Amalia datang ke rumah keesokan paginya membawa makanan dan beberapa vitamin yang direkomendasikan dokter. Ia memeluk Giana dengan hangat, lalu duduk di sampingnya dan bertanya bagaimana keadaannya. Giana mengaku masih mual, tetapi merasa lebih tenang setelah pemeriksaan.
'Kamu harus istirahat,' kata Amalia. 'Jangan memaksakan diri keluar setiap hari.'
Giana tersenyum malu. 'Saya akan mencoba.'
Hadi menyusul beberapa saat kemudian. Ia menyalami Akhtar dan mengucapkan selamat. Ia tampak bangga, tetapi juga mengingatkan putranya agar tidak membebani Giana dengan pekerjaan rumah atau urusan kantor.
'Kamu akan jadi ayah,' katanya. 'Kehadiranmu penting.'
Akhtar mengangguk. Ia tahu ayahnya benar. Ia mulai menyusun ulang jadwal kerja agar lebih banyak waktu di rumah. Ia meminta Toni membantu menangani beberapa agenda dan mengurangi rapat yang tidak penting.
Di kantor, Kalina melihat perubahan jadwal. Ia tidak bertanya, hanya mencatat bahwa Akhtar akan bekerja dari rumah sebagian hari. Toni menjelaskan bahwa ada urusan keluarga yang perlu diprioritaskan. Kalina menjawab bahwa ia akan memastikan jadwal tetap berjalan.
Akhtar masuk ke ruang sekretariat untuk mengambil dokumen. Ia tampak ingin memberi tahu Kalina tentang kabar kehamilan itu, tetapi ia menahan diri. Ia tidak tahu apakah pantas membagikannya di tengah hubungan mereka yang rumit. Namun Kalina adalah sekretarisnya dan perubahan jadwal pasti akan terlihat.
'Ada perubahan agenda minggu ini,' katanya. 'Saya akan lebih banyak bekerja dari rumah untuk sementara.'
'Baik, Pak. Saya akan sesuaikan.'
'Terima kasih.'
Kalina mengangguk. Akhtar pergi sebelum percakapan menjadi pribadi. Ia merasa bersalah karena menyembunyikan kabar besar itu, tetapi ia juga tidak ingin mencari alasan untuk berbicara lebih dekat.
Amalia mengajak Giana berbelanja perlengkapan awal untuk bayi, tetapi Giana belum ingin membeli banyak sebelum pemeriksaan berikutnya. Mereka hanya melihat beberapa toko dan membeli pakaian bayi yang sederhana. Giana tertawa melihat ukurannya yang kecil.
'Aku masih sulit membayangkan ada bayi di rumah,' katanya.
'Nanti kamu akan terbiasa,' jawab Amalia. 'Kamu tidak harus tahu semuanya sekarang.'
Giana merasa lega mendengar itu. Ia takut akan dinilai karena belum sepenuhnya siap menjadi ibu. Amalia meyakinkan bahwa rasa takut itu wajar.
Akhtar mengantar mereka pulang dan membantu membawa barang. Ia melihat Giana lebih dekat dengan ibunya. Ia ingin percaya bahwa mereka bisa menjadi keluarga yang utuh. Namun perasaan pada Kalina tetap hadir, membuatnya semakin sadar bahwa ia perlu membuat keputusan yang jujur.
Malam hari, Giana bertanya apakah Akhtar bahagia dengan kabar kehamilan itu. Akhtar menjawab iya, tetapi ia juga mengakui bahwa ia takut tidak mampu menjalankan peran sebagai ayah dan suami dengan baik.
'Kita bisa belajar,' kata Giana. 'Asal kita saling jujur.'
Akhtar mengangguk. Ia ingin menjawab lebih banyak, tetapi belum sanggup membuka semua isi hatinya. Ia memilih memeluk Giana dan berkata akan berusaha hadir.
Sementara itu, Kalina pulang ke apartemen setelah hari kerja yang panjang. Ia melihat Kayra sedang menonton acara memasak. Mereka makan bersama dan membicarakan rencana akhir pekan. Kalina merasa ada sesuatu yang berubah pada jadwal Akhtar, tetapi ia tidak bertanya.
Ia mengirim pesan kepada Jihan menanyakan kabar Kaizan. Jihan membalas dengan cerita panjang tentang mereka yang mulai sering bertemu. Kalina ikut tersenyum. Ia ingin hidupnya juga dipenuhi hal-hal baru yang sederhana dan jujur.
Tiga hari berlalu sejak pemeriksaan. Giana mulai mengubah rutinitasnya. Ia membatalkan beberapa acara malam dan mengikuti saran dokter untuk beristirahat. Akhtar mengantar Giana ke pemeriksaan lanjutan dan mencatat semua arahan medis. Ia berusaha menjadi suami yang perhatian, meski pikirannya kadang terasa terpecah.
Amalia sering menelepon untuk menanyakan keadaan Giana. Ia dan Hadi berencana datang akhir pekan. Giana merasa bahagia mendapat perhatian keluarga, tetapi ia juga sesekali terlihat cemas. Ia takut perubahan tubuh dan kehamilan akan membuatnya kehilangan kebebasan. Akhtar mendengarkan ketika ia mengungkapkan kekhawatiran itu.
'Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian,' kata Akhtar.
'Aku tahu. Tapi aku belum tahu apakah aku siap.'
