Sabtu berikutnya, Akhtar pulang dari pusat kebugaran dan kembali mendapati Giana tidak berada di rumah. Asisten rumah tangga mengatakan istrinya baru pergi dan berpesan akan segera kembali. Akhtar naik ke kamar, membersihkan diri, lalu mengambil kunci mobil. Kali ini ia tidak sekadar keluar mencari makan. Ia mengarahkan kendaraan ke apartemen Kalina.
Di depan gedung ia melihat Kalina, Kayra, dan Jihan berangkat bersama. Ia mengikuti mobil mereka sampai ke pusat perbelanjaan, memakai topi, lalu menjaga jarak saat ketiganya memasuki kawasan tempat makan. Ia bisa saja menyapa seperti pekan sebelumnya. Sebaliknya, ketika Kalina meninggalkan meja untuk ke toilet, ia mendekat dan membawanya pergi tanpa memberi kesempatan kepada kedua sahabatnya mengetahui tujuan mereka.
Tas, dompet, dan ponsel Kalina tertinggal di meja. Di dalam mobil yang berhenti di Segarra Ancol, kemarahannya bercampur dengan perasaan yang selama ini ia tahan. Akhtar menggenggam tangannya, mendesaknya menjawab, lalu menariknya ke dalam pelukan ketika ia akhirnya mengaku tidak bisa berhenti memikirkan pria itu. Akhtar mengucapkan cinta dan menjanjikan kebahagiaan, meskipun Giana masih menjadi istrinya. Kalina membalas pelukan itu sambil menangis.
Ketika pelukan mereka terlepas, keadaan di luar jendela tetap sama. Ada pengunjung yang berjalan menuju restoran, petugas parkir yang memberi tanda kepada sebuah mobil, serta langit sore di atas laut. Tak ada satu pun yang berubah hanya karena mereka telah saling mengakui perasaan.
'Aku perlu menelepon Kayra,' kata Kalina.
Akhtar menatapnya sejenak sebelum mengambil ponsel. Kalina menerima benda itu dan mengetik nomor sahabatnya dari ingatan. Tangannya masih gemetar ketika panggilan tersambung.
'Lo di mana?' Suara Kayra langsung meninggi. 'Gue sama Jihan nyariin sampai dekat toilet. Tas lo masih di meja!'
'Gue sama Pak Akhtar. Di Ancol. Gue akan kembali ke mal.'
Kayra terdiam sesaat. 'Gimana bisa sampai sana? Lo boleh pulang?'
Pertanyaan itu membuat Kalina memandang pintu mobil. Ia dapat mengulurkan tangan ke gagangnya, tetapi sejak meninggalkan mal ia belum benar-benar ditanya apakah ingin datang ke sini.
'Gue akan pulang sekarang,' jawabnya. 'Tolong tunggu di tempat makan tadi. Maaf sudah bikin kalian khawatir.'
'Gue tunggu. Kalau rencana berubah, telepon lagi. Jangan menghilang begitu saja.'
Kalina mengakhiri panggilan dan menyerahkan ponsel kepada Akhtar. Pria itu tidak segera menyalakan mesin. Untuk pertama kalinya sore itu, ia tampak kehilangan kalimat yang selalu ia gunakan untuk mendekat.
'Bapak mendengar Kayra tadi?' tanya Kalina.
'Iya.'
'Mereka tidak tahu saya di mana. Saya tidak punya ponsel atau uang. Saya tadi cuma pergi ke toilet.'
Akhtar menunduk ke arah kunci di tangannya. 'Saya minta maaf.'
'Bukan cuma karena saya marah. Bapak mengikuti kami, lalu memutuskan saya harus ikut. Saya juga punya rencana hari ini.'
Ia berhenti untuk menenangkan napas. Beberapa menit sebelumnya ia begitu bahagia mengetahui perasaannya berbalas. Sekarang ia harus mengakui bahwa kebahagiaan itu tidak menghapus ketakutan sahabat-sahabatnya atau membuat tindakan Akhtar menjadi pantas.
'Saya ingin mendengar jawabanmu,' ujar Akhtar pelan.
