Beberapa bulan berlalu dengan pemeriksaan rutin dan persiapan menyambut bayi. Akhtar tidak lagi tinggal bersama Giana, tetapi ia hadir dalam jadwal penting. Ia mengantar Giana ke klinik ketika diminta, membantu memilih perlengkapan, dan memastikan biaya kesehatan tersedia.
Giana tinggal bersama Amalia dan mengikuti kelas persiapan persalinan. Arisa menemaninya dalam salah satu kunjungannya dari Bali, dan Giana juga mengajak Akhtar ikut. Akhtar datang jika jadwalnya memungkinkan. Mereka tidak lagi berusaha bersikap seperti pasangan, tetapi mampu berbicara tanpa bertengkar.
Kalina semakin sibuk di divisi baru. Proyek lintas cabang berjalan baik, dan manajernya memberi tanggung jawab lebih besar. Ia berteman dengan beberapa kolega dan kembali makan siang bersama Jihan. Kayra melihat Kalina mulai tertawa lebih lepas.
'Kamu sudah kembali jadi Kalina yang dulu,' kata Kayra suatu malam.
'Belum sepenuhnya.'
'Nggak harus sama persis. Yang penting kamu merasa lebih baik.'
Kalina mengangguk. Ia masih punya perasaan kepada Akhtar, tetapi ia tidak membiarkan perasaan itu mengatur hari-harinya. Ia tidak menghubunginya dan tidak meminta kabar tentang proses perceraian.
Akhtar pun menjaga jarak. Ia mengirim informasi yang perlu melalui jalur kerja atau Toni. Ia tidak meminta Kalina menunggu. Ia tahu jika mereka ingin memiliki masa depan suatu hari nanti, itu hanya bisa terjadi setelah semua urusan selesai dan Kalina bebas memilih tanpa tekanan.
Menjelang akhir kehamilan, Giana merasa cemas. Ia menelepon Akhtar dan mengatakan gerakan bayi terasa berbeda. Akhtar segera datang ke rumah Amalia. Mereka pergi ke rumah sakit bersama Amalia. Dokter memeriksa kondisi Giana dan memastikan semuanya masih dalam batas aman, tetapi menyarankan pemantauan lebih dekat.
Akhtar menunggu di luar ruang pemeriksaan. Ia tidak masuk sebelum Giana meminta. Ketika Giana selesai, ia berkata ingin Akhtar menemaninya pulang. Akhtar mengangguk dan membantu membawa tas.
'Aku takut,' kata Giana dalam perjalanan.
'Aku juga. Tapi dokter bilang kondisinya baik.'
'Kalau nanti aku melahirkan, aku ingin kamu ada.'
'Aku akan ada.'
Giana memandang jendela dan mengangguk. Ia tahu hubungan mereka tidak kembali seperti dulu, tetapi ia menghargai Akhtar menepati janjinya.
Pada suatu pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa kondisi bayi baik dan jadwal persalinan semakin dekat. Giana merasa gugup. Akhtar bertanya apakah ia ingin ia hadir di kelas persiapan persalinan. Giana mengangguk. Mereka mengikuti kelas bersama Amalia, mempelajari cara mengenali kontraksi dan menyiapkan tas rumah sakit.
Di kelas, Akhtar mencoba mengganti popok boneka dan memasangnya terbalik. Giana tertawa untuk pertama kali setelah beberapa minggu. Akhtar ikut tertawa, tidak menganggap momen itu sebagai tanda bahwa mereka harus kembali bersama. Mereka hanya menikmati kerja sama sebagai calon orang tua.
Giana berkata ia berharap Akhtar tetap datang setelah kelahiran. Akhtar menjawab ia akan membuat jadwal yang konsisten dan tidak menghilang ketika pekerjaan sibuk. Ia meminta Giana menegurnya jika ia mulai melalaikan tanggung jawab. Giana mengangguk dan berkata ia akan melakukannya demi Aruna.
Beberapa minggu kemudian, Giana mengalami kontraksi pada dini hari. Amalia menghubungi Akhtar dan meminta ia datang ke rumah sakit. Akhtar berangkat secepat mungkin. Ia tiba ketika Giana sudah dibawa ke ruang persalinan.
