Kaizan datang ke kantor untuk bertemu Akhtar. Ia adalah sahabat lama sekaligus kakak Kayra. Toni memberi tahu bahwa Kaizan menunggu di ruang rapat. Akhtar menyambutnya.
'Ada apa?' tanya Akhtar.
Kaizan tidak berbasa-basi. 'Aku tahu Kalina sedang mempertimbangkan resign.'
Akhtar terkejut. 'Dari siapa?'
'Kayra cerita. Dia sahabat Kalina dan adikku. Dia khawatir.'
Akhtar berkata ia tidak ingin Kalina pergi dan sudah menawarkan mutasi. Kaizan menatapnya tajam.
'Kamu tidak bisa meminta dia tinggal demi perasaanmu. Kamu CEO-nya, dia sekretarismu. Posisi kalian tidak seimbang.'
'Saya tahu.'
'Kamu juga punya istri yang sedang hamil. Apa yang kamu harapkan dari Kalina?'
Akhtar tidak menjawab. Kaizan berkata Kalina tidak seharusnya menanggung akibat dari kebingungan Akhtar. Jika Akhtar peduli, ia harus membiarkan Kalina memilih tanpa tekanan.
Akhtar menerima teguran itu. 'Saya tidak akan memaksanya.'
'Pastikan begitu. Jangan gunakan pekerjaan untuk menahan dia.'
Kaizan berkata ia akan melindungi Kalina sebagai sahabat Kayra, bukan karena ingin mencampuri urusan Akhtar. Ia meminta Akhtar benar-benar menjaga jarak sampai urusan pernikahannya jelas.
Akhtar berjanji akan melakukannya. Kaizan tidak sepenuhnya percaya, tetapi ia mengakhiri pembicaraan dan pergi.
Sekembalinya ke Jakarta, Kalina meminta pertemuan dengan personalia dan manajer divisi pengembangan bisnis. Ia datang membawa catatan pertanyaan yang disusun di Bogor. Toni mengantarnya sampai ruang pertemuan, tetapi Akhtar tidak hadir. Kalina tidak perlu menatap pria yang dicintainya sambil menimbang masa depan pekerjaan.
Petugas personalia menjelaskan bahwa surat pengunduran dirinya tetap tercatat. Tawaran posisi baru tidak membatalkan surat itu sebelum Kalina menyatakan pilihan. Ia juga dapat menolak tawaran tanpa diminta memberi penjelasan tentang kehidupan pribadi.
'Saya ingin tahu apakah jabatan ini benar-benar dibutuhkan,' kata Kalina. 'Bukan diciptakan hanya supaya saya tidak pergi.'
Manajer membuka daftar pekerjaan timnya. Beberapa cabang sedang menyiapkan perubahan fasilitas dan membutuhkan orang yang memastikan informasi dari operasional, pemasaran, serta tim lapangan sampai kepada pihak yang tepat. Selama ini pekerjaan tersebut dibagi di antara orang-orang yang memiliki tanggung jawab lain.
'Pengalaman Anda di cabang Bogor berguna,' katanya. 'Anda tahu laporan dari pusat tidak selalu menggambarkan kesulitan orang di lapangan. Pengalaman mengatur agenda direksi juga membantu, tetapi pekerjaan ini bukan menjadi sekretaris kedua Pak Akhtar.'
Kalina meminta contoh tugas selama masa awal. Ia diperlihatkan satu jadwal kunjungan yang bertabrakan dengan penutupan sebagian fasilitas. Ia menandai dua pertanyaan untuk tim operasional sebelum mengusulkan perubahan. Manajer tidak langsung menyetujui semuanya. Ia menunjukkan satu alasan jadwal lama dipilih, lalu meminta Kalina mempertimbangkannya kembali.
Percakapan itu membuatnya lebih tenang daripada pujian. Ia sedang diajak bekerja, diberi informasi, dan dikoreksi berdasarkan persoalan yang nyata. Tidak ada yang meminta ia menceritakan perasaannya kepada CEO untuk membuktikan bahwa dirinya pantas berada di sana.
'Siapa yang menilai pekerjaan saya?' tanyanya.
'Saya sebagai atasan langsung,' jawab manajer. 'Target awal kita sepakati sebelum Anda mulai. Rekomendasi dan evaluasi melewati personalia seperti anggota tim lain.'
