Malam sepulang dari Ancol, Kayra menemukan Kalina menangis sendirian di dapur. Kalina segera menghapus air matanya dan berkata matanya kelilipan. Kayra mematikan kompor dan berdiri di hadapannya.
'Lin, cukup. Gue tahu ada yang lebih besar dari sekadar capek.'
'Nggak ada apa-apa.'
'Jangan bohong sama gue.'
Kalina menunduk. Ia tahu ia tidak bisa terus menyembunyikan semuanya. Namun menceritakan perasaannya kepada Kayra berarti mengakui bahwa ia telah membiarkan dirinya terlibat dengan pria yang masih menikah.
'Gue akan minta Pak Akhtar berhenti mendekati gue di luar pekerjaan,' katanya lirih.
Kayra menegang. Kalina mengangguk sebelum ia sempat bertanya lebih jauh. Kayra mundur selangkah, menatap sahabatnya dengan kaget dan kecewa.
'Apa maksudnya berhenti menghubungi? Selama ini kalian memang berhubungan?'
Kalina mulai menangis. Ia menceritakan pengakuan Akhtar di Segarra Ancol, pengakuan bahwa ia juga menyukainya, dan pelukan yang terjadi setelahnya. Ia juga menjelaskan bahwa mereka tidak sampai berhubungan seksual dan ia akan meminta hubungan mereka kembali sebatas pekerjaan.
Kayra mendengarkan tanpa menyela sampai Kalina selesai. Wajahnya semakin marah.
'Kamu mencintai pria yang masih punya istri?'
'Aku tidak merencanakan ini.'
'Tapi kamu pergi berdua dengannya. Kamu membalas perasaannya.'
'Aku tahu aku salah.'
'Dia masih suami orang, Lin. Giana tidak tahu apa yang terjadi hari ini. Kamu sadar itu?'
Kalina mengangguk sambil menangis. Kayra berjalan menjauh, mencoba menenangkan diri. Ia merasa dikhianati karena Kalina menyembunyikan sesuatu sebesar itu, tetapi ia juga melihat sahabatnya sedang hancur.
'Kenapa kamu nggak cerita dari awal?'
'Aku malu. Aku takut kamu akan marah.'
'Ya, gue marah. Tapi gue lebih marah karena kamu menghadapi ini sendirian.'
Kalina berkata ia ingin mengakhiri semua hubungan pribadi dengan Akhtar. Ia tidak mau menjadi alasan Giana terluka atau terus hidup dalam rahasia. Kayra menyuruhnya menepati keputusan tersebut.
'Jangan cuma bilang mau berhenti. Kamu harus benar-benar berhenti. Nggak ada pesan, nggak ada ketemuan, nggak ada alasan kerja yang dibuat-buat.'
'Aku tahu.'
Kayra duduk di sampingnya. 'Gue sayang sama lo. Tapi gue nggak akan pura-pura ini baik-baik saja. Lo harus memilih tindakan yang benar sekarang.'
Kalina mengangguk. Ia tidak meminta Kayra membelanya. Ia tahu sahabatnya berhak marah. Mereka duduk dalam diam beberapa menit sampai napas Kalina lebih teratur.
Malam itu, Kayra tidur di sofa ruang tengah agar Kalina tidak sendirian. Kalina mengirim pesan singkat kepada Jihan, mengatakan ia sedang mengalami masalah dan akan bicara nanti. Jihan menjawab bahwa ia siap mendengarkan kapan pun.
Kalina memikirkan Akhtar. Ia masih mencintainya, tetapi cinta itu kini terasa seperti sesuatu yang harus ia lepaskan demi orang-orang yang bisa terluka. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa pada Senin ia akan berbicara tegas kepada Akhtar.
Pada Senin, Kalina datang ke kantor dengan mata yang sedikit sembap. Ia sudah tidur, tetapi pikirannya terus kembali ke Segarra Ancol dan pengakuan Akhtar. Ia memilih pakaian kerja yang rapi, menata rambut, lalu mengingatkan diri bahwa ia tetap harus bertindak seperti biasanya.
Akhtar sudah berada di ruangannya. Ketika Kalina mengetuk pintu untuk menyerahkan agenda, ia menatap wajahnya sejenak.
'Kamu baik-baik saja?' tanyanya.
'Baik, Pak. Ini jadwal rapat hari ini.'
Kalina berbicara formal dan langsung meletakkan tablet di meja. Akhtar menangkap jarak itu, namun tidak menahannya. Ia membahas dua perubahan jadwal dan meminta Kalina menghubungi bagian pemasaran. Kalina mengiyakan, lalu keluar.
