Giana menemukan Akhtar di ruang kerja setelah makan malam. Di meja ada jadwal pemeriksaan yang baru mereka susun, tetapi suaminya tidak sedang membacanya. Ia menatap layar ponsel yang sudah gelap. Ketika Giana masuk, benda itu diletakkan menghadap meja.
'Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?'
Akhtar mengangkat wajah. 'Kenapa kamu bertanya begitu?'
'Karena sejak kita tahu akan punya bayi, kamu lebih sering di rumah, tetapi kadang aku merasa kamu tetap tidak di sini.'
Ia duduk di kursi seberang. Dulu ia mungkin akan mengakhiri percakapan dengan marah, lalu menghubungi Rebeca. Sekarang ia ingin mendengar jawaban, meskipun takut pada kemungkinan yang telah muncul sejak foto dari Bali masuk ke grup keluarga.
'Apa kamu masih memikirkan Kalina?' tanyanya.
Akhtar tidak langsung menjawab. Giana memandang tangannya sendiri di atas pangkuan. Keheningan itu cukup untuk membuatnya ingin pergi, tetapi ia memaksa diri tetap duduk.
'Aku pernah menyatakan cinta kepadanya,' kata Akhtar akhirnya.
Giana mendongak. Ia telah membayangkan banyak hal buruk, tetapi mendengar kalimat itu secara langsung tetap membuat tubuhnya terasa dingin.
'Kapan?'
'Sebelum kita mengetahui kehamilan ini. Saat akhir pekan, di Ancol.'
'Waktu aku tidak ada?'
Akhtar mengangguk.
'Lalu kamu pulang dan duduk di sebelahku seolah tidak terjadi apa-apa?'
Ia tidak memiliki jawaban yang dapat memperbaiki kalimat tersebut. Ia hanya berkata, 'Iya. Aku salah.'
Giana berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu kembali ke kursi. Ia ingin mendengar semuanya sebelum memilih apa yang akan dilakukan. Suaranya bergetar ketika menanyakan jawaban Kalina.
Akhtar mengatakan bahwa perasaan itu berbalas. Mereka sempat berpegangan tangan dan berpelukan. Ia menjelaskan bahwa ia yang mengikuti Kalina, membawanya pergi, lalu mendesaknya mengakui perasaan. Kalina telah memintanya mengantar kembali dan kemudian menetapkan agar hubungan mereka hanya berkaitan dengan pekerjaan.
'Jangan bilang tidak terjadi apa-apa hanya karena kalian tidak tidur bersama,' ujar Giana.
'Aku tidak akan mengatakan itu. Kami tidak berhubungan seksual, tetapi aku sudah mengkhianati kepercayaanmu.'
'Kamu juga membuat dia berada dalam keadaan sulit. Dia pegawaimu.'
Akhtar menunduk. Ia pernah menggunakan kesepian sebagai penjelasan kepada dirinya sendiri. Mendengar istrinya menyebut posisi Kalina di perusahaan membuat alasan itu terasa semakin tidak cukup.
'Dia meminta tidak ada pesan pribadi, hadiah, atau pertemuan di luar pekerjaan,' katanya. 'Aku pernah mengirim pesan dan mencoba memberi hadiah setelah itu. Dia menolak. Sekarang dia kembali meminta semuanya dihentikan.'
Giana mengusap pipi. Ia teringat permintaan maafnya sendiri di acara perusahaan, bagaimana Kalina menerimanya dengan sopan. Saat itu ia tidak mengetahui apa yang sudah mereka simpan darinya.
'Apa kamu mengatakan aku istri yang buruk supaya dia merasa boleh menerima kamu?'
'Aku mengeluh tentang hubungan kita. Seharusnya aku membicarakannya denganmu, bukan mencari kedekatan darinya.'
'Itu bukan jawaban yang menyenangkan.'
'Aku tahu.'
Giana menangis tanpa berusaha menyembunyikannya. Ia ingin Akhtar menyangkal bahwa ia masih mencintai perempuan lain. Namun ketika pertanyaan itu keluar, suaminya kembali diam terlalu lama.
