Di apartemen, Kalina sedang bekerja dari rumah untuk menyelesaikan dokumen transisi. Kayra ada di ruang tengah. Bel berbunyi. Kayra membuka pintu dan mendapati Giana berdiri di luar.
'Saya perlu bicara dengan Kalina,' kata Giana.
Kayra langsung waspada. 'Ada apa?'
'Ini urusan saya dengan dia.'
Kalina mendengar suara itu dan keluar dari kamar. Ia terkejut melihat Giana. 'Ibu Giana?'
Giana melangkah masuk tanpa menunggu undangan. Kayra berdiri di antara mereka, meminta Giana menjelaskan maksud kedatangannya. Giana mengatakan ia ingin bicara dengan Kalina saja.
'Kalina tidak perlu bicara berdua dengan Ibu kalau ia tidak nyaman,' kata Kayra.
Giana menatap Kayra tajam. 'Ini bukan urusanmu.'
'Dia sahabat saya. Kalau Ibu datang marah-marah, ini jadi urusan saya.'
Kalina meminta Kayra tenang. Ia berkata ia bersedia mendengar, tetapi tidak ingin ada teriakan. Giana tertawa pahit dan menuduh Kalina berpura-pura menjaga batas.
Kalina menjelaskan bahwa ia akan mulai di divisi baru pada Senin dan menjaga komunikasi dengan Akhtar hanya soal pekerjaan. Giana menunjukkan foto mobil. Kalina mengakui Akhtar mengantarnya karena hujan, tetapi mengatakan ia seharusnya menolak.
'Kamu tahu dia suamiku,' kata Giana.
'Saya tahu, Bu. Saya sudah meminta beliau berhenti menghubungi saya di luar pekerjaan.'
Giana tidak puas dengan jawaban itu. Ia maju selangkah, wajahnya memerah oleh amarah. Kayra kembali menempatkan diri di antara mereka.
Giana menatap Kalina dengan mata berkaca-kaca dan marah. Ia berkata Kalina seharusnya tahu diri sejak awal. Kalina tidak membalas. Ia berdiri dengan tangan gemetar, berusaha tetap tenang.
'Saya tidak pernah berniat merusak rumah tangga Ibu,' katanya.
'Tapi kamu tetap menerima perhatian suamiku.'
'Saya sudah mengakhiri komunikasi pribadi.'
Giana menuduhnya berbohong. Ia berkata foto itu menunjukkan Kalina masih dekat dengan Akhtar. Kayra menyela bahwa foto itu hanya menunjukkan tumpangan saat hujan, bukan hubungan tersembunyi.
'Kamu tidak tahu semuanya,' kata Giana.
'Saya tahu Kalina sedang berusaha menjauh. Ibu seharusnya bicara dengan suami Ibu, bukan datang mengintimidasi dia.'
Giana mengangkat tangan dan menampar Kalina. Suara tamparan membuat Kayra terkejut. Kalina terhuyung sedikit, pipinya memerah. Ia tidak membalas atau mengangkat tangan.
'Ibu!' seru Kayra. Ia mendorong Giana menjauh dari Kalina. 'Jangan sentuh dia lagi.'
Kalina menyentuh pipinya dan menahan air mata. Ia berkata Kayra tidak perlu membalas. Giana menangis dan berkata ia muak melihat Kalina mengambil tempat dalam hidup Akhtar.
'Saya tidak mengambil tempat siapa pun,' ujar Kalina. 'Saya sudah meminta beliau menjauh.'
Giana berkata ia akan memberi tahu Amalia tentang semua yang terjadi. Ia akan memastikan keluarga Akhtar tahu Kalina telah mencoba merebut suaminya. Kayra menjawab bahwa Giana boleh mengatakan apa pun, tetapi tidak berhak menyakiti Kalina.
Kalina berkata ia bersedia menjelaskan kepada keluarga Akhtar, tetapi tidak akan berbohong. Ia mengakui pernah memiliki perasaan pada Akhtar dan menyesal karena membalas pengakuannya. Namun ia sudah mengakhirinya.
Giana terdiam mendengar pengakuan itu. Ia meminta Kalina membenarkan apa yang telah diakui Akhtar. Kalina mengangguk. Kayra menatap Kalina, terkejut ia mengakuinya secara terbuka.
'Saya tidak membenarkan apa yang terjadi,' kata Kalina. 'Saya hanya tidak mau menyembunyikan kebenaran.'
Giana menangis semakin keras. Ia berkata Kalina menghancurkan hidupnya. Kayra meminta Giana berhenti menyalahkan Kalina atas keputusan Akhtar.
Ketukan terdengar dari pintu. Kayra membukanya sedikit dan melihat Akhtar. Ia mengatakan Toni telah memberitahunya bahwa Giana mencari alamat Kalina. Kalina mengizinkannya masuk sebentar untuk mengajak Giana pergi.
Ia melihat pipi Kalina yang merah, Kayra berdiri melindunginya, dan Giana menangis. Wajahnya berubah.
'Giana, apa yang kamu lakukan?'
Giana berbalik. 'Kamu datang membela dia lagi?'
'Aku datang karena kamu pergi tanpa memberi tahu dan aku khawatir.'
'Aku menamparnya. Puas?'
Akhtar memandang Kalina. 'Kamu baik-baik saja?'
