Jihan datang ke ruang sekretariat sebelum waktu makan siang. Wajahnya tampak cerah, berbeda dari biasanya ketika ia masih menghadapi laporan akhir bulan.
'Kalina, kamu sibuk?'
'Tidak. Ada apa?'
Jihan duduk di kursi tamu. 'Kaizan mengajakku makan siang.'
'Bagus, dong.'
'Dia bilang ingin membicarakan rencana pameran akhir pekan.'
'Kamu senang?'
'Sedikit.' Jihan berusaha menahan senyumnya, tetapi gagal. 'Mungkin dia memang cuma mau bahas pameran.'
Kalina menutup berkas yang sedang dibaca. 'Apa pun alasannya, kalian bisa makan dan ngobrol. Nggak perlu buru-buru menyimpulkan.'
'Itu juga yang kupikirkan.'
'Kalau begitu, nikmati saja.'
Jihan mengangguk. Ia terlihat ingin bercerita lebih banyak, tetapi ada panggilan masuk dari bagian keuangan. Ia berdiri dan berpamitan. Kalina ikut tersenyum melihat semangat temannya. Kabar baik seperti itu terasa menyegarkan di tengah rutinitas kantor.
Toni muncul setelah Jihan pergi. 'Dia kelihatan bahagia.'
'Kaizan mengajaknya makan.'
'Oh. Pantas.' Toni mengangkat alis. 'Kita perlu bersiap menghadapi cerita panjang nanti.'
Kalina tertawa. 'Biar saja. Dia memang pantas punya hari menyenangkan.'
Mereka kembali bekerja sampai waktu makan siang. Jihan mengirim foto makanan dari restoran dekat kantor, disertai pesan singkat bahwa Kaizan memilih tempat yang nyaman. Kalina membalas dengan emotikon senyum, lalu kembali memeriksa agenda Akhtar.
Hari itu Akhtar memiliki beberapa pertemuan dan satu panggilan dengan pemilik proyek. Kalina mengatur waktu istirahatnya agar tidak berbenturan. Ketika ia masuk membawa catatan, Akhtar sedang berbicara melalui telepon. Ia meletakkan berkas di meja dan hendak keluar, tetapi Akhtar memberi tanda untuk menunggu.
'Saya bisa kembali nanti, Pak,' kata Kalina pelan.
Akhtar menutup mikrofon. 'Tidak apa-apa. Letakkan saja.'
Kalina memberikan catatan agenda. 'Pertemuan dengan tim properti selesai pukul tiga. Panggilan dengan pemilik proyek dimajukan setengah jam.'
'Baik. Terima kasih.'
Ia kembali ke meja tanpa bertanya apakah Akhtar sudah makan. Ia tahu pertanyaan itu bukan masalah, tetapi ia tak ingin mengulang kebiasaan yang membuat hubungannya terasa terlalu akrab.
Sore itu, Kaizan menjemput Jihan di lobi setelah jam kerja. Jihan sempat mampir ke ruang sekretariat untuk berpamitan.
'Aku pulang duluan, ya. Kaizan sudah menunggu.'
'Hati-hati. Jangan lupa kabari kalau sampai.'
'Siap. Kamu juga jangan lembur terus.'
'Aku usahakan.'
Jihan tersenyum lalu pergi. Kalina kembali memeriksa pekerjaan yang tersisa. Toni sedang berbicara dengan tim lapangan dan Akhtar masih rapat. Ia meminta Kalina menyiapkan jadwal perjalanan sementara untuk kunjungan Bali.
'Kita kemungkinan berangkat Kamis minggu depan,' ujar Toni setelah menutup telepon. 'Tapi tiketnya belum bisa dipesan sebelum semua nama disetujui.'
'Saya susun dulu pilihan jadwalnya.'
Mereka membahas siapa saja yang perlu ikut serta. Akhtar, Toni, Kalina, dua orang dari operasional, dan satu perwakilan desain kemungkinan berangkat. Kalina mencatat kebutuhan setiap orang dan mengirimkan rancangan kepada Akhtar.
Ketika Akhtar keluar dari ruang rapat, ia melihat Toni dan Kalina berdiskusi. 'Ada perkembangan?'
Toni menjelaskan kemungkinan tanggal keberangkatan. Akhtar memeriksa jadwal, lalu meminta mereka menyiapkan alternatif jika penerbangan sore penuh.
'Saya urus malam ini,' kata Kalina.
'Tidak harus malam ini. Besok pagi cukup.'
'Baik, Pak.'
Akhtar kembali ke ruangannya. Toni menatap Kalina dan mengangkat bahu. 'Kita simpan untuk besok, sesuai instruksi.'
Kalina menutup berkas. Ia senang Akhtar menyuruhnya pulang tepat waktu. Namun ia berhati-hati agar tidak menerjemahkan perhatian itu sebagai sesuatu yang lebih dalam. Ia baru saja berjanji kepada dirinya untuk tidak mencari-cari makna tersembunyi.
Sebelum pulang, ia menerima pesan dari Jihan: 'Makan siangnya menyenangkan. Nanti kuceritakan.' Kalina membalas bahwa ia menunggu cerita itu. Ia melangkah keluar kantor dengan perasaan ringan, ikut bahagia melihat temannya membuka kemungkinan baru.
Akhtar menatap kalendernya pada pagi hari dan menyadari ada jeda kosong pada malam itu. Ia baru saja menerima pesan dari Giana yang mengatakan akan pergi bersama Rebeca. Mereka sempat berencana makan malam di rumah, tetapi Giana membatalkannya karena ada acara yang sudah lebih dulu ia janjikan.