'Dan saya ingin diberi kesempatan menolak sebelum dibawa sejauh ini.'
Akhtar memandangnya. Ia teringat bagaimana ia memotong jawaban Kalina, bagaimana ia menganggap keberatan gadis itu sebagai sesuatu yang dapat ia luluhkan dengan kedekatan. Ia tidak dapat menyebut semua itu perhatian hanya karena Kalina akhirnya memeluknya.
'Kamu benar. Saya yang mengambil keputusan itu. Seharusnya saya bertanya, lalu menerima jawabanmu.'
'Sekarang antar saya kembali.'
Akhtar mengangguk dan menyalakan mesin. Sebelum bergerak, ia menanyakan apakah Kalina ingin langsung ke mal atau berhenti di tempat lain untuk menenangkan diri. Kalina memilih mal. Ia tidak ingin kedua sahabatnya menunggu lebih lama.
Dalam perjalanan, Akhtar tidak mencoba menggenggam tangannya lagi. Kalina menatap jalan, lalu mengusap air mata yang mulai mengering di pipi. Ia tidak menyesali kejujurannya tentang perasaan sendiri. Yang membuatnya takut ialah betapa mudah kejujuran itu berubah menjadi alasan untuk menerima keadaan yang sebenarnya tidak ia inginkan.
'Bapak tadi menjanjikan saya bahagia,' katanya akhirnya.
'Saya sungguh ingin itu.'
'Tapi bagaimana dengan Ibu Giana? Beliau bahkan tidak tahu kita ada di sini.'
Akhtar menggenggam kemudi lebih erat. Ia bisa mengulang keluhan tentang rumah yang sepi, janji makan malam yang batal, atau istrinya yang pergi bersama Rebeca. Namun tidak satu pun menjawab pertanyaan Kalina.
'Saya belum menyelesaikan masalah kami,' katanya.
'Kalau begitu, jangan meminta saya menerima hubungan seolah semuanya sudah selesai.'
'Saya mengerti.'
Kalina belum tahu apakah pria itu benar-benar akan mengerti setelah sore ini. Ia juga belum dapat mempercayai dirinya sendiri untuk selalu menolak saat perasaan kembali menguasai. Karena itu ia memilih tidak membuat janji apa pun di dalam mobil.
Kalina juga meminta agar kejadian itu tidak dibawa ke kantor untuk menilai pekerjaannya. Akhtar menjawab bahwa tugas dan penilaiannya tidak boleh bergantung pada jawaban pribadi yang ia berikan sore itu.
Saat mereka tiba, Kayra dan Jihan sudah menunggu di dekat pintu pusat perbelanjaan. Jihan membawa tas Kalina dengan kedua tangan. Kayra berjalan lebih dahulu, memeriksa wajah sahabatnya sebelum melirik Akhtar di kursi pengemudi.
'Gue pulang sama kalian,' kata Kalina.
Akhtar tidak turun untuk menahan atau meminta berbicara lagi. Ia mengucapkan maaf karena membuat mereka khawatir. Kayra menjawab singkat bahwa lain kali Kalina harus dapat menentukan sendiri ke mana ia pergi. Akhtar menerima ucapan itu, lalu menunggu sampai ketiga perempuan tersebut berjalan menuju area parkir.
Di dalam mobil Kayra, Kalina membuka ponselnya. Ada banyak panggilan yang tidak terjawab, semuanya dari orang-orang yang hanya berjarak beberapa langkah darinya sebelum ia meninggalkan mal. Jihan tidak bertanya apa yang dibicarakan di Ancol. Ia memberikan tisu dan menanyakan apakah Kalina ingin minum.
'Nanti gue cerita,' kata Kalina kepada Kayra.
'Oke. Tapi kali ini jangan cuma bilang capek.'
Kalina mengangguk. Ia menyimpan ponsel di dalam tas dan menatap kedua sahabatnya bergantian. Hari yang semula mereka rencanakan untuk bersantai telah berubah. Ia tidak dapat mengembalikannya, tetapi malam ini ia bisa mulai mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.