Senin pagi dibuka dengan rapat panjang tentang proyek hotel baru Galindra di Bali. Akhtar meminta Kalina menyiapkan seluruh dokumen yang berkaitan dengan kerja sama, mulai dari laporan keuangan hingga jadwal kunjungan lokasi. Kalina sudah tiba lebih awal, memeriksa kembali semua lampiran, dan menyusun daftar pertanyaan yang mungkin diajukan tim direksi.
'Semua berkas sudah lengkap, Pak,' katanya setelah meletakkan map di meja Akhtar.
'Termasuk laporan dari tim lapangan?'
'Sudah saya masukkan di bagian akhir. Ada dua catatan yang masih menunggu konfirmasi, tapi saya tandai supaya mudah ditemukan.'
Akhtar membuka map dan melihat penanda warna yang tertempel rapi. 'Bagus. Terima kasih.'
Kalina mengangguk lalu kembali ke meja. Ia menjaga percakapan tetap singkat. Nasihat Kayra terus teringat, begitu pula keputusannya untuk memberi jarak. Akhtar tidak menunjukkan bahwa ia terganggu oleh sikap itu. Ia justru mengikuti batas yang sama, berbicara hanya tentang pekerjaan.
Rapat dimulai pukul sembilan. Beberapa kepala divisi hadir, termasuk Toni dan tim pemasaran. Akhtar menjelaskan target pembukaan hotel dan potensi pasar wisatawan. Setelah itu, Kalina diminta menampilkan jadwal proyek yang sudah ia susun.
'Untuk kunjungan lokasi, saya mengusulkan tim berangkat dalam dua tahap,' jelas Kalina sambil menampilkan tabel. 'Tim desain dan operasional berangkat lebih dahulu. Direksi menyusul setelah laporan kondisi bangunan dan fasilitas tersedia.'
Seorang direktur menanyakan kemungkinan perubahan jadwal. Kalina menjawab bahwa ia sudah menyediakan waktu cadangan untuk keterlambatan pengiriman material. Ia juga mencatat siapa saja yang harus memberi persetujuan jika tanggal kunjungan perlu diubah.
Akhtar mendengarkan tanpa menyela. Ia melihat Kalina menyampaikan penjelasan dengan tenang dan tidak gugup meski mendapat beberapa pertanyaan berturut-turut. Setelah rapat, ia menyampaikan apresiasi singkat di hadapan tim.
'Jadwalnya jelas. Kita pakai rancangan ini sambil menunggu laporan lapangan.'
Kalina merapikan laptop. 'Baik, Pak.'
Toni menghampirinya ketika para peserta lain mulai keluar. 'Presentasimu rapi. Kamu sudah memikirkan pertanyaan yang mungkin muncul.'
'Saya takut ada hal yang terlewat.'
'Itu sebabnya kita periksa bersama. Kalau proyek ini jalan, pekerjaan kita akan banyak.'
Kalina tersenyum. 'Saya siap.'
Sepanjang hari mereka mempersiapkan tindak lanjut rapat. Kalina mengirim notulen, menghubungi pihak hotel, lalu memastikan semua kepala divisi menerima jadwal terbaru. Akhtar juga memiliki beberapa pertemuan lain, tetapi ia menyempatkan diri meninjau laporan yang Kalina kirimkan.
Menjelang sore, Toni datang ke meja Kalina membawa beberapa dokumen tambahan. 'Tim operasional baru mengirimkan revisi biaya. Bisa kita gabungkan malam ini? Besok pagi Pak Akhtar ingin mengirimkan ringkasan kepada pemilik lahan.'
Kalina melihat jam. 'Bisa. Saya selesaikan setelah menutup pekerjaan lain.'
'Saya bantu. Kita bagi bagian biaya dan jadwal.'
Kalina menyetujui. Ia membalas beberapa surel penting, lalu membuka kembali lembar kerja proyek. Toni duduk di meja rapat kecil dekat ruang sekretariat. Mereka mulai membandingkan angka dengan laporan sebelumnya, mencatat perubahan yang membutuhkan penjelasan.
Akhtar keluar dari ruangannya menjelang pukul enam. Ia melihat Kalina dan Toni masih bekerja. 'Kalian belum pulang?'
'Kami menyatukan revisi anggaran proyek hotel,' jawab Toni. 'Besok harus dikirim.'
