Pada pekan berikutnya, di apartemen, Kalina membuka surel kerja dan melihat beberapa pesan tentang proyek. Ia tidak sanggup membaca semuanya. Ia meminta Toni meneruskan pekerjaan mendesak kepada rekan lain dan menonaktifkan notifikasi kantor.
Kayra menyarankan Kalina keluar sebentar untuk mendapatkan udara. Kalina menolak. Ia ingin tetap di kamar. Kayra tidak memaksanya, tetapi membuka tirai dan membawakan air.
'Kamu boleh sedih, tapi jangan mengurung diri terlalu lama.'
'Aku cuma perlu waktu.'
'Oke. Tapi aku akan cek kamu setiap beberapa jam.'
Kalina tersenyum lemah. Ia tahu Kayra khawatir. Mereka belum sepenuhnya membicarakan kemarahan Kayra, tetapi sekarang Kayra memilih merawatnya.
Sore itu, Kalina mandi dan duduk di ruang tengah. Ia mencoba membaca, tetapi setiap halaman terasa tidak masuk. Jihan datang membawa sup dan buah. Ia duduk bersama Kalina tanpa banyak bertanya.
'Aku dengar Bu Giana dirawat,' kata Jihan pelan.
Kalina mengangguk. 'Aku berharap dia baik-baik saja.'
Jihan menggenggam tangannya. 'Kamu juga perlu baik-baik saja.'
Kalina merasa air matanya kembali mengalir. Ia bercerita sedikit tentang perasaannya, tetapi tidak menyebut semua detail. Jihan mendengarkan dan berkata Kalina tetap bisa memperbaiki hidupnya, meski masa lalu tidak bisa diubah.
Kayra dan Jihan bergantian menemaninya. Kayra memasak, Jihan memastikan Kalina makan siang. Mereka tidak membiarkannya terlalu lama sendirian. Kalina merasa bersalah karena merepotkan, tetapi mereka menegaskan bahwa persahabatan juga berarti hadir saat keadaan sulit.
Akhtar mengirim pesan kerja kepada Kalina melalui Toni, bukan langsung. Toni meminta persetujuan untuk memperpanjang cuti Kalina jika ia membutuhkannya. Akhtar menyetujui tanpa meminta alasan.
Di rumah Amalia, Giana duduk di balkon dan menatap taman. Ia merasa malu karena hampir pingsan setelah bertengkar. Ia juga takut stres akan berdampak pada bayinya. Amalia berkata tubuhnya perlu istirahat dan ia tidak perlu menyelesaikan semua masalah sekarang.
Giana bertanya apakah Akhtar datang. Amalia menjawab ia mengantar barang, tetapi tidak masuk karena Giana belum ingin bertemu. Giana diam. Ia merasa marah pada Akhtar, tetapi juga merindukan suaminya.
Akhtar menjalani hari-hari dengan bekerja dan menunggu kabar. Ia tidak menghubungi Giana kecuali melalui Amalia. Ia juga tidak menghubungi Kalina. Ia mencoba menghormati jarak yang diminta kedua perempuan itu.
Malam hari, Kalina duduk bersama Kayra di balkon. Ia berkata ia tidak tahu kapan akan kembali ke kantor. Kayra menyarankan jangan memutuskan saat sedang rapuh. Kalina mengangguk dan memutuskan mengambil cuti beberapa hari lagi.
Keesokan paginya, Kalina bangun dengan tubuh lemas. Ia tidak demam, tetapi kepalanya terasa berat karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Kayra menyarankan memeriksakan diri jika kondisinya tidak membaik. Kalina berkata ia hanya ingin tidur lagi.
Kayra tetap berada di rumah hari itu untuk menemani. Ia menyiapkan bubur dan memastikan Kalina minum obat pereda nyeri yang direkomendasikan dokter. Kalina makan beberapa sendok, lalu kembali ke kamar.
'Kamu tidak harus terus menjaga aku,' kata Kalina.
'Aku tahu. Tapi aku memilih di sini.'
Kalina memandang sahabatnya. 'Kamu masih marah?'
Kayra menghela napas. 'Masih sedikit. Tapi aku lebih takut kamu sakit daripada marah.'
Kalina meminta maaf lagi karena menyembunyikan hubungan dengan Akhtar. Kayra berkata ia akan memaafkan, tetapi butuh waktu untuk merasa semuanya kembali normal. Kalina mengerti dan tidak meminta lebih.