'Kita akan belajar bersama. Aku tidak akan memaksamu menjadi ibu yang sempurna.'
Giana menatapnya dengan mata berkaca. Ia merasa suaminya sedang mencoba hadir. Ia berharap kehamilan itu bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Di kantor, Akhtar lebih sering bekerja dari rumah. Kalina mengatur jadwal dan mengirimkan dokumen secara elektronik. Ia berusaha tidak menanyakan alasan perubahan itu, tetapi Toni menyampaikan bahwa Giana sedang hamil. Toni tidak bermaksud bergosip; ia menjelaskan karena jadwal kerja Akhtar akan berubah untuk sementara.
Kalina membaca surel dari Toni dua kali. Ia merasa seolah lantai di bawahnya bergeser. Giana hamil. Ia ingat percakapan mereka di Segarra, pengakuan Akhtar, dan pelukannya. Kini ada bayi yang akan lahir dari rumah tangga itu.
'Kalina, kamu sudah menerima jadwal yang baru?' tanya Toni dari pintu.
Kalina mengangkat wajah dan memaksakan senyum. 'Sudah, Mas. Saya akan sesuaikan.'
'Kamu baik-baik saja?'
'Iya. Saya cuma kaget mendengar kabarnya.'
Toni mengangguk. Ia tidak ingin bertanya lebih banyak. 'Pak Akhtar akan bekerja dari rumah sampai istrinya merasa lebih stabil.'
Kalina menjawab bahwa ia mengerti. Ia kembali menatap layar, tetapi tak bisa membaca kalimat di hadapannya. Ia merasa senang untuk Giana, sekaligus sakit karena kenyataan itu menutup harapan yang diam-diam masih ia simpan.
Saat istirahat, Kalina masuk ke toilet dan mengunci salah satu bilik. Ia menangis tanpa suara. Ia tidak ingin rekan kerja melihatnya. Ia mengingatkan diri bahwa Akhtar pernah menjanjikan kebahagiaan di Ancol, tetapi janji itu tidak menyelesaikan pernikahannya. Ia telah memperingatkan dirinya sendiri, tetapi tetap membiarkan pengakuan itu memberi harapan.
Jihan mengirim pesan menanyakan apakah Kalina mau makan siang. Kalina menjawab bahwa ia belum lapar. Jihan merasa ada yang tidak beres dan meneleponnya. Kalina tidak menjawab karena takut suaranya terdengar berubah.
Akhtar mengirim surel tentang revisi agenda. Kalina membalas singkat. Ia tidak membahas kehamilan atau perasaannya. Akhtar melihat balasan itu dan merasa ada sesuatu yang dingin. Ia tahu Kalina mungkin sudah mendengar kabar tersebut.
Malamnya, Kalina pulang dan langsung masuk kamar. Kayra menyadari matanya merah. Ia mengetuk pintu dan bertanya apa yang terjadi. Kalina akhirnya menceritakan bahwa Giana hamil.
Kayra duduk di sampingnya. 'Kamu sedih?'
Kalina mengangguk. 'Aku juga senang untuk mereka. Tapi aku merasa bodoh karena masih berharap.'
'Kamu tidak bodoh. Kamu punya perasaan. Tapi sekarang kamu harus membuat keputusan yang melindungi dirimu.'
Kalina menangis lagi. Kayra memeluknya tanpa menghakimi. Mereka duduk lama sampai Kalina sedikit tenang.
Akhtar memutuskan bekerja dari kantor pada hari Jumat untuk menghadiri beberapa rapat penting. Ia tahu Kalina sudah mendengar kabar kehamilan Giana. Saat mereka bertemu di ruang sekretariat, ia melihat Kalina menghindari tatapannya.
'Kalina, bisa bicara sebentar?'
Kalina mengangguk, tetapi meminta Toni tetap berada di ruangan. Akhtar memahami bahwa ia ingin menjaga pembicaraan tetap terbuka.
'Saya dengar kamu sudah tahu Giana hamil,' kata Akhtar.
'Iya, Pak. Selamat.'
'Terima kasih.'
Hening sejenak. Akhtar ingin menjelaskan bahwa kabar itu tidak mengubah perasaannya, tetapi ia tahu kalimat itu akan memperburuk keadaan.
Kalina akhirnya berkata, 'Saya harap Bapak fokus pada istri dan calon anak Bapak.'
'Saya akan berusaha menjadi ayah yang baik.'
'Bagus.' Kalina menahan suara agar tidak bergetar. 'Saya juga ingin kita menghentikan semua komunikasi pribadi. Jangan mengirim pesan di luar pekerjaan, jangan mengajak saya bertemu, dan jangan memberi hadiah. Saya tidak bisa terus berada di tengah keadaan ini.'
Akhtar menunduk. Ia tahu Kalina benar. 'Saya mengerti. Saya minta maaf sudah membuatmu berharap.'
Kalina menatapnya. 'Saya tidak mau menyalahkan Bapak sepenuhnya. Saya juga punya perasaan. Tapi saya harus berhenti sebelum semuanya semakin menyakitkan.'
'Saya akan menghormati keputusanmu.'
Kalina mengangguk dan mengakhiri pembicaraan. Ia kembali ke mejanya, berusaha menahan air mata. Toni melihatnya tetapi tidak bertanya. Akhtar kembali ke ruangannya dengan langkah berat.