Kayra mengunci pintu setelah Akhtar pergi. Ia masih ingin marah, tetapi Kalina duduk terlalu diam di sofa. Pipi sahabatnya memerah. Setiap kali Kayra bergerak mengambil sesuatu, mata Kalina mengikuti seolah takut pintu akan kembali terbuka dan pertengkaran dimulai lagi.
'Kita ke klinik,' kata Kayra.
'Gue cuma mau diam dulu.'
'Boleh. Tapi gue ingin memastikan pipi lo baik-baik saja. Sesudah diperiksa, kita pulang dan tidak menerima tamu lagi.'
Kalina akhirnya mengangguk. Ia mengambil tas dan kartu identitas, lalu berhenti ketika melihat layar laptop yang masih terbuka. Catatan serah terima yang dikerjakannya sebelum bel berbunyi belum selesai. Kayra menutup layar itu setelah meminta izin. Urusan kantor dapat menunggu sampai Kalina sanggup memikirkannya.
Di klinik, Kalina menjawab pertanyaan tentang bagaimana pipinya terkena benturan. Ia mengatakan bahwa ia ditampar. Dokter memeriksanya dan mencatat keluhan, sementara Kayra menunggu di samping kursi. Mereka menerima catatan kunjungan dan penjelasan tentang hal yang harus diperhatikan setelah pulang.
'Gue belum tahu mau melapor atau tidak,' kata Kalina ketika mereka kembali ke mobil.
'Itu keputusan lo,' jawab Kayra. 'Catatannya kita simpan. Tapi lo tidak perlu menjanjikan apa pun kepada Giana supaya dia berhenti menyakiti lo.'
'Tadi gue cuma ingin dia pergi.'
'Gue tahu.'
Mereka pulang ke apartemen yang sama. Kayra menyiapkan air dan makanan, lalu duduk bersama Kalina di ruang tengah. Kali ini ia tidak menuntut cerita baru. Ia sudah melihat cukup banyak hal siang itu untuk memahami mengapa sahabatnya sulit menenangkan tangan yang terus bergetar.
Kalina berkata ia seharusnya menolak tumpangan. Ia tahu kesepakatan dengan Akhtar tidak menjadi tidak penting hanya karena hujan turun. Ia juga tahu telah ikut melukai Giana dengan membalas perasaan suaminya.
'Lo boleh bertanggung jawab atas itu,' jawab Kayra. 'Tapi tamparan tadi tetap pilihan Giana. Jangan satukan semuanya sampai lo menganggap pantas dipukul.'
Kalina menunduk. Ia belum mampu memisahkan rasa bersalah dari rasa sakit, tetapi setidaknya ada seseorang yang mengatakannya ketika ia sendiri tidak sanggup.
Jihan menelepon menjelang sore. Kayra bertanya lebih dahulu apakah Kalina ingin menjawab. Kalina menggeleng, lalu meminta Kayra mengatakan ia sedang beristirahat. Jihan menawarkan mengantar makanan keesokan harinya dan tidak mendesak mendengar penjelasan malam itu.
Setelah panggilan berakhir, Kalina membuka pesan untuk Toni. Ia menuliskan bahwa insiden di rumah membuatnya perlu beristirahat dan belum dapat menuntaskan sisa serah terima hari itu. Ia tidak ingin semua orang di kantor mengetahui apa yang terjadi. Kayra membantu membaca pesan sebelum dikirim, memastikan tidak ada kalimat yang membuatnya seolah meminta izin untuk merasa sakit.
Toni membalas bahwa pekerjaan yang mendesak akan ditangani tim. Ia menawarkan agar pembahasan dengan personalia dilakukan setelah Kalina siap, dengan pendamping jika ia menginginkannya. Ia juga menyampaikan bahwa Akhtar tidak akan menghubunginya secara pribadi.
'Kalau hari Senin belum bisa masuk divisi baru, bagaimana?' tanya Kalina melalui telepon singkat.
