toni mengangguk. Ia tidak mendesak, lalu masuk ke ruangannya sendiri. Kalina lega karena tak perlu menjelaskan apa pun.
Di restoran, Akhtar berusaha memberi perhatian kepada Giana. Ia bertanya tentang kegiatan sosial yang belakangan diikuti istrinya dan tentang Rebeca yang sering mengajaknya keluar. Giana menjawab dengan cerita panjang, tetapi beberapa kali pandangannya jatuh ke ponsel.
'Kamu masih sering bertemu Rebeca?' tanya Akhtar.
'Kadang. Kenapa?'
'Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya.'
Giana meletakkan ponselnya. 'Kamu sendiri sibuk terus. Kalau aku tidak mencari kegiatan, aku akan bosan di rumah.'
Akhtar terdiam. Ia tahu pekerjaannya menjadi salah satu alasan Giana merasa sendirian. 'Aku akan mencoba pulang lebih awal beberapa hari ini.'
'Kamu pernah bilang begitu.'
'Aku tahu.'
Mereka makan dalam suasana yang cukup tenang, meski percakapan tak pernah benar-benar mengalir. Akhtar menghargai kedatangan Giana, tetapi ada bagian dirinya yang terus teringat pekerjaan dan orang-orang di kantor. Ia mencoba menyingkirkan bayangan Kalina dari pikirannya. Kalina tidak ada hubungannya dengan makan siang mereka. Ia harus hadir untuk istrinya.
Sesudah makan, Akhtar mengantar Giana ke mobil. Giana menyentuh lengan suaminya sebelum pergi. 'Jangan lupa janji pulang lebih awal.'
'Aku ingat.'
Akhtar kembali ke kantor. Saat melewati meja sekretariat, Kalina sedang menelepon vendor. Ia menyampaikan informasi dengan tenang dan mencatat setiap detail. Akhtar memperhatikan sebentar, lalu cepat-cepat masuk ke ruangannya.
Sore itu Kalina menyusun ulang agenda setelah rapat daring selesai. Akhtar meminta laporan untuk esok hari. Mereka berbicara seperlunya, seluruhnya tentang pekerjaan. Tidak ada percakapan pribadi, tidak ada tatapan yang berlama-lama. Kalina merasa lega sekaligus aneh karena beberapa hari sebelumnya mereka membicarakan percakapan yang tak sengaja ia dengar.
Saat pulang, ia bertemu Jihan di lobi. 'Kamu pulang sekarang?'
'Iya. Kamu?'
'Mau ke bagian keuangan sebentar. Besok kita makan siang bareng lagi?'
'Boleh.'
Kalina menuju tempat mobil fasilitas kantornya terparkir sambil memikirkan cara Giana memandangnya. Ia tidak ingin menciptakan masalah yang belum ada. Giana adalah istri Akhtar, dan kecurigaannya mungkin muncul hanya karena ia sedang merasa kurang dekat dengan suaminya. Kalina bertekad untuk tidak memberi alasan apa pun bagi kecurigaan itu.