Kayra menjawab sebelum Kalina sempat bicara. 'Dia tidak baik-baik saja. Ibu Giana masuk sebelum dipersilakan dan menamparnya.'
Akhtar mendekati Kalina, tetapi Kalina mundur setengah langkah. Ia berhenti. Ia tidak ingin membuatnya semakin tidak nyaman.
'Saya minta maaf,' katanya kepada Kalina.
Giana tertawa getir. 'Kamu minta maaf kepadanya, bukan kepadaku.'
Akhtar terjepit antara istrinya yang sedang hamil dan perempuan yang ia cintai. Ia tahu ia harus mengakui kesalahannya, tetapi ia tidak akan membiarkan Giana menyerang Kalina lagi.
Akhtar meminta semua orang duduk dan berbicara. Kayra menolak menyuruh Kalina duduk karena ia masih gemetar. Giana berkata ia tidak akan duduk di apartemen perempuan itu. Akhtar meminta Giana menurunkan suaranya.
'Kamu tidak berhak mengaturku,' kata Giana.
'Aku tidak mengaturmu. Aku hanya ingin kita menyelesaikan ini tanpa menyakiti siapa pun lagi.'
Kalina berdiri dekat Kayra. Ia menegaskan bahwa pembicaraan di rumahnya harus dihentikan; ia tidak akan mengulang pengakuan yang sama untuk menjawab tuduhan baru.
Giana bertanya apakah Kalina masih mencintai Akhtar. Kalina menatap lantai. 'Perasaan saya belum hilang, tapi saya tidak akan bertindak berdasarkan itu. Saya tidak ingin menjadi bagian dari hubungan rahasia.'
Akhtar berkata Kalina sudah melakukan hal yang benar dengan meminta batas. Ia mengakui bahwa ia yang gagal menjaga jarak dan menerima tanggung jawab atas pengakuannya. Giana menatapnya dengan luka yang dalam.
'Jadi semua ini salahmu?'
'Aku bertanggung jawab atas tindakanku. Tapi kamu juga tidak boleh menyakiti Kalina.'
Giana berkata ia tidak bisa menerima bahwa Akhtar masih mencintai perempuan lain sementara ia mengandung anak mereka. Ia merasa dikhianati dan dipermalukan. Akhtar tidak membantah. Ia berkata ia menyesal dan siap menerima konsekuensi, tetapi ia tidak ingin Giana melukai dirinya sendiri atau bayi karena amarah.
Kalina mengatakan ia belum memutuskan soal laporan. Sekarang ia hanya meminta Giana pergi dan tidak kembali mengganggunya. Kayra menoleh, memastikan keputusan itu tidak dibuat hanya karena Kalina ingin pertengkaran segera berhenti. Kalina menjelaskan ia hanya ingin kejadian berhenti.
'Kamu tidak perlu melindungi dia,' bisik Kayra.
'Aku hanya ingin semuanya selesai.'
Giana menatap Kalina dengan campuran marah dan malu. Ia berkata Kalina berpura-pura menjadi korban. Kayra kembali membalas bahwa Kalina tidak datang mencari Giana, justru Giana yang datang ke apartemen mereka.
Akhtar mencoba berdiri di antara mereka. 'Cukup. Giana, kita pulang.'
'Aku tidak akan pulang bersamamu.'
Akhtar terdiam. Ia tahu ia tidak bisa memaksa Giana. Ia menawarkan mengantar ke rumah Amalia atau menghubungi sopir. Giana menolak. Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
Akhtar ikut sampai lorong. Sebelum pergi, Giana menoleh kepada Kalina dan berkata ia akan mengingat wajahnya. Kayra memperingatkan agar Giana tidak mengancam. Akhtar meminta istrinya berhenti, lalu mengikutinya keluar.
Pintu tertutup. Kalina akhirnya duduk dan menangis. Kayra memeluknya. Pipi Kalina masih terasa panas. Kayra mengambil kompres dingin dan menempelkannya dengan lembut.
'Aku minta maaf,' kata Kalina.
'Kamu tidak perlu minta maaf karena dia menyakitimu.'
'Aku seharusnya menolak tumpangan itu.'
'Mungkin. Tapi itu tidak membuat tamparan itu menjadi pantas.'
Kalina menangis lebih keras. Ia merasa tindakannya telah menyakiti Giana, meski ia berusaha mengakhiri hubungan. Kayra berkata ia bisa bertanggung jawab atas pilihan sendiri tanpa menerima kekerasan.
Di luar apartemen, Akhtar berusaha mengajak Giana bicara. Giana menolak masuk mobilnya. Ia memesan kendaraan sendiri dan pergi, meninggalkan Akhtar di lorong. Akhtar tidak mengejarnya karena ia takut memperburuk keadaan.
Akhtar kembali mengetuk pintu apartemen. Kayra membuka sedikit dan bertanya apa lagi yang ia inginkan. Akhtar meminta maaf sekali lagi dan bertanya apakah Kalina membutuhkan bantuan medis. Kayra menjawab tidak dan memintanya pergi.
Akhtar menerima penolakan itu. Ia pergi dengan rasa bersalah yang berat. Ia tahu konflik ini adalah akibat dari pilihan yang ia buat, dan sekarang semua orang menanggung lukanya.