'Perasaan itu belum hilang,' katanya akhirnya. 'Tapi aku tidak berhak meminta Kalina menjalani hubungan denganku. Aku juga tidak akan meminta kamu menganggap semuanya selesai karena aku sudah mengaku.'
'Kalau tidak ada bayi, apa kamu akan memilihnya?'
Akhtar menarik napas. 'Aku belum menyelesaikan persoalan kita. Aku tidak ingin menjawab seolah kamu dan dia dua pilihan yang bisa dibandingkan sesuka hati.'
Giana tertawa kecil dengan wajah basah. 'Ketidakpastianmu itu menyakitkan, Akhtar. Aku sedang mencoba berubah dan sekarang tidak tahu apakah kamu masih ingin menjadi suamiku.'
Di dalam dirinya ada rahasia lain yang belum ia buka. Derian pernah memberinya perhatian yang terasa mudah ketika ia tidak ingin menghadapi pertengkaran di rumah. Ia telah memilih pertemuan-pertemuan itu dan menyembunyikannya. Mengetahui kesalahan Akhtar tidak menghapus pilihannya sendiri. Justru sekarang ia semakin takut mengakui apa yang telah terjadi.
Ia menekan telapak tangan ke lutut dan memandang pintu. Malam ini ia tidak sanggup menuturkan rahasia itu. Ia membenci ketakutannya, tetapi belum mampu melewatinya.
'Aku perlu sendiri dulu,' katanya.
'Aku bisa tidur di kamar tamu.'
'Jangan datang ke kamar untuk meminta aku cepat memaafkan.'
'Aku tidak akan.'
Sebelum berdiri, Giana menunjuk jadwal pemeriksaan di meja. Ia masih ingin Akhtar menemaninya. Ia tidak ingin bayi yang sedang tumbuh di tubuhnya kehilangan perhatian hanya karena mereka belum dapat duduk bersama tanpa terluka.
'Aku tetap akan datang sesuai jadwal,' jawab Akhtar. 'Kalau kamu ingin Ibu ikut, aku akan menyesuaikan.'
'Ini bukan janji bahwa aku akan baik-baik saja setelah kamu mengantar ke dokter.'
'Aku mengerti.'
Setelah Akhtar meninggalkan ruang kerja, Giana menelepon Rebeca. Ia mengatakan telah mendengar pengakuan tentang Kalina. Rebeca bertanya apakah ia ingin ditemani. Giana menolak untuk malam itu, lalu menyimpan ponsel sebelum percakapan menyentuh nama Derian. Ia belum ingin berhadapan dengan pertanyaan yang jawabannya hanya dapat ia berikan sendiri.
Keesokan paginya mereka sarapan dengan sedikit percakapan. Akhtar menanyakan apakah Giana ingin berkonsultasi dengan seseorang yang dapat membantu mereka berbicara. Giana meminta waktu untuk mempertimbangkan. Ia belum tahu apakah ingin menyelamatkan pernikahan atau memahami bagaimana keluar darinya.
Di kantor, Akhtar memberi tahu Toni bahwa ia telah mengaku kepada Giana. Ia tidak meminta sahabatnya membela atau menyusun alasan. Toni mendengarkan sampai selesai, lalu berkata bahwa Kalina tidak boleh kembali dijadikan tempat mencari ketenangan setelah percakapan yang sulit di rumah.
'Saya tahu,' jawab Akhtar.
'Kalau kamu benar-benar tahu, biarkan dia bekerja. Dan dengarkan Giana tanpa menuntut hasil yang membuatmu nyaman.'
Akhtar menerima teguran itu. Hari itu ia mengirim instruksi melalui jalur kerja dan membiarkan Toni menangani perubahan agenda. Ketika melihat Kalina berjalan menuju ruang rapat bersama Jihan, ia tidak memanggilnya.
Malamnya, Giana meminta mereka berbicara lagi setelah pemeriksaan berikutnya. Ia belum menjanjikan maaf atau keputusan apa pun. Akhtar menjawab bahwa ia akan hadir. Untuk pertama kalinya, ia tidak menambahkan kalimat tentang betapa ia sendiri sedang menderita.