Jihan datang selepas kerja dengan kantong belanja. Ia membawa buah, roti, dan minuman hangat. Ia juga membawa catatan dari kantor tentang pekerjaan yang bisa menunggu sampai Kalina kembali.
'Toni bilang kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan dulu,' kata Jihan. 'Dia akan menangani yang mendesak.'
Kalina lega mendengarnya. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya, tetapi ia juga tidak sanggup kembali sekarang.
Jihan duduk di sisi ranjang dan bertanya apakah Kalina ingin ia menemani ke dokter. Kalina menjawab pipinya sudah lebih baik dan tidak ada gejala lain. Jihan tetap meminta ia memberi tahu jika sakitnya bertambah.
Kalina mendengar dari Kayra bahwa Giana sudah stabil. Ia merasa lega, lalu menangis lagi karena berita itu mengingatkannya pada semua akibat yang terjadi. Kayra duduk di sampingnya dan berkata ia boleh merasa bersalah, tetapi ia tidak boleh menghancurkan dirinya sendiri.
Kalina bertanya apakah Kayra masih menganggapnya teman baik. Kayra menjawab tentu, tetapi teman baik pun bisa membuat kesalahan. Yang penting ia belajar dan tidak mengulanginya.
Malam itu, Jihan pulang setelah memastikan Kalina makan. Kayra membawakan selimut dan duduk di ruang tengah. Kalina merasa tubuhnya masih berat, tetapi pikirannya sedikit lebih tenang.
Hari-hari cuti berlanjut. Kalina belum kembali bekerja. Ia tidur tidak teratur, makan sedikit, dan lebih banyak diam. Kayra mulai khawatir kondisi itu berlarut. Ia mengajak Kalina berkonsultasi dengan dokter umum untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan lain.
Kalina awalnya menolak, tetapi akhirnya setuju. Dokter memeriksa tekanan darah dan kondisi umumnya. Tidak ada masalah serius, tetapi dokter menyarankan istirahat, makan teratur, dan berbicara dengan konselor jika kesedihan terus mengganggu aktivitas.
Kayra mencatat semua saran. Ia bertanya apakah Kalina ingin mencari konselor. Kalina belum siap, tetapi ia tidak menolak kemungkinan itu.
'Kita lakukan pelan-pelan,' kata Kayra.
Jihan membuat jadwal bergantian agar Kalina tidak sendirian terlalu lama. Ia datang setelah kerja pada Senin dan Rabu, sementara Kayra mengatur kegiatannya agar bisa berada di rumah pada hari lain. Kalina merasa tidak enak, tetapi mereka berkata ia tidak perlu membalas apa pun.
Suatu sore, Kalina akhirnya menceritakan rincian pertemuan di Ancol kepada Jihan, termasuk pengakuan cinta Akhtar dan pelukan yang sempat mereka lakukan. Jihan terkejut dan marah kepada Akhtar, tetapi ia tidak menghakimi Kalina. Ia berkata Kalina perlu menjaga jarak dan tidak membiarkan rasa bersalah membuatnya menerima semua perlakuan buruk.
'Aku sudah minta dia berhenti menghubungi,' ujar Kalina.
'Bagus. Kalau dia melanggar, kamu bilang ke kami.'
Kayra mendengar percakapan itu dari dapur. Kemarahannya kepada Akhtar belum hilang, tetapi ia tidak menyela. Setelah Jihan pulang, Kayra duduk dengan Kalina dan berkata ia semakin khawatir melihat sahabatnya begitu terpuruk.
'Gue tetap nggak setuju sama pilihan lo,' katanya. 'Tapi gue bisa lihat lo sedang mencoba memperbaiki.'
Kalina mengangguk. 'Aku nggak minta kamu membenarkan. Aku cuma ingin kamu tetap ada.'
Kayra memeluknya. 'Gue ada.'
Di kantor, Toni menyampaikan bahwa Kalina boleh memperpanjang cuti sampai kondisinya lebih stabil. Ia tidak menuntut tanggal pasti. Kalina membalas terima kasih dan berkata ia akan memberi kabar setelah memutuskan.
Akhtar mendengar kabar itu dan tidak menghubungi Kalina. Ia bertanya kepada Toni apakah ada yang bisa dilakukan untuk membantu. Toni berkata bantuan terbaik adalah menghormati jarak dan tidak membuat Kalina merasa berutang.