Pada Jumat pagi, Giana datang ke kantor dengan senyum yang lebih cerah daripada beberapa hari sebelumnya. Ia membawa kopi untuk Akhtar dan menyapa Kalina dengan nada sopan. Kalina membalas salamnya dan menawarkan untuk memberi tahu suaminya.
'Tidak perlu, saya bisa masuk sendiri,' kata Giana.
Ia mengetuk pintu ruang CEO, lalu masuk. Akhtar tampak terkejut melihatnya, tetapi menerima kopi yang dibawanya.
'Aku ingin mengajakmu keluar akhir pekan ini,' kata Giana. 'Kita sudah lama tidak pergi berdua.'
Akhtar meletakkan cangkir. 'Kamu sudah punya rencana?'
'Belum. Aku pikir kita bisa ke luar kota satu malam. Atau sekadar makan malam dan menginap di hotel.'
Akhtar mempertimbangkan jadwalnya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi ia dapat mengaturnya. 'Aku bisa. Kita pilih tempat yang kamu suka.'
Giana tampak senang. 'Aku akan cari beberapa pilihan.'
Percakapan itu membuat Akhtar merasakan harapan yang bercampur kebingungan. Ia ingin menyambut usaha Giana, namun pikirannya masih menyimpan pengakuan kepada Kalina dan kesepakatan batas mereka. Ia merasa tidak jujur jika berpura-pura semua baik-baik saja, tetapi ia juga tidak ingin membatalkan ajakan istrinya.
Giana keluar dari ruangannya dan meminta Kalina menyampaikan bahwa mereka akan pergi akhir pekan. Kalina mengangguk. Ia tidak bertanya ke mana atau berapa lama. Namun mendengar Giana ingin menghabiskan waktu bersama Akhtar membuatnya merasa lega sekaligus terluka.
Ia duduk kembali di mejanya dan membuka agenda. Ia sengaja memusatkan perhatian pada pekerjaan. Toni memperhatikan ia diam lebih lama dari biasanya.
'Ada masalah?'
'Tidak. Saya hanya memeriksa jadwal.'
'Kamu yakin?'
'Iya.'
Toni tidak mengejar. Ia membawa berkas ke ruang rapat, meninggalkan Kalina sendiri dengan pikirannya.
Saat makan siang, Jihan mengajak Kalina ke kantin. Kalina hampir tidak bicara sampai Jihan menanyakan apakah ia sedang khawatir soal proyek. Kalina menggeleng dan berkata ia sedang mencoba menerima bahwa Akhtar akan memperbaiki hubungan dengan istrinya.
Jihan menatapnya hati-hati. 'Kamu masih punya perasaan?'
Kalina tidak menjawab langsung. 'Iya. Tapi aku nggak mau membiarkan itu menentukan tindakanku.'
'Kamu kuat, Lin.'
'Aku cuma mencoba melakukan yang benar.'
Mereka menghabiskan sisa makan siang dengan membicarakan hal lain. Kalina senang Jihan tidak memaksanya menjelaskan lebih banyak.
Sore itu, Akhtar menyelesaikan pekerjaan lebih awal. Giana mengirim beberapa pilihan hotel dan restoran. Ia meminta Akhtar memilih. Akhtar melihat lokasi-lokasi itu dan menyetujui salah satu yang dekat pantai. Ia ingin mencoba hadir sepenuhnya selama akhir pekan.
Sebelum pulang, ia melewati meja Kalina. 'Saya tidak menjadwalkan pekerjaan akhir pekan ini. Kalau ada kebutuhan mendesak, hubungi Toni.'
'Baik, Pak.'
Akhtar menatapnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya mengangguk dan pergi. Kalina menunggu sampai ia masuk lift sebelum kembali ke layar komputer.
Di rumah, Kayra menyadari Kalina lebih pendiam. Kalina mengatakan Akhtar dan Giana merencanakan akhir pekan bersama. Kayra menyentuh bahunya.
'Itu bagus untuk mereka. Dan mungkin bagus juga buat lo, supaya bisa menjaga jarak.'
Kalina mengangguk, mencoba meyakinkan diri bahwa ia memang menginginkan itu.