Kalina membaca bagian gaji dan fasilitas dengan teliti. Nilai tawaran tidak mensyaratkan kedekatan dengan Akhtar atau kesediaannya menangani keperluan pribadi direksi. Ia meminta penjelasan tertulis tentang jalur pelaporan, kemudian membandingkannya dengan uraian tugas yang telah dibaca bersama Bunda.
'Mobil yang saya gunakan sekarang fasilitas sekretariat,' katanya. 'Bagaimana pengembaliannya?'
Petugas personalia mencatat agar mobil dan kunci dikembalikan kepada bagian umum pada akhir serah terima. Jika pekerjaan baru membutuhkan kendaraan untuk kunjungan, kebutuhannya akan diajukan melalui manajer divisi. Kalina menyetujui. Ia ingin perpindahan ini jelas sampai pada barang dan pekerjaan yang harus diserahkan, sehingga tidak ada alasan untuk terus berada di sekretariat setelah masa transisi selesai.
Ia membawa pulang salinan tawaran dan meminta satu malam untuk mempertimbangkan. Di apartemen, Kayra menunggu dengan makanan yang sudah dingin karena terlalu lama membaca pesan darinya. Kali ini mereka tidak membicarakan apakah Akhtar akan sedih. Kalina menjelaskan pekerjaan yang hendak ia ambil, sementara Kayra menanyakan apa yang paling ingin dipelajarinya.
'Koordinasi proyek dari awal,' jawab Kalina. 'Bukan cuma melihat hasil akhirnya masuk ke meja direksi.'
'Kalau begitu, nilai itu. Jangan nilai dari seberapa sering lo mungkin berpapasan sama dia.'
Keesokan paginya, Kalina menyampaikan persetujuan kepada personalia. Ia menerima mutasi, menarik pengunduran diri melalui proses yang diminta, lalu menyepakati dua minggu untuk serah terima. Ia akan menyelesaikan daftar kontak, agenda yang masih berjalan, dan dokumen yang memerlukan penjelasan kepada penggantinya. Setelah itu ia mulai di divisi baru dengan atasan yang berbeda.
Akhtar menerima pemberitahuan setelah keputusan itu tercatat. Ia membaca tanggal mulai, menutup surat, dan tidak memanggil Kalina untuk mengucapkan hal-hal yang telah diminta berhenti. Bagi Kalina, ketiadaan panggilan tersebut merupakan bagian dari keputusan yang akhirnya dapat ia rasakan sebagai miliknya sendiri.
Hari pertama serah terima, Kalina duduk bersama staf administrasi yang sementara membantu Toni mengurus agenda CEO. Ia membuka daftar janji dan menjelaskan mana yang sudah pasti, mana yang masih menunggu konfirmasi. Ketika staf itu keliru menempatkan panggilan dari Bali, Kalina menunjukkan perbedaan jam yang harus diperhatikan, lalu meminta ia mencoba menyusun ulang urutannya.
Ia teringat Liana yang dahulu membimbingnya mengenal pekerjaan ini. Saat itu ia datang dengan gugup dan merasa setiap kesalahan akan membuatnya dipulangkan ke Bogor. Sekarang ia dapat menjelaskan alasan sebuah keputusan, menerima pertanyaan, dan mengakui bagian yang perlu diperiksa bersama Toni. Pengalaman di sekretariat tidak lenyap hanya karena ia memilih pindah.
Pada akhir hari, ia mengirim daftar pekerjaan yang sudah diserahkan kepada personalia dan manajer barunya. Ada beberapa berkas yang masih harus ia selesaikan selama dua minggu berikutnya. Ia mencatat tanggalnya dan meminta agar pertanyaan setelah masa transisi diteruskan melalui tim, sehingga ia dapat mulai memusatkan perhatian pada tugas baru.
Kalina tidak merasa seluruh rasa sedihnya hilang. Sesekali ia masih menoleh ketika mendengar pintu ruang Akhtar terbuka. Namun hari itu ia pulang membawa daftar yang lebih pendek dan satu pekerjaan yang sudah dapat dijalankan orang lain. Perpindahan yang semula hanya tampak sebagai cara menjauh mulai menjadi langkah yang benar-benar ia kerjakan.