Pagi setelah pertengkaran di apartemen, Giana mencoba beraktivitas seperti biasa. Ia menginap di rumah Amalia dan mengatakan kepada mertuanya bahwa ia hanya membutuhkan waktu. Amalia tidak memaksa bertanya, tetapi ia melihat wajah Giana pucat dan matanya bengkak.
'Kamu sudah sarapan?' tanya Amalia.
'Belum terlalu lapar.'
Amalia meminta Giana makan sedikit demi menjaga kehamilannya. Giana mencoba roti dan teh, tetapi perutnya terasa mual. Ia mengira itu gejala kehamilan biasa. Setelah duduk sebentar, ia berdiri hendak menuju kamar, namun kepalanya tiba-tiba berputar.
'Giana?' Amalia segera memegang lengannya.
Giana berusaha menjawab, tetapi tubuhnya lemas dan ia hampir jatuh. Amalia memanggil Hadi dan meminta sopir menyiapkan mobil. Mereka membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa.
Akhtar sedang menghadiri rapat ketika Amalia menelepon. Ia langsung berdiri dan meninggalkan ruang rapat setelah meminta maaf kepada peserta. Toni menyusul ke lorong.
'Apa yang terjadi?'
'Giana dibawa ke rumah sakit. Ibu bilang dia pusing dan lemas.'
Toni menawarkan untuk mengantar, tetapi Akhtar sudah mengambil kunci mobil. 'Saya akan kabari.'
Dalam perjalanan, Akhtar terus mencoba menelepon Amalia. Ia mendapat kabar bahwa Giana sadar, namun dokter sedang memeriksanya. Akhtar merasa bersalah karena percakapan mereka kemarin berakhir dengan pertengkaran. Ia membayangkan Giana menangis sendirian dan takut emosinya memengaruhi kesehatan.
Di rumah sakit, Amalia menunggu di depan ruang pemeriksaan. Akhtar bertanya apa yang terjadi. Amalia menjelaskan bahwa Giana merasa pusing dan hampir pingsan. Dokter sedang melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi ibu dan janin.
Akhtar duduk dengan gelisah. Ia menyalahkan dirinya karena membiarkan Giana menghadapi tekanan sendirian. Amalia berkata ia tidak tahu penyebab pastinya dan meminta Akhtar menunggu hasil dokter sebelum menyalahkan siapa pun.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dan menjelaskan bahwa Giana mengalami kelelahan serta tekanan darah yang perlu dipantau. Kondisi janin masih perlu diobservasi. Mereka akan menahan Giana untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Akhtar meminta izin masuk. Giana terbaring dengan wajah pucat. Ia tampak lelah, tetapi sadar.
'Aku minta maaf,' kata Akhtar.
Giana memalingkan wajah. 'Jangan sekarang.'
Akhtar berhenti bicara. Ia berdiri di samping ranjang tanpa menyentuhnya. Dokter meminta Giana beristirahat dan menghindari percakapan yang membuatnya stres. Akhtar mengangguk, lalu keluar bersama Amalia.
Amalia mengatakan Giana belum siap bicara. Akhtar menjawab ia akan menunggu. Namun setelah beberapa menit, Giana meminta Akhtar pulang dan tidak datang lagi hari itu.
'Aku ingin sendiri bersama Ibu,' katanya.
Akhtar merasa terpukul, tetapi ia menghormati permintaan itu. Ia berkata akan menghubungi dokter untuk mendapat kabar, lalu pergi. Amalia meminta ia tidak mengambil keputusan terburu-buru.
Di kantor, Toni menunggu kabar. Akhtar menjelaskan bahwa Giana dirawat dan belum ingin bertemu dengannya. Toni menasihatinya untuk mengikuti keinginan Giana dan tidak membuat situasi lebih sulit.
Setelah mendapat kabar bahwa kondisinya stabil, Akhtar pulang ke rumah yang kosong. Ia duduk lama di ruang tengah, merasa setiap pilihan yang ia buat melukai seseorang. Ia tahu ia bersalah atas hubungan emosional dengan Kalina, tetapi ia tidak bisa mengendalikan keputusan Giana untuk menjauh.