Ia menunggu bersama Amalia dan Hadi. Waktu terasa berjalan lambat. Akhtar mondar-mandir, sesekali bertanya kepada perawat tentang perkembangan. Amalia memegang tas Giana dan berdoa dalam hati.
Setelah beberapa jam, tangisan bayi terdengar dari ruang persalinan. Dokter keluar dan memberi tahu bahwa bayi perempuan lahir sehat. Giana juga dalam kondisi baik dan sedang beristirahat.
Akhtar menutup wajah dengan kedua tangan. Ia menangis lega. Amalia memeluknya dan ikut menangis. Mereka menunggu sampai diizinkan masuk.
Giana berbaring dengan wajah lelah. Di sampingnya, bayi kecil dibungkus selimut. Akhtar mendekat perlahan.
'Dia cantik,' katanya.
Giana tersenyum. 'Namanya Aruna.'
Akhtar mengangguk. Ia meminta izin menggendong bayi. Giana menyerahkan Aruna dengan hati-hati. Akhtar memeluk putrinya dan berkata ia akan berusaha menjadi ayah yang baik.
'Dia tetap anak kita,' ujar Giana. 'Apa pun yang terjadi di antara kita.'
'Aku tahu.'
Akhtar tidak mencium Giana atau membuat janji romantis. Ia hanya duduk di samping ranjang dan membantu mengurus bayi. Giana menghargai sikap itu.
Kalina mengetahui kabar kelahiran dari Toni. Ia mengirim ucapan selamat melalui pesan kerja yang singkat dan sopan. Akhtar membalas terima kasih. Tidak ada percakapan lain.
Kalina merasa lega bayi lahir sehat. Ia juga merasakan sesuatu yang menusuk, tetapi kali ini ia bisa menerimanya tanpa merasa harus terlibat. Hidup Akhtar kini memiliki tanggung jawab baru, dan Kalina akan tetap menjaga jarak.
Akhtar mulai menyiapkan kamar kecil di rumahnya untuk kunjungan Aruna. Ia memasang tempat tidur bayi dan menyimpan perlengkapan dasar. Ia bertanya kepada Giana barang apa yang aman digunakan dan mengikuti sarannya. Giana menghargai bahwa Akhtar tidak membeli banyak hal tanpa bertanya.
Mereka menyepakati bahwa Aruna akan menghabiskan waktu bersama Akhtar sesuai usia dan kenyamanannya. Pada awalnya, kunjungan akan singkat dan didampingi jika Giana menginginkan. Mereka akan meninjau kembali kesepakatan saat bayi semakin besar.
Beberapa hari setelah persalinan, saat Giana sudah cukup beristirahat untuk membicarakan hal praktis, mereka kembali pada pertanyaan yang belum memiliki jawaban pasti. Akhtar tidak mengangkatnya ketika ia sedang kesakitan atau di hadapan keluarga yang datang menengok.
'Aku ingin kita menuntaskan pemeriksaan yang pernah dibicarakan,' katanya.
Giana memandang Aruna yang tertidur. Ia tahu pertanyaan itu tidak dapat diselesaikan dengan mengatakan bahwa ia yakin. Ia menyatakan bersedia menjalani proses pemeriksaan hubungan biologis setelah mendapat penjelasan dari tenaga kesehatan. Keduanya mengatur kebutuhan pemeriksaan secara terbuka; tidak ada yang mengambil atau menyembunyikan sesuatu dari pihak lain.
'Sampai hasilnya ada, kebutuhannya tetap kita urus,' kata Akhtar. 'Aku tidak akan menjadikan pertanyaan ini alasan untuk pergi.'
Giana mengangguk. Ia meminta hasil disampaikan kepada mereka berdua lebih dahulu. Ia tidak ingin Aruna menjadi bahan pembicaraan keluarga atau pertengkaran yang belum tentu dipahami orang lain. Akhtar menyetujuinya.
Malam itu, ia tetap membantu menyiapkan perlengkapan sebelum menyerahkan Aruna kepada Giana. Ada jawaban yang harus mereka tunggu, tetapi bayi yang terbangun dan membutuhkan perhatian tidak dapat diminta menunggu bersama orang dewasa. Akhtar duduk di kursi dekat ranjang, memberikan kain yang diminta Giana, lalu memandang putrinya sampai kembali tenang.