'Tanggal mulai bisa kita sesuaikan dengan cutimu,' jawab Toni. 'Posisi yang sudah kamu terima tidak dibatalkan karena kamu perlu pulih. Manajer barumu akan saya hubungi soal pembagian tugas, tanpa membuka urusan pribadimu.'
Kalina mengucapkan terima kasih. Ia meminta semua perubahan dicatat melalui jalur resmi agar ia tidak harus menjelaskan kejadian yang sama kepada banyak orang. Toni menyetujuinya dan mengakhiri panggilan tanpa meminta Kalina menenangkan Akhtar.
Di rumah Amalia, Giana tiba dengan wajah basah oleh air mata. Ia memilih pergi ke sana setelah meninggalkan apartemen Kalina. Sopir yang mengantarnya menunggu sampai Amalia membuka pintu, lalu berpamitan. Giana tidak kembali ke rumah yang ditempatinya bersama Akhtar malam itu.
Amalia menanyakan apa yang terjadi. Giana mengatakan ia bertengkar dan tidak ingin bertemu suaminya. Ia belum sanggup menjelaskan tamparan yang dilakukannya. Amalia menyediakan kamar untuk beristirahat, tetapi meminta ia minum dan memberi kabar kepada Akhtar bahwa dirinya telah sampai.
Akhtar menerima kabar melalui ibunya. Ia ingin datang, namun Giana menitipkan pesan bahwa ia belum bersedia berbicara. Ia menahan diri dan hanya memastikan kebutuhan yang tertinggal dapat dikirim besok. Rumahnya sendiri terasa kosong ketika ia pulang. Kali ini kesunyian itu merupakan akibat yang harus ia hadapi, tanpa mencari Kalina untuk membuatnya merasa lebih baik.
Kalina akhirnya menelepon Bunda setelah makan beberapa suap. Ia semula hanya ingin mengatakan sedang kurang sehat. Namun ketika ibunya menanyakan apakah ia sudah pulang dari kantor, suaranya pecah.
'Tadi istri Pak Akhtar datang ke apartemen,' katanya. 'Aku ditampar.'
Bunda terdiam, lalu bertanya apakah Kalina berada di tempat aman dan sudah diperiksa. Kalina menjelaskan bahwa Kayra bersamanya, pintu telah dikunci, dan mereka baru kembali dari klinik. Ia tidak menutupi bahwa pertengkaran itu berkaitan dengan perasaan yang pernah ia ceritakan di Bogor.
'Bunda ingin kamu pulang,' kata ibunya. 'Tapi malam ini jangan berangkat kalau masih gemetar. Ayah bisa menjemput besok kalau kamu mau.'
Kalina mengatakan ia ingin beristirahat di apartemen dulu. Ia belum tahu apakah perlu beberapa hari atau lebih lama sebelum kembali bekerja. Bunda tidak memintanya memutuskan saat itu. Ia meminta berbicara sebentar dengan Kayra, lalu berterima kasih karena telah menemani putrinya.
Sebelum tidur, Kayra menghubungi resepsionis apartemen. Bersama Kalina ia meminta agar setiap tamu menunggu persetujuan langsung, termasuk orang yang datang mengatasnamakan kantor. Petugas mencatat permintaan itu. Kalina mendengar percakapan dari sofa dan mengangguk ketika Kayra menanyakan apakah ia ingin menambahkan nama seseorang yang boleh mendampinginya. Ia menyebut Jihan.
Malamnya, Kayra membawa bantal ke sofa dekat kamar Kalina. Mereka biasanya tidur di kamar masing-masing, tetapi malam ini Kalina ingin mendengar suara seseorang jika terbangun. Ia membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka.
Sebelum mematikan lampu, Kalina membaca balasan Jihan yang hanya berbunyi bahwa ia akan datang besok. Ia tidak diminta membela diri, memilih pekerjaan, atau menentukan apakah dapat memaafkan. Untuk malam itu, ia cukup mengetahui ada orang yang akan tetap menemuinya setelah ia berhenti menangis.