Sejak pagi, Kalina berusaha menjaga jarak lebih tegas dari Akhtar. Ia menyampaikan semua informasi lewat surel jika tidak perlu dibicarakan langsung, mengetuk pintu sebelum masuk, dan tidak bertahan di ruang CEO setelah urusan selesai. Ia tidak ingin Giana punya alasan menilainya macam-macam.
Akhtar menyadari perubahan itu ketika Kalina mengirimkan jadwal rapat melalui pesan singkat, padahal biasanya ia akan mengetuk pintu dan menjelaskan beberapa hal penting.
'Kalina, bisa masuk sebentar?' panggilnya dari ruang kerja.
Kalina masuk sambil membawa tablet. 'Ada yang perlu saya jelaskan, Pak?'
'Jadwal pertemuan dengan pihak hotel. Saya ingin tahu siapa saja yang hadir.'
Kalina memaparkan daftar nama dan agenda. Suaranya profesional, pandangannya tertuju pada layar. Akhtar memperhatikan bahwa ia tidak lagi memandangnya saat berbicara.
'Kamu bisa duduk dulu,' katanya.
'Saya masih ada beberapa surel yang harus dikirim. Ada hal lain, Pak?'
Akhtar berhenti sejenak. 'Tidak. Terima kasih.'
Kalina keluar dan menutup pintu perlahan. Ia merasa Akhtar hendak mengatakan sesuatu, tetapi memilih tidak menebak. Semakin ia menjaga batas, semakin kecil kemungkinan mereka salah memahami satu sama lain.
Menjelang siang, Giana menelepon Akhtar. Suaranya terdengar ceria, mengabarkan bahwa ia sudah mengatur jadwal makan malam bersama seorang teman lama. Akhtar mendengarkan sambil menandatangani berkas. Ia menanyakan apakah mereka akan makan bersama malam itu, dan Giana menjawab mungkin pulang agak larut.
'Kita bisa makan akhir pekan,' ujar Giana.
'Baik. Beri tahu aku kalau ada perubahan.'
Setelah menutup telepon, Akhtar menarik napas. Ia mengingat ucapan Giana bahwa ia akan mencoba lebih sering datang ke kantor. Mungkin Giana sedang berusaha memperbaiki hubungan mereka. Ia seharusnya menyambut usaha itu sepenuhnya.
Ketika Kalina masuk untuk memberikan dokumen, Akhtar berusaha kembali fokus. 'Terima kasih. Kamu sudah makan?'
'Belum, Pak. Saya akan makan nanti bersama Jihan.'
'Baik.'
Biasanya mereka mungkin akan bertukar beberapa kalimat ringan. Kali ini Kalina segera berbalik hendak keluar.
'Kalina.'
Ia berhenti di ambang pintu. 'Iya, Pak?'
Akhtar ingin bertanya apakah ia menghindarinya. Namun pertanyaan itu tidak pantas ia ajukan sebagai atasan, terlebih setelah ia sendiri berjanji agar mereka menjaga urusan kantor. 'Tidak jadi. Silakan lanjutkan pekerjaan.'
'Baik, Pak.'
Saat makan siang, Jihan memperhatikan Kalina yang nyaris tak menyentuh makanannya. 'Kamu lagi diet?'
'Nggak. Kenapa?'
'Dari tadi cuma mengaduk makanan.'
Kalina menghela napas. Ia dan Jihan cukup dekat, tetapi belum tentu ia siap menceritakan persoalan yang melibatkan atasannya. 'Aku cuma sedang berusaha lebih fokus kerja.'
'Ada masalah?'
'Nggak juga. Aku cuma merasa harus menjaga sikap.'
Jihan menyipitkan mata. 'Menjaga sikap karena siapa?'
'Karena aku sekretaris CEO. Wajar kalau harus profesional.'
'Ya, itu benar. Tapi kenapa baru kepikiran sekarang?'
Kalina berhenti sejenak. Ia tidak ingin berbohong berlebihan. 'Ada beberapa hal yang bikin aku sadar kalau aku harus hati-hati. Pak Akhtar sudah menikah. Aku nggak mau membuat orang salah paham.'
Jihan mengangguk pelan. 'Itu keputusan yang bagus. Tapi kamu jangan menyalahkan diri sendiri cuma karena merasa kagum sama atasan.'