Kalina mendengar kabar Giana dirawat dari Jihan, yang melihat pesan di grup kantor. Ia merasa cemas dan ingin tahu keadaan Giana, tetapi ia tidak berani menghubungi Akhtar. Ia mengirim pesan kepada Toni menanyakan apakah ada perubahan jadwal kerja. Toni menjawab bahwa Akhtar sedang mengurus keluarga.
Kalina menutup ponsel dan duduk di tepi ranjang. Ia berdoa agar Giana dan bayinya baik-baik saja. Ia merasa bersalah, meski tahu ia bukan penyebab tunggal dari semua masalah.
Dokter menyarankan Giana beristirahat di rumah setelah satu malam observasi. Kondisinya mulai stabil, tetapi ia diminta mengurangi aktivitas dan kembali untuk kontrol. Amalia mengantar Giana pulang ke rumah keluarga. Giana memutuskan tinggal di sana beberapa hari.
Akhtar mengetahui keputusan itu dari Amalia. Ia bertanya apakah ia boleh menjenguk, tetapi Giana belum siap. Amalia berkata ia akan menyampaikan jika Giana berubah pikiran. Akhtar menerima jawaban itu, meski hatinya terasa semakin berat.
Pada sore pertama kembali di rumah Amalia, Giana menelepon orang tuanya di Singapura. Afrizal menanyakan mengapa suaranya terdengar begitu pelan. Giana mengatakan ia sempat dirawat dan sekarang kondisinya stabil. Ketika ayahnya bertanya tentang Akhtar, ia tidak lagi menjawab bahwa semua baik-baik saja. Ia mengaku mereka sedang menghadapi persoalan rumah tangga dan untuk sementara ia tinggal bersama mertuanya.
'Ayah bisa datang,' kata Afrizal. 'Atau kamu ingin kami menjemput?'
Giana memandang tas pemeriksaan di samping kursi. Ia ingin menerima bantuan, tetapi belum ingin berpindah negara dan menjelaskan semuanya dalam perjalanan. Ia mengatakan akan tetap menjalani pemeriksaan di Jakarta. Ia meminta ayah dan ibunya menelepon lagi esok, tanpa membicarakan persoalannya kepada keluarga besar.
Afrizal menyetujuinya. Sebelum panggilan berakhir, ia meminta Giana tidak merasa harus menyembunyikan kebutuhan bantuan hanya karena dahulu selalu mengatakan sanggup mengurus hidupnya sendiri. Giana menangis sesaat setelah menutup telepon. Amalia duduk di dekatnya, tidak bertanya apa yang diceritakan. Untuk malam itu, Giana hanya ingin tahu bahwa orang tuanya telah mendengar suaranya dan akan menelepon kembali.
Dua hari setelah Giana pulang dari observasi ke rumah Amalia, Akhtar datang untuk berbicara dengannya. Amalia bertanya lebih dulu apakah Giana bersedia bertemu. Giana setuju hanya untuk beberapa menit. Akhtar duduk di kursi dekat pintu, memberi ruang. Ia berkata ia minta maaf atas semua luka dan tidak akan memaksa Giana pulang. Giana menjawab ia belum tahu apa yang diinginkan. Akhtar berkata ia akan menunggu sampai Giana siap membicarakannya.
Giana bertanya apakah Akhtar masih mencintai Kalina. Akhtar menjawab perasaannya belum hilang, tetapi ia sudah berhenti menghubungi Kalina dan tidak akan meminta Giana menerima keadaan itu begitu saja. Giana menutup mata dan berkata ia perlu waktu. Akhtar menyetujuinya, lalu pamit sebelum percakapan menjadi terlalu berat.
Di apartemen, Kalina tertidur di sofa setelah minum obat sakit kepala. Kayra menyelimutinya dan menurunkan volume televisi. Jihan mengirim pesan agar Kayra memberi kabar kalau Kalina butuh bantuan. Kayra menjawab Kalina sedang tidur. Dua sahabat itu sepakat bergantian menjaga tanpa membuat Kalina merasa diawasi.