Penerbangan ke Bali berlangsung tanpa kendala. Akhtar duduk di kursi depan bersama Toni, sementara Kalina duduk bersama dua orang dari tim operasional. Mereka membicarakan agenda setibanya di hotel dan menyusun urutan inspeksi. Kalina mencatat beberapa perubahan waktu yang harus disampaikan kepada pihak lapangan.
'Kita langsung ke lokasi setelah check-in?' tanya salah satu staf operasional.
'Kalau barang-barang sudah ditaruh dan semua siap, kita bisa mulai pukul dua,' jawab Kalina. 'Saya sudah konfirmasi dengan manajer hotel.'
Perjalanan kerja berjalan padat. Mereka memeriksa bangunan, bertemu tim renovasi, lalu membahas perkiraan biaya perbaikan. Akhtar memimpin diskusi dengan pemilik proyek, sementara Kalina mencatat keputusan dan memastikan tak ada permintaan yang terlewat. Toni membantu mengoordinasikan jadwal antarbagian.
Pada hari kedua, Arisa, kakak Akhtar yang tinggal di Ubud, menghubungi adiknya untuk mengajak makan bersama kedua anaknya. Ia mengajak Akhtar bertemu sebentar di restoran dekat pantai. Akhtar menyetujui setelah pekerjaan hari itu selesai. Kalina tidak ikut pada awalnya karena ada dokumen yang harus ia rapikan bersama Toni.
'Kamu yakin tidak mau ikut makan?' tanya Arisa saat Akhtar menghubunginya lagi.
'Aku masih menyelesaikan beberapa hal.'
Arisa tertawa di ujung telepon. 'Bawa sekretarismu sekalian. Biar anak-anak punya teman ngobrol.'
Akhtar menoleh ke Kalina yang sedang merapikan berkas. 'Kalina, kalau pekerjaanmu sudah selesai, Arisa mengajak kita makan. Dia ingin bertemu kita bersama anak-anaknya.'
Kalina ragu sesaat. Ia tahu ini pertemuan keluarga, tetapi Arisa pernah beberapa kali bersikap ramah kepadanya. 'Kalau Toni juga ikut, saya bisa bergabung sebentar.'
Toni setuju ikut. Mereka bertemu Arisa di restoran tepi pantai. Kedua keponakan Akhtar langsung menyambut pamannya dan meminta ia membantu memilih makanan. Mereka juga menyapa Kalina setelah Arisa mengenalkannya sebagai rekan kerja Akhtar.
'Tante Kalina bisa bantu pilihkan makanan penutup?' tanya anak yang lebih besar.
Kalina tertawa. 'Boleh. Kamu suka cokelat?'
'Suka!'
'Kalau begitu, kita cari yang ada cokelatnya.'
Arisa melihat mereka berbincang dan tersenyum. 'Anak-anak cepat akrab denganmu.'
'Mereka menyenangkan, Bu.'
Akhtar lebih banyak mendengarkan cerita Arisa tentang sekolah dan kegiatan anak-anak. Untuk beberapa saat, ia tampak jauh lebih santai dibanding saat rapat. Ia membantu salah satu keponakannya memotong makanan, lalu membiarkan anak itu mengambil kentang dari piringnya.
'Om Akhtar baik banget kalau sama anak-anak,' kata keponakannya yang berusia tujuh tahun.
Akhtar tertawa. 'Karena Om jarang bertemu kalian.'
Arisa mengabadikan momen itu dengan ponselnya. Ia mengambil beberapa foto keluarga, lalu satu foto saat Kalina membantu anak-anak memilih makanan penutup. Tidak ada yang terasa janggal bagi mereka. Itu hanya momen singkat saat pekerjaan memberi ruang untuk bertemu keluarga.
Setelah makan, Akhtar kembali ke hotel bersama Toni dan Kalina. Mereka harus menyiapkan bahan rapat pagi. Arisa mengirim beberapa foto kepada ibunya, Amalia, karena ia ingin menunjukkan bahwa anak-anak menikmati liburan. Salah satu foto memperlihatkan Akhtar, Kalina, dan dua keponakannya tertawa di meja makan.
Amalia membalas dengan pesan bahwa mereka terlihat seperti keluarga kecil. Arisa membacanya sambil tersenyum, tanpa memikirkan dampaknya. Ia meneruskan foto itu ke grup keluarga, tempat Giana juga menjadi anggota.
Giana melihat foto tersebut malam itu ketika sedang duduk di rumah. Ia memperbesar gambar, menatap wajah Akhtar yang tampak bahagia dan Kalina yang berdiri dekat anak-anak. Dadanya terasa sesak. Ia tak tahu konteks lengkap pertemuan tersebut, tetapi melihat gambar itu membuatnya membayangkan sesuatu yang tidak pernah ia saksikan sendiri.
Ia menulis kepada Arisa, menanyakan kapan foto itu diambil. Arisa menjawab bahwa mereka bertemu setelah pekerjaan selesai dan Toni juga ikut makan. Penjelasan tersebut seharusnya cukup, tetapi Giana terus melihat foto itu. Dalam pikirannya, orang-orang di sekeliling Akhtar tampak lebih akrab daripada dirinya.