Kalina menatapnya, terkejut Jihan menangkap hal yang ia coba sembunyikan. 'Aku nggak bilang begitu.'
'Aku juga nggak bilang kamu melakukan apa-apa.' Jihan menepuk tangannya. 'Kamu tahu batas. Pegang itu.'
Kalina tersenyum kecil. 'Makasih.'
Mereka menghabiskan sisa waktu dengan membicarakan hal lain. Jihan menceritakan pesan dari Kaizan yang mengajaknya mengunjungi pameran otomotif akhir pekan. Ia berusaha terdengar biasa saja, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
'Kamu senang banget diajak?' goda Kalina.
'Biasa aja.'
'Tapi senyumnya sampai sini.' Kalina menunjuk pipinya sendiri.
'Sudah, makan saja.' Jihan tertawa dan mendorong bahu Kalina pelan.
Sore hari, Akhtar mengirimkan pesan kerja meminta Kalina menyiapkan ringkasan untuk pertemuan esok. Kalina membalas singkat bahwa dokumen akan dikirim sebelum pukul lima. Ia menyelesaikan pekerjaan itu tanpa masuk ke ruang Akhtar lagi.
Saat ringkasan terkirim, Akhtar membalas, 'Sudah saya terima. Terima kasih.' Kalina membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab, 'Sama-sama, Pak.' Ia lalu meletakkan ponsel dan kembali bekerja.
Kayra menunggu Kalina selesai mandi sebelum menanyakan perubahan sikapnya. Mereka duduk di ruang tengah, sementara hujan tipis mulai turun di luar jendela apartemen.
'Lin, akhir-akhir ini kamu seperti menahan sesuatu,' kata Kayra.
Kalina meraih cangkir teh. 'Aku cuma capek kerja.'
'Kamu sudah pakai alasan itu tiga kali minggu ini.'
'Memangnya aku harus punya alasan baru?'
Kayra tidak tertawa. 'Gue kenal lo dari kecil. Kalau lo bilang baik-baik saja sambil menghindari mata gue, itu artinya ada sesuatu.'
Kalina menatap teh. Ia teringat percakapannya dengan Jihan dan mempertimbangkan untuk terbuka sedikit. Kayra adalah sahabat yang lebih lama, orang yang selalu tahu kapan ia benar-benar sedang baik atau hanya berpura-pura.
'Gue lagi berusaha jaga jarak sama Pak Akhtar,' katanya akhirnya.
Kayra mengernyit. 'Kenapa?'
'Gue merasa kekaguman gue mungkin mulai berlebihan.'
'Lo suka sama dia?'
Kalina tidak menjawab segera. 'Gue nggak tahu. Mungkin gue cuma kagum karena dia baik dan percaya sama kemampuan gue. Tapi dia sudah menikah. Jadi gue perlu mengingatkan diri sendiri.'
Kayra meletakkan cangkirnya. 'Lin, gue sayang sama lo, jadi gue akan ngomong jujur. Jangan masuk ke hubungan orang.'
'Gue tahu.'
'Bukan cuma soal Giana. Ini juga soal diri lo sendiri. Lo bisa terluka, bisa kehilangan pekerjaan, dan bisa bikin semuanya jadi rumit.'
Kalina mengangguk. 'Makanya gue jaga jarak.'
'Bagus. Tapi jangan sampai lo menganggap setiap interaksi biasa sebagai tanda dia punya perasaan yang sama.'
'Gue nggak pernah menganggap begitu.'
'Bagus kalau begitu. Gue cuma mau memastikan.' Kayra mengusap lengan Kalina. 'Kamu berhak punya hubungan yang jelas, dengan orang yang memang tersedia dan memilih kamu sepenuhnya.'
Kalina tersenyum tipis. 'Kamu kedengarannya seperti konselor.'
'Gue memang berbakat.' Kayra mencoba membuat suasana lebih ringan. 'Kalau perlu, gue bikin kartu nama.'
Kalina tertawa, lalu menghela napas lega. Tidak mudah mengatakan hal yang membuatnya malu, tetapi ia senang Kayra tidak menghakiminya. Ia hanya mengingatkan sesuatu yang sebenarnya sudah Kalina ketahui.
'Gue belum melakukan apa-apa,' katanya.
