Kalina memutuskan mengambil cuti dua hari dan pulang ke Bogor. Ia ingin berpikir jauh dari kantor dan berbicara lebih jujur kepada Bunda. Kayra membantu mencarikan tiket kereta, sementara Jihan menawarkan mengantar ke stasiun.
Sebelum berangkat, Kalina mengirim surel kepada Toni dan Akhtar bahwa ia akan mengambil cuti. Akhtar menyetujui tanpa bertanya alasan. Ia membalas singkat agar Kalina beristirahat. Kalina tidak menanggapi dengan pesan pribadi.
Perjalanan ke Bogor membuatnya mengingat masa kecil. Ia melihat pepohonan dan rumah-rumah yang dikenalnya. Ketika tiba, Bunda sudah menunggu di depan rumah. Kalina memeluknya lama.
'Kamu kurus,' kata Bunda sambil mengamati wajah putrinya.
'Aku cuma sibuk.'
'Sibuk boleh, tapi jangan sampai lupa makan.'
Ayah Kalina keluar dari rumah dan menyambutnya. Mereka makan bersama, membicarakan pekerjaan dan kabar keluarga. Kalina tertawa mendengar cerita kecil dari kampung. Ia merasa aman, tetapi tahu ia perlu membuka percakapan yang sulit.
Malamnya, ia duduk bersama Bunda di teras. Kalina akhirnya menceritakan bahwa ia jatuh cinta kepada atasannya yang sudah menikah. Ia juga mengakui bahwa pria itu pernah menyatakan perasaan, dan ia sempat membalasnya.
Bunda mendengarkan dengan wajah sedih, tetapi tidak menghakimi. Ia bertanya apakah Kalina sedang menjalani hubungan dengannya. Kalina menjawab tidak; ia sudah meminta semuanya berhenti.
'Bunda tidak akan bilang perasaanmu salah,' kata Bunda. 'Tapi pilihanmu harus menjaga dirimu dan menghormati orang lain.'
Kalina mengangguk. 'Aku sudah meminta dia berhenti menghubungiku. Aku juga sedang mempertimbangkan resign.'
Bunda bertanya apakah Kalina ingin resign karena kariernya memang tidak sesuai atau karena ia ingin lari dari rasa sakit. Kalina tidak bisa menjawab. Ia mengakui ia takut bertemu Akhtar setiap hari.
'Kalau kamu berhenti, pastikan itu keputusan yang kamu pilih untuk hidupmu. Jangan membuat keputusan hanya untuk menyelamatkan orang lain dari akibat tindakannya.'
Kalina memikirkan nasihat itu. Ia tidak ingin menjadi penyebab masalah rumah tangga, tetapi ia juga tidak ingin menghukum dirinya sendiri dengan meninggalkan pekerjaan yang ia sukai.
Bunda memegang tangan Kalina. 'Kamu berhak dicintai dengan cara yang jelas. Jangan bersedia menjadi rahasia atau menunggu seseorang yang belum memilihmu secara utuh.'
Kalina menangis. Ia tahu Bunda benar. Ia ingin Akhtar memilihnya, tetapi ia tidak mau hubungan mereka dimulai dari pengkhianatan dan kebohongan.
Ayah Kalina menyusul ke teras setelah mendengar mereka berbicara. Ia berkata ia tidak akan memaksa putrinya berhenti bekerja, tetapi ingin Kalina menjaga harga diri. Ia juga berkata rumah selalu terbuka jika Kalina perlu pulang.
Setelah Bunda menanyakan kabar kerja, Kalina menyerahkan surat mutasi yang dicetak dari surel untuk dibaca bersama. Mereka memeriksa uraian tugas, gaji, dan jalur pelaporan. Bunda bertanya apakah posisi itu akan memberi Kalina ruang untuk berkembang, bukan sekadar menjauh dari Akhtar. Kalina menjawab bahwa tanggung jawabnya menarik dan sesuai dengan pengalaman mengatur proyek. Ia juga melihat peluang belajar di divisi baru.
'Kalau kamu menerimanya karena pekerjaan itu memang baik untukmu, itu keputusan yang kuat,' kata Bunda. 'Kalau kamu menerimanya hanya karena ingin menyenangkan Pak Akhtar, itu berbeda.'
