Hari-hari berikutnya, kesibukan kantor menuntut Kalina dan Akhtar bekerja bersama. Ada perubahan jadwal perjalanan dan dokumen kontrak yang perlu diperiksa. Mereka berbicara seperlunya, selalu di ruang terbuka atau dengan Toni di dekat mereka.
Kalina mengikuti batas itu dengan disiplin. Ia datang, bekerja, dan pulang tanpa mencari kesempatan untuk mengobrol pribadi. Namun perasaan tidak mudah dikendalikan. Setiap kali Akhtar mengucapkan terima kasih atau memuji hasil kerjanya, ada bagian dirinya yang ingin membalas dengan lebih hangat.
Pada suatu sore, Kalina menemukan catatan kecil di antara dokumen. Akhtar menuliskan bahwa susunan laporan sangat membantu dan berterima kasih atas ketelitiannya. Itu catatan kerja biasa, tetapi tulisan tangan Akhtar membuat Kalina tersenyum sebelum ia sadar. Ia segera melipat kertas itu dan menyimpannya di laci.
Jihan melihat senyumnya. 'Ada kabar baik?'
'Laporan proyek disetujui.'
'Pantas kamu senyum-senyum.'
Kalina tertawa. Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Jihan menerima jawabannya dan kembali ke ruang keuangan.
Akhtar juga merasakan hal yang sama. Saat membaca surel Kalina, ia menyukai caranya menulis ringkas dan jelas. Ia mengingat percakapan mereka tentang batas, lalu berusaha tidak menambahkan pesan yang tak perlu. Tetapi kemudian ia menyadari Kalina belum makan karena jadwal rapat beruntun. Ia memesan makanan untuk tim dan memastikan semua orang mendapat bagian, termasuk Kalina. Ia berkata pesanan itu untuk seluruh tim, bukan perhatian khusus.
Kalina menerima kotak makan dan mengucapkan terima kasih kepada Toni, yang membagikannya. Ia tahu Akhtar yang memesannya, tetapi tidak menganggapnya sebagai pesan tersembunyi. Ia makan bersama staf lain di ruang rapat.
Ketika Akhtar melewati ruangan, ia melihat Kalina sedang tertawa karena cerita Toni. Ia ingin bergabung, tetapi tetap berjalan menuju ruangannya. Ia memilih mematuhi batas yang telah disepakati.
Kayra mulai memperhatikan Kalina lebih sering tersenyum saat menerima surel kantor. Suatu malam, ketika mereka sedang duduk di ruang tengah, Kayra bertanya apakah Akhtar menghubunginya di luar jam kerja.
'Nggak ada pesan pribadi,' jawab Kalina.
'Tapi lo senyum tiap lihat nama dia.'
Kalina berpikir sebentar. 'Mungkin karena pekerjaannya berjalan baik.'
Kayra tidak terlihat yakin. 'Lin, gue nggak mau mengatur perasaan lo. Tapi jangan biarkan hal kecil membuat lo berharap lagi.'
'Aku tahu. Kami sudah sepakat tetap profesional.'
'Dia juga tahu?'
'Iya.'
Kayra meminta Kalina memegang kesepakatan itu dan menjaga jarak jika merasa mulai terbawa suasana. Kalina berjanji. Ia tahu Kayra tidak ingin membuatnya sedih; ia hanya khawatir Kalina akan terluka.
Malam itu, Kalina menerima surel dari Akhtar yang meminta revisi jadwal untuk besok. Ia membalas dengan dokumen terlampir dan menutup laptop. Ia berusaha memikirkan hal lain, tetapi wajah Akhtar tetap muncul dalam pikirannya.
Akhtar di rumah membuka foto lama bersama Giana. Ia ingin mengajak istrinya makan malam lebih cepat, tetapi Giana mengirim pesan bahwa ia sudah membuat rencana dengan Rebeca. Akhtar menjawab bahwa mereka bisa mencari hari lain. Ia tidak ingin marah, tetapi ia kembali merasa tersisih.
Ia bertanya-tanya mengapa perasaan terhadap Kalina terasa begitu mudah tumbuh ketika hubungannya dengan Giana renggang. Ia tahu hal itu bukan pembenaran. Ia harus berhati-hati agar tidak menggunakan perhatian Kalina untuk mengisi kekosongan rumah tangganya.
Senin kembali dimulai dengan rutinitas kantor. Kalina menyiapkan jadwal Akhtar, membalas surel dari tim proyek, lalu memastikan semua dokumen perjalanan tersimpan. Ia berusaha fokus, tetapi akhir pekan Akhtar bersama Giana sempat memenuhi pikirannya. Ia ingin percaya bahwa mereka sedang memperbaiki hubungan.
Akhtar tiba beberapa menit sebelum rapat. Ia menyapa Kalina seperti biasa dan meminta laporan yang harus dibawa ke ruangan direksi. Kalina menyerahkannya tanpa menambahkan kalimat lain. Mereka sepakat tetap profesional, dan ia tidak ingin melupakan alasan di balik kesepakatan itu.
Menjelang siang, sebuah rapat dibatalkan. Kalina menyampaikan perubahan jadwal kepada Akhtar. Ia melihat atasannya tampak lelah dan menawarkan kopi untuk tim. Akhtar menerima, kemudian mengucapkan terima kasih. Percakapan mereka berakhir begitu saja.