'Kita bisa makan besok saja,' tulis Giana. 'Aku mungkin pulang agak malam.'
Akhtar membaca pesan itu tanpa menjawab segera. Ia tidak ingin membuat istrinya merasa bersalah karena memiliki kegiatan sendiri. Setelah beberapa menit, ia membalas singkat bahwa mereka bisa mengatur waktu lain.
Hari kerja berjalan padat. Tim proyek Bali meminta Akhtar menyetujui revisi anggaran, sementara bagian hukum membutuhkan tanda tangan untuk dokumen kerja sama. Kalina mengatur semua berkas dan memastikan tidak ada agenda yang tumpang tindih.
'Pak, apakah Bapak ingin saya pesan makan siang?' tanyanya setelah melihat jadwal yang penuh.
'Tidak perlu. Saya ada pertemuan di luar.'
'Baik, Pak.'
Akhtar keluar bersama Toni untuk bertemu pihak properti. Dalam pertemuan itu mereka membahas pembagian tanggung jawab dan target renovasi. Kalina tidak ikut; ia tetap di kantor untuk menyiapkan dokumen yang harus dikirim pada sore hari.
Saat Akhtar kembali, waktu sudah hampir pukul empat. Ia memeriksa laporan Kalina dan ingin menyampaikan apresiasi sekali lagi secara langsung atas kerja lembur mereka dua hari sebelumnya. Ia memanggil Kalina untuk masuk.
'Laporan ini sudah lengkap. Saya sudah kirim ke pemilik proyek.'
'Baik, Pak.'
'Terima kasih atas kerja kerasmu minggu ini.'
'Sama-sama. Toni juga banyak membantu.'
Akhtar mengangguk. Ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih personal, namun akhirnya kembali ke urusan pekerjaan. 'Untuk jadwal perjalanan, siapkan dua alternatif. Kita bahas besok.'
'Siap.'
Kalina keluar dari ruangan. Menjelang sore, Jihan mengirim pesan bahwa ia ingin bercerita tentang makan siangnya dengan Kaizan. Mereka membuat janji untuk berbicara saat istirahat esok. Kalina tersenyum dan meletakkan ponsel.
Akhtar selesai bekerja mendekati pukul tujuh. Ia mengetahui Giana belum pulang, dan rumah mungkin kosong. Ia merasa tak ingin langsung kembali ke sana. Beberapa minggu terakhir ia terbiasa mengisi kesepian dengan pekerjaan, tetapi malam itu ia ingin berhenti sejenak.
Toni sedang merapikan meja ketika Akhtar keluar dari ruangannya. 'Kamu mau pulang?'
'Sebentar lagi, Pak.'
'Saya ingin makan sesuatu. Ada tempat yang kamu rekomendasikan?'
Toni berpikir. 'Kalau mau yang sederhana, ada warung bebek enak di dekat Jalan Wijaya. Tapi mungkin Bapak bisa mengajak Kalina. Dia belum pulang, sepertinya.'
Akhtar menoleh ke meja sekretariat. Kalina sedang menyelesaikan catatan untuk besok. 'Dia masih bekerja?'
'Sepertinya sedang menutup laporan.'
Akhtar berjalan mendekat. 'Kalina, kamu sudah selesai?'
'Tinggal mengirim satu berkas, Pak.'
'Kalau begitu, setelah itu ikut makan malam. Ada warung bebek dekat Jalan Wijaya yang direkomendasikan Toni.'
Kalina tampak ragu. 'Apa ada pembahasan pekerjaan, Pak?'
Akhtar menggeleng. 'Tidak. Kalau kamu ada rencana lain, tidak apa-apa.'
Kalina terdiam beberapa detik. Kayra mengingatkannya tentang batas, tetapi ajakan makan malam dari atasan masih bisa dianggap biasa. Namun makan hanya berdua dapat terlihat berbeda. 'Terima kasih, Pak. Saya sebaiknya pulang saja. Besok kita perlu menyiapkan bahan rapat sejak pagi.'
Akhtar menerima jawabannya. 'Baik. Saya tidak akan menahanmu.'
Kalina menyelesaikan pengiriman berkas. Toni sudah pulang lebih dulu. Ia melewati ruang Akhtar untuk berpamitan.
'Selamat malam, Pak.'
'Selamat malam, Kalina. Hati-hati.'
Ia keluar dari gedung dan menuju mobil fasilitas kantor di area parkir. Akhtar melihatnya sebentar dari jendela sebelum kembali ke meja. Ia menyesali bahwa ajakannya mungkin membuat Kalina tidak nyaman. Ia tidak bermaksud melewati batas, hanya ingin makan bersama seseorang yang mengenal suasana kantor. Namun niat baik saja tidak selalu cukup jika situasinya bisa disalahpahami.
Ia akhirnya menuju warung bebek dekat Jalan Wijaya itu seorang diri. Makanannya memang enak, tetapi ruangan yang ramai terasa kosong baginya. Ia makan perlahan dan memikirkan rencana Bali, kemudian memaksa dirinya berhenti memikirkan Kalina. Ada rumah tangga yang harus ia rawat, sekalipun belakangan terasa jauh.
Pagi berikutnya, Kalina menyapa Akhtar seperti biasa. Ia tidak menyinggung ajakan makan malam dan Akhtar juga tidak. Mereka membicarakan agenda kunjungan Bali, memeriksa pilihan penerbangan, lalu menyepakati jadwal yang paling sesuai.
'Saya siapkan daftar penumpang dan kebutuhan hotel,' kata Kalina.
'Bagus. Pastikan tim operasional mendapat informasi hari ini.'
'Baik, Pak.'