'Jangan terlalu malam. Kalau bisa dilanjutkan pagi, lakukan.'
Kalina menjelaskan bahwa sebagian data perlu dikunci malam itu agar tim lapangan dapat memeriksa ulang besok. Akhtar mengangguk, tetapi ia terlihat kurang senang mengetahui mereka harus lembur.
'Baik. Kalau ada kendala, kabari saya.'
Ia kembali ke ruangannya. Kalina menunduk ke layar dan memusatkan perhatian pada angka. Bekerja bersama Toni membuat suasana tetap ringan. Mereka membahas beberapa kesalahan pengetikan dan tertawa ketika menemukan nama berkas yang tertukar.
'Untung kamu teliti,' kata Toni. 'Kalau tidak, berkas jadwal renovasi bisa terkirim sebagai laporan anggaran.'
'Kita semua pasti sudah pusing membacanya.'
'Pak Akhtar mungkin langsung meminta rapat darurat.'
Kalina tertawa. Mereka melanjutkan pekerjaan dengan lebih bersemangat. Di sela-sela itu, Kalina melihat Akhtar keluar dari gedung bersama seorang staf divisi hukum. Ia tidak tahu apakah atasannya sudah makan malam. Ia juga tidak perlu menanyakannya.
Pukul delapan lewat sedikit, tabel biaya akhirnya selesai. Toni membaca ulang bagian yang menjadi tanggung jawabnya, sementara Kalina memeriksa jadwal dan catatan. Mereka mengirimkan dokumen kepada Akhtar dan menunggu konfirmasi.
Balasan datang beberapa menit kemudian: 'Sudah saya terima. Terima kasih, kalian berdua. Pastikan pulang dengan aman.'
Kalina membacanya sekilas dan menjawab dengan ucapan terima kasih. Toni mengunci komputernya. Mereka turun bersama ke lobi, lalu berpisah di area parkir.
Dalam perjalanan pulang, Kalina merasa lelah, tetapi puas karena pekerjaan selesai. Proyek di Bali akan menyita banyak waktu, dan ia ingin tetap menjalankan tugasnya dengan baik tanpa membiarkan kedekatannya dengan Akhtar menjadi pusat hidupnya. Malam itu ia pulang ke apartemen, makan seadanya, lalu tidur cepat.
Keesokan harinya, perubahan jadwal datang bertubi-tubi. Tim lapangan mengabarkan bahwa salah satu pemasok tidak bisa hadir pada tanggal yang telah disepakati. Kalina segera memperbarui agenda kunjungan dan memberi tahu semua pihak yang terdampak. Ia bekerja sejak pagi tanpa sempat mengobrol panjang dengan siapa pun.
Akhtar meminta rapat singkat untuk memutuskan tanggal baru. Kalina membawa dua pilihan jadwal ke ruangannya. 'Pilihan pertama memberi waktu lebih banyak untuk inspeksi, tapi beberapa orang dari tim pemasaran tidak bisa ikut. Pilihan kedua lebih cepat, namun perlu penyesuaian jadwal penerbangan.'
'Mana yang menurutmu paling aman?'
'Pilihan pertama, Pak. Kita bisa meminta satu perwakilan pemasaran hadir melalui konferensi video.'
Akhtar membaca tabel yang ia siapkan. 'Setuju. Atur seperti itu.'
'Baik.'
Kalina segera mengirim pembaruan. Akhtar memandangnya sekilas ketika ia akan keluar, tetapi tidak mengatakan hal lain. Ada masa singkat ketika percakapan mereka mungkin berlanjut menjadi obrolan ringan. Sekarang, mereka kembali ke hubungan kerja yang jelas.
Pada siang hari, Toni membawa kopi ke meja sekretariat. 'Kamu sudah makan?'
'Belum. Saya menunggu jadwal telepon dengan pihak hotel selesai.'
'Jadwalnya sudah mundur setengah jam. Ayo makan dulu. Saya yang akan jawab kalau mereka menelepon.'
Kalina akhirnya ikut ke kantin. Mereka mengambil makanan cepat, lalu duduk di meja dekat jendela. Toni membicarakan persiapan perjalanan ke Bali dan kemungkinan harus menginap beberapa hari lebih lama.
'Kamu pernah ke lokasi hotelnya?' tanya Kalina.
'Belum. Dulu hanya lihat foto. Katanya bangunannya dekat pantai, tapi beberapa fasilitas perlu direnovasi.'