Sepanjang pagi, ia menyelesaikan pekerjaan tanpa membuat kesalahan. Namun setiap kali melewati pintu ruang CEO, ia teringat bagaimana Akhtar berkata mencintainya. Ia merasa lega karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, tetapi rasa bersalah menekan lebih kuat. Akhtar masih menikah dengan Giana. Pengakuan itu tak membuat hubungan mereka menjadi benar.
Saat istirahat makan siang, Kalina mengirim pesan kepada Akhtar, meminta berbicara sebentar setelah jam kerja. Ia menulis bahwa hal itu penting dan berkaitan dengan batas hubungan mereka. Akhtar membalas singkat, menyetujui.
Sore itu, Toni pulang lebih dulu untuk menghadiri pertemuan keluarga. Kalina menunggu sampai lantai kantor lebih sepi, lalu masuk ke ruang Akhtar. Ia berdiri di dekat pintu, tidak duduk.
'Saya ingin menjelaskan sikap saya, Pak,' katanya.
Akhtar mengangguk. 'Silakan.'
'Saya juga punya perasaan kepada Bapak. Tapi saya tidak mau hubungan kita berubah menjadi sesuatu yang harus disembunyikan saat Bapak masih menikah.'
'Saya mengerti.'
'Saya minta kita tetap berhubungan sebagai atasan dan sekretaris. Jangan ada ajakan bertemu berdua di luar urusan kantor, jangan ada pesan pribadi, dan jangan ada sentuhan seperti di Ancol.'
Akhtar menunduk sejenak. 'Saya setuju. Saya tidak ingin membuatmu berada dalam posisi sulit.'
'Kalau Bapak ingin memperbaiki rumah tangga, lakukan karena Bapak memang menginginkannya. Kalau hubungan itu berakhir, itu juga harus menjadi keputusan Bapak dan Ibu Giana. Saya tidak mau menjadi alasan atau tujuan dari keputusan tersebut.'
'Kamu benar.'
Kalina menarik napas. 'Saya akan tetap menjalankan pekerjaan sebaik mungkin. Tapi kalau saya merasa situasinya melewati batas, saya akan minta dipindahkan atau mengundurkan diri.'
Akhtar terlihat ingin membantah, tetapi ia menahan diri. 'Saya tidak ingin kamu pergi. Namun saya menghormati keputusanmu.'
'Terima kasih.'
Mereka terdiam beberapa saat. Akhtar ingin mengatakan bahwa ia akan berusaha mengendalikan perasaan, tetapi janji itu terdengar kosong setelah apa yang terjadi. Ia akhirnya berkata bahwa Kalina tak perlu merasa bersalah karena jujur.
'Saya tidak ingin menyakiti Ibu Giana,' ucap Kalina.
'Saya tahu. Tanggung jawab itu milik saya.'
Kalina mengangguk, lalu keluar. Di lorong, ia berhenti sebentar untuk menenangkan diri. Ia lega karena telah menyatakan batas yang ia butuhkan, tetapi pengakuan mereka masih menggantung di antara keduanya.
Akhtar duduk lama di ruang kerja setelah Kalina pergi. Ia tahu aturan itu masuk akal. Ia harus mematuhi batas yang diminta Kalina. Namun ia juga menyadari bahwa menjaga jarak akan terasa sulit ketika mereka bertemu setiap hari.
Malamnya, Giana mengabari bahwa ia pulang setelah makan malam bersama Rebeca. Akhtar menanyakan apakah ia ingin makan bersama di rumah. Giana menjawab ia sudah makan, tetapi bersedia duduk sebentar. Mereka berbincang singkat tentang pekerjaan dan keluarga. Akhtar berusaha hadir, meski pikirannya beberapa kali kembali pada Kalina.
Kalina pulang ke apartemen dan menceritakan sebagian percakapan itu kepada Kayra. Ia mengatakan bahwa ia sudah meminta hubungan mereka tetap profesional. Kayra menyetujui, tetapi mengingatkan bahwa janji saja tidak cukup jika tindakan mereka bertolak belakang.
'Gue akan lihat tindakannya,' kata Kalina. 'Dan gue akan jaga diri sendiri.'
Kayra memeluknya singkat. Kalina merasa sedikit lebih kuat. Ia sudah melakukan satu hal yang benar, dan esok ia akan mengulang keputusan yang sama.