Saat jam makan siang, Akhtar mengirim pesan singkat melalui aplikasi kantor: 'Sudah makan? Ada rapat beruntun setelah ini.' Kalina membaca pesan itu dan terdiam. Ia bisa saja menjawab bahwa ia akan makan, tetapi ia khawatir pesan pribadi akan kembali membuka pintu yang sudah ia tutup.
Ia membalas, 'Saya sudah menjadwalkan waktu istirahat, Pak. Terima kasih.'
Akhtar melihat balasan itu dan menyadari jarak yang sengaja dijaga. Ia tidak kecewa pada Kalina. Ia yang memulai semuanya, dan Kalina berhak menentukan bagaimana ia ingin melanjutkan. Ia menutup ponsel dan kembali ke rapat.
Hari berikutnya, Akhtar mencoba tidak mengirim pesan di luar urusan kerja. Namun ketika ia melihat Kalina berjalan ke kantin bersama Jihan, ia mengingatkan dirinya untuk berhenti mencari alasan. Ia punya pernikahan yang harus dipahami dan tanggung jawab yang tak bisa ia alihkan kepada orang lain.
Pada sore hari, Kalina diminta menunggu sebentar setelah rapat untuk membahas dokumen. Toni berada di ruang yang sama, jadi percakapan mereka tetap terbuka. Akhtar menjelaskan perubahan anggaran, lalu meminta Kalina memperbarui tabel.
'Saya kirimkan sebelum pulang,' jawabnya.
'Terima kasih.'
Ketika Toni keluar mengambil berkas, suasana mendadak hening. Akhtar dan Kalina saling menatap sesaat. Akhtar hampir mengatakan bahwa ia merindukannya, namun ia menahan diri.
Kalina mengalihkan pandangan ke dokumen. 'Ada hal lain, Pak?'
'Tidak. Itu saja.'
Ia kembali ke mejanya dan menyelesaikan perubahan anggaran. Malamnya, ia menerima pesan dari nomor pribadi Akhtar: 'Terima kasih sudah menyelesaikan laporan. Istirahat yang cukup.' Kalina memandang layar cukup lama. Pesan itu sederhana, tetapi bukan bagian dari pekerjaan.
Ia membalas, 'Baik, Pak. Selamat malam.' Setelah itu ia mematikan notifikasi percakapan tersebut. Ia tidak ingin membiarkan satu pesan menjadi awal dari hubungan rahasia.
Di rumah, Akhtar membaca balasan itu berulang kali. Ia tahu Kalina sengaja memberi jawaban yang sopan dan pendek. Ia ingin menghapus pesannya, tetapi sudah terkirim. Ia berjanji tidak akan mengulanginya.
Giana pulang malam itu setelah bertemu Rebeca. Akhtar bertanya apakah mereka masih berencana makan malam akhir pekan. Giana berkata ia akan melihat jadwal. Akhtar tak ingin mendesak. Ia mencoba menunjukkan perhatian, tetapi percakapan mereka tetap terasa berhati-hati.
Kalina bercerita kepada Kayra bahwa ia menerima pesan pribadi dari Akhtar dan sudah menjawab singkat. Kayra menatapnya serius.
'Kalau kalian sepakat profesional, jangan biarkan pesan kecil jadi kebiasaan.'
'Aku tahu. Aku tidak membalas lebih dari itu.'
'Bagus. Lo nggak perlu jadi kasar, tapi batasnya harus jelas.'
Kalina mengangguk. Ia menyukai Akhtar, tetapi ia tidak mau menjadi tempat Akhtar mencari kenyamanan sementara ia masih menikah. Ia berharap Akhtar juga akan menghormati batas itu.
Toni mulai memperhatikan perubahan pada Akhtar. Ia lebih sering memeriksa ponsel, kadang menunda pulang, dan beberapa kali menanyakan jadwal Kalina meski informasi itu sudah ada di kalender. Toni tahu sahabatnya sedang terjebak dalam perasaan yang rumit.
Suatu sore, setelah rapat selesai, Toni mengajak Akhtar bicara di ruangannya. 'Kamu harus berhati-hati dengan Kalina.'
Akhtar menatapnya. 'Kenapa?'
'Kamu tahu kenapa.'
Akhtar diam.
Toni melanjutkan, 'Dia masih sekretarismu. Kamu masih menikah. Jangan membuat dia merasa harus membalas perhatianmu.'
'Saya tidak pernah memaksanya.'
'Mungkin tidak dengan kata-kata. Tapi kamu CEO-nya. Setiap ajakan atau pesan dari kamu punya bobot lain.'
Akhtar menerima teguran itu. Ia tidak ingin Kalina merasa tertekan karena posisinya. 'Saya akan menjaga jarak.'
'Dan bereskan masalah rumah tanggamu. Jangan menggunakan Kalina untuk mengisi bagian yang kosong.'
Akhtar mengangguk. Ia tahu Toni mengatakan hal yang benar. Toni juga mengatakan bahwa Kalina terlihat berusaha keras menjaga batas, dan ia tidak seharusnya menguji kesabaran perempuan itu.
Pada hari yang sama, Kalina menerima pesan dari Jihan bahwa kencan pameran bersama Kaizan berjalan menyenangkan. Mereka makan setelahnya dan berbicara lama. Jihan mengaku mulai merasa ada kemungkinan hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
Kalina ikut senang. 'Kamu pantas bahagia, Jihan. Tapi tetap jalani pelan-pelan.'
'Aku tahu. Kamu sendiri bagaimana?'