Kalina berpikir lama sebelum menjawab bahwa ia ingin mengambilnya karena kariernya. Ia tidak ingin resign dan menyesal kehilangan kesempatan. Bunda tersenyum dan mengatakan ia tidak perlu membuat keputusan akhir malam itu.
Ayah Kalina bertanya apakah Akhtar telah menekan atau mengancamnya. Kalina menjawab tidak. Akhtar menawarkan opsi mutasi, tetapi ia tetap bebas menolak. Ayahnya berkata ia akan mendukung, tetapi jika Kalina merasa dipaksa, ia harus segera pulang. Kalina memeluk ayahnya dan berterima kasih.
Kalina merasa lega mendapat dukungan kedua orang tuanya. Ia menginap di kamar lamanya dan tidur lebih nyenyak daripada beberapa minggu terakhir.
Keesokan hari, ia membantu Bunda di dapur dan mengunjungi tetangga lama. Ia mencoba menjalani hari tanpa memikirkan Akhtar. Namun ia tahu ia harus kembali ke Jakarta dan mengambil keputusan tentang pekerjaannya.
Bunda bertanya apa yang paling Kalina takutkan jika tetap bekerja di perusahaan itu. Kalina menjawab ia takut tidak bisa melupakan Akhtar, lalu takut Giana merasa ia mengancam rumah tangganya. Ia juga takut kehilangan kesempatan karier jika resign. Bunda mendengarkan semua itu dan bertanya mana di antara ketakutan tersebut yang bisa diatasi dengan batas yang jelas.
'Kalau aku pindah divisi, mungkin aku bisa lebih fokus,' kata Kalina. 'Tapi aku tetap akan melihat dia.'
'Melihat seseorang tidak sama dengan harus menjalani hubungan dengannya,' jawab Bunda. 'Kamu bisa menjaga jarak dan tetap bekerja. Kalau ternyata itu terlalu berat, baru pikirkan langkah berikutnya.'
Kalina merasa nasihat itu memberi pilihan yang tidak ia lihat sebelumnya. Ia tidak harus menentukan seluruh masa depan sekarang. Ia bisa menerima mutasi, menguji apakah lingkungan baru membantunya, dan tetap memiliki hak untuk pergi jika tidak nyaman.
Ayah Kalina ikut bergabung setelah mendengar sebagian percakapan. Ia berkata tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada keselamatan dan ketenangan putrinya, tetapi ia juga tahu Kalina bangga pada kariernya. Ia mendukung keputusan apa pun selama Kalina tidak merasa dipaksa.
Keesokan pagi, Kalina bangun dengan perasaan lebih ringan. Ia membantu Bunda berbelanja ke pasar dan menyapa beberapa tetangga yang mengenalnya sejak kecil. Mereka bertanya tentang pekerjaannya di Jakarta dan Kalina menjawab singkat bahwa ia sedang belajar banyak hal. Ia menikmati percakapan sederhana yang tidak berkaitan dengan Akhtar.
Saat kembali ke rumah, ia membaca lagi surat mutasi. Ia mencatat beberapa pertanyaan untuk bagian personalia: kapan posisi baru mulai, siapa yang menjadi atasan langsung, dan bagaimana masa transisi. Ia mengirimkan pertanyaan melalui surel resmi. Balasan menyebutkan bahwa posisi tersebut tersedia dan ia dapat bertemu manajer divisi setelah kembali.
Kalina merasa semakin yakin bahwa mutasi bisa menjadi langkah baik. Ia masih takut bertemu Akhtar, tetapi ia juga tidak ingin menyerahkan seluruh kariernya pada rasa takut. Ia berjanji akan tetap menjaga batas, menghindari pertemuan pribadi, dan meminta dukungan jika keadaan berubah.
Bunda mendengarkan keputusan sementara itu. 'Kamu tidak sedang memilih antara cinta dan karier,' katanya. 'Kamu sedang memilih apa yang bisa membuat hidupmu tetap utuh.'
Kalina menyimpan kalimat itu dalam hati. Ia belum memutuskan secara resmi, tetapi ia kembali ke Jakarta dengan pikiran lebih jernih.