Kalina masih mengambil cuti ketika Akhtar mulai kembali ke kantor dengan jadwal lebih ringan. Giana tinggal di rumah Amalia dan menjalani pemeriksaan kehamilan sesuai anjuran dokter. Akhtar menghubunginya melalui Amalia untuk menanyakan kabar, tanpa memaksa bertemu.
Suatu sore, Amalia meminta Akhtar datang ke rumah. Ia ingin berbicara tentang keadaan rumah tangga putranya. Akhtar tiba setelah jam kerja. Giana sedang beristirahat di kamar, jadi Amalia mengajaknya duduk di ruang tengah.
'Kamu kelihatan jauh lebih tua dalam beberapa hari ini,' kata Amalia.
Akhtar tersenyum hambar. 'Saya memang lelah.'
Amalia bertanya apakah Akhtar dan Giana sudah berbicara tentang masa depan mereka. Akhtar menjawab mereka belum mencapai keputusan. Giana masih marah dan butuh waktu. Amalia bertanya apakah masalahnya hanya soal Kalina.
Akhtar terdiam. Ia tidak ingin menyalahkan Kalina atau menutupi kesalahannya. Ia mengakui bahwa ia pernah menyatakan cinta kepada Kalina, meski mereka tidak berhubungan seksual, mereka sempat berpegangan tangan dan berpelukan. Ia juga mengakui rumah tangganya dengan Giana sudah lama terasa renggang.
Amalia menatap putranya dengan kecewa. 'Kamu sudah menikah. Kamu seharusnya menyelesaikan masalah dengan istrimu sebelum mengucapkan hal seperti itu kepada perempuan lain.'
'Saya tahu, Bu.'
'Dan sekarang Giana sedang mengandung anakmu.'
Akhtar menunduk. Ia berkata ia ingin bertanggung jawab pada bayi itu, apa pun yang terjadi pada pernikahannya. Amalia bertanya apakah ia masih mencintai Giana. Akhtar menjawab ia masih peduli dan ingin memperbaiki, tetapi ia tidak yakin hubungan mereka bisa kembali seperti semula.
Amalia menghela napas. Ia tidak memaksa Akhtar bertahan hanya demi anak, tetapi meminta putranya tidak mengambil keputusan saat emosi. Ia juga mengatakan bahwa bayi bukan alasan untuk membiarkan Giana merasa terjebak.
'Kalau kalian berpisah, tetaplah menjadi ayah yang hadir,' kata Amalia. 'Jangan menjadikan perceraian alasan untuk menghilang.'
Akhtar berjanji akan melakukannya. Ia bertanya apakah Amalia sudah berbicara dengan Giana. Amalia menjawab menantunya belum siap membahas semuanya, tetapi ia mulai lebih tenang.
Giana mendengar suara mereka dari kamar dan keluar. Ia menyapa Akhtar dengan formal. Amalia menawarkan teh, lalu meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.
Akhtar bertanya bagaimana kondisi Giana. Ia menjawab cukup baik. Mereka berbicara tentang jadwal dokter dan vitamin. Percakapan itu terasa seperti urusan praktis, bukan suami istri.
'Aku ingin membicarakan sesuatu,' kata Giana akhirnya.
Akhtar menunggu.
Giana tampak ragu, lalu berkata ia belum sanggup bicara sekarang. Ia hanya ingin Akhtar tahu bahwa ada hal yang perlu ia akui. Akhtar bertanya apakah ia ingin membicarakannya berdua atau bersama Amalia. Giana menjawab ia akan memutuskan nanti.
Akhtar tidak memaksa. Ia berpamitan setelah memastikan Giana memiliki semua yang dibutuhkan. Di mobil, ia merasa bahwa ada rahasia lain yang belum terbuka. Ia tidak tahu apa itu, tetapi ia akan menunggu sampai Giana siap.
Di apartemen, Kalina mulai membaca catatan tugas posisi barunya. Kayra menemaninya di apartemen, sementara Jihan datang selepas kerja. Kalina berkata ia belum siap kembali bekerja, tetapi mulai merasa lebih kuat. Ia ingin menjalani posisi baru yang sudah diterimanya setelah cuti berakhir.
