Senin pagi, Kalina tiba di kantor lebih awal. Ia menyiapkan jadwal Akhtar, lalu membuka dokumen yang sudah ia siapkan sejak akhir pekan: surat pengunduran diri. Ia menulisnya dengan hati-hati, menjelaskan bahwa ia ingin mengakhiri pekerjaannya karena alasan pribadi. Surat itu disusun di apartemen setelah ia berbicara dengan Kayra; ia belum meminta keluarga menentukan apa yang harus dipilih. Ia tidak menyebut nama Akhtar atau Giana.
Kalina menatap surat itu beberapa lama sebelum mencetaknya. Ia tahu keputusan ini akan memengaruhi karier dan keuangannya, tetapi berada dekat Akhtar setiap hari terasa semakin sulit. Ia tidak mau menunggu sampai dirinya melakukan sesuatu yang akan ia sesali.
Toni datang dan melihat surat di atas meja. 'Kamu mau mengundurkan diri?'
Kalina mengangguk. 'Saya belum menyerahkannya. Saya ingin bicara dengan Pak Akhtar dulu.'
'Ini karena urusan pribadi?'
Kalina tidak menjawab langsung. 'Saya merasa perlu mengambil jarak.'
Toni memahami maksudnya. Ia tidak mencoba mencegah, tetapi menyarankan Kalina mempertimbangkan apakah ada pilihan lain, seperti pindah divisi atau mengambil cuti.
'Saya sudah memikirkannya. Saya tidak ingin keputusan saya hanya menunda masalah.'
Toni berkata ia akan menghormati apa pun yang Kalina pilih. Ia meminta Kalina tidak menyerahkan surat itu dalam keadaan tergesa-gesa. Kalina berjanji akan berbicara dengan Akhtar lebih dulu.
Akhtar tiba tidak lama kemudian. Kalina membawa surat tersebut ke ruangannya. Ia mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin. Akhtar membaca ekspresinya sebelum ia berbicara.
'Ada apa, Kalina?'
Kalina meletakkan surat di meja. 'Saya ingin mengajukan pengunduran diri.'
Akhtar terkejut. Ia mengambil surat itu dan membaca cepat. 'Kenapa?'
'Alasan pribadi.'
'Apa ini karena saya?'
Kalina menahan napas. 'Saya tidak ingin membahasnya sebagai urusan pribadi. Tapi saya merasa perlu menjauh dari situasi yang membuat saya tidak nyaman.'
Akhtar berdiri. 'Kamu tidak perlu pergi. Saya bisa memastikan kita hanya membahas pekerjaan.'
'Saya sudah mencoba. Tapi setiap hari bertemu Bapak membuat saya sulit melupakan perasaan saya.'
Akhtar terdiam. Kalina melanjutkan bahwa ia tidak ingin menjadi bagian dari rumah tangga Akhtar, apalagi setelah Giana hamil. Ia juga tidak ingin kariernya terus berada di bawah bayang-bayang perasaan yang tak seharusnya ada.
'Saya menghargai pekerjaanmu,' kata Akhtar. 'Kamu tidak harus mengorbankan karier karena saya.'
'Saya tidak merasa dipaksa. Ini keputusan saya.'
Akhtar meminta waktu untuk mencari solusi lain. Ia berkata perusahaan bisa memindahkannya ke divisi berbeda atau memberi cuti sementara. Kalina menjawab bahwa ia akan mempertimbangkan, tetapi ia tidak mau keputusan itu digunakan untuk menahannya tanpa batas.
Akhtar meminta beberapa hari untuk menyampaikan pilihan yang tersedia melalui personalia. Kalina setuju mendengarkan, dengan ketentuan suratnya tetap tercatat dan ia berhak melanjutkan pengunduran diri. Ia membawa salinan penerimaan dari personalia sebelum kembali ke meja.
Sepanjang hari, Akhtar sulit fokus. Ia membaca ulang surat pengunduran diri dan merasa takut kehilangan Kalina sepenuhnya. Namun ia tahu ia tidak berhak menahan Kalina demi perasaannya sendiri.
Malamnya, Giana bertanya mengapa Akhtar terlihat gelisah. Akhtar berkata ada karyawan yang ingin mengundurkan diri. Giana bertanya siapa, dan ketika Akhtar menyebut Kalina, wajahnya berubah.
