Menjelang akhir dua minggu masa transisi, pada hari Kamis, beberapa rekan mengajaknya makan siang. Toni ikut, begitu juga Akhtar yang kebetulan baru selesai rapat. Mereka makan bersama di restoran dekat kantor, membicarakan proyek dan rencana kerja berikutnya. Suasana terasa seperti perpisahan kecil.
'Semoga kamu betah di divisi baru,' kata Toni.
'Saya akan berusaha. Terima kasih sudah banyak membantu.'
Akhtar mengucapkan selamat dengan nada profesional. Ia berkata Kalina akan menjadi aset bagi tim baru. Kalina berterima kasih. Mereka tidak membahas perasaan atau masa lalu.
Setelah makan, Toni dipanggil kembali ke kantor untuk menangani dokumen yang mendesak. Akhtar dan Kalina keluar beberapa menit kemudian. Hujan turun deras. Kalina dan Toni tadi berjalan kaki dari kantor. Akhtar menyusul dengan mobil setelah rapat di tempat lain, sedangkan mobil fasilitas yang masih dipakai Kalina terparkir di kantor. Akhtar menawarkan tumpangan kembali ke gedung kantor.
Kalina ragu. 'Saya bisa menunggu, Pak.'
'Hujannya lebat. Saya hanya mengantar sampai kantor, tidak jauh.'
Kalina mengingat batas yang pernah ia minta. Ia sebenarnya tidak ingin menerima, tetapi Toni sudah pergi dan hujan membuat trotoar tergenang. 'Baik, sampai lobi kantor saja.'
Mereka masuk mobil. Percakapan hanya soal rute dan jadwal serah terima. Akhtar tidak mencoba membicarakan hal pribadi. Kalina merasa suasana canggung tetapi terkendali.
Di lampu merah, sebuah mobil berhenti di samping mereka. Rebeca duduk di kursi penumpang. Ia mengenali Akhtar dan Kalina. Ia melihat mereka berada berdua di mobil, lalu mengambil foto melalui kaca. Ia tidak tahu percakapan mereka atau alasan Kalina menumpang.
Akhtar menurunkan Kalina di lobi kantor. Kalina mengucapkan terima kasih, lalu mengambil kunci mobil fasilitas untuk diserahkan kepada bagian umum setelah pekerjaan hari itu selesai. Esok ia diizinkan menuntaskan catatan serah terima dari apartemen.
Rebeca menyimpan foto itu. Ia bertemu Giana malamnya untuk makan. Giana sedang bercerita tentang kehamilannya dan perubahan rutinitas. Rebeca mendengarkan, tetapi pikirannya tertuju pada foto yang baru diambil.
'Aku melihat Akhtar siang tadi,' katanya.
Giana tersenyum. 'Di mana?'
'Di mobil bersama sekretaris Akhtar.'
Senyum Giana memudar. Rebeca menunjukkan foto tersebut. Giana menatapnya lama. Ia melihat Kalina duduk di samping Akhtar dan menganggap mereka terlihat akrab.
'Mungkin mereka sedang urusan kerja,' kata Giana, meski suaranya tidak yakin.
'Mereka berdua saja. Aku kira kamu sudah meminta Akhtar menjaga jarak.'
Giana merasa panas di wajah. Ia mengetahui rencana mutasi itu, tetapi belum mendengar bahwa masa transisinya hampir selesai. Foto itu terasa seperti bukti bahwa Akhtar tetap mencari kesempatan bersama perempuan tersebut.
'Aku akan tanya dia,' ujar Giana.
Rebeca menasihatinya untuk tidak membuat keributan saat hamil. Giana menjawab ia hanya ingin tahu kebenarannya. Ia menyimpan foto itu dan mengakhiri makan malam lebih awal.
Di apartemen, Kalina baru tiba setelah hujan reda. Kayra bertanya kenapa ia pulang terlambat. Kalina menjelaskan bahwa Akhtar mengantarnya kembali ke kantor karena hujan. Kayra terlihat tidak senang.
'Kamu bisa menolak, Lin.'
'Aku tahu. Itu cuma beberapa menit dan urusan praktis.'
'Tetap saja, kita sudah sepakat kamu menjaga jarak.'