'Gue tahu. Dan gue percaya sama lo. Tapi perasaan kadang membuat orang mencari alasan. Jangan cari-cari alasan untuk mendekat.'
'Iya.'
Kayra bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi di kantor. Kalina memilih bercerita bahwa ia pernah mendengar percakapan pribadi Akhtar tanpa sengaja dan sudah meminta maaf. Ia tidak membeberkan isi pembicaraan itu. Kayra menerima penjelasan tersebut tanpa memaksa.
'Kalau dia sudah memaafkan, selesai,' kata Kayra. 'Kamu nggak perlu terus memikirkan itu.'
Kalina merasa lega karena bisa menyampaikan sesuatu tanpa mengkhianati kepercayaan Akhtar. Mereka kemudian membicarakan undangan makan malam besok dengan Abian. Kayra berencana mengajak Jihan dan Kaizan juga.
'Jihan pasti datang,' kata Kayra. 'Dia langsung setuju waktu Abian menyebut Kaizan.'
'Dia memang senang ngobrol sama Kaizan.'
'Kaizan juga kelihatan mencari-cari alasan buat bertemu.'
Kalina tertawa. 'Kita jangan ikut campur.'
'Aku cuma mengamati. Beda dengan ikut campur.'
'Kalimat itu biasanya diucapkan orang yang ikut campur.'
Mereka tertawa bersama. Ketegangan yang tadi mengisi percakapan perlahan menghilang. Kayra memutar acara komedi, dan keduanya menonton sambil sesekali berkomentar tentang tokoh-tokohnya.
Keesokan malamnya, tempat makan yang dipilih Abian tidak terlalu ramai. Mereka mendapat meja panjang di sudut ruangan, cukup untuk berlima. Kayra dan Abian duduk berdampingan, sementara Jihan dan Kalina mengambil sisi lain. Kaizan belum datang ketika pesanan pertama tiba.
'Dia bilang sudah di jalan,' kata Jihan sambil melihat ponsel.
Kayra tersenyum penuh arti. 'Kamu hafal sekali keterlambatannya.'
'Dia cuma bilang sedang macet.'
'Aku nggak bilang apa-apa.'
Jihan mendengus, membuat Kalina tertawa. Obrolan mereka beralih ke pekerjaan, tempat wisata yang ingin dikunjungi, dan rencana Abian untuk mengganti motor. Suasana ringan itu membantu Kalina melepaskan ketegangan hari-hari terakhir.
Kaizan tiba sekitar sepuluh menit kemudian. Ia meminta maaf karena jalanan padat dan langsung duduk di sebelah Jihan. 'Maaf bikin menunggu.'
'Kami baru pesan minum,' jawab Jihan.
'Bagus. Aku belum makan siang.'
'Itu kebiasaan buruk,' tegur Jihan spontan. 'Kamu harus makan teratur.'
Kaizan menatapnya sambil tersenyum. 'Baik, Dokter Jihan.'
Jihan salah tingkah dan sibuk membuka menu. Kayra menangkap ekspresi itu, tetapi kali ini ia tidak menggoda. Ia tahu Jihan lebih nyaman jika tidak dijadikan pusat perhatian.
Mereka memesan makanan. Kaizan bercerita tentang pekerjaannya, sementara Abian menambahkan beberapa kisah lama yang membuat Kayra tertawa. Kalina menikmati kebersamaan itu. Ia jarang bisa makan tanpa memeriksa jadwal atau membalas pesan kantor.
'Kamu kelihatan lebih santai malam ini,' ujar Kayra ketika yang lain sibuk berbicara.
'Karena aku sedang tidak memikirkan kerjaan.'
'Bagus. Pertahankan.'
Kalina memahami maksud Kayra. Ia mengangguk dan mengganti topik dengan menanyakan rencana mereka akhir pekan. Abian mengusulkan mengunjungi pameran, sementara Kaizan menawarkan untuk menyetir jika semua setuju.
'Jihan yang paling dekat dengan lokasi,' kata Kaizan. 'Nanti aku jemput kamu dulu.'
'Aku bisa naik taksi sendiri,' jawab Jihan, berusaha terdengar biasa.
'Aku tahu. Tapi kalau aku lewat, sekalian saja.'
Jihan tersenyum kecil. 'Ya sudah. Terima kasih.'