'Mungkin itu yang terbaik,' kata Giana pelan.
Akhtar menatap istrinya. 'Aku tidak ingin keputusannya dibuat karena situasi yang aku ciptakan.'
Giana tidak menjawab. Ia tahu ada bagian cerita yang belum selesai.
Akhtar meminta Kalina menemuinya lagi pada hari berikutnya. Kali ini ia mengundang Toni agar pembicaraan mengenai pekerjaan tetap terbuka. Ia menjelaskan bahwa perusahaan bisa menawarkan posisi di divisi lain, dengan tanggung jawab yang sepadan dan atasan berbeda.
Kalina mendengarkan tawaran itu. Ia menghargai usaha Akhtar, tetapi belum yakin pindah divisi akan menyelesaikan masalah. Ia masih menyukai Akhtar dan tahu perasaan itu tak hilang hanya karena meja kerjanya berubah.
'Saya tidak ingin kamu merasa harus pergi,' ujar Akhtar.
'Saya juga tidak ingin Bapak membuat keputusan perusahaan karena perasaan pribadi.'
Toni menengahi dengan mengatakan bahwa opsi mutasi memang tersedia bagi beberapa karyawan dan bisa dipertimbangkan secara objektif. Kalina bertanya apakah posisi itu benar-benar sesuai dengan pengalamannya. Toni menjawab iya, tetapi ia akan memberi rincian tertulis agar Kalina bisa menilai.
Kalina membawa dokumen tersebut untuk dibaca. Ia belum mengubah keputusan, namun ia bersedia mempertimbangkan. Akhtar berterima kasih karena ia memberi kesempatan.
Ketika Toni keluar, Akhtar berkata, 'Saya tidak ingin kehilangan kamu.'
Kalina memejamkan mata sesaat. 'Pak, jangan mengatakan hal seperti itu.'
'Maaf. Saya hanya jujur.'
'Kejujuran Bapak membuat semuanya lebih sulit. Bapak punya istri dan anak yang akan lahir.'
Akhtar mengangguk. Ia tahu Kalina benar. Ia meminta maaf karena membuatnya merasa bertanggung jawab atas emosinya. Kalina berkata ia tidak membenci Akhtar, tetapi ia perlu melindungi diri.
Sepulang kerja, Kayra menanyakan hasil pembicaraan. Kalina menceritakan tawaran pindah divisi dan ucapan Akhtar bahwa ia tidak ingin kehilangannya. Kayra terlihat marah.
'Dia tidak boleh menaruh beban itu ke kamu. Dia yang harus menyelesaikan hidupnya.'
'Aku tahu. Aku belum memutuskan soal mutasi.'
Kayra menyarankan Kalina membaca tawaran itu dengan tenang dan tidak mengambil keputusan karena rasa kasihan. Ia bertanya apakah Kalina masih ingin bekerja di Galindra jika tidak ada Akhtar. Kalina tidak yakin. Ia mencintai pekerjaannya, tetapi lelah dengan semua komplikasi.
Jihan datang malam itu dan membawa makanan. Kalina menceritakan bahwa ia mungkin pindah divisi atau berhenti. Jihan berkata ia akan mendukung keputusan Kalina, tetapi mengingatkan agar ia tidak kehilangan karier karena kesalahan orang lain.
'Kamu sudah bekerja keras sampai bisa dipercaya menangani CEO,' kata Jihan. 'Pikirkan juga dirimu sendiri.'
Kalina mengucapkan terima kasih. Ia membaca tawaran mutasi sebelum tidur. Posisi itu menarik, tetapi tetap berarti ia berada di gedung yang sama dengan Akhtar. Ia belum tahu apakah jarak fisik akan cukup.
Akhtar di rumah mencoba berbicara dengan Giana tentang pengunduran diri Kalina. Giana berkata ia tidak bisa meminta Kalina bertahan hanya karena Akhtar tidak ingin kehilangan dirinya. Akhtar menjawab ia tahu, tetapi ia ingin Kalina punya pilihan.
Giana berkata ia akan mendukung keputusan profesional yang adil, tetapi tidak ingin Akhtar menggunakan perusahaan untuk mempertahankan perempuan yang dicintainya. Akhtar terdiam karena Giana mengucapkan kenyataan itu secara langsung.