Kalina mengakui bahwa ia seharusnya menunggu hujan reda. Ia tidak berniat mengulanginya. Ia belum tahu bahwa Rebeca telah memotretnya dan memperlihatkan foto itu kepada Giana.
Giana pulang dengan pikiran kacau. Ia meletakkan tas di meja dan menunggu Akhtar. Saat suaminya tiba, ia langsung menunjukkan foto dari Rebeca.
'Apa ini?' tanyanya.
Akhtar melihat foto itu dan memahami situasinya. Ia menjelaskan bahwa hujan deras dan ia hanya mengantar Kalina kembali ke kantor. Kalina mulai di divisi baru pada Senin, dan mereka makan siang bersama tim sebagai perpisahan.
'Kenapa kalian berdua saja di mobil?'
'Toni kembali ke kantor lebih dulu. Kami keluar beberapa menit kemudian.'
Giana menatapnya tajam. 'Kamu selalu punya penjelasan.'
Akhtar berusaha tetap tenang. Ia berkata bahwa ia tidak menghubungi Kalina secara pribadi dan tidak ada hubungan rahasia. Giana bertanya apakah ia masih mencintai Kalina. Akhtar terdiam, dan keheningan itu memperburuk keadaan.
'Kamu bilang ingin memperbaiki pernikahan kita,' ujar Giana.
'Aku memang sedang mencoba.'
'Tapi kamu masih punya perasaan kepadanya.'
Akhtar mengakui bahwa perasaannya belum hilang, tetapi ia menjaga jarak dan tidak ingin mengejar Kalina. Giana menangis. Ia merasa Akhtar meminta dirinya percaya sementara hatinya masih terbagi.
'Aku hamil anakmu,' katanya. 'Aku berusaha berubah, berhenti pergi, mencoba mendekat. Tapi kamu masih memikirkan dia.'
Akhtar berkata ia tidak ingin menyakitinya. Giana menjawab bahwa rasa sakit itu sudah terjadi. Ia meminta Akhtar menjauhkan Kalina dari hidup mereka. Akhtar mengingatkan bahwa Kalina akan mulai bekerja di divisi baru pada Senin, dan ia tidak akan memecat atau menghukum seseorang karena masalah mereka.
'Kamu tetap membelanya!'
'Aku membela keputusan yang adil.'
Giana masuk kamar dan menutup pintu. Akhtar tidak mengejar. Ia tahu percakapan itu tidak bisa diselesaikan dalam keadaan marah.
Keesokan paginya, Giana kembali menghubungi Rebeca. Ia meminta alamat Kalina, tetapi Rebeca hanya mengetahui nama apartemen dari penanda lokasi pada unggahan Kayra. Giana menelepon kantor untuk meminta alamat lengkap. Petugas tidak memberikannya dan meneruskan permintaan itu kepada Toni. Giana lalu pergi ke gedung apartemen yang namanya telah ia dapatkan, tanpa menyepakati pertemuan dengan Kalina.
Di dalam mobil sewaan, Giana membaca kembali pesan Akhtar tentang jadwal pemeriksaan berikutnya. Ia tidak membalas. Ia tahu kunjungan ini belum pernah dibicarakan dengan Kalina atau suaminya, tetapi ia tetap meminta sopir melanjutkan perjalanan. Yang ia inginkan saat itu ialah jawaban langsung dari Kalina, tanpa menunggu percakapan lain di rumah.
Di lobi, ia menyebut nama Kalina dan mengaku ingin berbicara baik-baik. Petugas menghubungi unit Kayra. Kayra mengizinkan tamu itu naik karena Giana adalah istri atasan Kalina yang dikenalnya, tetapi ia tetap berada di apartemen untuk mendampingi sahabatnya. Ia belum mengetahui foto yang membuat Giana datang.
Toni mencoba menghubungi Giana setelah menerima pesan petugas kantor. Panggilannya tidak dijawab. Ia lalu memberi tahu Akhtar bahwa Giana mencari alamat Kalina. Akhtar menelepon istrinya; sekali lagi tidak ada jawaban. Ia meminta Toni memindahkan sisa rapat, lalu berangkat menuju apartemen.