Kayra bertanya apakah ia masih memikirkan Akhtar. Kalina menjawab iya, tetapi ia tidak menghubunginya. Kayra mengingatkan bahwa itu sudah langkah penting. Kalina mengangguk dan kembali membaca uraian kerja.
Giana meminta Akhtar datang ke rumah Amalia pada malam berikutnya. Ia berkata ingin bicara tanpa orang lain. Akhtar datang tepat waktu. Amalia berada di kamar lain agar mereka bisa berbicara tenang.
Giana duduk di ruang makan dengan tangan bertaut. Ia tampak gugup. Akhtar duduk di seberangnya dan menunggu.
'Aku perlu jujur tentang sesuatu,' kata Giana.
Akhtar tidak menyela.
Giana berkata bahwa beberapa bulan sebelum kehamilannya diketahui, ia kembali bertemu Derian, seorang teman lama. Awalnya mereka hanya berbicara dan bertemu di beberapa acara. Namun hubungan itu berkembang menjadi kedekatan yang tidak seharusnya terjadi.
Akhtar membeku. 'Apa maksudmu?'
Giana menunduk. Ia mengakui bahwa ia pernah berselingkuh dengan Derian. Ia tidak ingin memberikan detail yang menyakitkan, tetapi ia berkata hubungan itu sudah berakhir sebelum ia mengetahui kehamilannya.
Akhtar merasa seluruh ruangan berputar. Ia mencoba bernapas dengan tenang. 'Anak itu anakku?'
Giana menangis. 'Aku yakin. Tapi aku tahu kamu berhak bertanya dan melakukan pemeriksaan kalau perlu.'
Akhtar berdiri lalu berjalan menjauh. Ia merasa marah, dikhianati, dan sekaligus sadar bahwa dirinya sendiri juga telah melanggar kepercayaan Giana dengan mengakui cinta kepada Kalina. Ia tidak bisa menyamakan semua tindakan, tetapi ia tahu rumah tangga mereka sudah penuh luka dari kedua sisi.
'Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya?'
'Aku takut kehilanganmu. Lalu aku tahu aku hamil dan berharap semuanya bisa berubah.'
Akhtar tertawa pahit. 'Kita berdua menyimpan rahasia.'
Giana berkata ia tidak membenarkan perselingkuhannya. Ia merasa kesepian dan marah, tetapi itu bukan alasan. Akhtar mengakui ia juga tidak berhak menyalahkan Giana seolah dirinya tidak melakukan kesalahan.
'Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan,' katanya.
'Aku juga.'
Mereka duduk dalam diam. Akhtar bertanya apakah Giana masih berhubungan dengan Derian. Giana menjawab tidak. Ia sudah memutus kontak dan tidak berniat kembali.
Akhtar menanyakan apakah Rebeca mengetahui hubungan itu. Giana mengangguk. Rebeca pernah menasihatinya agar berhenti, tetapi Giana tidak mendengarkan. Akhtar meminta izin untuk berbicara dengan Rebeca, bukan untuk menghukum, tetapi untuk memahami kronologi. Giana menyetujuinya.
'Aku tidak ingin anak kita tumbuh dengan kebohongan,' kata Giana.
Akhtar menjawab ia juga tidak ingin itu. Ia berkata mereka perlu bantuan profesional untuk membicarakan perpisahan atau cara melanjutkan hubungan. Giana menangis dan berkata ia tidak tahu apakah masih mencintainya.
Akhtar menjawab ia pun tidak tahu apakah cinta mereka masih cukup. Namun ia tidak akan meninggalkan Giana atau bayinya. Ia akan membantu biaya, menemani pemeriksaan, dan menjadi ayah yang hadir.
Giana berkata ia tidak ingin Akhtar bertahan hanya karena kasihan. Akhtar mengangguk. Ia tidak akan menjanjikan hubungan romantis yang tidak bisa ia pastikan.
Sebelum pulang, Akhtar meminta Giana menjaga kesehatan. Ia tidak menyentuhnya. Giana mengucapkan terima kasih, lalu kembali ke kamar yang dipakainya di rumah Amalia.
Akhtar duduk lama di mobil sebelum menyalakan mesin. Ia merasa pengakuan itu menghancurkan sisa harapan bahwa masalah mereka hanya berasal dari perasaannya kepada Kalina. Kini ia tahu mereka berdua telah mencari sesuatu di luar pernikahan.