Sabtu pagi, Akhtar dan Giana berangkat menuju hotel kecil di luar kota. Giana terlihat bersemangat dan memilih musik sepanjang perjalanan. Akhtar berusaha menanggapi ceritanya dengan perhatian. Ia bertanya tentang Rebeca dan kegiatan sosial yang diikuti istrinya.
'Aku senang kamu mau ikut,' kata Giana.
'Aku juga senang kita bisa pergi bersama.'
Giana menatapnya sebentar, seolah mencoba memastikan kata-katanya tulus. Akhtar tahu ia masih memiliki rasa peduli terhadap istrinya. Namun ada bagian dirinya yang membandingkan ketenangan berbicara dengan Kalina dan kebiasaan lama bersama Giana. Ia merasa bersalah karena perbandingan itu muncul.
Mereka makan siang di restoran hotel dan berjalan di tepi pantai. Giana memotret pemandangan, lalu meminta Akhtar berdiri di sampingnya. Akhtar menurut. Untuk beberapa menit, mereka tampak seperti pasangan yang sedang menikmati akhir pekan biasa.
Giana memegang tangan Akhtar. 'Aku ingin kita coba lagi. Aku tahu banyak hal yang salah di antara kita, tapi aku tidak mau menyerah begitu saja.'
Akhtar meremas jemarinya pelan. 'Aku juga ingin kita mencoba bicara lebih jujur.'
'Termasuk soal anak?'
Akhtar terdiam. Mereka pernah membicarakan memiliki anak, tetapi Giana selalu menolak karena belum siap. Ia tidak ingin memaksanya. 'Kita bisa membicarakannya saat kamu siap. Aku tidak mau menjadikan itu syarat.'
Giana tampak lega. Ia menyandarkan kepala sebentar di bahu Akhtar. Akhtar membiarkan, tetapi hatinya terasa berat. Ia ingin menghormati istrinya, namun ia tak yakin apakah usaha ini akan mengembalikan perasaan mereka.
Di Jakarta, Kalina menghabiskan akhir pekan bersama Kayra dan Abian. Mereka pergi makan siang dan menonton film. Kayra sengaja tidak membahas Akhtar, tetapi ia melihat Kalina beberapa kali memeriksa ponsel.
'Dia belum menghubungi,' kata Kayra.
Kalina terkejut. 'Aku cuma lihat jam.'
'Tentu.'
Kalina menghela napas. 'Aku senang dia menghabiskan waktu dengan Giana. Aku cuma perlu membiasakan diri.'
'Itu wajar. Tapi ingat, kamu tidak perlu menunggu kabar darinya.'
'Aku tahu.'
Mereka menonton film sampai selesai. Kalina tertawa pada bagian lucu, tetapi sesekali pikirannya kembali ke Akhtar. Ia membenci betapa mudah perasaannya berpindah antara lega karena ia bersama istrinya dan sedih karena dirinya tidak ada di sana.
Saat makan malam di hotel, Giana bercerita tentang masa kecilnya dan bagaimana ia dulu membayangkan pernikahan yang penuh perjalanan dan percakapan panjang. Akhtar mendengarkan tanpa memotong. Ia mengakui bahwa ia terlalu sering menganggap Giana akan selalu ada, sehingga tidak berusaha menjaga kedekatan mereka. Giana terkejut mendengarnya, lalu berkata ia juga ikut membiarkan jarak itu tumbuh.
Mereka tidak menyelesaikan semuanya, tetapi percakapan itu terasa lebih jujur daripada biasanya. Akhtar mengulurkan tangan di atas meja, dan Giana menyambutnya. Mereka sepakat mencoba membuat waktu bersama secara rutin. Akhtar merasa ada harapan, meski ia tidak berani menganggapnya sebagai jawaban akhir.
Minggu sore, Akhtar dan Giana pulang. Giana tampak lebih tenang dan berkata mereka harus mengulang akhir pekan seperti itu. Akhtar setuju. Mereka membawa pulang beberapa foto dan kenangan menyenangkan, tetapi percakapan sulit mereka belum selesai.
Akhtar kembali ke rumah dan memeriksa ponsel. Tidak ada pesan dari Kalina. Ia tidak mengirim pesan kepadanya. Ia tahu itu sesuai dengan kesepakatan, tetapi ia merindukan percakapan mereka. Ia menutup ponsel dan membantu Giana membongkar tas.