Kalina bertanya tentang kebutuhan tim dan Toni menjelaskan beberapa detail. Mereka berbicara santai, nyaman sebagai rekan kerja yang sudah sering menyelesaikan tugas bersama.
'Kamu dan Pak Akhtar kelihatannya sudah bisa bekerja sama dengan baik,' kata Toni.
Kalina sedikit terkejut. 'Memang seharusnya begitu. Saya sekretarisnya.'
'Betul. Maksud saya, kamu cepat memahami cara beliau bekerja.'
'Saya berusaha belajar.'
Toni mengangguk dan tidak melanjutkan. Ia tahu Kalina tidak suka dibahas secara pribadi. Ia juga melihat Akhtar lebih sering memeriksa pekerjaan yang Kalina tangani, namun ia belum yakin apakah itu hanya bentuk kepercayaan profesional.
Setelah makan, mereka kembali ke lantai atas. Panggilan dengan pihak hotel berlangsung hampir satu jam. Ada perubahan terkait akses kendaraan dan jadwal pemeriksaan kamar. Kalina mencatat setiap keputusan, lalu menyusun notulen.
Menjelang sore, Akhtar meminta semua tim menyiapkan dokumen tambahan. Ia ingin membandingkan biaya renovasi dengan anggaran awal. Kalina dan Toni kembali bekerja bersama. Mereka membagi tugas dan menargetkan selesai sebelum kantor tutup.
Namun beberapa data baru masuk terlambat. Ketika jam kerja berakhir, mereka masih belum selesai. Toni menghela napas sambil memijat tengkuknya.
'Sepertinya kita akan lembur lagi.'
'Setidaknya kita sudah punya semua berkas yang dibutuhkan.'
'Kamu selalu mencoba melihat sisi baiknya, ya?'
'Kalau tidak begitu, rasanya tambah capek.'
Toni tersenyum. 'Itu benar.'
Mereka bekerja sampai lampu kantor lain mulai padam. Akhtar masih berada di ruangannya, meninjau laporan dan berbicara dengan tim pusat. Sesekali ia keluar untuk mengambil minum. Setiap kali melewati meja Kalina, ia bertanya apakah mereka memerlukan sesuatu.
'Kami aman, Pak,' kata Kalina ketika ia bertanya lagi.
'Jangan lupa beristirahat sebentar. Kalian sudah bekerja sejak pagi.'
'Baik, Pak.'
Toni menunggu Akhtar masuk kembali, lalu bergumam, 'Beliau jarang mengingatkan saya istirahat.'
'Mungkin karena Mas Toni sudah senior dan bisa mengurus diri sendiri.'
'Atau karena kamu lebih rajin mengingatkan beliau soal jadwal makan.'
Kalina menoleh. 'Saya hanya mengatur jadwal.'
'Saya tahu.' Toni segera mengangkat tangan. 'Saya cuma bercanda.'
Kalina menghela napas, tetapi tidak marah. 'Jangan bercanda begitu di depan orang lain.'
'Tenang. Saya tahu batas.' Toni lalu kembali menatap layar. 'Saya cuma senang melihat ada orang yang membuat suasana kantor lebih hidup.'
Kalina tidak tahu harus menjawab apa. Ia berpura-pura sibuk memeriksa baris tabel. Perasaan yang ingin ia abaikan muncul lagi, meski ia mengingatkan diri bahwa kebaikan Akhtar tidak harus berarti sesuatu.
Dokumen akhirnya selesai mendekati pukul sembilan. Akhtar mengucapkan terima kasih dan meminta mereka pulang. Toni berjalan bersama Kalina ke area parkir, lalu mereka menuju mobil masing-masing. Akhtar masih berada di gedung, tetapi Kalina tidak kembali untuk berpamitan.
Sebelum menyalakan mobil fasilitas kantor, ia menerima pesan dari Kayra yang bertanya apakah ia sudah makan. Kalina menjawab sudah, lalu mengabarkan ia akan tiba sedikit terlambat. Kayra menyuruhnya langsung beristirahat begitu sampai rumah.
Kalina menutup ponsel dan menyandarkan kepala. Ia menyukai pekerjaannya, tetapi ritme hari-hari ini terasa melelahkan. Proyek Bali akan semakin padat, dan ia perlu menjaga dirinya agar tetap mampu membedakan urusan kantor dari perasaan pribadinya.