Akhtar pulang ke kamar hotel malam itu setelah menyelesaikan rapat daring. Ia menerima pesan dari Giana yang hanya berbunyi, 'Kamu terlihat bahagia di foto.' Ia membalas bahwa ia senang bertemu Arisa dan anak-anak. Giana tidak menjawab lagi.
Kalina tidak mengetahui foto itu sudah dikirim ke grup keluarga. Ia menyiapkan dokumen untuk pagi berikutnya lalu tidur dengan pikiran penuh agenda. Perjalanannya masih akan berlangsung satu hari lagi, dan ia berniat menyelesaikan tanggung jawabnya tanpa terlibat dalam urusan pribadi siapa pun.
Pagi berikutnya, Giana membuka kembali foto dari Arisa. Ia telah melihatnya beberapa kali sejak malam sebelumnya. Makin lama ia memperhatikan, makin kuat keyakinannya bahwa Akhtar tampak nyaman bersama Kalina. Ia mencoba mengabaikan pikiran itu, tetapi setiap kali ponselnya menyala, ia berharap Akhtar mengirim penjelasan lebih panjang.
Di Bali, Akhtar dan tim mengunjungi lokasi proyek terakhir. Kalina mencatat masalah pada area lobi, sementara Toni mendiskusikan opsi perbaikan dengan manajer hotel. Mereka baru selesai menjelang sore.
'Saya sudah rangkum semua temuan,' kata Kalina kepada Akhtar. 'Ada tiga hal yang butuh persetujuan direksi sebelum tim renovasi mulai bekerja.'
Akhtar memeriksa catatan. 'Kirim ke saya malam ini. Besok kita bicarakan dengan tim pusat.'
'Baik, Pak.'
Malam itu Arisa mengirim pesan kepada Akhtar bahwa ibu mereka senang melihat foto keluarga. Ia bercanda bahwa anak-anak terus bertanya kapan pamannya kembali mengajak mereka makan. Akhtar menjawab bahwa ia akan datang berkunjung saat jadwalnya lebih longgar.
'Ibu juga bertanya soal Giana,' tulis Arisa. 'Katanya kalian jarang datang bersamaan.'
Akhtar membaca pesan itu dengan hati-hati. Ia tahu Amalia berharap rumah tangganya dan Giana semakin dekat. Ia sendiri belum mampu menjelaskan bahwa hubungan mereka belakangan terasa kosong. 'Nanti aku bicara dengan Ibu,' balasnya.
Saat mereka kembali ke Jakarta, Giana menunggu Akhtar di rumah. Ia tidak menyambutnya dengan marah, tetapi sikapnya dingin. Akhtar bertanya bagaimana harinya, dan Giana menjawab singkat bahwa ia baik-baik saja.
'Kamu sudah lihat foto dari Arisa?' tanya Akhtar.
'Sudah.'
'Kami hanya makan setelah pekerjaan selesai. Toni juga ikut.'
'Aku tidak bertanya.'
Akhtar meletakkan tasnya. 'Kamu mengirim pesan tentang foto itu.'
'Aku cuma bilang kamu terlihat bahagia.'
Ia memahami bahwa ada sesuatu yang mengganggu istrinya, tetapi tidak ingin memaksa percakapan saat Giana belum siap. 'Aku senang bertemu keponakan-keponakanku. Aku senang bisa menyediakan waktu untuk mereka di sela perjalanan kerja.'
Giana mengangguk. 'Bagus.'
Ia kemudian masuk ke kamar, meninggalkan Akhtar di ruang tengah. Akhtar menarik napas dan mencoba mengerti mengapa foto yang sederhana itu memicu reaksi demikian. Ia tahu Giana mungkin merasa tersisih, tetapi ia tidak menyadari bahwa kecemburuan istrinya tertuju pada Kalina.
Keesokan pagi, Kalina kembali bekerja di kantor. Ia membawa ringkasan proyek dan melaporkan hasil kunjungan kepada Akhtar. Mereka berbicara di ruang rapat kecil bersama Toni. Giana menelepon Akhtar saat pertemuan itu belum selesai. Akhtar menolak panggilan dan mengirim pesan bahwa ia akan menelepon kembali.
Ketika rapat selesai, Akhtar menghubungi istrinya. Giana bertanya apakah ia sedang bersama Kalina. Akhtar terkejut dengan pertanyaan itu.
'Saya sedang rapat dengan tim, termasuk Kalina dan Toni.'
'Kalian selalu bersama sekarang?'
'Kalina sekretaris saya. Dia ikut mengurus proyek.'
'Aku tahu pekerjaannya. Aku hanya bertanya.'
Akhtar memilih tidak membalas dengan nada defensif. 'Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kita bisa membicarakannya malam nanti.'
'Nanti saja.' Giana menutup telepon.
Akhtar menatap layar beberapa detik. Ia bertanya-tanya apakah Giana hanya sedang lelah atau ada masalah lain yang ia lewatkan. Ia kemudian kembali pada pekerjaannya. Kalina sudah mengirimkan notulen rapat dan menunggu instruksi berikutnya.
Di meja sekretariat, Kalina menerima pesan dari Kayra yang menanyakan apakah perjalanan ke Bali menyenangkan. Kalina membalas bahwa pekerjaan cukup padat, tetapi lancar. Ia tidak menyebut foto keluarga atau sikap Giana. Ia belum tahu bahwa namanya mulai menjadi pusat kecurigaan di rumah Akhtar.