Kayra bertukar pandang dengan Kalina, namun keduanya menahan komentar. Kaizan tampak tulus menawarkan bantuan, dan Jihan tampak nyaman menerimanya. Tidak perlu terburu-buru memberi nama pada hubungan mereka.
Makanan datang, dan percakapan berlanjut. Kaizan menanyakan pekerjaan Kalina di kantor pusat. Kalina menceritakan sebagian tentang proyek hotel yang sedang disiapkan.
'Kamu pasti banyak belajar dari Pak Akhtar,' kata Kaizan.
Kalina berhenti sejenak, lalu tersenyum. 'Iya. Pengalamannya luas.'
'Dia memang keras soal pekerjaan, tapi kalau sudah percaya sama orang, dia akan memberi tanggung jawab.'
'Aku berusaha memenuhi kepercayaan itu.'
Kayra melirik Kalina sebentar, memastikan ia tidak merasa kikuk. Kalina tetap melanjutkan makan dengan tenang. Ia tidak ingin setiap penyebutan Akhtar membuatnya kehilangan suasana.
'Kalian sudah kenal lama?' tanya Jihan kepada Kaizan, mengalihkan pembicaraan.
'Aku dan Akhtar? Dari kuliah. Kami sering bertemu karena keluarga juga saling kenal.'
'Kalian dekat?'
'Cukup dekat. Dia orang yang tidak banyak cerita, tapi kalau ada masalah, biasanya dia mencoba menyelesaikannya sendiri.'
Kalina mendengarkan tanpa ikut bertanya. Ia tak ingin memanfaatkan kedekatan Kaizan untuk mengetahui urusan pribadi Akhtar. Kayra pernah mengingatkannya agar tidak mencari alasan untuk mendekat, dan Kalina berniat memegang nasihat itu.
Setelah makan, Abian membayar tagihan dan mereka keluar bersama. Hujan sudah reda. Kaizan menawarkan mengantar Jihan pulang, sedangkan Abian dan Kayra akan pulang ke apartemen bersama Kalina.
'Kamu yakin?' tanya Jihan.
'Iya. Arah rumahmu sejalan dengan jalan pulangku.'
Jihan menerima tawaran itu. Sebelum berpisah, ia merangkul Kalina. 'Besok kabari aku kalau jadwal makan siang berubah.'
'Siap.'
Kayra menunggu sampai Jihan dan Kaizan pergi sebelum berbisik, 'Mereka cocok.'
'Biar mereka yang menentukan.'
'Iya, Bu Bijak.'
Kalina tertawa. Sepanjang perjalanan pulang, ia berbincang dengan Kayra dan Abian tentang rencana akhir pekan. Untuk pertama kali dalam beberapa hari, ia tidak memeriksa ponsel kantor.
Di rumah, Kalina langsung berganti pakaian dan membantu Kayra merapikan ruang tengah. Kayra bertanya apakah ia menyesal sudah bercerita tentang kekagumannya kepada Akhtar.
'Nggak. Aku malah lega.'
'Bagus. Kalau kamu mulai bingung lagi, bilang. Gue bakal ingetin.'
'Aku tahu.'
Kayra memeluknya singkat. Kalina merasa beruntung memiliki sahabat yang bisa tegas tanpa membuatnya merasa sendirian. Ia bersiap tidur, lalu menaruh ponsel jauh dari bantal agar tidak tergoda memikirkan pekerjaan.
Sementara itu, Akhtar pulang tepat waktu seperti yang ia janjikan. Giana sedang berada di rumah, duduk di ruang tengah dengan majalah di pangkuan. Ia menyambut Akhtar dan bertanya apakah ia sudah makan.
'Sudah. Kamu?'
'Aku juga.' Giana menutup majalah. 'Belakangan kita mulai lebih sering makan bersama. Aku senang.'
'Aku juga. Besok malam, bagaimana kalau kita makan di rumah?'
Giana tampak terkejut, lalu senyumnya muncul. 'Boleh. Aku akan pesan sesuatu.'
Akhtar mengangguk dan meletakkan kunci. Mereka berbicara sebentar tentang jadwal masing-masing. Ia ingin berusaha hadir lebih banyak sebagai suami, meski belum tahu apakah kedekatan itu bisa kembali seperti dulu. Di tempat lain, Kalina juga sedang belajar menata perasaannya dan menerima batas yang tidak boleh dilanggar.